
Cindy mencoba membebaskan hatinya, yang terbelenggu, karena setiap saat dia selalu melihat kedekatan, Dea dengan Azam. Mantan kekasihnya itu.
Kepalanya seakan pusing, dia terlihat memikirkan kedekatan Azam dan Dea. meskipun dalam bibirnya terucap kata ikhlas kepada Dea, tapi tidak bisa di pungkiri rasa sesak terus menghinggapinya.
Dia menahan sesak.
Biasanya jika terbebani dengan masalah, obat selalu jadi teman untuk Cindy, baginya obat untuk bisa buat dia lebih tenang dan rileks pikiran dan hatinya.
Nampak terlihat dia sedang memijit-mijit kepalanya. Bu Marni, terlihat mengintip dari gorden kamar, pandangannya lekat ke arah kamar gorden yang di dalamnya ada Cindy, yang terlihat kebingungan.
***
Bu Marni memasuki kamar.
"Nak, ngapain. Kamu sakit ya?" tanya Bu Marni, tiba-tiba datang menghampiri Cindy. Cindy terlihat terkejut kedua tangannya mendekap tubuh bagian atas, matanya melotot seperti ketakutan.
Melihat gelagat aneh dari Cindy, sontak Bu Marni dihinggapi rasa heran. Tidak seperti biasanya gelagatnya aneh, seperti orang yang tertekan dan depresi.
Cindy menderu napasnya.
"Keluar, sana keluar Bu. Aku tidak mau di ganggu," ucap Cindy, seperti menahan rasa dingin. Peluh pun bercucuran di wajah Cindy.
"Ibu ambilkan obat ya? kamu demam Nak," ucap Bu Marni, Dia pun berlalu dari hadapan Cindy, untuk membawakan obat.
Lima menit kemudian Ibu datang menghampiri, dia lalu memberikan obat demam kepada Cindy. Sepertinya Cindy menolak obat tersebut, Cindy menghempaskan obat yang Ibu berikan, ketika Ibu Marni menaruh obat di dekatnya.
"Nak, kenapa kamu?" tanya Ibu. Dihinggapi rasa takut, dengan keanehan yang terjadi kepada Cindy.
Ibu pun meninggalkan Cindy di kamar sendiri.
*****
Jam menunjukkan pukul tiga sore tapi Dea belum pulang, dia sedang berbelanja keperluan untuk acara pernikahan, karena seminggu lagi dia akan dilamar oleh Azam yang tidak lain adalah mantannya Cindy.
Tok...Tok...Tok...
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari arah depan rumah. Sang Ibu sontak terperanjat karena dia sedang melamun.
__ADS_1
Lalu Ibu berjalan ke arah pintu, dan membuka pintu secara perlahan.
Nampak dua orang tersenyum sumringah menatap Bu Marni, setelah pintu terbuka dengan lebar.
"Bu, kenapa melongo, seperti lihat set*n! Dea tertawa terbahak, melihat Ibunya dengan muka nampak seperti orang kebingungan.
"Iya, Ibu kenapa," Azam kemudian menghempaskan badannya duduk di teras, karena cuaca hari itu panas. Di depan rumah ada pohon rindang jadi angin sepoi terasa sejuk menghinggapi.
"Mas, mau minum apa, aku ambil dulu ke dapur ya?" tanya Dea, kepada Azam.
"Aku mau teh manis pakai es saja," jawab Azam.
Dea pun, berlalu dari hadapan Ibu dan Azam.
Ketika hendak ke dapur, Dea melirik dulu arah kamar, dia dengan pelan membuka gorden jendela kamar Cindy. Nampak Cindy sedang *******-***** rambutnya, dan raut mukanya menahan rasa kesal.
Dea sontak kaget, melihat kondisi Cindy tersebut.
"Ko, aku merinding ya," gumam hatinya, dia pun dengan cepat menutup gorden dan berlaku untuk membuatkan teh untuk Azam.
*****
"Bu, kenapa Kak Cindy, seperti sedang ada masalah, dia *******-***** rambutnya dan raut mukanya nampak kesal," tanya Dea, sangat pelan bicara kepada Ibunya itu.
Mendengar perkataan dari Dea, sontak hati Azam terkejut, dia tahu karakter Cindy, orangnya tidak pernah puas, dan mungkin ada rasa cemburu setelah dia tahu bahwa Azam sedang menjalin cinta dengan Dea, bahkan akan menikah.
Terbesit hati Azam, untuk menghubungi keluarga Cindy, agar menjemput Cindy di rumah Bu Marni.
"Bu, bagaimana kalau aku mencari keberadaan keluarga Cindy, agar dia bisa di jemput sama keluarganya," Azam pun berpikir, dia juga merasa riskan dengan keberadaan Cindy di rumah itu.
