Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 34 Terbuai Asmara


__ADS_3

Sepulang kerja mereka mendatangi Bar yang termahal Cindy terlihat begitu senang dan merasa ada panah asmara kembali dalam dirinya.


Tiba-tiba Helmi pesan minuman yang sedikit memabukkan


"Aku belum pernah meminum minuman seperti ini!" ucap Cindy ketika Helmi mencoba memberikan setengah cangkir minuman tersebut kepada Cindy namun Helmi memaksa dia, Helmi beralasan hanya sekali ini saja dan untuk merayakan kemenangan Helmi yang naik jabatan.


Lalu Helmi meneguk minuman tersebut, Cindy hanya meringis dan bau dari minuman tersebut sangat menyengat.


"Ayolah, Sayang!" ucap Helmi merajuk Cindy. Akhirnya Cindy meminum minuman tersebut, sejam kemudian setelah meminum minuman tersebut pikiran Cindy terasa sangat gembira namun kepalanya terasa berat, bicara pun seakan tidak tentu arah tidak nyambung. Mereka tertawa-tawa seakan tidak ada beban, Cindy di peluk dan di cium Helmi karena tidak sadar Cindy pun tidak menolaknya.


***


"Pak, maaf ini Karaoke nya sudah mau tutup," ucap pelayan Bar tersebut.


"Oh, jam berapa ini?" tanya Cindy dengan rambut yang berantakan dan pandangannya seakan kabur ketika melihat pelayan tersebut.


"Jam dua pagi!" jawab pelayan Bar.


Sontak Cindy terkejut dan dia pun mengajak Helmi untuk pulang.


Karena Helmi khawatir lalu dia mengantarkan dulu Cindy ke rumahnya, dan mobil Helmi dia simpan di Bar tersebut, Helmi berpikir nanti dia ambil mobilnya di Bar memakai Taksi saja.


***


Sesampai di rumah.


"Cindy, bangun! Sayang!" Helmi menepuk-nepuk pipi Cindy. Nampak terlihat Cindy begitu ngantuk berat mungkin karena pengaruh minuman tersebut atau kecapean.


Setelah lima belas menit kemudian dengan susah payah Helmi membangun Cindy, akhirnya Cindy bangun dengan mata yang merah dan pandangan kabur.


"Dimana ini?" Cindy seakan tidak sadar.


"Di rumah, sudah sampai rumah, Ayo bangun masukin mobil ke garasi, sebelum orang ada yang lihat," ucap Helmi di hinggapi rasa khawatir takut ada tetangga melihat mereka datang subuh berdua.


"Mobil kamu mana Mas?" tanya Cindy.


"Di Bar, Aku balik sana lagi pakai taksi, udah kamu jangan pikirin Aku," ucap Helmi.


***


Akhirnya mobil Cindy pun memasuki garasi rumah dan sebelum dia keluar dari mobil dia terlihat membereskan dulu pakaiannya yang terlihat kusut dan rambutnya dia sisir terlebih dahulu karena acak-acakan.


Setelah semuanya beres lalu dia keluar dari dalam mobil, dia mempunyai kunci cadangan jadi dengan leluasa Cindy memasuki rumah tanpa mengganggu orang rumah meskipun pulang larut malam


Cindy mengendap-endap ketika berjalan ke arah kamar, jangan sampai dia pulang malam di ketahui oleh isi rumah.


Namun tiba-tiba.


"Mah!"

__ADS_1


Suara Rara sangat jelas memanggil Cindy.


Entah mengapa jantung Cindy berdebar, lalu Rara menyalakan lampu yang di ruangan depan itu gelap gulita.


Setelah ruangan terang lalu Rara menatap lekat Mamanya.


"Mama baru pulang?" mata Rara sambil melihat jam yang tengah berada di atas televisi.


"Iya Sayang, lembur!" dengan entengnya Cindy berkata.


"Rara kenapa belum tidur?" tanya Cindy.


"Rara baru dari kamar mandi," jawabnya. Lalu Rara secara spontan mencium Mamanya.


"Bau!" ucap Anak itu. Cindy terkejut dia baru sadar karena efek minuman tersebut bau mulutnya tidak enak.


"Iya, Sayang. Mama lagi sariawan jadi bau mulut Mama kurang enak," Cindy berusaha berbohong. Rara hanya menatap lekat Mamanya.


"Rara mau tidur sama Mama di kamar," rengek Rara.


"Jangan Sayang, Mama ada tugas banyak di kantor, entar Mama gak fokus kerjanya," Cindy tidak mau Rara tidur bersamanya karena pasti Helmi akan meneleponnya, dan dia tidak mau buat Rara curiga.


