
Leo yang menuruni jalan dengan hembusan aingin membuat Leo menikmati sampai dia menghentikan laju rodanya. Leo yang melihat beberapa orang yang menghalangi jalan Leo pergi. Leo yang awalnya tidak ingin berkelahi karena dia sudah lelah.
Membuat dia mencari jalan lain dengan rute perjalanan di tenga hutan. Sebelum musuh menyadari keberadaan Leo. Leo segera masuk ke dalam jalan yang penuh dengan pohon dipinggir jalan. Leo yang sudah bisa menghindar dari musuh yang ada dijalan yang dilalui oleh Leo. Di perjalanan dengan rute yang berbeda Leo yang masih santai berjalan sampai dia beristirahat di tengah pepohonan yang mengelilinginya.
Leo yang mengambil buku desainnya mulai membuat coretan model dengan tema hutan yang rindang dengan cahaya yang sedikit masuk ke dalam rumpunan pohon yang mengelilingi setiap perjalan kaki. Satu demi satu coretan dia tuangkan ke dalam desain model yang Leo buat. Sampai Leo menyadari kalau ada yang mengikuti dia.
Leo yang sudah selesai memasukkan desain buku ke dalam tas. Segera dia berdiri dan melihat sekeliling dia. Kalau apa yang dia rasakan ada yang mengikuti dia, tapi yang mengikuti bukan musuh melainkan orang lain. Leo yang awalnya ingin menghampiri orang tersebut. Dia urungkan dan mulai berjalan mencari jalan yang dia bisa lewati untuk menggunakan Sketaborad.
Leo yang menuruni jalan berbukit sampai dia melihat cahaya yang masuk ke sela-sela pohon. Leo berjalan ke arah cahaya itu dan melihat jalan beraspal di depannya. Leo segera turun dan menyiapkan sketeboard untuk melanjutkan perjalanna dia. Perjalanan dilanjutkan dengan damai dan tenang angin terus berhembus ke arah Leo yang melaju menuruni jalan beraspal.
Leo yang sambil mendengarkan musik menuruni jalan menurun dengan jalan berbelok. Dengan santai Leo mulai menikmati pemandangan itu. Satu persatu sampai di jalan yang ramai Leo masih mengendalikan sketeboardnya sampai di jalan pemungkiman toko. Leo yang berhenti untuk mencari minuman dan makanan yang dia bisa beli untuk mengurangi rasa lapar dan hausnya.
Leo yang mencari sampai dia bertemu dengan Jaksen lagi yang juga dengan duduk santai. Leo yang menghampiri setelah dia memesan minuman dan makanan.”Apa yang kamu lakukan disini?,”ucap Leo yang berjalan dibelakang Jaksen.
Jaksen yang menoleh ka arah suara dan melihat Leo yang ada dibelakang dia. Leo yang duduk di depan dia hanya bisa terdiam.”Bukan kamu tadi pergi,”ucap Jaksen.
“Iya tapi urusanku sudah selesai dan ingin mencari makanan dan minuman karena sudah lelah,”kata Leo.
“Kamu sendirian,”ucap Jaksen. “Menurut kamu aku dengan siapa. Tidak mungjin aku datang menghampiri kamu jika aku bersama orang lain,”kata Leo.
“Apa urusan kamu sudah selesai. Tapi kamu terlihat lelah,”ucap Jaksen yang mengamati Leo.
“Lelah karena menimati jalan menurun dengan sketeboard yang aku naikki,”kata Leo.
“Sedang olahraga ternyata kamu,”kata Jaksen.
__ADS_1
“Sedangkan kamu sedang apa di sini,”kata Leo yang mengganti topik pembicaraan.
Jeksen dan Leo yang tidak terlalu banyak bicara hanya bisa terdiam diri. Sampai pesanan Leo datang dan menimatai makanan dan minuman yang dipesan. Tidak lama kemudian datanglah seorang yang tidak asing dengan mereka berdua.
“Izam,”ucap Jaksen. Leo yang menoleh ke arah pintu masuk dan melihat Izam yang juga sendiri ke dalam cafe. Izam yang melihat Jaksen dan Leo yang sedang duduk bersama menghampirinya. Izam yang melambaikan tangan dan berjalan ke arah mereka berdua.
Izam yang duduk di depan mereka berdua.”Kalian sedang ada janjian yang bertemu berdua,”kata Izam.
