Rahasia Meri

Rahasia Meri
RM 41


__ADS_3

Meri yang menceritakan kepada Ilyas bagaimana dia bisa tahu kalau yang datang bersama dengan kelurga Brata adalah penipu. Suara mereka yang bergetar kerut wajah mereka seperti tidak cocok dengan tubuh aslinya. Meri yang sudah menjelaskan bagaimana dia mengetahui sudah dia ceritakan kepada Ilyas. Sampai Ilyas berkata kepada Meri,”Apa  kamu dulu anggota tentara?.”


Meri hanya tersenyum,”Bukannya kamu sudah tahu kalau aku adalah mantan komandan dan jendral apa yang musuh perlihatkan aku tahu semuanya.”


“Tapi bagaimana kamu bisa terjun ke medan perang yang begitu berdarah Meri,”Kat Ilyas. Meir terdiam untuk sesaa karena dia menguap karena dia lalah. Ilyas yang tahu hanya menyudahi pembicaraan mereka.


“Sebaiknya kamu istirahat,”kata Ilyas.


Meri menganggukan kepalanya dan masuk ke dalam kamar dan menutup terasnya. Meri yang berbaring di kasur sampai dia menutup mata melepaskan lelah. Di malam yang melelahkan Meri tertidur, tapi tidak ada angin yang kencang pembunuh datang menghampiri kamar Meri.


Meri yang tertidur lelah hampir di tikap oleh pembunuh. Meri yang mersakan hawa pembunuh membuka mata dan langsung mengindar tusukan yang akan diberikan kepada dia saat dia kasur. Meri dengan tatapan tajam menatap musuh yang datang. Tapi pembunuh langsung datang dengan kesit untuk membunuhnya, Meri yang sudah terbiasa dengan suasan mencekap ini.


Mengeluarkan senjata yang selalu dia bawa di bagain kakinya. Dan memulai serangan balasan, tanpa suara Meri dan pembunuh memulai saling beraduh fisik. Sampai dari mereka kelelahan, Meri yang mendapatkan peluang dari musuh siap menikap pembunuh tersebut. Tapi dia urungkan sampai Meri dibelakang pembunuh dengan menaruh pisau seperti jarum melekat di lehar pembunuh.


“Siapa yang menyuruh kamu datang ke sini?,”kata Meri dengan suara dingin.


“Aku tidak akan memberitahu kamu, sebaiknya cepat bunuh aku,”kata pembunuh.


“Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan,”kata Meri yang menusuk satu kaki mereka dengan menutup mulut pembunuh agar tidak bersuara.


“Aku ingin menyiksa kamu terlebih dahulu sebelum kamu mati. Siapa dia Bela, Jack atau keluara Brata yang menyuruh kamu. Ada tiga pilihan yang harua kamu katakan jika kamu ingin mati dengan tenang,”kata Meri dengan penyiksaannya.

__ADS_1


Pembunuh yang sudah didekap oleh Meri hanya berkata satu kata Jack dan kemudia pembunuh  bunuh diri dengan menggifit lidahnya sendiri. Meri yang melihat hanya melepaskan begitu saja.”Jack ingin membunuhku berati Bela juga terlibat,”ucap Meri yang membuka teras.


“Apa anda baik saja?,”ucap anak buah yang mengawasi.


“Aku baik saja, tapi dia. Toong kalian yang urus yang sekalian bersihkan darahnya agar tidak ketahuan,”ucap Meri sambil melirik ke arah pembunuh.


Setelah semua dibereskan semua kembali tenang dan sunyi Meri yang kembali berbaring setelah smeua pergi.”Akhirnya aku bisa tertidur lagi,”ucap Meri yang tertidur.


Meri yang tertidur setelah pembunuh datang.  Malam yang dingin dan sunyi semua orang tertidur. Sementara di tempat lain Bela yang bertemu dengan Jeck setelah mengirim hadiah pembunuh untuk Meri.


“Apa kamu sudah mengirim pembunuh itu Jeck,”kata Bela yang mendekat ke sisinya.


“Aku sudah mengirimnya tinggal menuggu hasilnya saja,”kata Jeck yeng tersenyum kepada Bela.


Jeck yang melihat menatap Bela,”Apa yang membuat kamu kepikiran seperti itu Bela?.” Bela menatap Jeck dan bersandar didada Jeck yang ada disampingnya.”Kamu tahu tidak saat pesta pertunangan Meri. Dia berbisik kepadaku kalau dia tahu kalau anak yang aku kandung bukan anak Aji. Bagaimana jika dia tahu kalau anak ini anak kamu dan dia menggagalkan rencana kita, sayang,”kata Bela.


