
Ibunya Haris seakan tidak kuasa ingin segera menjual rumah Haris, yang di Bogor. Dan Ibunya nekad mau pergi ke Bogor bersama supir pribadinya. Karena dia berpikir jarak antara rumahnya yaitu Bekasi, ke Bogor dekat. Jadii bisa bolak- balik menempuh jarak sekitar satu jam lebih.
"Nak, Ibu ini mau ke Bogor, ke rumah kamu!" ucap Ibu, menelepon Haris, di sambungan selular teleponnya.
Nampak Haris sangat terkejut mendengar kabar dari Ibunya itu, dan Haris tidak bisa melarang karena Haris tahu ibunya, wataknya keras. Jika dia larang pasti akan marah-marah, seperti waktu kemarin menelepon dan akhirnya teleponnya di tutup.
Haris di hinggapi rasa khawatir jika nanti Ibunya bersikap kurang baik kepada Cindy, karena Ibunya sudah sangat kesal dari dulu kepada Cindy, ketika tahu anaknya di selingkuhi oleh Cindy.
***
"Apa aku harus nyusul ke Bogor?" gumam hati Haris. Dia sedang sibuk, terus sebentar lagi akan ada relasi bisnisnya datang dari Sukabumi.
Dengan berpikir cukup lama akhirnya Haris pun mengurungkan niatnya yang ingin pergi ke Bogor.
***
Ibunya Haris tiba di Bogor.
Cintya adik dari Cindy, menyalami Ibunya Haris, terus Cintya mencoba menerangkan kondisi Kakaknya sekarang seperti apa.
Nampak Cindy belum keluar juga dari kamarnya, mereka sebenarnya ingin masuk ke kamarnya Cindy, apa daya pintu terkunci dari dalam.
"Mungkin pengaruh obat juga, jadi masih tidur," ucap Cintya, ketika Ibunya Haris seakan memaksa untuk segera bertemu dengan Cindy bekas mantan menantunya itu.
Krek...
Tiba-tiba pintu terbuka lebar, nampak Cindy membuka pintu kamarnya. Betapa terkejutnya hati Cindy ketika melihat mantan mertuanya, Dia di hinggapi rasa gelisah yang teramat.
Melihat Cindy akhirnya keluar dari kamar, sontak Cintya sang adik menghampiri Cindy, dan mendorong kursi rodanya ke hadapan mantan Ibu mertuanya.
Tatapan Ibunya Haris terlihat sinis, namun di hatinya ada rasa iba tapi sedikit. Dan Ibunya Haris seakan bingung untuk memulai pembicaraan awal kepada Cindy, entah darimana untuk memulainya.
***
"Gimana kabarnya, sudah lama tidak bertemu, gimana kondisi badannya, sudah baikan?" tanya Ibunya Haris, menatap lekat kepada Cindy.
Cindy menunduk seakan malu, untuk bertatapan langsung dengan mantan mertuanya itu. Begitu banyak kesalahan yang dia perbuat selama jadi istrinya Haris, dan selama dia menjadi menantu selalu menghindar, ketika Ibunya Haris ingin bertemu dengannya.
"Kondisi badan Cindy sekarang seperti ini, seperti yang Ibu lihat," Cindy hanya tersenyum tipis, seakan terpaksa.
"Semoga cepat sehat, minta doanya saja," Cintya mengusap rambut kakaknya itu.
Cintya mencoba menjadi penengah, agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka.
__ADS_1
***
Ibunya Haris menghela napas secara perlahan, sebelum dia membicarakan masalah rumah yang rencananya mau dijual.
"Sebelumnya Ibu minta maaf, maksud kedatangan Ibu kesini bukannya mau mengganggu keadaan Cindy, dan menjadi beban pikiran Cindy karena kondisi badannya kan, lagi sakit. Rumah ini akan di jual!" Ibunya Haris begitu menggebu-gebu ketika berucap.
Sontak mendengar ucapan dari Ibunya Haris, Cindy dan Cintya kaget, mereka saling bertatapan.
***
Muka Cindy langsung terlihat pucat pasi, karena sertifikat yang dia gadaikan belum dia tebus, pikirannya seakan terbang, dia sangat bingung harus berkata apa kepada Ibunya Haris.
"Ya, jika itu menjadi keputusan dari Haris apa boleh buat, kita ikutin saja," Cintya mencoba untuk tidak sedih dan kecewa dengan keputusan Ibunya Haris yang akan menjual rumah yang sedang di tempati oleh dia dan Kakaknya saat ini.
***
Cindy membuang napas kasar.
"Sebenarnya sertifikat rumah ini sudah tidak ada, sudah aku gadaikan," ucap Cindy terbata-bata.
