
Haris berencana akan pergi ke Bogor.
"Cindy, ko' bisa pergi dari rumah, Mas?" Friska terkejut ketika mendengar mantan istri Haris yaitu Cindy, telah meninggalkan rumah.
"Iya Cintya, adik dari Cindy yang memberi kabar tersebut. Katanya Cindy pergi dari rumah, dan sampai sekarang belum di ketemukan," jawab Haris.
"Kasian nasibnya sangat malang ya," Friska menghela napas secara perlahan.
*****
Siang itu cuaca sangat cerah, Haris pun pergi ke Bogor, bersama Friska. sementara anak-anaknya Haris, sudah kembali pulang ke Surabaya bersama Hana dan Ibunya Haris.
Selama dalam perjalanan Haris bercerita masa lalunya yang teramat menyayat hati.
Dia menyadari bahwa dia itu, terlalu sabar terhadap Cindy, yaitu istrinya.
"Mungkin yang dulu aku lakukan salah, mengapa aku terlalu sabar, dan itu aku pertahankan rumah tangga demi anak-anak. Tapi setelah aku pelajari semua ternyata aku salah, aku mengabaikan kebahagiaan aku, dan ternyata masih ada yang peduli dan sayang terhadapku yaitu kamu, Sayang," Haris tersenyum dan matanya berkaca-kaca, sambil memegang jemari tangan istrinya itu yaitu Friska.
"Semua butuh proses, Mas. Mungkin inilah saatnya kamu bahagia bersamaku. Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari kegagalan rumah tangga terdahulu," ucap Friska. Nampak dia pun terlihat matanya berkaca-kaca seperti Haris.
*****
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Sementara di suatu tempat.
"Kamu, mau kemana,?" tanya seorang Ibu, lekat kepada wanita yang memakai kursi roda tersebut.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, seakan tidak ada arah tujuan yang akan dia tuju.
"Rumah kamu dimana? Ayo, Ibu antarkan pulang ya," ucap Ibu yang memakai baju gamis itu, kira-kira dia berusia 65 tahun, tapi terlihat masih segar.
\*\*\*\*\*
Ibu tersebut baru saja keluar dari mesjid, dia baru beres sholat ashar. Nampak Ibu itu membawa makanan berupa gorengan bakwan dan lontong, ada beberapa yang tersisa di dalam keranjang tersebut. Mungkin dia seorang Ibu pedagang, dan sedang beristirahat di mesjid itu
Kemudian dia menyodorkan bakwan dan lontong, kepada wanita yang memakai kursi roda itu. Dengan wajah tersenyum pilu dan memelas, lalu dia mengambilnya dan memakannya dengan lahapnya.
Ibu tersebut menatap tajam wanita yang seakan kelaparan dan kebingungan.
"Kasian sekali wanita ini, rasanya dia sudah tidak makan beberapa hari, terlihat cara dia makan seperti kelaparan," gumam hati sang Ibu, terlihat kasihan melihat wanita itu.
"Namanya siapa?" tanya Ibu tersebut.
"Cin...Cindy," wanita itu terbata-bata ketika berucap dan pandangannya tetap menunduk.
"Saya, Ibu Marni. Saya jualan lontong dan gorengan bakwan keliling, sekarang lagi istirahat dulu, sebentar disini," ucap Ibu Marni. Nampak terlihat peluh bercucuran, dia terlihat sangat lelah sekali.
"Kamu mau kemana?" Ibu tersebut kembali bertanya, seakan ada rasa iba dengan Cindy.
Cindy menggelengkan kepalanya, dia seakan tidak tahu arah tujuan yang akan dia tuju.
\*\*\*\*\*
Ibu Marni, terlihat kasihan kepada Cindy, dengan memakai kursi roda dan pakaian yang dipakainya sudah kotor dan bau.
"Kamu kabur ya, dari rumah?" sambung Ibu Marni, kembali bertanya.
Cindy tertunduk seakan malu.
"Mau ikut denganku?" tanya Ibu Marni.
__ADS_1
"Tidak Bu, takut merepotkan," ucap Cindy.
"Nggak apa-apa, Ibu hanya tinggal berdua dengan anak Ibu, dia seorang perempuan. yang baru saja tamat sekolah SMA," ucap Ibu Marni. Membujuk Cindy, agar dia ikut saja dengannya.
