
Cintya di antar Bagas, ketika akan pergi ke mertuanya. Terlihat Cindy masih tertidur sangat pulas. Pagi itu, hujan lebat mengguyur kota Bogor, sangat deras sekali.
"Sayang, apa nanti nunggu hujan reda saja, gimana?" tanya Bagas.
"Kan, kita memakai mobil. Di dalam mobil tidak hujan," Cintya tersenyum tipis.
"Tapi, hujannya lebat, Sayang," Bagas seakan khawatir.
"Kita sarapan di Restoran yang berada di depan itu, pas belokan dekat rumah. Sambil nunggu hujan reda," bisik Cintya, lekat ke kuping Bagas.
Bagas menganggukkan kepalanya.
Dia seakan tahu, isi hati dari Cintya, dia ingin cepat-cepat pergi dari rumah itu, karena sudah lelah lihat Cindy. Dia ingin istirahat dulu. Kalau kecapean. takut kondisi janin yang berada di perutnya lemah.
*****
"Mbak, isi kulkas sudah penuh, dan ada uang di laci dekat dapur, obat pun untuk satu bulan sudah aku belikan untuk Kakakku. Jadi aku ninggalin Kakakku sudah aman," pandangan Cintya melirik ke arah kamar Cindy. Terlihat matanya berkaca-kaca.
Ada rasa sedih, harus meninggalkan Kakaknya sementara, dengan kondisi badan yang sedang lumpuh.
Dan ada rasa kesal terhadap Kakaknya itu, setelah melihat foto-foto yang terlihat menyebalkan, karena foto tersebut di ambil pada saat Cindy, masih menjadi istri Haris.
Sang ART, sungguh sedih melihat sang majikan mau pergi meninggalkan rumah untuk sementara, tapi dia mengerti dengan keadaan semua ini.
"Bu, jangan mikirin Bu Cindy, nanti disana istirahat saja yang cukup, biar kandungan yang di dalam perut sehat. Biar Bu Cindy disini jangan di pikirin, ada Mbak yang jaga. Mbak, sudah tahu sekarang sifat dan karakternya, seperti apa," Mbak Lastri, berusaha meyakinkan majikannya itu.
Cintya merasa lega, mendengar ucapan dari ART nya itu. Dia melepaskan Cindy pun tidak perlu khawatir karena Mbak Lastri, sudah tahu situasi dan kondisi Cindy saat ini.
*****
Mobil pun berlalu dari rumah tersebut. Mbak Lastri, menatap lekat ke arah Cintya, ketika melambaikan tangannya. Dia berusaha menahan air mata agar tidak menetes.
Dia tidak mau kalau sampai air matanya menetes dan terlihat oleh Cintya..
Mobil berlalu.
Setelah mobil berlalu akhirnya Mbak Lastri, menumpahkan air matanya yang tadi dia tahan, agar tidak keluar karena ada sang majikan.
"Kasian Bu Cintya." bisik hatinya.
*****@@@*****
Di dalam mobil.
Cintya tersenyum sumringah ketika menatap sang suami.
"Akhirnya aku bisa menghabiskan waktuku, bersama suami. Maafkan aku, selama ini aku kurang memerhatikan dan melayani dengan baik." gumam hati Cintya, dan menghela napas panjang.
"Sayang, pasti Ibuku, nanti akan senang. Mendengar kabar, kamu sedang hamil," ucap Bagas, sambil mengusap perut istrinya itu.
"Pastinya, Ibu kan sudah lama menginginkan Cucu, dari anaknya yang ganteng ini," Cintya mencoba menggoda suaminya itu.
__ADS_1
Bagas tertawa lebar.
*****
Di Restoran.
"Sayang, kita sudah sampai, Yu, kita turun. Isi perutnya, dengan makanan yang banyak. Aku tidak mau anakku di dalam perut berteriak, karena kelaparan." Bagas mengejek Cintya, dan Cintya pun tertawa.
Cintya dan Bagas, memilih makanan. Terlihat raut muka Cintya terlihat bahagia, melihat rona wajah sang istri begitu ceria, Bagas pun di hinggapi rasa gembira.
Mungkin baru kali ini mereka bersama lagi pergi ke Restoran, karena selama Cindy berada di rumah, mereka tidak bisa melewatkan kebersamaan berdua.
Setelah makanan datang, Cintya begitu menikmatinya. Dia begitu lahap menikmati hidangan yang disajikan.
"Alhamdulillah, anakku lapar ya?" Bagas menggoda istrinya itu.
"Katanya harus banyak makan," Cintya tersipu malu. Tanpa menoleh sedikitpun ke arah Bagas, sang suami.
