
Izam dan Meri yang bertatap mata sampai Erika berkata,”Kenapa kalian berdua ada di sini?.”
“Ini bu Erika Izam berantem lagi,”ucap temannya. Meri yang setelah bertatap mata tanpa sengaja hana tersenyum dan langsung keluar dari ruang kesehatan. Meri yang melihat jam tangannya kalau dia ada waktu untuk datang ke kelas. Meri yang berjalan menuju kelas bertemu dengan Leo yang juga baru sampai.
“Leo,”ucap Meri dari belakang.
“Meri kamu baru datang, tidak biasanya,”kata Leo.
“Tidak aku sudah datang dari tadi hanya saja aku pergi ke ruang kesehatan,”ucap Meri sambil berjalan sampai mereka di depan kelas. Sampai di dalam kelas Leo berterima kasih soal makanan yang dia berikan adiknya menyukainya. Meri yang mendengarnya merasa senang dengan Leo yang suka dengan makanannya.
“Apa hari ini aku bisa datang membantu kamu?,”ucap Leo yang merasa ragu.
“Tentu saja karena sudah ada kerjaan yang membutuhkan kamu,”ucap Meri.
“Baiklah,”kata Leo yang senang kalau dia bisa bekerja.
“Meri,”kata Leo. “Ada apa?,”ucap Meri sambil mengambil buku catatannya.
“Kamu masih bingung pekerjaan apa begitu,”kata Meri. “Iya,”ucap Leo.
Leo yang ingin bicara berhenti karena dosen telag tiba di kelas mereka. Pembelajaran pagi itu di mulai dengan materi yang membuat mahasiswa yang lain bingung karena baru tahu materi yang diberikan. Karena banyak yang tidak tahu banyak mahasiswa yang bertanya sampai Meri juga ikut bertanya. Sampai kelas selesai kuliah selesai dengan baik mereka berdua kembali bersama menuju rumah Meri.
John yang melihat Meri bersama dengan Leo menghampirinya.”Apa yang kalian lakukan berduaan,”ucap John.
“Apa yang kami lakukan balik ke rumahlah ada pekerjaan yang datang,”ucap Meri dengan santai.
“Di mana Jesi tidak bersama kamu?,”ucap Meri yang tidak melihat Jesi yang selalu bersama dengan John.
__ADS_1
“Dia sedang bersama dengan teman wanitanya. Kalian mau aku anatar,”kata John. “Tidak itu sudah ada yang jemput,”ucap Meri yang berjalan ke arah mobil bersama dengan Leo.
“Hai Meri kamu ingat dengan keluarga KartaAdi,”ucap John. “Tidak terlalu ingat kenapa memangnya,”ucap Meri. John yang ingin menayakan tentang tuduhan palsu itu dia urungkan keran Meri tidak mengingat soal itu lagi. Meri dan Leo yang sudah masuk ke dalam mobil menuju rumah.
Sampai di rumah Meri dan Leo langsung menuju ke tempat kerja pribadi. Dimana mereka akan membuat desain dan menjahit bajunya untuk di lelang. Tapi tidak di sangka kalau kadua kakaknya sudah kembali dari perjalanan.
“Meri,”ucpa Jaksen.
“Hai kak. Ada apa dengan wajah kalian yang kusam dan tidak enak dipandang ini,”kata Meri yang melihat.
“Siapa laki-laki yang kamu bawa,”ucap Tarkam.”Dia temanku yang bekerja sama denganku membatu proyek rahasia,”kata Meri yang langsung pergi bersama Leo masuk ke ruang kerja pribadi.
“Jangan terlalu di pikirkan tentang mereka. Mereka berdua adalah kedua kakakku,”ucap Meri kepada Leo.
“Tapi kemarin tidak melihat mereka apa mereka sudah berkeluarga,”ucap Leo.
Leo yang melihat langsung menudukan kepalanya karena di depan pintu masuk ada Tarkam dan Jaksen yang melihat leo. Meri yang melihat Leo ketakuta hanya menepuk punggung Leo.”Kamu tidak usah takut dengan mereka. Mereka tidak akan memakan kamu,”ucap Meri yang menghibur.
“Jangan terlalu capek nanti sakit,”ucap Tarkam yang sudah melihat wajah Leo.”Ok kak, tapi kak kalian wajah pucat seperti itu apa terjadi sesuatu,”kata Meri yang tidak bisa beralih karena kedua kakaknya tidak enak di pandang.
“Penampilan mereka berdua akan menurunkan kerja sama,”ucap Leo yang melihat desain yang dibuat Meri.
“Kerja sama gagal karena kakak tidak percaya diri dan pakaian kalian tidak sesuai,”ucap Meri yag mengerti ucapan Leo.
