
Meri yang sudah masuk ke dalam mobil yang membawa dia ke kantor polisi. Waktu berjalan cepat dimana mobil yang membawa Meri sampai di kantor polisi. Di sana Meri di intograsi oleh petugas polisi yang sedang menyelidiki kematian Jesika.
Meri masuk kedalam ruang intograsi dimana ruangan itu gelap dan terdapat kamera yang mengawasi. Tapi dengan santai Meri masuk dengan dikawal oleh Petugas polisi masuk kedalam ruangan.
Di dalam ruangan Meri duduk sampai petugas yang ingin bertanya kepada Meri masuk kedalam ruangan. Dia duduk dan memperkenalkan diri kalau dirinya Santo bersama dengan Izam yang juga masuk dengan tatapan tajam ke arah Meri. Tapi Meri yang tidak melakukan kejahatan hanya bisa terdiam dan melihat kearah mereka berdua yang duduk didepan mata Meri.
“Aku akan memulai mengintograsi kamu Meri Maratika Sari, Putri dari Bram dan Intan. Apa itu benar?,”ucap Santo.
“Tidak, aku hanya anak adobsi dari keluarga Sari,”ucap Meri dengan jujur.
“Anak adobsi, yang telah membunuh adikku Jesika. Pantas mati,”ucap Izam yang menyela. Santo menghentikan Izam yang marah kepada Meri dengan tatapan tajam.
Tapi Meri hanya menghela nafas,”Kenapa kamu yakin kalau aku yang membunuhnya dan bukan orang lain.”
“Apa maksud kamu?,”ucap Santo.
“Aku tidak pernah melakukan apa yang kalian ucapkan. Pada saat kejadian aku di ruang kesehatan karena lutut aku terluka. Bagaimana aku melakukan di gudang dengan jam yang sama, apa aku memiliki kembaran?,”kata Meri yang menunjukan jam dan waktu dia pergi ke ruang kesehatan.
“Apa kamu yakin tidak melakukannya. Apa hanya dengan ini kamu tidak terbukti tidak bersalah,”ucap Santo yang memberikan semua bukti yang dia pegang.
“Lihat ini. Ini semua adalah bukti kalau kamu yang telah mendorong Jesikan. Teman yang kamu bicarakan sudah mengakui kalau kamu tidak pergi ke ruang kesehatan tapi di gudang lama,”kata Snato.
Meri membaca data yang diberikan dan sangat terkejut kalau Tea yang mengantarkannya ke ruang kesehatan membuatk saksian palsu. Tapi Meri yang berpikir positif yang sudah tahu semua kalau ini semua dalah rencana keluarganya dan Bela yang ingin Meri masuk ke dalam penjara dan dikeluarkan disekolahan.
__ADS_1
Meri yang telah selesai membacanya hanya menghela nafas karena dia tidak ingin terus ditanyakan dia hanya menerima hukukan dengan tenang. Walaupun dia tidak melakukan kejahatan yang dia buat.
“Apa kamu mengakui kalau kamu yang telah membunuh Jesika,”kata Santo dengan tegas dan adil.
“Tidak,”ucap Meri dengan santai. Setiap jawaban yang di lontarkan jesikan tetep berkata tidak karena dia tidak melakukannya. Hingga keputusan akhir Meri akan di masukkan kedalam penjara untuk satu tahun di rehabilitas remaja. Tempat untuk anak yang dibawah umur untuk didik di tempat yang seharusnya.
Izam yang melihat Meri dengan tatapan tajam bertanya kepada Meri,”Kamu tidak ingin mengakuinya,jika kamu mengakuinya kamu akan bisa bebas.”
“Untuk apa aku mengakui jika aku tidak melakukannya. Aku akan memberi kamu saran, carilah yang benar apa bukti yang kamu dapatkan itu asli atau palsu sebelum kalian bertindak. Jika kalian masih tidak membuka mata kalian berati keamanan negara ini masih kurang,”ucap Meri setelah para petugas yang membawa dia ke rehabilitas anak remaja.
Izam dan Santo yang masih terdiam dalam ruang intograsi hanya menatap Meri yangs udah dibawa keluar oleh para petugas.”Kenapa anak itu tidak takut sama sekali, saat kita mengintograsinya,”ucap Santo.
“Apa kamu yakin kalau dia adalah pelaku dari kematian adik kamu Izam,”ucap Santo lagi yang merasa kalau Meri tidak melakukanya. Saat mereka sedang berbicara datanglah pengacara yang sudah di minta tolong oleh Meri yaitu pengacara Jornat.