“Janjian yang tidak terduga. Kamu sendiri kenapa ada di sini, bukan bersama dengan Meri,”kata Jaksen.
“Aku baru saja kembali dari keluarga Sarca dan ingi mencari ke tenangan aku tidak menyangka kalau kalian ada di cafe ini,”kata Izam sedikit menjelaskan.
Mereka duduk bersama di meja yang sama sambil menimati suasana di cafe. Tanpa sedikit ada obrolan yang mereka bahas. Karena mereka bertiga sedang sibuk dengan ponsel mereka. Leo yang tidak memegang ponsel hanya bisa melihat sekelilingnya.
Mata Leo yang tertuju pada satu orang yang sedang duduk di pojokkan. Leo yang sedang mencari tahu siapa dia menemukan nama yaitu Rika. Leo yang bertanya kepada mereka berdua sambil menatap ke arah meja.
Izam dan Jaksen yang melihat ke arah pojok dekat pohon melihat dengan seksama. Tapi untuk menghindari kecurigaan dari Rika. Mereka melihat sekilas dan kemudian bertatap satu sama lain.”Bukan itu salah satu anggota pemerintah yang merupakan salah satu target korupsi,”ucap Izam.
“Kenapa Rika bisa mengenala orang itu,”kata Jaksen.
“Apa mereka saling bekerja sama,”kata Leo.
Mereka berdua yang saling berargumen satu sama lain sampai mereka tidak menemukan jawabannya. Hanya bisa mengambil sedikit video yang bisa mereka selidiki. Selesai mengambil video, Leo yang sudah dengan makanan dan minuman berdiri.
“Kamu mau kemana?,”ucap Izam.
__ADS_1
“Mau pergilah. Aku lelah dan ingin segera berbaring,”ucap Leo.
Mereka berdua hanya bisa terdiam setelah Leo pergi meninggalkan cafe. Leo yang melanjutkan perjalanan menuju kontrakan. Izam dan Jaksen yang masih duduk di cafe setelah Leo pergi.”Kamu tidak ikut pergi,”ucap Izam kepada Jaksen.
“Masih ingin duduk. Apa ada masalah jika aku masih duduk di sini. Kamu tidak suka,”kata Jaksen.
“Tidak, hanya saja bukan kalian datang bersama yang tadi,”kata Izam yang menduga.
“Siapa yang kamu maksud datang bersama,”kata Jaksen. Izam menuju ke arah pintu keluar.”Tidak, Aku datang lebih dulu dari Leo. Yang kebetulan Leo melihatku dan menghampiriku dan duduklah dia sini,”ucap Jaksen menjelaskan kedatangan Leo.
“Aku kira kalian datang bersama,”kata Izam Jaksen yang menggelengkan kepalanya sampai mereka sedikit melihat ke arah Rika dan anggota pemerintah.
“Apa kamu yakin kalau yang bersama dengan Rika adalah anggota pemerintah,”kata Jaksen untuk mencari topik yang bisa dibicarakan setelah Leo pergi.
“Aku yakin kalau dia salah satu dari anggota pemerintah,”kata Izam dengan percaya diri dengan apa yang dia lihat.
Jaksen dan Izam yang masih di tempat sampai Rika dan anggota pemerintah pergi dari cafe.”Mereka sudah pergi,”kata Jaksen. Izam yang masih dengan minuman yang dipesan dan tidak ada keinginan untuk mengikuti Rika dan anggota pemerintah.
“Kenapa kamu masih melihatku, apa ada yang aneh dengan wajahku,”ucap Jaksen.
“Tidak, apa kamu tidak ingin mengikuti mereka berdua,”kata Izam. Jaksen masih menggelengkan kepalanya karena dia dalam masa libur hari itu. Semua pekerjaan dia hentikan karena sudah banyak yang membuat Jaksen pusing.
“Tidak aku sangka kamu bisa pusing juga dengan urusan kamu,”kata Izam.
“Memangnya tidak boleh, jika aku hanya ingin bersantai saja. Dari pada kamu masih saja tidak yakin dengan hati kamu sendiri,”ucap Jaksen.
__ADS_1
“Apa maksud kamu Jaksen. Adik kamu saja yang masih sulit membuka hatinya untuk diriku,”kata Izam.
“Apa kamu yakin kalau Meri masih belum membuka hatinya,”kata Jaksen.