Secara serentak pandangan Cintya dan Ibunya Haris tertuju kepada Cindy.
"Maksudnya apa!" Ibunya Cindy terlihat kesal.
Mendengar perkataan Cindy, Ibunya seakan geram, amarah yang dia tahan terdahulu kepada Cindy, seakan hinggap kembali saat ini. Ibu seakan kesal dibuatnya dengan kelakuan Cindy.
"Kamu kurang ajar!" spontan Ibu berdiri dari tempat duduknya.
Cindy dan Cintya sangat terkejut ketika melihat Ibu marah. Emosinya seakan memuncak.
Ibu memaksa Cindy untuk menghubungi orang yang dia simpan sertifikatnya itu.
Kemudian Cintya berusaha menghubungi orang yang meminjamkan uang kepada Cindy dengan jaminan sertifikat.
Namun apa daya ponselnya tidak di angkat.
Ibu mendekati Cindy, lalu telunjuknya menempel di kening Cindy.
"Kamu memang keterlaluan!" muka Ibu merah, terlihat dari raut mukanya menyimpan emosi yang teramat.
Ibunya Haris menumpahkan semua emosinya kepada Cindy, dia memaki-maki Cindy. Melihat luapan emosi Ibunya Haris, sangat memuncak, langsung Cintya mencoba meredakan Ibunya Haris, agar menjauh dari hadapan Cindy.
Cintya menarik tangan Ibunya Haris. Dia takut Ibunya Haris khilaf dan melakukan tindakan yang tidak diinginkan. Niat Cintya menarik tangan Ibunya Haris, agar jangan tersulut emosi terlalu dalam, namun amarah Ibu seakan memuncak, dia terus memaki-maki mantan menantunya itu.
__ADS_1
***
Tak lama kemudian Bagas, suami dari Cintya datang, dia mencoba menenangkan hati Ibunya Haris, yang sedang memuncak amarahnya.
Bagas mencoba membawa Ibunya Haris, keluar teras.
Mbak Lastri, sang ART lalu memberikan minum kepada Ibunya Haris.
"Bu, pulang saja yu!" supir pribadi Ibunya Haris, yang bernama Pak Rahmat, langsung mengajak Ibunya Haris pulang.
***
"Bu, maafkan, adikku. Hari ini saya akan selesaikan semuanya, saya akan menebus sertifikat tersebut, saya pasti akan usahakan." Bagas mencoba menyabarkan hati Ibunya Haris.
Sementara supir dari Ibunya Haris menelepon Hana, karena sebelum kepergiannya ke Bogor, tadi Hana menitipkan pesan, jika terjadi apa-apa kepada Ibunya tolong beritahu Hana.
Setelah mengetahui kabar berita dari Pak Rahmat. Hana sangat terkejut, dan Hana menyuruh Pak Rahmat, segera bawa Ibu pulang saja ke Bekasi.
Setelah di Bujuk pak Rahmat akhirnya Ibunya Haris, mau di ajak pulang. Dengan muka yang nampak menyimpan rasa amarah..
***
Di dalam mobil, Ibunya Haris, menelepon Haris. Dia menumpahkan rasa kesalnya kepada mantan menantunya itu.
Setelah mendengar penjelasan dari Ibunya, Haris pun sangat kesal kepada mantannya itu, dan Haris ingin rasanya pergi ke Bogor, tapi apa daya pekerjaan di kafe sedang sibuk.
{"Pokoknya lusa, temani Ibu ke Bogor lagi, Ibu tidak mau tahu!"} Ibunya Haris memaksa agar Haris bisa menyempatkan waktunya lusa, untuk kembali menemui Cindy pergi ke Bogor.
***
Haris di hinggapi rasa kecewa kepada Cindy, apalagi uang yang di pinjam Cindy cukup besar, khawatir rumahnya di sita.
Jika itu terjadi mungkin Ibunya akan tambah marah dan kesal kepada Cindy.
Akhirnya Haris menelepon Cintya, dia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan apa benar, sertifikat rumah Haris di simpan Cindy, atau di gadaikan.
Sehingga Ibunya sampai marah besar.
{"Mas, aku akan berusaha bertemu dengan orang yang meminjamkan uang tersebut, aku dan Mas Bagas janji akan usahakan sertifkat nya, bisa kembali di tangan kita."} Cintya seakan meyakinkan Haris.
Cintya, menghela napas panjang.
Dia kesal dan kecewa kepada Kakaknya.
__ADS_1
Dia berpikir tidak akan ada masalah setelah dia bayar utang kemarin ke Febi, ternyata masih ada utang yang lebih besar, dan sekarang Cintya bingung karena dia sudah tidak punya perhiasan lagi. Perhiasan yang Cintya punya, baru kemarin dijual untuk membayar utang Cindy.