
Setelah Jesi dan John mendengar ucapan Meri kalau dia bertemu dengan Nenek dan kakek aslinya membuat mereka ingin tahu siapa Meri. Sampai Jesi bertanya siapa nenek dan kekeknya dan dari keluarga mana dia. Meri yang melihat mereka dengan penasaran berkata,”Jika kamu tahu mungkin kita bersaudara.”
Jesi dan John yang terdiam sampai salah satu dari mereka berkata,”Apa maksud kamu?.”
“Dari mana aku akan memulai nenek dan kakekku adalah keluarga Celsi aku juga baru tahu saat pertunanganku dengan ilyas. Tapi kalian bisa tidak jangan mengatakan ke orang lain soal nenek dan kakekku,”ucap Meri.
Jesi dan John terdiam kemudian mereka mengambil ponsel untuk menghubungi paman dan ayahnya serta paman Firgo untuk memastikan kebenarannya. Meri yang melihat mereka sibuk hanya diam saja dan melanjutkan membaca buku kedua yang dia sudah ambil.
Meri yang mulai membaca bukunya selalu mencatatan bagian pentingnya untuk referensi ide yang akan dia buat. Dari membaca dia selalu menemukan ide baru untuk menulis dan membuat karya. Meri yang sudah selesai dengan bukunya tapi John dan Jesi masih sibuk dengan telepon mereka.”Kalian sedang menghubungi siapa?,”ucap Meri karena ingin tahu.
“Bukan kamu sudah tahu, tentu saja kakek kamu,”ucap John.”Maksud kamu Alexca,”kata Meri.
“Kamu sudah tahu nama kakek kamu Meri,”ucap Jesi.”Tidak aku tahu kalau dia dalah pimpinan darai organisasi tersembunyi. Aku tidak tahu kalau dia adalah kakekku sampai aku mendapatkan cerita latar belakang kedua orang tuaku dari nenek dan kakek,”ucap Meri.
“Kalian bukan tahu aku tinggal di panti asuhan cahaya indah sejak bayi. Mana tahu siapa orang tua aku baru kemarin aku tahu identitasku. Tapi aku masih belum terbiasa,”ucap Meri.
“Tenang saja kak, kami akan selalu ada untuk kamu,”ucap John.
__ADS_1
“Kenapa kalian memanggilku kak. Panggil nama biasanya saja itu lebih nyaman,”ucap Meri yang belum terbiasa.
“Apa kamu tidak keberatan dengan kami memanggil nama kamu begitu saja,”ucap John. Meri hanya menganggukan kepalanya sampai hari sudah gelap. Mereka berdua keluar dari gedung perpustakaan sampai di dapan pintu Jesi dan John yang berjalan lebih dahulu. Melihat ke arah depan yang sudah ada Ilyas dan kemudian mereka berdua menoleh ke arah Meri.
Meri yang awalnya bingung dengan tatapan mereka berdua hanya biasa menggelengkan kepala ke slah satu arah sampai dia melihat mobil Ilyas baru dia tahu. Kenapa mereka berdua menatap ke arahnya.”Aku sudah di jemput, lain kali kita bicara lagi ya,”ucap Meri yang berjalan ke arah mobil Ilyas.
“Apa kamu sudah selesai dengan membaca bukunya,”ucap Ilyas.”Sudah, tapi kita mampir ke supermarket ya membeli bahan makanan,”ucap Meri.”Cepat masuk,”ucap Ilyas yang tahu.
Mereka langsung melanju mobilnya menuju ke supermarket untuk membeli bahan makanan.”kenapa kamu tidak menyuruh rekan kamu saja membelinya,”kata Ilyas.
“Mereka ada tugas jadi tidak bisa,”kata Meri.”Lalu siapa dua orang tadi yang keluar bersama kamu,”kata Ilyas yang mengintograsi.
Meri yang melihat tatapan Ilyas sudah bisa tertebak kalau dia ingin ikut. Mereka berdua menuju lantau satu dimana menjualn bahan masakan dan sayuran termasuk bahan dapur. Sampai di lantai yang menyediakan bahan makanan Meri yang mendorong kursi rodanya dan mengambil ranjang belanja.
