
Alexca yang sudah mendapatkan jawaban dari cucunya langsung berdiri.”Kita lakukan diluar,”ucap Alaxca.
“Apa anda serius,”ucap Firgo.
“Apa ada masalah dengan kamu melawan cucuku,”ucap Alexca.
Firgo yang tidak bisa melawan kehendak bosnya hanya bisa melawan Meri dengan santai.”Kamu tidak usah terlalu santai. Kamu bisa mengerluarkan kemampuan kamu inikan pertarungan. Jangan menganggap remah musuh kamu yang terlihat lemah,”ucap Meri yang menasehati.
“Apa kamu serius dengan apa yang kamu katakan,”ucap Firgo. Meri hanya menganggukan kepalanya kalau Meri serius dengan apa yang dikatakan olehnya.
“Sebaiknya kamu hati-hati,”ucap Tarkam.
“Apa maksud kamu,”ucap Firgo yang tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Tarkam.
“Nanti kamu juga akan tahu setelah bertarung dengan Meri,”ucap Tarkam.
Firgo yang tidak tahu kemampuan Meri menganggap rema Meri. Karena Firgo menganggap Meri itu tidak ada kemampuan sama sekali.”Apa kalian sudah siap, jika sudah mulai pertandingannya,”ucap Alexca.
Pertandingan dimulai Meri yang masih menatap Firgo dengan santai tapi tatapan itu menujukan kalau Meri sudah mengamatinya dengan semua gerak yang dia miliki.
“Kenapa kamu tidak menyerang dulu,”ucap Firgo yang memberikan peluang kepada Meri terlebih dahulu.
“Tidak aku menghormati yang lebih tua silakan anda duluan,”ucap Meri.
“Apa kamu serius,”ucaP Firgo yang tidak segan menyerang lebih dahulu. Satu lotaran tangan sia mengenai Meri tapi Meri dengan santai menghindar dan menangkap tangan Firgo yang ingin menyerang dia. Meri yang siap dengan kedua kakinya menghancurkan keseimbangan Firgo dan langsung melontarkan Firgo dengan tangan yang sudah siap melempar.
Firgo yang tidak tahu kalau dia akan dilempar menahan dengan kakinya tapi tidak disangaka Meri mengganggu keseimbangan kedua kakinya. Karena kecerobohannya itu Firgo terlempar karena Meri. Tapi tidak hanya itu saja yang dia dapatkan. Meri yang sudah siap dengan serangan keduanya setelah melempar Firgo.
“Selamat tinggal,”kata Meri yang melontarkan tendangan lurus ke depan sampai mengenai perut Firgo tapi ditangkis dengan menangkap kaki Meri.
Meri yang sudah tahu kalau dia akan menangkap kakinya dia memutar tubuhnya dan menendang dengan kaki satunya sampai mengenai kepalanya. Hingga ada sedikit kelonggaran saat Firgo menangkap kakinya. Meri yang melepaskan genggapam tangan Firgo dan lalu dengan sikap memindah posisinya siap menendang kembali sampaI Firgo mendapat serangan tersebut.
__ADS_1
Meri yang masih belum puas berjalan santai ke arah Firgo yang masih berdiri. Dengan senyumnya yang dingin dia berkata,”Apa kamu masih menganggap remeh lawan kamu Firgo?.”
Meri yang sudah didepan mata Firgo dengan tatapan tidak biasanya.”Pantas saja kalau kamu tidak bisa menjaga kakek dengan baik. kamu terlalu lemah,”ucap Meri.
“Apa kamu kira aku lemah,”ucap Firgo yang marah dan siap menyerang Meri. Tapi Meri dengan santai menghadang dengan satu tangannya.”Bagimana mungkin kamu bisa menangkisnya,”ucap Firgo yang tidak percaya.
“Apa yang kamu gumankan Firgo,”kata Meri yang melontarkan kaki dan tangannya secara bergiliran sampai Firgo tidak bisa menangkis serangan Meri. Tidak hanya itu saja Meri juga siap untuk memukul dengan keras tapi dihadang oleh Tarkam.
“Sudah cukup,”ucap Tarkam.”Kenapa,”ucap Meri yang bingung.”Lihat dia,”ucap Tarkam yang menunjukkan ke arah Meri kondisi Tarkam.
Meri yang melihat kondisi Firgo,”Maaf apa aku terlalu berlebihan melawan kamu.” Meri yang merasa bersalah.”Tidak ini kesalahanku yang menganggap kamu lemah,”ucap Firgo yang berdiri.
“Sebaiknya kamu segera diobati jika tidak kamu akan tambah parah,”kata Meri.