*****@@@*****
"Mbak..."
Cindy berteriak, Mbak Lastri tidak langsung datang menemuinya. Dia lebih santai untuk bersikap karena Mbak Lastri, sudah tahu bagaimana caranya, menghadapi Cindy yang terlihat manja dan tidak mandiri.
"Mbak, pada kemana nih, orang!" Cindy kembali berteriak.
Cindy masih dalam keadaan duduk di kasur. Dia mencoba meraih kursi roda yang lumayan jaraknya, agak jauh dari hadapannya.
Tangannya mencoba meraihnya, dia menggeserkan badannya secara perlahan.
Bruggg....
Cindy terjatuh, dan jidatnya terkena lemari. Dia meringis kesakitan.
"Awww...." Cindy menahan sakit dan mengusap-usap jidatnya.
Tiba-tiba Mbak Lastri, datang. Melihat Cindy terjatuh, entah mengapa tidak ada rasa kasihan sedikitpun.
Nampak Mbak Lastri, menahan tawa karena melihat jidat Cindy, benjol! mungkin terkena ujung lemari ketika tadi hendak mau mengambil kursi roda.
"Bu, kenapa," Mbak Lastri, berpura-pura khawatir. Padahal dalam hatinya ingin tertawa lepas. Kemudian Mbak Lastri, menggotong Cindy ke kursi roda.
"Sakit, Mbak!" Cindy merengek kesakitan.
"Mbak, akan ambilkan obat, tunggu ya," Mbak Lastri berlalu dari hadapan Cindy.
*****
Mbak Lastri, tertawa terbahak 😂
Melihat Cindy jidatnya benjol, bulat seperti kelereng.
__ADS_1
"Ada-ada saja!" gumamnya.
*****
kemudian Cintya, menelepon menanyakan kabar dari Kakaknya itu.
"Mbak, gimana Kakakku, dia nggak teriak-teriak, kalau ada aku?" tanya Cindy kepada sang ART.
"Masih Bu, cuma Mbak, biarin saja dan tadi terjatuh. Kayaknya mau ambil kursi roda dan jidatnya benjol. Nah sekarang Mbak lagi buat beras kencur, biar jidatnya cepat kempes," Mbak Lastri, seperti menahan tawa ketika berucap ðŸ¤
"Masa, Mbak. kepalanya benjol. Hahahaha..." Cintya tadinya tidak mau tertawa takut dosa 🤣 Tapi apa daya, dia juga manusia biasa. Kalau mendengar cerita yang menggelitik pasti bibirnya melebar.
"Kasihan sekali nasibmu Cindy!" bisik hatinya Cintya, tersenyum puas.
"Ada apa, tertawa sendiri! Telepon dari siapa, Sayang?" tanya sang suami.
"Barusan Mbak Lastri, telepon. Katanya Cindy, terjatuh dan jidatnya benjol," ucap Cintya.
Sontak Bagas tertawa terbahak.
****@@@****
Cindy di berikan obat oleh Mbak Lastri.
Nampak benjolannya membesar, kemudian Mbak Lastri, membalur jidat yang benjol dan terasa sakit.
"Aww, sakit sekali Mbak," dia meringis. Benjolannya agak membiru.
"Sabar, kalau mau sembuh!" Mbak Lastri, sedikit tegas ketika berucap, dengan muka tidak menampakkan senyuman.
Melihat Mbak Lastri seakan kesal dan tidak tersenyum. Cindy, di hinggapi rasa penasaran. Ada apa?
"Mbak, adikku kemana?" tanyanya.
"Nggak ada!" jawabnya singkat.
"Nggak ada kemana?" sambung Cindy.
"Keluar!" ucap lagi Mbak Lastri
"Ya, kemana Mbak! ditanya muter-muter terus," Cintya terilihat kesal dan cemberut.
"Ke rumah mertuanya," Mbak Lastri, sambil membereskan kasur yang berantakan.
"Kenapa nggak bilang dia, tidak menghargai Kakaknya!" jawabnya.
"Justru dia menghargai Kakaknya, karena melihat Kakaknya tertidur pulas, jadi tidak mau membangunkan!" Mbak Lastri, terlihat membela Cintya.
Cindy tidak bergeming.
"Mau lama kayaknya, tinggal disana. Bawa baju salin banyak," Mbak Lastri sengaja bicara seperti itu, agar Cindy berpikir.
__ADS_1
Jangan semena-mena terhadap adiknya. Karena Cindy, tidak pernah menghargai kebaikan selama ini yang di berikan oleh adiknya itu.
"Introspeksi diri saja!" Mbak Lastri, berlalu meninggalkan Cindy.