
Hari itu di kota Bogor di guyur hujan cukup deras sekali, Cindy seakan tidak mau beranjak dari tempat duduknya.
Tiba-tiba pintu ruangan kantornya ada yang mengetuk.
Tokk...
Tokk...
Tokk...
Cindy terperanjat mendengar bunyi ketukan pintu karena dia sedang melamun.
"Masuk!" ucap Cindy.
Helmi datang dengan membawa pisang goreng panas, dan kopi hitam hangat. Nampak Cindy senang sekali terlihat dari mukanya tersenyum lebar, meskipun hanya pisang goreng namun menurut Cindy itu adalah bentuk perhatian yang tidak ternilai harganya.
"Lagi ngelamun ya?" ucap Helmi tersenyum renyah.
"Iya, lagi mikirin kamu!" Lidah Cindy menjulur dan terlihat manja, melihat gelagat Cindy membuat hati Helmi gemas di buatnya lalu dia mencium pipi Cindy dengan spontan.
"Muahh...!!" Helmi kemudian berlalu dari ruangan Cindy dan melambaikan tangan, Helmi buru-buru keluar ruangan Cindy karena takut karyawan lain melihatnya.
Mendapat perlakuan kejutan kecupan seperti itu entah mengapa hati Cindy berbunga-bunga seakan melayang tinggi.
Lalu Cindy mengirimkan pesan kepada Helmi.
{"Kamu nakal ya?"} tulis Cindy.
{"Tapi suka kan? sama yang nakal apalagi yang nakalnya ganteng,"} balas Helmi dengan menjulurkan emotion mengulurkan lidah dan memeluk.
{"Cindy membalas dengan emotion pelukan,"}
{"Jadi pengen, hujan gini melukin Sayang,"} kembali Helmi membuat gombal.
Cindy membalas dengan emotion tersipu malu.
{"Pulangnya ke Bar yang kemarin yu?"} Helmi seakan berharap.
Cukup lama Cindy membalas pesan dari Helmi, kemudian.
{"Enggak ah, takut minum lagi,"} jawab Cindy
{"Enggak apa-apa minum air mineral,"} emotion dari Helmi menjulurkan lidah dan tertawa terbahak.
Cindy pun membalasnya dengan emotion tertawa terbahak.
***
Suasana di luar kantor sangat sepi karena hujan telah mengguyur tadi sore dan sekarang tepat pukul enam baru reda hujannya.
Cindy bersiap untuk pulang dia membereskan kertas yang berserakan di mejanya dan tidak lupa sebelum keluar ruangan dia bersolek dahulu, dan memakai parfum yang begitu menyengat.
Ketika Cindy hendak membuka pintu lalu ada pesan masuk.
{"Aku tunggu di Bar tempat kemarin ya?"} Helmi mengirimkan pesan.
__ADS_1
Cindy seakan di hantui rasa bimbang antara mau menghampiri Helmi atau tidak. Dia berpikir cukup lama.
Lalu dia membuka pintu ruang kerjanya dan melangkahkan kakinya keluar ruangannya, dia melirik ruangan Helmi yang sudah kosong.
{"Berarti Helmi sudah menunggu di Bar,"} gumam hatinya.
Ting...
Tiba-tiba pesan muncul dari Haris sang suami.
{"Aku dalam perjalanan pulang, setengah jam lagi Aku tiba di rumah,"} ketika membaca pesan dari Haris sontak Cindy memasukkan ponselnya ke dalam tasnya kemudian dia berlalu dan menaiki mobil sedannya.
Cindy dengan melaju kencang menyetir mobilnya dia takut nanti Haris curiga dan marah lagi kepadanya.
Ting...
Ting...
Ting...
Pesan terus menerus berbunyi dan suara panggilan masuk pun tak henti berbunyi. Cindy memasukkan ponselnya ke dalam tas nya, dia tidak sempat membuka pesan dan panggilan masuk karena dia di buru waktu oleh Haris.
Sesampai di rumah jantung Cindy terasa lega karena tidak nampak mobil Haris disana, jadi Haris masih dalam perjalanan pulang belum sampai rumah.
Cindy kemudian memasuki kamarnya dan dengan cepat dia memasuki kamar mandi, sebelum mandi Cindy melakukan luluran dan sesudah semuanya selesai lalu dia memakai baju yang sedikit seksi dan memakai parfum.
{"Pah, Aku sangat rindu sama kamu,"} gumam hatinya.
