Rahasia Meri

Rahasia Meri
RM 24


__ADS_3

Meri menuju pintu rumah dan membukanya ternyata Tea bersama dengan adiknya yang datang. Meri mempersilakan Tea dan adiknya masuk dan mereka saling berbicara. Kedatangan Tea datang untuk menitipkan adik kecilnya karena dia ingin mengantarkan adiknya keseolah.


“Maaf ya Meri aku mengganggu kamu,”ucap Tea.”Tidak ada apa kamu datang pagi-pagi buta,”ucap Meri.


“Aku ingin menitipkan adikku yang masih bayi. Kami hari ini sudah mulai melanjutkan sekolah kami lagi. Kamu tidak keberatankan,”ucap Tea.


“Tidak, mana adik kamu biar aku yang jaga,”kata Meri yang dengan santai. Setelah Tea memberikan adiknya untuk dijaga oleh Meri mereka langsung pergi ke sekolah. Meri yang sudah terbiasa menjaga anak kecil merasa tidak terbebani.


Meri meletakan adik Tea di tempat yang aman sambil dia memasak makanan. Di sela dia memasak Meri juga melihat adik kecil Tea yang sedang tidur. Dia hanya terbangun kalau dia sedang kencing, buang air besar atau lapar. Tapi tidak terduga waktu itu Meri yang ada di dalam rumah mendengar suar ketukan pintu lagi.


“Siapa lagi yang datang?,”ucap Meri yang menuju ke arah bayi kecil Tea. Setelah itu Meri berjalan menuju pintu, perlahan Meri membuka dan dia melihat tiga orang yang tidak asing datang ke rumahnya.


“Kenapa kalian datang lagi?,”ucap Meri yang merasa hari damainya kembali terusik. Ahmad yang langsung masuk ke dalam setelah pintu rumah Meri terbuka dengan mendorong Ilyas di roda kursinya.


“Kami hanya ingin mampir saja, apa tidak boleh,”ucap Ahamd. “Tidak boleh, cepat pergi dari rumahku sekarang,”kata Meri yang kesal.


“Maaf jika kami mengganggu kamu. Kedatangan kami hanya ingin mengucapka terima kasih telah menolong kami,”kata Ilyas.


“Aku tahu tapi bukan kalian sudah mengucapkannya lewat secarik kertas ya,”kata Meri.


“Aku juga tahu kalau kamu adalah tunanganku. Apa perlu kita lanjutkan pertunangannya Meri Maratika Sari,”ucap Ilyas dengan dingin.


“Untuk apa dilanjutkan dari awal aku tidak tahu kalau kita bertunangan dan diriku sudah mati. Aku hanya anak yatim piatu yang tidak tahu orang tua kandungku sebenarnya ada dimana,”kata Meri yang berjalan menuju dapur.


“Pertunangan tidak bisa dibatalkan karena sudah ada perjanjian tertulis dari keluarga Sari. Pertunangan itu harus tetap berjalan,”kata Ilyas.


“Bagaimana bisa, bukan pertunangan kamu itu bersama dengan Bela bukan dengan diriku,”kata Meri yang masih menggendong adik Tea. Sampai Si kecil menangis kalau popoknya harus diganti.


Meri yang meletakan si kecil mengambil perlengkapan popok. Meri mulai mengganti popok yangs udah basah dan mereka bertiga hanya melihat saja.


“Itu anak siapa?,”ucap Ilham.

__ADS_1


“Dia adik teman Meri yang tinggal di bawah kontrakan Meri,”ucap Ahmad.


“Apa teman kamu tidak ada sampai dia memberikan adiknya kepada kamu,”kata Ilham.


“Dia sedang melanjutkan studinya yang tertunda, makanya dia bersamaku,”kata Meri yang sudah selesai.


“Dan kamu sendiri bagaimana?,”kaya Ilyas yang menatap.


“Kenapa dengan diriku?,”kata Meri yang menoleh dengan tatapan bingung.


“Apa kamu tidak ingin melanjutkan studi kamu,”kata Ilyas.


“Soal itu,”ucap Meri sambil berpikir. “Jika kamu mau aku bisa mendaftarkan kamu ke sekolah elit, jika kamu mau,”kata Ilyas.


“Tidak, karena belum ajaran baru dan aku juga sudah menjadi mahasiswa di universitas x,”kata Meri dengan santai.


Mereka bertiga langsung terdiam mendengarnya sampai Ahamd berkata,”Kakak ipar kapan kamu akan kembali ke kediaman Sari.”


“Aku mengatakannya yang sebenarnya. Apa ada yang salah,”ucap Ahmad.


“Jika kamu memiliki banyak nyawa silakan balik,”kata Meri. Tidak lama mereka berbincang tiba-tiba Tora datang dengan wajah pucat.


“Meri,”ucaP Tora. “Ada apa?,”kata Meri yang melihat sambil memangku si kecil. “Kenapa kalian ada disini?,”ucap Tora yang melihat.