“Maaf pak ada pengacara Jornat datang ke sini untuk membela Meri,”ucap petugas.
“Apa anda menuggu lama pengacara Jornat,”ucap Santo yang berjalan masuk dan menghampiri Jornat. Santo langsung berjabat tangan kepada Jornat dengan menayakan bagaimana kondisi Jornat. Pengacara Jornat yang meladeni Snato dengan santai sampai mereka bertiga duduk bersama.
“Anda datang ke sini untuk apa pengacara Jornat?,”ucap Izam.
“Saya tidak tahu kalau kamu mengenal Meri Maratika Sari anak adobsi dari Bram dan Intan. Atau kamu diminta oleh kedua orang tuannya,”ucap Santo.
“Dia adalah kelain saya bukan dari orang tuannya. Saya disini hanya ingin memberikan ini sebagai bukti kalau anak itu bukan tersangka utama pembunuhan Jesika,”ucap Jornat sambil memberikan berkas yang dia miliki.
__ADS_1
“Bagaimana mungkin kamu bisa kenal dengan anak SMA itu,”kata Izam.
“Karena aku punya utang budi kepad anak itu, makanya aku membantu dia untuk membayar utangku,”ucap Jornat.
“Utang apa yang kamu maksudkan,”kata Santo. “Saya tidak bisa bilang kepada anda ini masalah pribadi. Tapi anak itu bukan pelaku sebenarnya,”kata Jornat.
Santo dan Izam yang membaca bukti yang diberikan oleh pengacara Jornat sampai mereka terkejut kalau semua ini sudah direncanakan.”Bela itu bukannya anak kandung dari Bram dan Intan bukan,”ucap Izam yang kesal setelah membaca dokumennya.
“Apa kamu yakin jika anak ini yang telah mendorong adikku bukan Meri,”kata Izam.
“Seperti yang kamu liha, disitu telah tertulis kalau Bela yang telah mendorongnya dan kedua orang tuanya yang mendukung kalau Meri yang masuk penjara menggantikan Bela yang telah melakukan kesalahan. Semua bukti sudah di atas kertas hitam bukti kerja sama mereka juga dilakukan oleh pihak kepala sekolah yang juga menutupi kebenarannya,”kata Jornat dengan percaya diri.
“Apa kalian masih ingin membawa Meri ke rehabilitas remaja anak. Sementara dia tidak melakukan kejahatan apa-apa,”ucap Jornat.
“Kami harus membawa dia sebelum kami juga kan mengintograsi Bela apa benar dia yang melakukannya. Sementara cctv menunjukan Meri yang telah mendorong Jesika,”ucap Santo.
“Apa cctv itu asli apa sudah disabotase oleh pihak lain,”ucap Jornat dengan tegas dengan memberikan data yang dia sudah dapatkan.”Lihat ini hasil cctv yang sudah saya lihat. Menang benar kalau Meri yang mendorong disini, tapi lihat dibagian ini ada kecacatan kalau cctv sudah disabotase pihak lain,”kata Jornat menjelaskan.
Mereka berdua yang melihat video yang ditunjukan sampai Izam memanggil Roy untuk datang ke ruangan untuk memastikan video yang diberikan Jornat. Roy datang setelah mendapatkan pesan dari Izam dan melihat video yang diberikan oleh Jornat. Setelah beberapa jam dia mengotak atik videonya dia memperlihatkan video yang asli kepada Izam dan Santo.
“Apa kamu sudah selesai,”ucap Izam. Roy hanya memberikan hasil videonya kepada Izam.”Video yang tadi anda perlihatkan adalah palsu dan itu yang kamu tonton adalah yang asli,”ucap Roy.
Izam dan Santo yang masih melihat kejadian yang sebenarnya mendapatkan kalau yang mendorong Jesika adalah Bela bersama kedua temannya. Tapi di tempat yang bersamaan Meri yang di ruang kesehatan dan tidak melakukan apa-apa.”Jadi anak itu berkata jujur,”ucap Izam yang merasa bersalah.
__ADS_1
“Tapi kenapa kedua orangt tuanya yang menjerumuskan Meri bukan membelanya,”ucap Izam sampai dia tersadar. Kalau Meri adalah anak adobsi oleh kerena itu dia tidak digunakan lagi oleh keluarga Sari. Jornat yang melihat langsung bertanya,”Apa kalian ingin menjabut tuduhan Meri yang telah melakukan kejahatan itu?.”
Saat mereka sedang membahas penjabutan tuduhan kepada Meri mereka mendapatkan kabar kalau mobil yang membawa Meri ke rehabilitas remaja anak mengalami kecelakanan dengan jatuh kejurang.