Rahasia Meri

Rahasia Meri
RM 94


__ADS_3

Jesi yang mendengar dari kejauhan hanya bisa menatapnya. Sambil berpikir siapa yang sedang bermain, hingga Jesi melihat ke sekelilingnya tidak melihat ada orang yang bermain. Meir yang melihat sikap Jesi hanya bisa tersenyum dan berkata,”Apa yang kamu lihat. Awas depan kamu nanti ke bobolan oleh mereka.”


“Apa?,”ucap Jesi yang kembali fokus melihat ke depan. Jesi yang sudah menghindar dari musuh sampai dia mundur berdampingan dengan Meri.”Bagaimana sekarang?,”kata Jesi yang sudah kehabisan tenanga.


“Bagaimana apanya,”kata Meri yang masih santai.


Jesi yang tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Meri hanya bisa membantu di belakangnya. Meri menghela nafas dan mulai berkata,”Apa kalian serius ingin mati di tangan wanita?.”


Musuh saling menatap teman mereka yang ada disampingnya dan kemudian menatap ke arah Meri.”Kamu kira kamu bisa membunuh kami. Kamu hanya wanita lemah,”ucap musuh.


Meri sudah mendengar ucapan mereka dan mengambil jarum yang selalu dia bawa. Jarum pentul dengan kota kecil dimana jarus masih baru dan banyak. Meri yang sudah ingin mengakhirinya hanya bisa melemparkan jarut itu kelehar mereka sampai mereka tidak bisa bergerak lagi. Jarum yang di lemparkan Meri ada yang mengenali leher kepala dan sampai musuh berjatuhan.


Jesi yang sudah menghabisi musuh didepannya. Melihat ke arah Meri yang musuh mulai berjatuhan satu persatu. Meri yang masih memiliki sisa jarum pentul dia membantu Jesi sampai bertarungan di menangkan oleh mereka berdua. Sementara di tempat John dan Leo yang baru saja selesai dengan musuh menghampiri Meri dan Jesi.


“Apa kalian baik saja?,”kata John.


“Kami baik saja,”kata Jesi.


“Leo, apa kamu terluka,”kata Meri.”Terluka karena apa,”ucap Leo yang membuka pintu mobil dan duduk.


“Bukan kamu tadi menolongku dengan melawan pimpinan mereka,”kata Meri.”Soal itu aku tidak terluka hanya saja mereka yang terluka. Bagaimana bala bantuannya kapan datangnya. Kita sudah selesai mereka belum datang,”ucap Leo.


“Benar juga, seharusnya mereka sudah datang ke sini. Tapi kenapa mereka belum datang ya. Apa terjadi sesuatu dengan mereka,”kata John.


Tidak lama mereka saling berbicara bala bantuan datang saat mereka sedang membicarakannya.”Maaf nona kamu terlambat. Saat kami menuju tempat ini kami dihadang oleh musuh,”ucap bawahan.

__ADS_1


“Tidak masalah asalkan kalian baik saja,”kata Meri.


Bala bantuan datang dan semua dibereskan oleh anak buah Meri. Sampai Jesi melihat Meri karena kagum dengan kemampuannya.”Bagaiman kamu bisa melakukannya Meri tadi?,”ucap Jesi yang mendekat.


“Melakukan apa,”kata Meri.


“Jangan kamu sembunyikan Meri,”ucap Jesi. Meri menghela nafas melihat Jesi dengan tatapan penuh harapan dan keingintahuannya. Membuat Meri hanya bisa berkata,”Aku hanya memanfaatkan barang yang aku bawa saja. Habis melelahkan mereka datang dan tidak habis-habis. Semetara kita masih harus pergi.”


“Masih ingin pergi,”ucap John.”Tentu saja,”kata Meri. Mereka semua naik ke dalam mobil setelah semua musuh yang menghalangi sudah disingkirkan dan dibersihkan oleh anak buah Meri.”Tapi siapa mereka kenapa mereka menyerang kita,”kata Leo.


“Aku juga tidak tahu siapa mereka. Tapi perutku sudah lapar karena perkelahian tadi,”kata John.”Kita cari makan dulu saja bagaimana?”kata Jesi yang memberikan usul.


“Boleh saja,”kata Meri. Setelah mendapatkan persetujuan dari Meri mereka mencari makanan untuk mengisi tenaga mereka sebelum mereka mencari kain.