Dengan berpikir lama, akhirnya Bu Marni menganggukkan kepalanya, pertanda dia setuju dengan keputusan sang calon menantunya itu.
"Besok aku akan mencari tahu, dimana keluarga Cindy sekarang ini. Biar dia bisa tenang jika berada dengan keluarganya." sambung Azam.
Sebelumnya Dea sudah bercerita kepada ibunya, bahwa Azam adalah mantan dari Cindy. Saat itu Ibu sangat terkejut dan Ibu pun tidak berani menanyakan hal tersebut kepada Cindy, karena takut menyinggung perasaannya. Ibu menghargai perasaan Cindy, yang sedang sakit keadaan badannya tidak normal. Dia tidak mau menambah beban hatinya dengan pertanyaan Ibu yang nantinya membuat hati Cindy terluka.
*****
__ADS_1
Akhirnya Azam pun pamit pulang.
Dea bersama Ibu memasuki rumah, dan duduk di ruang tamu. kemudian, Dea membuka satu persatu barang yang dia bawa di dalam tas yang cukup besar.
"Wah Nak, barangnya bagus-bagus, ini buat acara seserahan kan, nanti Ibu kasih ke orang yang buat rias, setelah selesai baru barang ini di ambil oleh Nak Azam, kan? untuk acara seserahan nanti." Ibu terlihat gembira dari raut mukanya. Ketika melihat semua barang yang dibawa Dea, yang di belikan oleh Azam. Barang yang dibeli Azam cukup banyak dan mewah.
"Iya, Bu. Azam kan sangat mencintai aku. Meskipun lelaki itu kelakuannya jahat, itu dulu ya. Tapi Azam, tetap jika memilih wanita, hatinya yang baik dan lembut. Hehehe...," Dea tertawa terkekeh. Dia seakan menyindir Cindy, nada bicaranya keras agar terdengar oleh Cindy, yang sedang melamun di dalam kamarnya itu.
"Hush..kamu kalau ngomong pelan. Nanti di dengar Cindy, nggak enak," ucap Ibu dengan bicara pelan, dan telunjuk Ibu lekat ke arah bibir mungil sang anak.
Dea tertawa terbahak seakan puas. Bu Marni matanya, mendelik.
***
Di dalam kamar, Cindy mendengar semua percakapan Bu Marni dan Dea. Hatinya terasa hancur, dia seakan di permalukan. Nampak badannya menggigil entah menahan sakit atau rasa kesal dan amarah yang mengakibatkan tingkat emosinya naik
Crekkkk..
Terdengar suara gelas pecah dari dalam kamar Cindy, sontak Ibu Marni melirik ke dalam arah suara tersebut. Bu Marni, terlihat mau berdiri dari tempat duduknya, namun Dea sepertinya menahan agar Bu Marni, tetap duduk dan jangan memperdulikan Cindy.
"Bu, dia itu ingin mencari perhatian, biarkan saja. Kita pura-pura nggak dengar," ucap Dea pelan, dia tersenyum sinis.
Ibu Marni merasa kasihan degan Cindy, nampak terlihat dari raut mukanya. Seperti menahan rasa sedih dan khawatir.
"Bu, dia orang lain dan kita baru mengenalnya. Aku anak Ibu, jadi Ibu jangan membela dia," ucap Dea.
"Ko, kamu jadi seperti ini, kelakuan kamu Nak," Ibu terlihat heran, karena Dea, sang anak biasanya lembut dan santun dalam berbahasa. Kali ini dia nampak menjadi seakan tidak peduli.
Dea mengatur napasnya lalu dia berkata.
"Bu, aku kesal setelah dia membuka dan menceritakan semua masa lalu dia. Cindy orang licik, mengkhianati suami dan anak-anaknya," ucap Dea, terlihat kesal.
"Itu masa lalu, mungkin dia sekarang insyaf," bela Ibu Marni. Dia tidak mau sang anak mempunyai sifat yang tidak ada rasa iba terhadap orang lain, yang di inginkan oleh Ibu, anaknya tidak berburuk sangka dan menyayangi orang lain.
"Dia licik, dia membeli lelaki dengan uang. Hubungan dengan Azam, malah dia yang memberikan uang. Apakah itu yang di namakan wanita baik. Jelas-jelas dia mau membeli lelaki dengan uang. Baru tahu rasa setelah habis uang terkuras, dia begitu saja di campakkan, oleh laki-laki. Perih menyayat hati rasanya, ditinggalkan lelaki sementara harta kita sudah habis," sindir Dea.
Cindy yang tengah berada di kamar, dia menutup kupingnya, seakan tidak mau mendengar lagi, kata-kata Dea, yang seolah-olah memojokkan dirinya itu.
__ADS_1