“Kamu datang ke sini kenapa lagi?,”ucap Ahmad. “Itu bukan urusan kamu. Meri kamu harus pergi sekarang mereka mencari kamu,”kata Tora. Meri yang tahu maksud dari perkataan Tora hanya duduk dengan santai.


“Siapa yang datang sampai kamu tergesa seperti itu,”kata Meri. “Kamu tidak usah berakting, bukan kamu sudha tahu setelah mereka bertiga datang,”ucap Tora.


Meri hanya tersenyum dan menghela nafas.”Lalu aku harus bagaimana jika mereka sudah tahu keberadaanku. Mau kabur juga tidak mungkin setelah saham mereka turun,”kata Meri.


“Jadi kamu tahu apa yang akan terjadi, makanya pertunangan ini tidak bisa dibatalkan. Kamu akan menjadi pengganti adik kamu Bela untuk menikah dengan keluarga Rendra,”ucap Ilyas.

__ADS_1


Meri hanya terdiam sampai dia mencium bau hangus.”Tidak masakanku,”ucap Meri yang berlari menuju dapur dan memberikan si kecil kepada Ilyas.


Ilyas hanya terdiam saat Meri memberikan si kecil dengan bingung. “Gosong sudah sarapan pagiku,”ucap Meri yang merasa kecewa.


“Apa yang kamu masak,”ucap Ahmad. Tora yang melihat kecewa dari wajahnya hanya mencoba mendekati pintu keluar sebelum dia diminta untuk mekanan masakan yang gosong. Tapi Tora yang hendak keluar Meri sudah memanggilnya dengan tatapan tersenyum dengan licik.


“Kamu mau kemana,”kata Meri yang menaruh makanan yang gosok ke atas piring. “Kalian pasti lapar,”ucap Meri kepada mereka yang ada dalam rumah Meri. Semua yang melihat Meri membawa masakan yang gosong membuat mereka menelan ludah. Setelah piring di taruh di meja Meri mengambil si kecil yang dibawa oleh Ilyas.


“Silakan kalian menikmati makanan paginya, jangan sungkan. Kalian boleh menghabiskannya,”kata Meri.


“Itu,”ucap Ahmad sambil menunjuk ke arah piring dengan hidangan yang gosong. Tora yang sudah melihat wajah Meri seperti itu tidak bisa berkata hanya bisa menghampiri makanan yang gosong.”Sebaiknya kalian makan saja dari pada kalian nanti akan sial,”kata Tora yang menasehati mereka bertiga.


“Kenapa kalian bertiga diam saja, mau aku tambahkan lagi,”ucap Meri dengan dingin penuh amarah.


Mereka bertiga hanya bisa terdiam dan menikmati makanannya setelah melihat wajah Meri yang dingin.”Apa ini selalu terjadi?,”ucap Ahmad berbisik kepada Tora.


“Jika dia kecewa pasti akan seperti ini. Karena kita datang pada waktu yang salah,”ucap Tora. Mereka dengan kecewa makan hidangan yang diberikan oleh Meri selesai menghabisi makanannya Meri menyediakan hidupan yang sudah dia buat untuk menghilangkan rasa pait di mulut mereka.


“Silakan minum,”ucap Meri yang meletakkan minumannya. “Terima kasih,,”ucap Ilyas yang menahan rasa tidak enak dimulutnya bersama dengan yang lain.


Minuman terlah dihidangkan oleh Meri dan mereka semua langsung mengambilnya dengan cepat. Meri hanya tertawa melihat wajah mereka yang seperti menderita karena masakan yang sudah dihidangakan oleh Meri.


Si kecil yang masih tertidur dia membuka mata Meri membuatkan susu untuk si kecil yang sudah dicampur dengan asih.”Makanlah yang kenyang kecil, jangan membuat kakak kamu khawatir. Jangan sakit lagi ya,”kata Meri yang penuh perhatian.


Ilyas yang menatap Meri semakin ingin bertunangan dengan dia, tidak tahu kenapa hati Ilyas merasa kalau dia adalah pilihan yang tepat. Tapi setelah apa yang terjadi Ilyas tidak tahu karena dia memiliki banyak musuh yang datang menyerangnya.


Tapi Ilyas yang berpikir untuk membatalkan awalnya jadi kacau kalau keluarga Sari telah menemukan Meri masih hidup dan ingin melanjutkan pertunangan antar kedua keluarga berjalan kembali.


Meri yang melihat ke arah Ilyas hanya bertanya,”Kenapa denganmu. Apa kamu memikirkan soal pertunangan kita yang akan berlanjut karena keluarga Sari telah tahu kalau aku masih hidup.”


“Jika kamu sudah tahu, kenapa kamu tidak kabur,”kata Ilyas.

__ADS_1


“Kabur itu bagus hanya saja sampai kapan pelarianku terus akan berlanjut. Jika mereka mencariku ke seluruh dunia,”kata Meri.


__ADS_2