Rahasia Meri

Rahasia Meri
RM 118


__ADS_3

Tarkam yang sedang ada di kantor mendapatkan panggilan video dari Jaksen. Tarkam yang tidak tahu kenapa Jaksen menghubungi hari itu. Tapi setelah Tarkam mengangkat video callnya dia melihat Jaksen dan Leo yang sedang bersama. Tarkam yang tidak tahu apa yang mereka lalukan hanya bertanya kepada mereka berdua.


“Jaksen kenapa kamu menghubungiku dan kalian sedang apa di sana,”kata Tarkam. Jaksen yang tidak berkata hanya memperlihatkan Meri dan Izam yang ada di satu ruangan yang sama. Tarkam yang melihat hanya terdiam.”Apa mereka berdua sudha jadian?,”ucap Tarkam.


“Belum mereka hanya mengukur baju saja,”kata Jaksen.


“Tapi itu belum terlalu dekat apa mereka malu-malu,”ucap Tarkam.


“Mereka memang malu-malu. Kalau begini saja tidak ada perkembangan bukan,”kata Leo. “Itu benar juga. Tapi kalian mau apa,”kata Tarkam.


“Apa yang ingin aku lakukan juga masih belum kepikiran tapi kurasa Meri masih belum bisa menerima Izam seutuhnya,’kata Leo yang melihat mereka berdua.


Sementara Meri dan Izam yang ada di dalam tidak tahu kalau mereka sedang di intip. Meri yang sedang fokus mengukur baju Izam sampai lingkar badan mereka saling berhadapan. Meri yang mencoba tenang dan fokus dengan angka meteran agar tidak salah. Sedangkan Izam yang merasa mereka berdua sangat dekat membuat Izam tidak terlendali. Hati Izam yang berdebar dan nafsa Izam yang dia jaga tetap santai.


Tapi melihat Meri yang ada didekatnya membuat Izam ingin memeluk Meri.Tapi bayangan itu dia urungkan saat tatapan Meri menatap ke arahnya. Izam dan Meri saling bertatapan sampai Izam kembali memalingkan wajahnya karena merasa malu dan berdebar.


Meri yang juga merasa malu juga ikut memalingkan wajahnya dan melanjutkan mengukur pinggang Izam. Selesai dengan ukuran badan dan pinggang Meri di belakang Izam untuk mengukur lebar punggung dan lengan. Meri yang masih fokus sampai dia di posisi dia ingin mengukur celananya. Meri yang sedikit ragu dan Izam yang juga malu.”Aku berikan jelana jadi saja sebagai ukurannya bagaimana?,”kata Izam untuk mengakiri ukuran tubuh Izam.


“Baiklah,”ucap Meri yang sedikit malu. Selesai dengan mengukur tubuh Izam Meri yang melihat kalau Leo masih belum kembali hanya terdiam. Sampai di dalam ruangan merasa canggung dan tidka ada obrolan sama sekali.


Leo yang melihat itu hanya bisa masuk ke dalam lagi dan Jaksen pergi dari tempat itu. Leo yang berpura-pura tidak tahu melihat mereka berdua.”Apa kalian sudah selesai mengukur?,”kata Leo yang masuk.

__ADS_1


“Iya sudah selesai,”kata Meri.”Kamu sudah selesai dengan panggilannya Leo,”kata Izam.”Sudah,”ucap Leo yang kembali ke tempatnya.


Sampai mereka menikmati teh yang dibuat oleh bibi. Sambil istirahat mereka bertiga tidka salng mengobrol satu sama lain. Leo yang merasakan suasana itu menang sudah terbiasa, tapi merlihat mereka berdua yang masih malu hanya bisa membuat suasana itu berkembang dan nyaman.


Sampai Jaksen datang ke dalam ruangan.”Apa yang sedang kalian lakukan?,”kata Jaksen yang masuk.


“Sedang istirahat. Kakak kenapa kamu ada di rumah,”kata Meri yang melihat.


“Aku baru saja pulang,”kata Jaksen. Jaksen yang duduk disebelah Meri dan Leo. Jaksen yang melihat suasana yang cangkung itu menghidupkan suasana dengan bertanyakan kepada Meri.”Kenapa kamu hanya diam saja Meri,”kata Jaksen.


“Siapa yang diam,”kata Meri yang tidak tahu harus berkata apa.”Bagaimana kalau kita bermain saja?,”ucpa Leo yang memberikan usulan.


