
Leo yang bertanya kepada Izam kenapa dia ada didepan kelasnya. Setelah ditanyakan kalau Izam datang untuk mengantarkan mereka berdua ke rumah. Meri yang tahu kalau Tarkam yang akan menjeput hanya terdiam. Sampai Izam berkata kalau Tarkam tidak bisa menjemputnya karena ada urusan dan dia meminta Izam untuk mengantarkan Meri dan temannya ke rumah.
Meri yang baru tahu akan itu hanya mengikuti Izam saja. Sementara Leo yang melihat mereka seperti ada yang disembunyikan hanya bisa menonton mereka yang saling terdiam. Sampai di parkiran mereka berdua masih terdiam. Leo yang saat itu mendapatkan panggilan dari Gay kalau sudah ada perubahan dalam rencana.
Leo yang mendengarnya hanya bisa tediam karena tidak ingin diketahu oleh mereka berdua. Tapi Meri yang melihat berkata,”Apa terjadi masalah?.”
“Tidak ada, yang ada itu adalah kalian berdua yang aneh dari tadi,”kata Leo.
“Memangnya ada apa dengan kami berdua,”ucap Meri.
“Iya benar kami biasa saja kok,”kata Izam. Leo menghela nafas melihat mereka,”Iyalah kalian tidak tahu. Tapi saran sebagai teman saja. katakan sekarang atau nanti kalian akan menyesal.”
Izam dan Meri yang mendengar terdiam sampai mobil dinyalakan dan mobil melaju keluar dari halaman kampus. Leo yang tadi melihat ke arah jendela mobil. Sekilas melihat sekelompok orang dan orang itu dari pemerintahan. Leo yang tahu siapa mereka hanya bisa melihat saja.
Sementara Izam yang sedang menyetir mobil dan Meri yang masih melamun. Di perjalanan yang tenang dengan keheningan dan kecanggungan keduanya masih berlanjut sampai mobil terhenti tiba-tiba.”Ada apa Izam?,”ucap Meri yang juga tersentak karena mobil berthenti tiba-tiba.
“Maaf Meri ada penghalang yang mengganggu,”ucap Izam.
“Penghalang, siapa?,”ucap Meri yang melihat ke depan. Meri yang melihat merasa tidak kenal dengan mereka yang di depan mereka. Sedangkan Izam yang juga tidak tahu, sampai Leo keluar dari mobil.
“Kalian lanjut saja perjalanannya. Aku akan menyelesaikan masalah dulu,”kata Leo disamping mobil yang terbuka. Mobi kembali tertutup Leo berjalan menuju ke arah mereka.
Izam yang tidak tahu keluar dari mobil dan berkata siapa mereka Leo. Tapi Leo tidak menjawab hanya mengangkat satu tangan luru ke atas. Pada saat itu juga anak buah Leo munjul dari segala arah yang juga sudah dipersiapkan oleh Leo.
Izam yang tidak tahu hanya kembali masuk dan mulai melaju mobilnya. Tapi saat mobil melaju Meri idak berkata apa-apa. “Kamu tidak apa-apa dengan Leo yang menghadapi mereka,”kata Izam untuk mencari topik pembicaraan.
“Aku tidak masalah karena dia juga memiliki masalahnya sendiri,”ucap Meri.
__ADS_1
“Kenapa kamu menghindariku,”ucap Izam yang mengganti topik lagi.
“Menghindari dari apa, yang kamu maksudkan,”kata Meri.
“Tadi pagi,”ucap Izam.
“Pagi tadi ya,”ucap Meri yang mencari alasan untuk diberikan kepada Izam.
“Kamu tidak harus memberitahukan sekarang jika kamu masih ragu,”kata Izam yang mengerti kalau Meri tidak akan memberitahukan kepadanya.
“Maaf,”ucap Meri dengan singkat dan kembali melihat ke luar jendela.
Sampai Izam berkata lagi karena hatinya ingin tahu apa mereka berdua pacaran atau hanya rekan saja. Untuk memastikan itu Izam dengan sedikit pelan dan ragu berkata,”Meri.. apa kamu dan Leo sedang ada hubungan.”
Meri yang mendengarnya langsung melihat ke depan,”Hubungan apa yang kamu maksdukan Izam.” Meir yang tidak tahu karena terkejut dengan pertanyaan Izam.
“Kamu mengira aku dan Leo pacaran Izam,”kata Meri lagi. Izam hanya menganggukan kepalanya sampai Meri memberikan penjelaskan kalua dia dan Leo adalah rekan kerja dan bukan kekasih. Izam yang sudah mendapatkan jawaban dari Meri merasa lega.
