
Meri yang tahu kalau orang depannya adalah keluarga Brata dan tahu maksud kedatangan mereka. Hanya ingin mengacaukan pertunangan Ilyas dan Meri. Meri yang sudah terbiasa dengan penipu tidak bisa dibohongi oleh kelurga Brata. Sampai ayah dan ibu angkat Meri juga mendorong Meri untuk tetap tidak membawa keluarga Brata dan kedua orang tua palsu tersebut.
“Darimananya dia penipu. Kakek kamu dan Nenek kamu saja mengenal putra dan menantunya,”ucap ibu Intan.
Meri terdiam sampai anak buah Ahmad dan Jaksen membawa mereka keluar. Meri yang tidak perduli dengan ucapan ayah dan ibu angkat tetap pada pendiriannya. Ilyas yang melihat hanya bisa mengikuti keinginan Meri.
“Tuan Ilyas apa kamu ingin bermusuhan dengan keluarga Brata jika anda mengusir kami,”kata Kelurga Brata.
“Kenapa aku tidak boleh mengusir kalin. Kalian yang datang tanpa undangan masuk ke perjamuan pertunangan kami berdua dan membuat keributan kalau mereka adalah orang tua kandung Meri. Jika kalian masih keras kepala bagaimana kita tes DNA saja untuk membuktikannya,”kata Ilyas yang memberikan usul yang paling aman.
“Bagaimana Meri apa kamu mau melakukannya?,”kata Ilyas. Meri yang melihat Ilyas dengan tatapan dingin dan tegasnya hanya bisa menganggukan kepalanya.
“Itu,”ucap Keluara Brata yang ragu dengan tawaran mereka.
“Kenapa apa kalian tidak ingin tahu kebenarannya atau kalian yang mencoba untuk menipu Meri dengan orang tuanya,”kata Ilyas.
Keluarga Brata yang awalnya ingin menggretak saja kini sdah terpojok dengan tawaran ilyas yang tiba-tiba. Bela yang ada di belakangnya mencari cara agar apa yang dia rencanakan berhasil sapai Bela mendapatkan pesan untuk menerima tawaran Ilyas.
“Itu tidak akan menjadi masalah bagi merek, benarkan keluarga Brata,”ucap Bela yang tersenyum licik dan memberikan insyarat kepada keluarga Brata untuk menerima tawaran mereka berdua.
“Baiklah saya setuju,”ucap keluarga Brata.
“Kapan kita akan memulai tes DNAnya,”ucap keluarga Brata.
“Kita boleh mulai sekarang, kami hanya perluh mengambil sampel darah kalian bertiga saja,”ucap Erik yang baru saja masuk ke dalam rumunan.
__ADS_1
“Siapa kamu?,”ucap keluarga Brata yang menoleh ke arah Erik.
“Maaf jika aku lancang mengganggu kalian. Perkenalkan nama saya Erik tamu yang diundang oleh keluraga Rendra saya adalah seorang dokter,”ucap Erik.
“Bagus jika kamu mau membuktinya. Maka tidak ada kepalsuan yang dibuat-buat oleh kedua pihak. Apa kamu mau membantu mengetes DNA mereka bertiga,”ucap Ilyas.
“Tidak masalah,”kata Erik. Meri hanya terdiam melihat drama yang dibuat.
Erik yang masuk dan mulai mengambil sampel darah ketiga orang tersebut. Meri yang berpura tidak kenal hanya bisa mengikuti alur permainan Erik. Sampai sampel darah sudah diambil dan dibawa kerumah sakih N untuk diuji kecocokan darahnya. Meri yang sudah selesai dengan darah yang diambil menuju ke arah Ilyas dengan berjalan elegan seperti tidak terjadi apa-apa.
“Kak, apa kamu masih tidak ingin mengaku kalau mereka adalah orang tua kandung kamu,”ucap Bela dengan suara kecil.
“Adik, apa kamu juga tidak menyadar kalau kamu mengandung anak orang lain?,”kata balik Meri dengan santai. Aji yang disampingnya melihat ke arah Bela,”Apa maksud darai ucapan kakak kamu Bela?.”
Bela yang gugup hanya berkata,”Aku juga tidak tahu, mungkin kakak ingin tahu aku hamil anaknya siapa?.”