Tarkam dan Jaksen yang melihat Leo yang tidak tahu kenapa dia bisa tahu dari penampilan ini.”Meri teman kamu hebat juga bisa tahu permasalahan yang kami hadapi,”ucap Jaksen yang merasa curiga.
“Itu karena penampilan kalian berdua tidak enak dipandang dan tidak sesuai,”ucap Meri yang juga tidak suka.
__ADS_1
“Hai Meri kenapa kamu tidak buat baju untuk kedua kakak kamu. Jika mereka ada pertemuan lagi, sekalian buat promo,”ucap Leo yang memberikan usul.
“Apa yang kamu katakan memang bagus tapi aku hanya akan melakukan secara diam-diam karena aku tidak ingin ada yang tahu tentang diriku,”ucap Meri menjelaskan.”Kenapa,”kata Leo yang tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Meri.
Tarkam dan Jaksen yang mendengar usulan Leo mendapatkan ide yang baru.”Meri bisa kamu buatkan kami dua stel baju. Untuk kamu pergi ke pertemuan perusahaan,”ucap Tarkam.
“Pertemuan apa yang ingin dihadiri kak,”kata Meri yang mencari tahu pesta apa untuk bisa membuat desain bajunya agar sesuai.”Pesta antar dua perusahaan terkenal dan pesta santai jika kamu tidak keberatan buatkam kami satu lagi untuk baju kantor,”ucap Jaksen.
Meri yang sudah mengambil kertas untuk membuat desainnya sedangkan Leo yang sudah memahami semua desain baju Meri merasa kagun. Dan mengambil satu desain yang sudah siap untuk memulai membuat bajunya.
Setelah memilih bahan kain yang sesuai dengan catatan Meri dia mulai memotog satau persatu yang sesuai dengan model desainnya dengan hati dia mulai menjahit sampai pada tahapan finising. Leo di panggil untuk melihat ada kan lembuat dan tebal yang seauai dengan kedua pesta tidak. Leo yang menuju ruang kain dan melihat dengan seksama ada tiga jenis kain yang sesuai dengan kondisi pesata. “Ada tiga jenis kain, tapi mana yang mau di pakai atau mau pakai satu jenis satu baju,”ucap Leo yang sudah membawa kainnya di hadapan Meri.
“Kurasa seperti yang kamu katakan saja,’kata Meri sampai dia melihat hasil jahitan Leo yang rapih dan sesuai dengan model desain yang dia buat. Meri yang sudah melihat merasa senang dengan hasilnya.”Baik kak aku akan ukur tubuh kakak,”ucap Meri yang sudah membawa meteran untuk mengukur tubuh.
Leo yang membantu mencatatnya sampai selesai mengukur kedua kakaknya segera pergi dari ruangan Meri. Leo yang sudah menulisnya diberikan kepada Meri dan melanjutkan menyelesaikan baju yang dibuat.”Meri sebenarnya kamu membuat semua ini untuk diapakan,”kata Leo yang ingin tahu.
“Aku akan memberitahu kamu tapi kamu harus menyembunyikannya bisakan,”kata Meri yang membuat desain baju untuk kedua kakaknya.
“Aku bisa menjaga rahasia. Karena sekarang kamu adalah atasanku,”kata Leo.
“Baiklah aku akan bilang kepada kamu. Aku membuat semua desain gambar ini untuk di jual secara online tapi penerapannya berbeda pada umumnya. Karena aku menerapkan penjualan online dengan cara melelang bajunya. Siapa yang dapat dia adalah pembelinya karena aku membuat satu desain baju jadi saja,”kata Meri menjelaskan.
“Jadi baju yang di buat ini baju ekslusif begitu,”kata Leo.”Iya,”kata Meri.
“Tapi untuk apa kamu menjual baju ini sementara keluarga kamu masih mampu membiayai kamu Meri,”kata Leo.
“Memangnya tidak boleh jika aku ingin hidup mandiri dengan uangku sendiri. Sebelum aku bertemu dengan keluargaku yang asli aku selalu bekerja di sana sini sampai aku di pecat sampai aku membuat ide ini untuk menghasilkan uang sampai aku bertemu dengan keluargaku,”ucap Meri.
__ADS_1
“Aku tidak tahu jalan kehidupan kamu Meri. Tapi aku senang memiliki teman seperti kamu,”ucap Leo yang senang dan bangga. Leo yang sudah selesai dengan bajunya menunjukkannya kepada Meri. Meri yang melihat merasa senang dengan hasilnya dan setelah di periksa Meri menyimpan desain yang sudah jadi ke tempat penyimpanan baju untuk nanti dipertunjukkan.