Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 122 Cindy kembali di pertemukan dengan Azam


__ADS_3

Bu Marni kecelakaan.


Bu Marni mencoba menghubungi anaknya itu beberapa kali. Namun tidak di angkatnya.


Karena di hinggapi rasa khawatir, lalu dia pulang ke rumahnya.


Dalam perjalanan pulang dia melihat Cindy, dari seberang jalan. Kemudian Bu Marni, memanggil Cindy.


Terdengar jelas oleh Cindy, ada suara yang memanggilnya, dia lalu melirik ke arah sebrang jalan. Kemudian dia melajukan kursi rodanya dengan cepat.


Bu Marni dihinggapi rasa heran mengapa Cindy kabur dari rumahnya, dan dia terlihat seperti ketakutan melihat Bu Marni.


"Cindy..!" Bu Marni kembali berteriak.


Cindy begitu cepat melajukan kursi rodanya, kemudian dia menyebrang jalan hendak menyusul Cindy, tapi tiba-tiba ada mobil dari arah depan yang dalam keadaan ngebut ketika mengemudikannya, dan Bu Marni pun, akhirnya tertabrak mobil tersebut.


Brukk..


Bu Marni tertabrak Mobil.


Spontan Cindy menolehnya, Cindy terlihat panik. Karena orang di sekitarnya tahu Ibu Marni sedang memanggilnya dan dia seperti ketakutan berlari.


Badan Bu Marni lecet, penuh luka di area tangannya, dia meringis kesakitan.


"Ibu...!" sontak Cindy tertegun, dan ingin menghampiri, tapi dia seakan ragu.


Dalam keadaan penuh luka pun Bu Marni, masih tetap memanggil-manggil nama Cindy.


Seorang wanita menghampiri Cindy.


"Mbak...Mbak ini, sebenarnya siapa? itu loh, Ibu yang tertabrak memanggil-manggil nama Mbak. Apa Mbak, tidak punya rasa kasihan?" ucap seseorang yang melihat kejadian yang di alami Bu Marni barusan.


Cindy seakan panik, apa yang seharusnya akan dia lakukan. Melihat Bu Marni, dia kasihan dengan luka di tangan. Akhirnya Bu Marni, di boyong ke dalam mobil untuk di bawa ke rumah sakit terdekat.


"Cindy...Cindy, kejar wanita itu, dia anakku," seakan menyuruh orang sekitar untuk mengejar Cindy.


Dengan suara yang lirih, Bu Marni berucap.


*****


Seorang lelaki mendekati Cindy.


"Kamu ayo, ikut aku!" ucap seseorang yang menghampiri Cindy.


Cindy kemudian di masukkan kedalam mobil bersama Bu Marni.


Terlihat Bu Marni tak sadarkan diri.


Air mata Cindy menetes, dia seperti menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aku bersalah, atas semua ini!" Cindy menatap lekat kepada Bu Marni.


*****


Tiba di rumah sakit.


Cindy sedang menunggu Bu Marni dengan wajah gelisah, dia takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan menimpa kepada Ibu Marni.


"Kamu siapanya Ibu yang tengah berada. di dalam itu?" tanya seorang lelaki yang mobilnya, menabrak Ibu Marni.


"Aku..aku, saydaranya," Cindy terlihat gugup.


"Maafkan aku ya, aku tadi tidak melihat ketika Ibu menyebrang, tapi.aku akan bertanggung jawab atas semuanya," ucap lelaki tersebut.


Cindy kemudian melihat keranjang yang selalu dibawa oleh Bu Marni, masih tertutup rapih, kemudian dia membuka keranjang tersebut, dia berpikir siapa tahu ada ponselnya didalam keranjang itu, dan dia akan menelepon Dea, untuk mengabarkan Ibunya sedang berada di rumah sakit.


Kemudian Cindy, berpikir kembali kalau lewat telepon mungkin Dea akan kembali memaki-maki dia.


Cindy pun berpikir akan memberi pesan saja kepada Dea.


{"Dea, Ibumu di rumah sakit,"} tanpa menulis siapa yang mengirim pesan.


Dan Cindy memberikan alamat keberadaan Ibunya tersebut.


*****


Satu jam.kemudan, Dea tiba di rumah sakit. Nampak dia menangis ketika memasuki ruangan. Terlihat Bu Marni meringis kesakitan, tangannya penuh luka lebam.


"Cindy, mana Cindy?" tanya Ibu.


Bu Marni malah menanyakan keberadaan Cindy, dimana. Dea dihinggapi rasa penasaran, mengapa Ibunya begitu peduli sama wanita itu, sedangkan keadaan Ibu pun sedang sakit.


