
Meri yang sudah tahu semuanya dia di sini hanya untuk membantu dia melewati masa kritis karena semua sudah di rencanakan. Erik yang masih bertanya dengan Erika di bawah ruang bawah tanah. Masih bertanya kenapa Meri melakukannya. Sampai Erik tahu dia melakukannya karena dia menyukai Ilyas tapi takdir tidak bisa menyatuhkan mereka karena mereka sudah lama menikah dengan orang lain. Saat ilyas dan kedua orang tuanya masih ada tapi saat kecelakaan semua berubah menjadi mengerikan bagi Ilyas dan kelurga Rendra.
Erik yang sudah tahu semunya hanya bisa terdiam dan berkata,”Kenapa dia selalu menderita ya? Tidak ada yang bahagia dari kisah kehidupan Meri selalu saja mendapatkan lika-liku yang sulit untuk di dapatkan.”Tapi kak bukan Ilyas bisa menikah kedua wanita itu jika dia menyukai Meri,”kata Erik.
“Itu mustahil karena dari awal Ilyas tidak menyukainya dia hanya berakting saja. Kamu tidak tahu selama ini dia selalu bertemu dengan istri sahnya yang dia sembunyikan karena kekuasaan keluarga Rendra menurun,”kata Erika.
“Apa jadi semua ini ada rencana yang dia buat. Lalu soal kakinya dan Bela apa itu juga sandiwara,”kata Erik.
“Itu juga rencana yang tidak terduga yang dibuat oleh Bela,”kata Erika.”Sudahlah aku kita naik ke atas. Tapi kamu harus tutup mulut tentang apa yang kamu ketahui mengerti,”ucap Erika.
Di tempat ruang tamu dimana Ilham dan Ilyas yang masih bersama dengan Meri meminum teh herbal yang dibuat oleh Meri untuk memberikan rasa tenang. Meri yang sudah tahu semunya hanya bisa menyembunyikan rasa sakitnya. Karena dia juga bisa tahu kalau semua ini adalah ilusi setelah apa yang dia rasakan di keluarga Bram.
Meri yang menutupi rasa sakit hatinya hanya bisa terdiam sampai Erik dan Erika keluar.”Apa yang kalian bicarakan di dalam lama sekali,”ucap Meri.
“Urusan kakak adik, kamu tidak usah tahu,”ucap Erika.
“Kalian datang ke sini ada apa?,”ucap Meri.”Kami datang hanya ingin menyampaikan keluarga Sari dan keluarga Celsi sudah membentu aliansi menciptakan keluarga baru nanti kamu akan menjadi cucu mereka Meri,”kata Erik.
“Tidak aku sangka mereka membuat musuh bersatu untuk melawan,”kata Meri yang tidak bisa membantah kedua nenek dan kakeknya.
“Kamu tidak usah khawatir karena ada Jeksen yang akan membantu mereka,”kata Erika,”Baiklah terserah mereka saja,”ucap Meri dengan santai karena tidak ingin terlalu ikut campur.
Sambil menuggu mereka saling mengobrol sampai tiga jam telah berlalu dimana Ahmad yang sudah kembali dari pelelangan mendapatkan kedua tanaman yang dicari. Erik dan Erika yang sudah pergi satu setengah jam setelah Ahmad kembali. Ahmad yang datang dan tidak melihat Erik dan Erika di dalam ruangan.
“Apa kamu mendapatkannya?,”ucap Ilham yang menuggu. Ahmad yang sudah membawanya memberikannya kepada Meri. Meri yang menerimanya langsung meracik obatnya sementara mereka berdua tidak tahu kenapa mereka memiliki aura yang berbeda. Meri yang bisa merasakannya hanya diam saja sampai dia selesai membuat obatnya.
__ADS_1
Meri dengan santai membuat obatnya sampai dia mendapatkan pesan masuk dari Jaksen kalau mereka sudah bergerak. Dan memberitahukan Meri untuk berhati-hati ada saatnya Meri akan diserang oleh beberapa kelompok dunia bawah.
Meri yang telah membaca pesannya hanya bisa kembali fokus menyiapkan obat penawar untuk Ilyas. Sampai waktu terus berjalan Ilham dan Ahamd yang bergantian melihat Meri. Tapi Meri yang tidak perduli dengan mereka masih sibuk membuat obatnya hingga tahap akhir terdengan suara ketukan pintu.
“Siapa malam-malam yang datang ke rumahku,”ucap Meri yang menoleh.”Biarkan aku yang membuka pintunya,”ucap Ahmad. Ahmad yang membuka pintu terkejut dengan kedatang istri kakak Ilyas.
“Siapa Ahamd yang datang?,”ucap Meri.
Ahmad masih terdiam saja dan tidak ingin membuka mulut. Beti yang melihat Ahmad bingung dengan tatapan adik ilyas.
“Kenapa kamu tidak mengijinkan aku masuk Ahmad,”ucap Beti yang sedang mengandung.
“Itu kak,”ucap Ahmad yang masih tidak mengijinkan Beti masuk ke dalam kontrakan Meri.
Ilyas dan Ilham melihat ke arah Ahmad hanya bisa melihat dari jauh dan mereka berdua melihat Bita.”Kenapa dia ada sini?,”ucap Ilham yang berdiri dan panas dingin.