Aji yang mendengarnya hanya terdiam memikirkan ucapan Meri.”Apa yang dikatakan memang benar, tapi kenapa ada yang aneh ya. Tapi bagian mana,”ucap hati Aji.
Bela yang melirik ke arah Aji mulai gelisah dan berkata,”Apa yang kamu pikirkan, apa kamu tidak mau mengakui anak ini adalah anak kamu. Apa kamu lupa kalau kamu yang melakukannya waktu it saat kamu pertunangan dengan orang lain. waktu itu..” Aji yang menghentikan ucapan Bela dengan satu jari menempel di bibir Bela dengan tatapa penuh kasih sayang.
“Aku percaya kamu, aku akan bertanggung jawab dengan dirimu,”kata Aji yang langsung mencium kening Bela. Meri yang melihat hanya merasa kasihan dengan Aji yang sudah diperdaya oleh Bela.
Bela yang mendapat kejupan kening dia sempatkan melirik Meri degan tatapan dingin dan licik. Tapi Meri hanya tersenyum dengan santai hingga Ilyas menarik tangannya.
“Kenapa?,”ucap Meri yang sempat terkejut dengan tarikan tangan Ilyas.
__ADS_1
“Apa yang kamu lihat, sudah waktunya kita masuk ke dalam aula pesta,”kata Ilyas. Meri hanya menganggukan kepalanya dan mendorong kursi roda Ilyas sampai ke aula pesta yang masih ramai dengan tamu.
Ilham yang masih bersama dengan tamu tetap membuat suasana pesta berjalan lancar.”Kamu sudah bekerja keras,”kata Ilyas. Ilham hanya melihat saja dan tersenyum,”Bagaimana apa urusan kalian sudah selesai diluar?.”
“Untuk sekarang sudah,”kata Meri.
“Untuk sekarang, apa maksud kamu kak ipar,”kata Ilham.
Meri hanya terdiam hingga ada salah satu tamu datang menghampiri mereka bertiga.”Selamat ya tuan Ilyas anda sudah bertunangan dengan kelurga Sari. Pasti anda sangat senang bertemu dengan gasid yang cantik seperti nona ini,”kata tamu yang datang.
“Terima kasih atas pujian anda tuan. Perkenalkan nama saya Meri Maratika,”ucap Meri yang memperkenalkan diri kepada tamu tersebut.
Meri dan Ilyas yang selalu didatangi tamu untuk berbincang dengan mereka berdua sampai acara selesai. Setelah semua tamu pergi Meri yang bisa melepaskan lelah bisa menikmati duduk disofa dipojok. Sampai Erika datang membawakan minuman untuk Meri.
“Apa kamu lelah?,”ucap Erika yang tersenyum.
“Menurut kamu bagaimana dan adik kamu bagaimana?,”ucap Meri. “Tidak usah khawatir sudah dibawa ke tempat pusat penelitian. Hasil akan keluar besok pagi,”ucap Erika.
“Tapi kalian harus tetap berhati-hati karena dia mungkin di ikuti oleh orang lain untuk mendapatkan hasil yang di inginkan,”ucap Meri sambil meneguh minumannya.
Bela yang melihat langsung datang menghampir Meri yang sedang istirahat bersama denga ayah dan ibu angkat. Meri yang melihat hanya terdiam sampai Erika berkata,”Untua apa mereka berjalan ke arah sini? Apa mau mencari masalah lagi.”
“Sudahlah,”ucap Meri dengan singkat.
Meri yang tidak perduli hanya ingin melepaskan lelah sampai mereka bertiga ada dihadapan mereka. Meri yang masih duduk melihat mereka bertiga berdiri didepan Meri. Meri melihat ke arah mereka,”Ada apa ayah dan ibu ke sini dan Bela juga?.”
__ADS_1
Bela yang langsung duduk di dekat Meri lalu berbisik,”Kamu ingin mati jika kamu sedikit saja membuka mulut kamu. Aku tidak akan senggan membunuh kamu. Apa kamu mengerti?.”Meri yang tidak perduli dengan ucapan Bela hanya membalas dengan senyuman. Hingga ayah dan Ibu berkata,”Kamu itu hanya batu loncatan Bela untuk menjadi nyonya kelurga Pram. Kamu harus tahu itu anak yang dibuang.”