"Masa, malam-malam masih ada tugas sih!" Rara cemberut seakan kecewa.


"Iya Sayang, jangan marah ya," Cindy membelai rambut Rara dan menciumnya. Kemudian Rara pun berlalu dari hadapan Cindy.


Cindy memasuki kamarnya dia membersihkan badannya, setelah semua beres lalu dia mengambil remote televisi di pilihnya acara-acara televisi namun tidak ada yang buat Cindy tertarik lalu dia mematikan acara televisi tersebut.


{"Sayang, Aku merindukanmu!"}


{"Sayang, Aku gak bisa tidur, inget kamu!"}


Dan beberapa pesan gombal lainnya yang membuat Cindy terbuai. Cindy sosok wanita yang senang di puji dan sangat senang jika di buat romantis oleh pasangannya.


Setelah tahu telah dibaca pesannya oleh Cindy lalu Helmi menelpon Cindy.


{"Sayang, kamu gak kangen sama Aku?"} ucap Helmi manja


{"Baru saja tadi kita ketemu, Sayang,"} jawab Cindy dengan membalas suara manjanya.


Mereka menelepon cukup lama sekitar dua jam, penuh tawa dan canda. Membuat Cindy terlena dengan rayuan gombal Helmi.


"Sayang, besok jadi kan pulang ke Bogor?" tanya Cindy.


"Iya, kenapa gitu? kan Sayang udah beliin oleh-oleh banyak buat Ibu dan Anakku," Helmi berusaha mengambil hati Cindy dengan menyebut kata Sayang.


Lalu Cindy mentransfer sejumlah uang ke rekening Helmi, dan mengirim bukti transfernya ke ponsel Helmi.


Melihat bukti transferan dari Cindy langsung sontak mata Helmi terbelalak karena nominalnya cukup besar.

__ADS_1


"Sayang, ini uang untuk apa?" Helmi dihinggapi rasa senang, terlihat dari layar ponsel mukanya sumringah.


"Untuk Ibu dan Anakmu," ucap Cindy.


"Tapi banyak banget, Sayang!" Helmi tersipu malu. Padahal dalam hatinya di hinggapi rasa senang yang tidak terkira.


"Itu tidak sebanding dengan rasa yang kamu berikan kepadaku, yaitu kenyamanan," Cindy terlihat sangat terbuai asmara ketika berucap.


****


Keesokan harinya Helmi pergi ke Jakarta kebetulan hari itu hari sabtu jadi kantor libur


{"Sayang, Aku berangkat dulu ya?"} dan di akhiri emotion love. Helmi mengirimkan pesan kepada Cindy.


{"Hati-hati Sayang, awas jangan lirik sana-sini matanya,"} Cindy membalasnya dengan emotion lidah menjulur dan love.


Helmi tertawa terbahak.


{"Enggak dong Sayang, masa cewek secantik kamu di duakan,"} Helmi memberikan emotion love dan peluk.


Entah kenapa saat itu hati Cindy berbunga-bunga, mungkin dia sedang kasmaran atau di butakan oleh keadaan dan cinta.


***


Melihat sang majikan tersipu malu sendiri dan tertawa sendiri ketika melihat ponselnya, tidak sengaja Mbak Eka melihatnya.


"Apa mungkin Ibu punya lelaki lain lagi? ahhhh...kenapa Aku berprasangka buruk!" gumam hati ART tersebut.


Mbak Eka di hinggapi rasa penasaran yang teramat.


Mbak Eka entah mengapa melihat sang majikan tersenyum sendiri mengingatkan Cindy waktu berselingkuh dengan Bram, dia terlihat senyum-senyum sendiri.


Mbak Eka seakan tidak menaruh simpati entah mengapa itu yang ada di benaknya saat ini.


"Bu, Bu!"


Mbak Eka memanggil majikannya berulang kali, namun Cindy asik dengan ponselnya. Akhirnya Mbak Eka berlalu menuju dapur. Di dalam dapur dia termangu dan tatapan lekat ke arah Anak majikan yaitu Rara yang sedang membuat es teh manis, entah mengapa bulir putih lolos seketika berderai membasahi pipinya.


"Mbak, kenapa?" tanya Rara.


Mbak Eka memeluk erat.


"Ra, Mama semalam pulang jam berapa?" Mbak Eka berbisik pelan lekat ke kuping Rara.


Rara cukup lama terdiam lalu dia akhirnya bersuara.


", Subuh, subuh jam dua lebih," ucapnya sambil mengaduk es teh manis dengan sendok.


Huh...

__ADS_1


Mbak Eka menghela napas panjang.


__ADS_2