Bita yang masuk ke dalam melihat Meri.”Siapa dia Ilyas,”ucap Bita.
“Aku tunangannya dan kamu siapa datang ke kontrakanku malam-malam begini,”ucap Meri yang berakting tidak tahu setelah dia menyiapkan obat untuk Ilyas.
“Tunangan apa Ilyas,”ucap Bita yang terkejut.
Meri yang menghela nafsa hanya bisa duduk dan memberikan obat herbal yang baru saja di racik oleh Meri.”Minumlah dulu nanti aku akan melihat perkemabangan kaki kamu,”ucap Meri yang merasa tidak perduli.
Ilham dan Ahmad yang ada didalam ruangan hanya bisa membawa Bita keluar sebelum Meri bertanya lebih jauh.”Dia saudara jauh kami yang baru saja datang. Kami akan mengatar saudara kami pergi dulu ya kak,”kata Ilham.
__ADS_1
Ilyas yang sudah meminum obatanya menaruh gelas di meja di depannya. Sementara Meri yang tidak ingin bertanya hanya bisa terdiam saja sampai dia memeriksa kaki Ilyas. Setelah 30 menit berlalu obat yang diberikan oleh Meri bereaksi Ilyas yang mengalami panas membantu dia masuk ke dalam kamarnya untuk dia istirahat di masa kritis Meri hanya bisa membantu Ilyas dengan caranya sendiri. Meri yang tidak tertidur malam itu hanya bisa membuka laptop dimana dia membaca emailnya sampai pagi datang.
Meri yang masih tersadar dan membuka matanya menyiapkan sarapan pagi. Sementara Ilyas yang membuka matanya merasa tubuhnya ringan dia mencoba untuk berdiri. Ilyas yang berhati-hati mencoba untuk berdiri.”Aku bisa berjalan lagi,”ucap Ilyas yang senang.
Tapi dengan hati yang masih bimbing,”Apa yang harus aku lakukan dengan mereka berdua?.” Ilyas yang bingung dengan apa yang akan dijelaskan kepada Meri. Yang satu tunanganku dan satu lagi adalah istri yang aku lindungi sayangi. Ilyas yang sudah bisa berjalan lagi membuka pintu kamar dan melihat Meri yang sedang memasak.
“Apa kamu sudah lebih nyaman Ilyas?,”kata Meri yang melihar dia setelah terdengar suara pintu terbuka.
“Sebaiknya kamu segera mandi bukan kamu akan ada tugas bisnis di luar daerah bukan,”kat meri yang tidak ingin tahu apa yang ilyas sembunyikan darinya. Karena dari awal ini adalah bukan keinginan kedua pihak. Ilyas yang mandi dan mengambil pakaian yang sudah tersedia di lemari dimana dia melihat Ilham mengambilnya.
“Dari mana baju pria ini kamu dapatkan Meri,”kata Ilyas.
“Aku membuatnya,”ucap Meri yang sudah selesai membuak sarapan pagi dan bekal untuk dibawa oleh Ilyas.
Meri yang meletakkan makanan di meja. Selesai menyiapkan makanan Meri melihat ke arah ilyas yang menuju ke arahnya.”Bagaimana kondisi tubuh kamu apa merasa tidak nyaman?,”kata Meri.
“Aku merasa ringan dan tubuhku merasa nyaman, terima kasih untuk kamu menolongku,”ucap Ilyas yang dengan santai.”Ayo kita makan,”ucap Meri yang mengambil lauk untuk dia makan.
Tapi Ilyas yang masih bimbang menatap ke arah Meri.”Meri apa kita batalkan saja pertunangannya,”ucap Ilyas yang seterus terang.
“Kenapa apa kamu memilik kekasih lain sampai ingin membatalkannya atau kamu hanya ingin balas dendam dengan Bela yang sudah membalas pertunangannya,”ucap Meri yang tidak tahu.
“Karena kita tidak saling cocok. Apa kamu marah denganku,”kata Ilyas. Meri yang pergi mengambil tas dan mengambil kartu kredit yang diberikan oleh Ilyas. Dengan senyuman dia membalikan kartu itu.”Kenapa kamu balikkan itu untuk kamu,”ucap Ilyas.
“Aku maish bisa mencari uangku sendiri, jika itu yang kamu inginkan untuk berpisah aku tidak apa-apa,”ucap Meri yang tegar.”Aku akan bicara dengan nenek dan kakek nanti, kamu tidak usah khawatir,”ucap Meriyang tersenyum seperti dia tidak menyukainya.
__ADS_1
Selesai dengan makan pagi pak sopir datang untuk menjemputnya.”Aku akan bantu kamu turun,”ucap Meri. Ilyas yang menerima bantuan Meri sampai dia masuk ke dalam mobil dan bekal sudah dia berikan kepada Ilyas.”Semoga kamu bahagia,”ucap Meri.
Mobil melaju meninggalkan kontrakan Meri. Meri yang menatap hanya bisa meneteskan air mata setelah kepergian Ilyas. Sementara Jesi dan John yang melihat menghampirinya,”Kenapa kamu menagis Meri?.”