Firgo yang berdiri dibatu dengan anak buahnya menuju ke ruang pengobatan. Meri yang melihat langsung menatap ke arah Alexca.”Kamu boleh malakukannya,”kata Alexca.
“Kamu belajar bertarung dari siapa,”ucap Alexca.
“Aku belajar dari buku,”ucap Meri yang berbohong.”Dia mantan komandan dan jendral elang hitam,”ucap Tarkam.
Meri hanya tersenyum saja dan mereka masuk ke dalam rumah. “Sebenarnya berapa banyak rahasia yang kamu miliki Meri,”ucap Jesi.
“Tidak tahu,”ucap Meri dengan santai. Mereka yang sudah masuk dan saling berbincang satu sama lain sampai malam tiba.”Karena urusan kita sudah selesai kami akan kembali,”ucap Tarkam.
“Kenapa kalian buru-buru tidak tinggal di sini saja satu malam,”ucap Alexca.
“Tidak karena nenek dan kakek sudah menuggu di rumah kemarin Meri juga tidak kembali karena tidur di kontrakan,”ucap Tarkam.
“Jika seperti itu makan malamlah di sini,”ucap Alexca.
“Bagaimana Meri?,”ucap Tarkam yang melihat ke arahnya. Meri yang tidak keberatan makan malam bersama dengan mereka. Sampai selesai dengan makan malam Meri dan Tarkam kembali ke kediaman Sarca.
__ADS_1
“Jika ada apa-apa hubungi kami,”ucap Alexca. Meri hanya menganggukan kepalanya dan berjalan mengikuti Tarkam sampai mereka masuk ke dalam mobil.
“Kenapa dengan kamu,”ucap Tarkam di dalam mobil.
“Tidak ada hanya belum terbiasa saja,”ucap Meri.
Tarkam yang melihat sikap Meri merasa kalau banyak sekali yang berubah membuat dia tidak terbiasa. Yang awalnya dia selalu sendiri sekarang banyak orang yang datang untuk memberinya bantuan. Tarkam yang tahu itu hanya bisa terdiam sampai Meri merasa tenang dengan apa yang sudah terjadi.
Lingkungan dan keluarga yang ada disekitra dia. Sampai di rumah mereka masuk yang kebetulan nenek dan kakek belum tertidur.”Kalian sudah balik,”ucap nenek yang menghampiri Meri.
“Apa kamu baik saja cucuku,”ucap nenek 2.
“Aku baik, jangan khawatir,”ucap Meri yang tersenyum.”Kalian sudah makan belum,”ucap kakek 1.
“Kami sudah makan di rumah kakek Alexca,”kata Tarkam.
“Kalian bertemu dengan dia,”ucap kakek 2.”Iya, hanya kunjungan biasa saja,”ucap Tarkam.
Setelah selesai dengan pembicaraannya Meri masuk ke dalam kamar yang barangnya masih di dalam lantai. Meri yang lelah langsung menuju kasur tapi dia urungkan karena dia harus membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Meri yang masuk ke dalam kamar mandi menyalakan kran air dan memberikan sabun cair di bak mandi. Meri yang sudah selesai dengan bak mandi membuka baju sampai dia telanjang dan masuk ke dalam bak mandi. Meri yang berendam dalam bak mandi membersihkan tubuhnya perlahan-lahan. Sambil menikmati suasana yang nyaman di mana Meri bisa bersantai.
Selesai dengan tubuhnya Meri memakai baju piyama sebelum mencari baju untuk tidur. Meri dengan nyaman mengganti baju piyamannya setelah dia mengeringkan rambutnya. Meri yang sudah lelah langsung berbaring di atas kasur yang lembut dan hangat dimana Meri bisa tidur nyenyak.
Meri yang merasa hari ini melelahkan tertidur dengan damai dengan suasana malam yang tenang. Setelah Meri tertidur Tarkam dan kakek yang ada di ruang kerja membahas proyek bisnis menuggu Jaksen. Tidak lama mereka menuggu Jaksen datang dan membawa laporan yang di butuhkan.
“Maaf menuggu lama,”ucap Jaksen.
“Dimana Meri?,”ucap Jaksen yang mencari.”Dia tertidur, biarkan saja karena dia lelah hari ini,”ucap Tarkam.
“Apa kamu sudah membawa berkasnya Jaksen?,”ucap kakek 1.
__ADS_1
“Sudah, ini dia,”ucap Jaksen yang memberikan data yang sudah dikumpulkan.
“Kapan proyek keluarga ini akan dilaksanakan,”ucap Jaksen.”Tunggu waktu yang tepat,”ucap Tarkam yang tersenyum setelah membaca dokumen yang dibawa Jaksen.