“Itu benar kak,”kata pelayan cafe. Meri yang sudah melihat pesanannya dan memilih dan yang lain juga sudah memilih hanya bisa menuggu sampai pesanan mereka jadi.”Tapi menurut kamu akan berlama lama cafe ini bisa bertahan,”kata John.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu,”ucap Meri.”Apa kamu tidak melihat tidak ada pengunjung dan temoatnya kurang strategi,”kata John.


“Kurasa tidak juga,”kata Leo yang melihat ke arah jalan.


“Apa maksud kamu?,”kata John.


“Yang aku maksudkan itu disana,”kata Leo menuju ke arah bangunan diseberang.


Meri yang melihat langsung bisa menebak kalau cafe ini di bangun dbukan untuk rugi tapi mereka mencari peluang degan adanya kantor didepan mereka tidak hanya kantor saja ada banguan sekolah. “Jadi cafe ini sepi karena bukan jamnya ramai,”kata John.

__ADS_1


“Tepat,”kata Leo. Sampai pesanan mereka datang dan mereka berterima kasih kepada pelayan yang sudah mengantarkan pesanan mereka. Mereka yang sudah kelaparan menikmati makanan yang sudah mereka pilih.”Tidak aku sangka kalau makanan ini sangat enak,”kata John yang telah menikmati makanannya.


Mereka yang juga sudah memakan pesanan mereka merasa puas dengan hidangan cafe yang mereka pilih. Sampai jam waktunya istirahat tiba untuk kantor diseberang. Para pengunjung mulai berdatangan untuk melepaskan lelah.”Kita pergi sekarang,”ucap Meri yang berdiri dan berjalan menuju ke kasir. Meri yang membayar makan mereka sementara Jesi dan John sudah menuju ke mobil.


Leo yang menuggu Meri selesai membayar baru mereka bersama menuju mobil. Sampai di dalam mobil mereka mulai melajutkan perjalan mereka. “Aku tidak tahu kalau kamu memiliki pengetahuan tentang strategi bisnis lapangan,”kata John.


“Aku tidak tahu hanya menebak saja,”ucap Leo.  Setelah pembicaraan selesai mereka sampai di toko takstil dimana bahan kain yang masih gulungan. Meri dan Leo yang mencari kain mereka berpencar melihat bahan apa yang cocok dengan model yang mereka buat. Tapi sudah satu jam mereka mencari masih belum menemukan bahan yang sesuai. Sehingga mereka mencari di toko sebelah sampai disemua toko di jelajahi masih belum ada yang sesuai. Hanya sebagian yang cocok tapi bahannya masih kurang sesuai dengan model yang mereka buat.


“Bagaimana kalian sudah menemukannya?,”kata Jesi. Leo dan Meri hanya menggelengkan kepalanya karena masih belum menemukan bahan yang sesuai dengan keingian mereka berdua.


“Apa mau cari di tempat lain?,”kaya John.


“Tentu saja hanya saja hari sudah malam. Apa kita lanjutkan besok saja mencarinya,”kata Meri.


“Aku tidak masalah jika ingin mencari lagi,”kata John.”Aku setuju dengan Meri kita lanjutkan besok saja. Apa lagi tadi kita baru saja diserang oleh musuh. Jika kita pergi saat malam hari mungkin saja ada yang mencari kita dari pihak musuh,”kata Leo.


Setelah semua setuju John mengatarkan Meri ke rumah, tapi saat mereka sudah sampai dan mengantarkan Meri.”Kalian berdua tinggalah disini,”ucap Meri melihat ke arah Jesi dan John.


“Tapi bagaimana dengan Leo,”kata John.


“Kamu tidak usah khawatir aku ada urusan pekerjaan lain. Aku sudah meminta temanku menjemputku. Jadi kamu tidak usah khawatir,”kata Leo.


Leo yang sudah tahu kalau saat mereka kembali dari toko mereka di ikuti oleh orang lain. Karena Meri khawatir dengan si kembar Meri memberikan usul untuk mereka tinggal. Leo yang sudha berjalan sudah di tunggu oleh Gay. Tapi saat hendak masuk Meri menghampirinya,”Maaf.”


Leo menoleh dan hanya tersenyum kepada Meri dan Leo masuk ke dalam mobil. Sampai mobil menjauh

__ADS_1


__ADS_2