Sampai mereka berdua sudah sampai di kediaman Sarca. Meri yang turun dan di ikuti oleh Izam. Meri yang melihat ke gerbang masuk menuggu Leo yang belum datang. Sampai Izam yang mengusulkan kalau dia akan membantu Leo. Agar rasa khawatir Meri lega. Tapi saat dia memberikan usul Loe datang diantarkan oleh anak buahnya.
“Kalian sedang apa di sini,”ucap Leo yang berjalan ke arah mereka berdua.
“Apa kamu baik saja Leo?,”kata Izam.
“Aku baik saja,”kata Leo dengan santai.”Siapa mereka?,”kata Meri yang menatap ke arah Leo.
“Musuh lama, itu tidak ada kaitannya dengan kalian berdua. Jadi kalian tidak usah khawatir,”ucap Leo.
__ADS_1
Mendengar semua itu Meri berjalan ke arah ruang kerja yang di ikuti oleh Leo dan Izam. Leo yang melihat ke arah Izam yang masih menatap Meri dari belakang.”Kenapa kamu hanya memandang saja,”ucap Leo yang berjalan di sampingnya.
“Memang ada masalah,”kata Izam yang merasa kalau Leo adalah sayingan dia. Leo yang tahu tatapan itu hanya menghela nafas.
“Untuk apa kamu mewaspadaiku aku hanya rekan kerja saja. Aku juga tidak suka dengan Meri,”kata Leo dengan jujur.
“Apa serius kamu tidak tertarik dengan Meri?,”kata Izam. Leo yang menghela nafas hanya menganggukan kepalanya sampai Meri yang berjalan didepan dan sudah membuka pintu melirik kebelakang.
“Kalian sedang membicarakan apa sampai seserius itu,”kata Meri.”Izam cemburu denganku karena kamu selalu bersama denganku,”kata Leo yang dengan pede.
“Siapa juga yang cemburu,”ucap Izam yang memalingkan wajahnya. Sampai bibi datang melihat nona dan kedua temannya datang.”Apa perluh saya siapkan teh nona,”ucap Bibi.
“Boleh bi. Tolong ya,”ucap Meri yang melihat dengan sopan kepada bibi. Mereka berdua yang masuk ke dalam ruang kerja Izam yang juga masuk ke dalam melihat tempat kerja mereka berdua.
“Apa pekerjaan kalian berdua banyak?,”kata Izam.
“Tidak juga hanya menjahit beberapa pakaian pesanan saja,”kata Meri.”Kenapa kamu tidak membuatkan satu stel baju pesata untuk Izam Meri,”kata Leo yang tiba-tiba memberikan usulan . Leo yang sudah mencari kain untuk dia melanjutakan jahitan yang kemarin. Sementara Meri yang melihat ke arah Izam yang sedang menuggu jawaban.
Izam yang sedikit malu mengatakan kalau dia mau jika Meri tidak keberatan. Melihat Izam yang sedikit malu dan Meri yang sudah mendapatkan jawaban mengambil meteran. Meri yang memulai mengukur tubuh Izam. Walaupun sedikit malu-malu Meri memberanikan dirinya untuk mengukur tubuh Izam.
Leo yang melihat mereka berdua yang malu-malu hanya bisa tersenyum. Sampai Loe berpura-pura mendapatkan telepon dan izin keluar dari ruang kerja untuk mengangkat telepon. Didalam ruangan hanya ada Izam dan Meri yang sedang mengukur tubuh. Leo yang dengan santai melihat dari balik jendela tapi saat Leo melihat di pergoki oleh Jaksen.
“Apa yang kamu lakukan di sini?,”ucap Jaksen. Tapi belum selesai bicara Leo menarik untuk ikut bersembunyik dan berkata diam lihat di dalam sana. Jaksen yang melihat ke depan di dalam ruangan ada Izam dan Meri.”Apa yang mereka lakukan di dalam sana?,”ucap Jaksen yang membuat video call dengan Tarkam apa yang dia lihat dengan Leo.
“Sedang mengukur tubuh untuk membuat baju. Tapi karena mereka malu-malu dan sangat menarik aku pura-pura keluar untuk mengangkat telepon dan menonton itu,”kata Leo.
“Hebat aku tidak menyangka akan melihat ini,”kata Jaksen yang sudah terhubung dengan Tarkam.
__ADS_1