Rahasia Meri

Rahasia Meri
RM 46


__ADS_3

Meri yang datang bersama Bela langsung datang menghampiri para tamu sampai Ilyas menghampirinya. Meri yang ikut bersama dengan Ilyas duduk didekatnya sambil memberikan selimut untuk menghangatkan Meri. Meri menoleh ke arah Ilyas sambil tersenyum.”Agar tubuh kamu tetap terjaga,”ucap Ilyas yang memberikan teh hangat.


“Kamu sangat perduli dengan kakakku ya tuan Ilyas,”ucap Bela yang duduk di dekat Aji.


“Tentu saja dia adalah tunanganku,”ucap Ilyas.


“Bagaimana apa kita mulai saja untuk hasilnya?,”kata Erik yang sudah berdiri. Mereka yang menuggu hasil tes DNA dengan wajah yang sudah di rencanakan. Erik yang tahu akan ikut, tapi hasil sudah tetap akan sama karena yang mereka tukar adalah palsu.


Erik yang memberikan hasilnya kepada salah satu setelah dia membaca datanya.”Baik saya bacakan dari hasil tes DNA kalau Meri bukan anak dari kedua orang tersebut,”ucap Erik dengan santai.


“Apa bagaimana bisa,”ucap keluarag Brata.


“Jika anda tidak percaya bisa saya perlihatkan hasilnya,”kata Erik yang memberikannya kepada keluarga Brata.


Keluarga Brata yang membaca hasilnya dengan seksama memang benar kalau ketiganya tidak cocok.”Bagaimana bisa, bukan seharusnya sudah diganti dengan yang palsu,”ucap hati keluarga Brata.


“Apa sekarang, sudah percaya bukan kalau mereka bukan kedua orang tuaku yang asli. Mereka adalah penipu,”kata Meri.


Kelurga Brata yang sangat malu dengan apa yang mereka ketahui tentang kedua orang tersebut. Meminta maaf kepada Meri dengan terpaksa. Setelah semua urusan selesai mereka pergi bersama dengan keluarga Bram dan Bela.


“Akhirnya mereka sudah pergi,”ucap Meri.


“Tapi dimana ayah dan ibu kamu sayang,”ucap nenek keluarga celsi yang masih mengkhawatirkan mereka.


Meri yang melihat dari wajah neneknya kalau dia rindu putra dan menantunya hanya bisa menghela nafas.”Mereka baik saja, tidak usah khawatir,”ucap Meri tanpa sengaja.


Nenek dan kakek yang mendengar hanya bisa tersenyum kalau cucunya juga sangat ingin bertemu dengan mereka. Apa lagi mereka belum pernah bertemu, tapi nenek dan kakek tidak bisa menahannya tidak sama dengan Meri.


“Aku harus kuat dengan cucuku agar dia tidak sedih,”ucap Kakek dan nenek dalam hati.


Meri yang melihat wajah mereka hanya menebak saja kalau mereka sudah kembali semangat. Tapi saat dia melihat ke arah lain Meri merasakan hawa dingin disampingnya. Membuat dia ingin menjauh tapi tangannya dipegang oleh Ilyas.

__ADS_1


“Aku akan jelaskan, tapi kamu jangan marah,”ucap Meri yang merasa bersalah.


“Kita duduk dulu bagaimana?,”kata Meri agar dia bisa mempersiapkan diri untuk menjelaskannya kepada Ilyas. Yang melihat Meri dengan tajam.


“Waktu itu karena dalam zona minyak aku awalnya ingin menyelusuri saja sampai tidak ada ledakan. Tapi Aku mendengar suara bayi dan melihat korban jadi aku membantu dia, hingga aku mencium bau kebakaran dari tangki yang ada didekat mobil tersebut. karena waktu yang mendesak dan tim penyelamat datang aku hanya memporitaskan korban. Hingga ledakan terjadi aku terjun ke dalam air,”ucap Meri yang bercerita.


“Tapi kamu tahukan kalau itu berbahaya bagaimana jika kamu terluka,”kata Ilyas.


“Aku minta maaf jika penolongku masih ada dan aku baik saja selama aku tidak ceroboh,”kata Meri.


“Kamu itu susah di atur ya. Berapa kali kamu membuat aku khawatir,”kata Ilyas yang memegang kepalanya. Meri yang mendapatkan omelan dari Ilyas hanya bisa terdiam sampai dia mendapat pesan kalau perusahaan sudah mulai berjalan dengan lancar.