“Apa yang ingin kamu masaka hari ini?,”ucap Ilyas.”Aku tidak tahu lihat bahan saja dulu,”ucap Meri sambil membawa ranjang belanja. Ilyas yang melihat langsung mengambilnya dari tangan Meri.”Biar aku saja yang membawanya,”kata Ilyas setelah merebut keranjang belanja.
Meri hanya tersenyum melihatnya sambil melihat bahan sayuran yang masih segar di depan matanya.”Ilyas suka makan apa?,”kata Meri.
__ADS_1
Ilyas yang mendengar ucapan Meri dengan singkat dia berkata,”Aku suka masakan kamu yang buat.” Meri yang mendengarnya lalu melihat ke arah Ilyas.”Jika kamu suka dengan masakanku, aku tidak tahu apa yang kamu benar suka dari masakanku,”ucap Meri yang bingung memilih bahan jadinya.
“Begini saja kamu buatlah masakan yang kamu bisa nanti aku akan menilah setiap hari sampai aku menemukan makanan favoritku bagaimana,”ucap Ilyas yang ingin mencicipi semua masakan Meri. Karena dia tidak ingin kehilangan lagi setelah apa yang terjadi dengan dia dan Bela.”Baiklah, jika itu yang kamu mau,”ucap Meri yang sedikit lesu.
“Kita pilih bahan makanan dulu ya,”ucap Meri yang meliha sampai dia mengambil dua atau tiga sayur yang memang dia inginkan. Setelah memilih sayuran dia memilih bahan yang berupa daging untuk melengkapi. Sampai Meri melihat ada seefood di salah satu tempat yang tidak jauh dari dia berdiri. Meri yang mendorong kursi roda Ilyas sampai di tempat ada jenis ikan.
Meri mulai memilih dan membandingkan satu ikan yang satu dengan yang lain mana yang segar dan tidak. Ilyas yang melihat hanya tersenyum sampai dia berkata,”Apa kamu ingin menjadi cooking?.” Meri yang tersenyum berkata,”Untuk cooking pribadi tuan ilyas.”
Setelah memilih ikan yang segar Meri meletakkan ke keranjang belanja yang dibawa oleh Ilyas. Meri yang masih melihat sampai keranjang yang di pangku oleh Ilyas sudah penuh. Meri yang melihat sudah cukup dengan apa yang dia beli dan menuju kasir. Meri yang sudah sampai di kasir memberikan kepada petugas kasir untuk di hitung barang yang dibeli. Selesai menghitung petugas menyebutkan jumlah nominal yang harus dibayar oleh Meri. Tapi Ilyas yang sudah mengeluarkan dompert memberikan kartu kreditnya.
“Kenapa kamu yang bayar,”ucap Meri yang mau mengambil uangnya di dompet.
“Kenapa apa kamu tidak suka jika tunangan kamu yang membayarnya,”ucap Ilyas yang hampir keasal. Meri yang melihat wajah Ilyas hanya bisa menahan.”Baiklah tapi lain kali aku saja yang bayar aku masih ada uang untuk membelinya,”ucap Meri yang sudah meletakan barang bawaanya di dekat Ilyas.
“Lain kali jika kamu ingin membeli barang keperluan kamu. Kamu pakai ini saja,”ucap Ilyas sambil memberikan kartu kredit yang tadi di pakai setelah dia menuju lantai bawah dimana mobil terparkir.
“Tapi,”ucap Meri yang masih ragu untuk mengambilnya.”Kenapa kamu diam saja,”ucap Ilyas yang ingin mencoba mengetes Meri apa dia sama dengan Bela atau tidak. Meri yang tahu tidak ingin mengambilnya dan tetep mendorong kursi roda Ilyas sampai pak sopir yang sudah menunggu keluar. Membawa barang bawaannya dan menuju ke bagasi mobil. Meri yang membantu Ilyas masuk ke dalam mobil dan pak sopir melipat kursi rodanya dan memasukkannya ke dalam bagasi bersama dengan barang belanjaannya.
__ADS_1
Ilyas yang sudah duduk di kursi mobil dan Meri yang baru saja hendak ingin masuk melihat Bela dari jauh bersama dengan Aji. Tapi Meri yang tidak ingin tahu apa yang terjadi dengan mereka langsung masuk ke dalam mobil. Sampai pak sopir masuk dan menyalakan mobilnya dan mereka segera pergi dari supermarket dan menuju kontrakan Meri.