"Bu, jangan memikirkan Cindy, yang penting Ibu sehat dulu," ucap Dea.


*****


Sementara Cindy, sedang mengintip dari arah jendela ruangan kamar, dimana keberadaan Bu Marni di rawat.


"Ibu ini, begitu peduli sama aku, aku kasihan juga kalau kabur tapi aku juga lebih kasihan jika tahu calon menantunya, bekas pacarku," gumam hati Cindy.


Cindy tidak berani masuk, hanya diam diluar dan duduk di kursi rodanya.


"Kamu kenapa lari pas Ibuku memanggil kamu Kak?" tanya Dea yang tiba-tiba datang dari arah dalam ruangan pasien.


Dea tahu Cindy, berlari yaitu dari ibunya sendiri yang cerita.


Cindy tertunduk seakan bersalah.


"Aku mau menghindari Ibu, tadinya." Cindy terlihat takut, jika Dea kembali memaki-maki dirinya lagi.

__ADS_1


"Sudah Kak, kembali saja ke rumah nggak apa-apa, aku kasihan sama Ibu, pasti kalau Kakak kabur jadi pikiran Ibu, dan nanti aku yang kena salah." ucapnya.


"Iya," hanya itu yang di ucapkan Cindy. Dia pun berpikir apa bisa nanti kedepannya, jika Cindy tinggal di rumah Ibu Marni kembali, sementara Dea akan menikah dengan Azam, dan Cindy pasti akan menahan rasa cemburu dan sakit.


Cindy akan terluka karena Azam cinta terakhirnya, sebelum dia mengalami musibah kecelakaan yang mengakibatkan dia sekarang lumpuh tidak berdaya dikursi roda.


Tapi di lain sisi, dia keadaannya sudah lelah, jadi jika dia hidup di jalanan pasti hidupnya, tidak ada arah terlunta-lunta kembali.


Cindy, menghela napas panjang.


Di dalam dirinya berpikir ini karma yang harus dia terima dengan lapang dada.


"Aku harus menerima semua resiko hujatan, dan rasa sakit di tubuhku. Mungkin ini tidak seberapa dengan rasa sakit yang di torehkan oleh Haris, dengan kelakuan yang kurang ajar atau licik olehku," gumam hatinya.


Cindy, nampak meneteskan air mata.


*****


Bu Marni pun tiba di rumah.


Dia tersenyum lebar, karena akhirnya Cindy mau di ajak kembali ke rumahnya.


"Awas ya, Kak. kamu jangan bilang kalau Mas Azam, itu mantan Kakak," ucap Dea, lekat ke kuping Cindy. Cindy hanya tertunduk.


"Kamu kenapa mau kabur dari rumah, Nak?" tanya Bu Marni, seakan penasaran kepada Cindy. Pandangan Cindy mengarah ke Dea,


"Aku hanya takut merepotkan saja disini Bu," ucap Cindy, berbohong..


"Nggaklah, justru Dea, senang. Ada temannya di rumah dan ada yang bantu jualan," Bu Marni menatap lekat kepada anaknya itu.


Dea sang anak, hanya tersenyum tipis.


Dalam hari Dea, seakan di hinggapi rasa ingin melihat reaksi mukanya Cindy, jika melihat Azam seperti apa. Karena dia cinta terakhir yang meninggalkan Cindy. Mungkin rasa kecewa pasti ada dalam hati Cindy, meskipun dia bilang sudah tidak ada rasa karena itu masa lalu.


Tapi Dea seakan ingin membalaskan rasa sakit dari suami dan anak-anaknya Cindy, seperti apa saat itu. Nah jika Dea, terlhat tampil mesra. Apakah tidak ada rasa cemburu? pasti ada rasa cemburu yang teramat. Dea pribadi baik dan dewasa, tapi dia tidak suka dengan kelakuan Cindy, yang menyakiti hati keluarganya itu.


*****


Sore tiba.


"Assalamualaikum," nampak Azam datang.


Dea menyambut dengan mencium punggung tangan Azam dan tersenyum renyah.


Azam pun terlihat menampakkan senyum ramahnya.


"Kak, tolong ambilkan minum!" Dea berteriak


Cindy tiba-tiba datang dengan membawa secangkir teh hangat, dia tanpa tahu tamu yang datang itu siapa.

__ADS_1


"Silahkan di minum," ucap Cindy. Dia lalu mendongakkan wajahnya yang sedang tertunduk ke arah tamu tersebut.


"Azam..!" muka Cindy merah padam, karena ternyata sosok tamunya, adalah Azam, mantan kekasihnya dulu.


__ADS_2