***
Tit..
Tit..
Tit..
"Papa..!"
Teriakan Rara terdengar oleh Cindy, sebelum keluar kamar Cindy kembali menatap dirinya di cermin, dia tersenyum sendiri.
"Pasti Haris merasa rindu ketika melihatku," gumam hatinya, Cindy pun keluar dari kamarnya untuk menyambut Haris.
Terlihat Haris duduk di teras sambil menggendong Rara, dia mengelus-elus kepala rambut Rara dan memeluk erat.
"Papa, kangen sekali sama Rara, Papa inget terus Rara ketika di Bandung," Haris terus menerus menggoda Anak perempuannya itu.
"Kalau sama Mama, kangen tidak?" tiba-tiba Cindy muncul. Sontak Haris menoleh kebelakang dan melihat Cindy tapi dengan cepat dia memalingkan penglihatannya dan kembali bercengkrama dengan Rara.
"Rara, wangi ya, Papa belum mandi. Papa mandi dulu ya?" Haris kemudian berlalu tanpa menghiraukan istrinya itu.
Degh...
Terasa kesal mendapatkan perlakuan seperti itu dari suami, Cindy berharap Haris rindu dan memeluknya tapi yang di dapatkannya Haris malah berlaku cuek.
Cindy membuang napas kasar, dia memegang keningnya dan memijitnya.
__ADS_1
"Kenapa Mah?" tanya Rara.
"Pusing, kayaknya Mama masuk angin," ucap Cindy.
"Minta pijit sama Papa saja. Papa kan dulu suka pijitin Mama kalau Mama sakit," jawab Rara.
"Itu dulu, sekarang ceritanya berbeda," gumam hati Cindy seakan ingin berteriak, kesal terhadap suaminya yang begitu cuek terhadapnya.
Makan malam tiba, nampak Haris begitu akrab dengan Reza dan Rara, sementara Cindy seakan jadi pendengar karena tidak ditanya sama sekali oleh Haris. Akhirnya Cindy berlalu dari meja makan.
"Pah, Mama sakit tuh, Papa pijitin Mama dong, kasihan," Rara merajuk kepada Haris. Cindy hanya tersenyum tipis dan Haris hanya diam seakan tidak mau menanggapi.
***
Jam menunjukkan pukul sebelas malam tapi Harus belum juga memasuki kamar Cindy.
Cindy yang menahan rasa rindu yang sangat dalam terhadap suaminya itu seakan sabar menunggu suami masuk ke kamarnya.
Krek...
Tiba-tiba kamar terbuka, Haris nampak memasuki kamar kemudian Haris duduk di meja rias dan dia memainkan game di ponselnya.
"Pah, Aku sakit," ucap Cindy terlihat manja
"Terus!" begitu singkat jawaban Haris.
"Mau, di pijitin sama kamu," Cindy kembali memohon.
"Aku juga capek, Mah!" jawab Haris.
Muka Cindy berubah menjadi cemberut seakan kesal.
"Kamu tidak rindu sama Aku, Pah?" Cindy seakan kecewa ketika berucap.
"Sudahkan Mah, jangan kayak Anak kecil," Haris seakan kesal karena Cindy merajuk terus
"Kamu tidak mau tidur bareng Aku lagi Mas, sudah lama!" Cindy berucap penuh amarah.
Brug...
Haris menggebrak meja rias mengakibatkan peralatan kosmetik Cindy berjatuhan. Melihat sang suami marah Cindy di hinggapi rasa takut dia pun terdiam tidak berani berbicara apapun.
Haris kemudian berlalu dari kamar lalu dia duduk di Sofa dan kembali memainkan ponselnya.
**
Jam di dinding terlihat menunjukkan pukul dua pagi Haris pun tertidur pulas di Sofa dan ponselnya masih menyala.
Cindy tidak tidur malam itu dia menangis sejadi-jadinya karena merasa tidak di anggap oleh Haris sang suami, matanya sembab.
"Aku wanita normal Mas, menginginkan pelukan dan belaian dari seorang suami," gumam hati Cindy.
***
Mbak Eka keluar kamar tepat pukul tiga dan ketika mendapati Haris sedang tertidur pulas di Sofa, Mbak Eka menaruh curiga, dia pun nampak tertegun sesaat.
__ADS_1
"Apakah mungkin suara gebrakan tadi, suara Pak Haris yang sedang marah kepada Ibu?"
Mbak Eka pun mengelus dada.