“Boleh juga itu,”ucap Jaksen yang ikut bermainan. Sementara Meri dan Izam masih menatap satu sama lain sampai beberapa menit. Izam berkata kalua dia setuju dan di susul oleh Meri yang juga ikut bermain.”Jika semua sudah setuju aku akan memutar botolnya ya,”kata Leo yang siap memutar botolnya.


Botol masih berputar mereka berempat yang sudah menuggu botol itu berhenti. Sampai menit terakhir botol berhenti pada Meri dan Izam. Dimana Meri harus menjawab pertanyaan dari Izam. Iza dan Meri yang tidak menyangka kalau mereka harus saling berbincang satu sama lain.”Izam kamu boleh bertanya apa saja kepada Meri,”kata Leo.


“Pertanyaannya hanya boleh satu ya,”ucap Izam.”Tentu saja dan Meir harus menjawab dengan jujur pertanyaan Izam itu permainan ya. Jangan diambil hati ya,”kata Leo.


Izam yang sedang memikirkan pertanyaan apa yang ingin dilontarkan kepada Meri. Setelah menuggu lama Izam yang sudah mendapatkan pertanyaan kepada Meri.”Meri apa yang kamu sukai?,”kata Izam dengan pertanyaan yang umum kepada Meri.


“Aku suka bunga dan boneka,”kata Meri. Botol di putar oleh Izam karena dia yang menang. Botol yang sudha diputar oleh Izam sampai putaran perlahan melambat dan yang kalah ronde kedua adalah Leo yang harus menjawab dari pertanyaan Jaksen.

__ADS_1


“Leo kenapa kamu bisa kenal dengan Meri,”kata Jaksen yang mendukung Izam.


“Kenapa aku bisa kenal dengan Meri karena kami satu jurusna yang sama. Kalau tidak salah waktu itu karena kelas pertama masa kuliah hari pertama aku tidak masuk dan belum mendapatkan teman. Karena semua temat duduk sudah dipakai hanya satu tempat duduk yang dekat dengan Meri. Saat itulah aku berkenalan dengan Meri,”kata Leo yang menjelaskan.


Jaksen memutar botolnya untuk memulai ronde ketiga. Tapi tidak terduga Tarkam yang bersama dengan Jesi dan John datang ke rumah Meri. Tarkam yang masuk ke dalam ruangan kerja Meri melihat mereka berempat sedang bermain.”Apa yang kalian lakukan?,”ucap Jesi yang juga melhat mereka.


“Hanya bermain saja,”kata Meri.”Bermain apa, apa aku juga boleh ikut,”kata John.


“Permianan tanya jawab dimana siapa yang mendapatkan tutup botol harus menjawab dari yang bokong botol diarahkan,”kata Jaksen.


“Kurasa menarik. Aku juga mau ikut,”kat Tarkam yang duduk disebelah Izam. John yang duduk disebelah Leo dan Jesi yang duduk disebelah Meri.”Berati kita ulang dari awal lagi ya aku putar lagi botolnya,”kata Jaksen.


Jaksen yang memutar botolnya bermainan dimulai botol yang berputar cepat perlahan berhenti dan berhenti di Meri dan John. Dimana Meri harus menjawab pertanyaan dari John.”Aku yang bertanya ini berati,”kata John.


“Meri ciuman pertama kamu siapa yang mendapatkannya?,”kata John. Meri yang mendengarnya meresa terkejut dimana Meri harus mengingat masal kelam yang tidak enak bersama dengan Ilyas. Meri yang sedikit ragu untuk mengatakannya hanya bisa berkata dengan jujur kalau ini hanya sebuah permainan.


“Ciuman pertamaku berikan kepada boy yang sekarang sudah menjadi abu kerena menyelamtkan aku dari racun,”kata Meri. Semua yang mendenagar hanya tercengang sampai John meutar botolnya. Botol yang berhenti di arah Izam dan Jesi. Izam yang harus menjawab dari Jesi. Karena suasana tidak enak saat Meri menceritakan ciuman pertamanya yang tragis. Hanya bisa membuat suasana yang bebeda saat Jesi bertanya kepada Izam.


“Izam aku bertanya kepada kamu ya. Kenapa kamu wkatu SMA kamu tidak percaya dengan Meri dan menuduh dia yang membunuh adik kamu,”kata Jesi.


“Itu karena aku percaya dengan bukti yang ada. Karena aku waktu itu batu saja kembali dari perbatasan dan semua yang kasus ditangani oleh pengacaraku. Aku juga tidak tahu kalau pengacaraku sudah bersengkokol dengan Keluarga Bram,”kata Izam yang menjelaskan kejadian waktu itu.

__ADS_1


__ADS_2