“Mustahil dia bisa tahu, mungkin kamu terlalu khawatir dan benci dengan dia saja,”ucap Jeck yang mengelus kepala Bela yang masih bersandar di dadanya.


Bela dan Jeck yang sedang menuggu kabar baik hingga anak buah Jeck datang dengan tergesa kalau pembunuh yang dikirim oleh bosnya sudah tewas. Jeck yang mendengarnya tidak terkejut hanya berkata,”Tidak aku sangka pengaman keluarga Rendra masih ketat.”


“Bagimana sekarang sayang?,”ucap Bela.

__ADS_1


“Kamu jangan khawatir masih ada waktu untuk menyelesaikannya. Sekarang yang lebih penting kamu harus tetap menjaga kondisi kamu,”kata Jack. Bela hanya tersenyum sampai mereka tidur bersama di ranjang yang sama mereka saling berpelukan.


Angin berhembus suara kicauan burung membangunkan Meri yang tertidur lelap. Meri membuka mata dimana cahaya sinar matahari pagi menembus disela jendela dan pintu. Meri merenggakan tubuhnya karena baru saja terbangun dari malam yang panjang. Dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi Meri yang bersantai menikmati suasana sejuk yang merabah tubuhnya. Dengan air yang membasahi tubuh Meri. Selesai dengan urusan tubuh Meri menuju keluar dan mencari pakaian yang dia gunakan.


Meri membuka teras untuk mendapatkan sinar matahari setelah dia mandi. Meri yang duduk dan membawa selembar kertas dan polpen yang sudah dia bawa dari dalam. Dia mulai membuat desain pakaian yang terlintas didalam benaknya. Hingga Ilyas yang melihat Meri di teres dengan kertas dan polpennya.


Ilyas menatap sampai dia tidak sadar kalau sekertarisnya sudah datang.”Tuan sudah waktunya kembali ke kantor,”ucap sekertaris Jim.


Ilyas yang tersadar saat sekertarisnya datang.”Aku mengerti,”ucap Ilyas yang kembali melihat data yang dibawa oleh sekertaris Jim.


Meri yang melihat ke arah kamar Ilyas yang sedang sibuk dengan sekertaris Jim hanya bisa kembali fokus untuk mendesain pakaian yang ada di otaknya. Satu persatu ide yang ada dalam otak Meri dia tuangkan dalam satu karya yang akan membuat dia mengubah jalan cerita kehidupannya. Tapi tiba-tiba Meri yang mencium harum bunga yang ada ditaman membuat dia memikirkan satu produk kecantikan. Meri tersenyum setalah menuliskan bahan yang akan dicampurkan dalam produk yang akan dia buat.


Meri yang telah menulis bahan yang akan dia gunakan untuk produk kecantikan. Sampai suara ketukan membuyarkan Meri yang sedang fokus dengan ide yang terlintas. “Sedang apa kamu nak di sini,”ucap nenek keluarga Celsi. Meri hanya tersenyum melihat neneknya datang.”Ayo kita turun sarapan pagi semua orang sudah menuggu,”ucap nenek kelurga Celsi.


Meri berdiri dan menyimpan kertas dan bahan di tempa seharusnya sama hal dia menyembunyikan di dalam tumbukan kertsa. Meri dan nenek keluara Celsi pergi ke ruang makan dimana semua sudah menuggu. Mereka yang menikmati makan pagi bersama dengan nyaman dengan suasana keluarga.


Meri yang tidak tahu bagaimana rasanya bersama ayah dan ibu karena dia hanya bisa melihat Bela dengan senyum bahagianya. Di depan makanan mereka menikmati sampai dimana Meri harus pergi untuk bertemu Blue dan Green.


“Apa kamu ada acara hari ini?,”ucap Ilyas.


“Aku ingin bertemu teman lama. Apa ada masalah?,”kata Meri yang masih memengan garbu dan sendok.

__ADS_1


“Biarkan Ahmad menemani kamu jika kamu ingin keluar,”kata Ilyas.


“Tidak. Aku bisa sendiri, jika ada apa-apa aku bisa menghubungi Ahmad atau Tora. Kamu tidak usah khawatir,”kata Meri.


__ADS_2