\*\*\*\*\*
Cindy tertegun dalam hatinya dihinggapi rasa sedih, dan tidak tahu kemana lagi arah kaki akan melangkah. Dia sudah capek dan lelah, jika kembali lagi untuk melajukan kursi rodanya.
Cindy teringat pergi pertama dari rumah.
Hari demi hari dia lalui dengan menyusuri jalan, dia istirahat dari mesjid ke mesjid. Untuk makan, sekedar mengisi perutnya yang keroncongan, dia minta-minta ke orang, terkadang ada yang iba dengan kondisinya lalu dia di berikan makan. Rasanya rasa malu, sudah dia hiraukan dengan di kalahkan
dengan perutnya yang sakit dan rasa lapar menyelimuti perutnya itu.
"Sudah jangan banyak mikir. Ayo, kita ke rumah Ibu ikut," ucap Ibu Marni.
Dalam hati Ibu terbersit, dia sudah melakukan ibadah dan mendapatkan pahala jika mengurus atau menolong orang yang sedang kesusahan.
Cindy tertegun, dengan penawaran Ibu tersebut, dengan lapang dada dia mau membantunya
.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Friska meminta istirahat.
"Mas, kita istirahat dulu di mesjid itu. Sekalian kita sholat ashar," telunjuk Friska menunjuk ke arah Mesjid, yang bangunannya terlihat megah.
"Boleh," ucap Haris. Kemudian Haris memarkirkan mobilnya di area halaman mesjid tersebut.
Friska keluar dari mobil tersebut, kemudian dia berwudhu di toilet yang berada di pinggir halaman mesjid. Sementara Haris sedang merapihkan barang yang berada di bagasi mobilnya.
______
Cindy melihat Haris.
Cindy sedang berpikir keras, dengan tawaran Ibu Marni, apakah dia mau ikut atau tidak.
Dia menghela napas panjang.
Tiba-tiba pandangan Cindy tertuju kepada sosok lelaki yang memakai baju Koko warna putih dan peci warna hitam
Deeggghhh....
Nampak terkejut hati Cindy, ketika melihat Haris, di halaman mesjid. Dadanya bergemuruh jantungnya berdetak lebih cepat tidak karuan. Cindy mengucek-ngucek matanya, dia seakan tak percaya dengan penglihatannya. Apakah benar sosok yang dia lihat sekarang adalah mantan suaminya, atau Papa dari anak-anaknya, yang bernama Haris.
"Tidak...aku tidak salah lihat! ngapain dia ada disini, aku harus cepat kabur dari sini," gumam hatinya.
Dengan cepat dia menarik tangan Ibu Marni.
"Ayo, Bu! Aku, mau ikut dengan Ibu," kemudian Cindy memakai masker penutup wajahnya, dan kain tipis yang dia bawa, dan dia gunakan untuk menutup kepalanya.
Bu Marni terlihat heran melihat Cindy yang terlihat gugup dan ingin segera keluar dari situ. Tapi Bu Marni tidak menaruh curiga sedikitpun.
Cindy lalu melajukan kursi rodanya, kebetulan pintu arah mesjid itu ada dua. Dia dengan cepat. menarik kursi rodanya ke arah samping karena takut jika dia melewati arah depan, Haris akan tahu keberadaannya.
Ternyata rasa malu dan gengsi masih ada dalam diri Cindy, jika bertemu dengan Haris.
Malu dalam keadaan terlunta-lunta, dengan kondisi tubuhnya yang lumpuh dan wajahnya yang sudah tidak segar lagi seperti dulu.
"Tunggu disana, Ibu ini ada yang beli," ucap Ibu Marni kepada Cindy. Telunjuknya mengarah ke halaman luar Mesjid.
*****
Cindy menunggu Bu Marni, di depan mesjid arah pintu samping, hatinya tidak karuan, pandangannya ke arah Ibu Marni, seakan ingin cepat datang ke hadapannya.
Dalam hatinya dihinggapi rasa takut, jika Haris akan melihatnya.
Cindy sorot matanya lurus ke arah Bu Marni, dan seorang wanita yang sedang membeli lontong dan bakwan itu.