“Kamu mendengarkanku tidak,”ucap Ilyas yang menatap Meri. Meri kembali menatap ke arah ilays sambil menganggukan kepalanya. Sampai Erik berkata,”Untuk apa kamu marah dengan Meri, dia memang begitu sifatnya perduli dengan orang lain. Jika kamu nanti terluka dia mungkin akan melakukan apa saja untuk kamu.”


“Apa maksud kamu?,”kata Ilyas yang dingin kepada Erik.


“Aku hanya mengatakan kebenaran saja, bukan kamu sudah tahu dia adalah mantan komandan dan jendral elang hitam,”ucap Erik.  Ilyas hanya menghela nafas setelah melihat Meri yang wajahnya dengan polosnya tidak menyesal karena sudah menolong orang.


“Kamu sama saja dengan orang tua angkatku menurungku,”ucap Meri yang marah dan masuk ke dalam kamar dan mengunjinya di dalam. Ilyas yang melihat Meri marah untuk pertama kalinya melihat ke arah Erik.


“Apa yang salah dengan ucapanku kenapa dia marah denganku,”kata Ilyas kepada Erik. Erik yang tidak bisa berkata hanya memberikan satu kunci.


“Coba kamu ingat apa yang dikatakan oleh Meri sebelum dia pergi,”kata Erik.


Ilyas yang mencoba mengingat sampai dia merasa bersalah.”Aku harus meminta maaf kepada dia,”kata Ilyas.


“Lebih baik kamu minta maaf besok saja. Hari sudah malam apa lagi dia baru saja terjun payung,”kata Erik. Nenek dan kakek yang medengar percakapan mereka langsung menatap ke arah keluarga Sari.


“Apa Meri dilakukan tidak adil dengan keluarga Bram,”ucap nenek keluarga Celsi.


“Kami juga baru tahu baru-baru ini apa yang terjadi dengan Meri saat dia dalam keluarga Bram. Jika kami tahu kami akan membawa Meri ke kediaman Sari untuk tinggal,”ucap kakek keluarga Sari.

__ADS_1


“Apa lagi soal tuduhan pembunuhan dan kecelakaan yang membuat Meri hampir saja mati,”ucap Nenek keluarga Sari yang merasa bersalah.


“Apa maksud ada Meri mendapatkan tuduhan pembunuhan dan kecelakaan,”kata nenek keluaga Celsi yang terkejut mendengarnya.


“Kami juga baru saja menyelidiki kalau Meri pernah mendapat tuduhan pembunuhan disekolahannya dulu membunuh temannya. Sementara Meri tidak melakukannya di tambah saat dia menuju tempat rehabilitas remaja Meri mengalami kecelakaan dan masuk ke jurang. Tapi semua itu dilakukan oleh orang lain, tapi untuk sekarang kami masih belum mengetahui siapa dalangnya,”kata kakek  keluarga Sari.


“Tapi untungnya sekarang Meri masih hidup dan baik saja,”kata Nenek keluarga Celsi.


Saat mereka mengobrol Ilham dan Ahmad datang bersama dengan Erik yang tadi diluar.”Apa yang sedang anda bicarakan, sepertinya asik juga,”kata Ahmad.


“Asik dari mana. Kamu tidak lihat wajah mereka seperti ingin membanting meja,”kata Erik.


“Itu benar,”kata Ilham.


“Nenek dan kakek sedang membicarakan apa sampai seserius itu,”kata Erik yang bertanya dengan sopan.


“Kami sedang membicarakan soal Meri yang dituduh pembunuh dan mengalami kecelakaan,”ucap kakak keluarga Celsi.


“ohhh soal itu,”ucap Erik yang terdiam setelah mendengar jawabannya.


“Apa maksud kamu Meri pernah mengalami tuduhan seperti itu,”kata Ilham.


Ahmad yang melihat ke arah Erik dengan wajah santainya kalau Erik sudah tahu tentang apa yang menimpa Meri.”Apa kamu tahu siapa pelakunya Erik?,”kata Ahmad.


“Pelaku dari yang menyelakai Meri maksud kamu,”kata Erik.


“Tentu saja,”kata Ahmad. Dan semua orang yang ada di dalam ruangan hanya bisa menuggu jawaban dari Erik.”Jika kalian ingin tahu tanya saja kepada Meri dia yang tahu. Aku tidak berhak untuk angkat bicara,”kata Erik yang mengikuti perintah.


“Apa kamu tidak bisa melanggar saja sekali,”kata Ilham.


“Jika kamu memiliki nyawa banya tidak masalah,”ucap Erik.

__ADS_1


__ADS_2