Sang pembeli itu kemudian melambaikan tangannya ke arah lelaki yang sedang merapihkan mobilnya yang tidak lain adalah Haris. Kemudian Haris menghampiri wanita tersebut.
Cindy matanya terbelalak tatkala Haris menghampiri wanita itu. Jantung Cindy kembali berdebar sangat cepat sekali.
"Wanita itu siapa?" gumam hatinya.
__ADS_1
Terlihat dari kejauhan Haris mengeluarkan dua lembar uang merah berwarna merah, kemudian Bu Marni terlihat tangannya menolak untuk diberikan uang tersebut.
Tapi Friska dengan sigap memasukkannya ke dalam keranjang yang berisi barang dagangan.
"Sudah, nggak apa-apa, jangan menolak rezeki. Buat beli sembako." ucap Friska kepada Bu Warni.
Haris pun datang.
Friska mencium punggung tangan Haris, lalu Haris memasuki mesjid untuk berwudhu sedangkan Friska, berlalu masuk ke dalam mobil.
*****
Entah mengapa melihat Haris nampak mesra dan harmonis dengan wanita tersebut, hati Cindy sangat panas. Terasa dadanya
seperi di siram bensin rasa panas langsung menyambar hatinya.
Jelas Cindy cemburu, ternyata Haris bisa mendapatkan yang lebih darinya, dari segi fisik Friska cantik, wanita berjilbab, cerdas dan juga santun.
Cindy terasa lemah lunglai, lelaki yang dia hina dan tidak di hargai itu, ternyata bisa mendapatkan wanita yang lebih darinya.
Dia selama ini menyangka Haris, yang pendiam dan tidak bisa melakukan apapun terhadap pasangannya dan super sabar. Akhirnya bisa juga dia mendapatkan wanita yang lebih darinya.
*****
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Cindy terbakar api cemburu.
Sorot matanya tajam melihat Friska, yang terlihat cantik dan memakai baju gamis yang menjuntai panjang. Sungguh terpancar wanita sholehah karena Friska, sudah selesai sholat lima waktu. Sisa air wudhu di mukanya terlihat nampak bercahaya.
Dia tersenyum ke para Ibu yang datang ke mesjid tersebut, untuk menunaikan ibadah sholat ashar. Senyuman Friska terasa sangat mendamaikan jiwa.
"Apakah dia, istrinya?" gumam hati Cindy penuh tanya.
\*\*\*\*\*
Bu Marni keluar Mesjid.
Bu Marni kemudian berlari kecil, dan menghampiri Cindy yang terlihat gugup dan raut muka yang menyimpan rasa sesak. Karena dia dihinggapi rasa cemburu dan belum bisa menerima kenyataan yang baru saja dia lihat.
"Maafkan, Ibu. lama ya?" Ibu Marni tersenyum ramah kepada Cindy.
"Nggak apa-apa kok, Ibu kenal dengan orang yang tadi beli dagangan Ibu?" tanya Cindy.
"Nggak ko, tapi Ibu yakin sepasang suami, istri tersebut orang yang baik dan dermawan," ucap Bu Marni, pandangannya ke arah mesjid.
"Pasangan suami, istri, maksud Ibu," tanya Cindy, seakan di hinggapi rasa penasaran.
"Iya, barusan sepasang suami, istri. Katanya mau berkunjung ke rumah saudaranya. Ibu yakin mereka orang baik. Nampak terlihat dari tutur katanya sopan dan dagangan Ibu, dia borong semua, tapi makanannya tidak mereka ambil. Mereka menyuruh ibu,
memberikan ke anak-anak tetangga, atau siapa saja yang mau makanan yang Ibu jual. Tapi mereka memberi Ibu uang lebih. Alhamdulillah rezeki." ucap Bu Marni tersenyum bahagia.
Cindy menghela napas panjang.
"Sungguh beruntung Haris, mendapatkan wanita seperti itu, cantik, baik," Cindy seakan ingin menangis. Dia cemburu dan menyesal.
"Kenapa, Nak? tanya Ibu Marni menatap lekat kepada Cindy karena terlihat seperti menahan rasa sakit dan lelah dari raut mukanya.
"Nggak apa-apa," Cindy hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Mereka pun, berlalu dari mesjid tersebut, untuk segera pulang ke rumah.