
Sampai di rumah sakit x Izam bersama kedua orang yang mengikutinya pergi ke ruang pasien yang mengantar Meri. Pintu suara terbuka mereka berdua masuk ke dalam ruangan ada dua petugas yang sedang berbaring karena mendapatkan luka karena kecelakaan. Di antara para petugas ada satu penjaga yang melihat kondisi perkembangan tubuh mereka.
“Bagaimana kondisi mereka berdua, apa masih belum siuman?,”ucap Santo.
“Maaf pak mereka belum siuman,”ucap petugas yang merawat mereka berdua.
“Bagaimana mereka berdua bisa di rumah sakit ini dan dimana Meri sekarang?,”kata Jornat.
“Kami hanya mendapatkan laporan dari pihak pasien kalau ada petugas yang dilarikan di rumah sakit ini. Tapi hanya mereka berdua untuk Meri kami tidak tahu keberadaannya,”ucap petugas.
Setelah melihat para petugas yang belum siuman Jornat kembali karena mendapat panggilan dari kantor.”Aku harus pergi, jika ada kabar tentang Meri tolong hubungi sayang. Ini kartu nama saya,”ucap Jornat yang memberikan kartu nama dan langsung meninggalkan mereka berdua.
Di ruangan hanya ada Santo dan Izam yang masih menunggu dua petugas siuman. Di dalam ruangan Santo yang menetap Izam hanya bisa berkata,”Apa kamu ingin melepaskan tuduhan Meri soal adik kamu?.”
“Dia tidak bersalah tapi sekarang dia menghilang. Aku ingin tahu latar belakang dan identitas dia, apa kamu bisa mencari tahunya,”kata Izam melihat ke jendela ruangan.
“Aku bisa tapi tidak bisa terlalu dalam mencari informasinya,”kata Santo.
“Bagaimana dia bisa mendapatkan kecelakaan ini untuk apa mereka melakukannya,”kata Izam.
Menuggu waktu dimana mereka sampai di tahap bergantian berjaga sambil mencari informasi keberadaan Meri berada.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~~
Di tempat kediaman Sari ibu dan ayah angkat Meri yang sudah merencanakan pembunuhan terhadap Meri. Mendapatkan kabar dari orang yang mereka suruh untuk membuat kecelakaan saat Meri dibawa ke rehabilitas remaja anak. Bela yang datang bertanya kepada ayah dan ibunya soal Meri.
“Ayah ibu bagaimana jika Meri tidak bersalah dan aku yang akan masuk penjara. Kau tidak mau masuk penjara,”ucap Bela yang duduk dan menangis dihadapan kedua orang tuanya.
“Kamu tidak usah khawatir, ibu dan ayah sudah menyuruh orang untuk membuat kecelakaan dan membuat Meri masuk ke dalam jurang. Sekarang tidak ada orang yang akan menyalahkan kamu,”kata Ibunya.
“Apa itu benar, tapi bagaimana jika dia selamat dari kecelakaan dan para polisi mencari tahu apa yang terjadi dengan kecelakaan itu ada yang aneh,”kata Bela yang masih menangis.
__ADS_1
“Kamu tidak usah khawatir ayah mendapat kabar kalau mobil yang ditumpangi Meri sudah masuk jurang. Pasti dia sudah mati, tinggal kita berpura-pura tidak tahu akan kejadian yang menimpa Meri,”kata Ayah.
Setelah pembicaraan selesai Bela yang mendapatkan kabar kalau Meri sudah masuk jurang merasa lega.”Ibu akan mengantar kamu masuk ke dalam kabar ya nak, sekarang kamu tidak usah khawatir akan Meri. Dia tidak akan mengambil milik kamu sekarang,”ucap Ibu sambil menemani Bela masuk kedalam kamar.
Ibu Intan yang sudah mengantar putrinya ke kamar langsung menemui suaminya yang masih duduk di sofa. Sedangkan Bela yang di dalam kamar tersenyum bahagia karena Meri sudah tidak ada lagi.”Sekarang tidak ada yang menggangguku lagi, karena dia sudah mati. Aku bebas melakukan apa saja dan semua ini akan menjadi milikku. Anak adopsi tidak pantas dia untuk hidup, dia pantas menjadi penggantiku,”kata Bela dengan suara kecil dengan tatapan dingin dan licik.
Di rumah sakit petugas yang terluka sudah siuman dan diperiksa oleh dokter. Izam yang masih di tempat langsung bertanya kondisi tubuh kedua petugas tersebut kepada dokter. Dokter yang sudah menjelaskan kalau mereka sudah melewati masa kritis, tapi mereka harus tetap istirahat dan terus dipantau perkembangannya.
Santo yang mendapatkan kabar dari Izam langsung datang ke rumah sakit. Santo yang hendak masuk berpapasan dengan Jornat yang juga mendapatkan pesan dari Izam kalau kedua petugas telah siuman.
“Kamu baru datang,”ucap Jornat.”Iya, kita masuk sekarang,”kata Santo. Mereka berdua masuk ke rumah sakit bersama dan menuju ruang Izam dimana para petugas itu berada.
Sampai di depan ruangan mereka berdua masuk dan melihat Izam yang duduk disana.”Kalian datang bersama,”ucap Izam.
“Tidak, kami bertemu di diluar tadi,”kata Santo.
“Bagaimana mereka berdua, apa bisa kita untuk tanyakan?,”ucap Jornat.
“Kata dokter boleh tapi jangan terlalu berlebihan karena kondisi mereka belum pulih total,”kata Izam.
Jornat dan Santo berjalan ke arah petugas yang sudah membuka mata.
“Bagaimana kondisi kalian sekarang?,”ucap Santo.
“Maafkan kami pak, kami tidak bisa menjalankan tugas dengan baik,”kata petugas 1.
“Itu benar pak, kami lalai dalam menjalankan tugas sampai kami masuk ke dalam jurang,”kata petugas 2.
“Itu bukan salah kalian. Kalian selamat itu sudah bagus. Tapi bagaimana kalian bisa masuk ke dalam jurang dan mendapatkan kecelakaan seperti waktu itu,”kata Santo.
“Itu saat kami menuju tempat rehabilitas remaja anak bersama Meri. Di jalan berbelok kami dihadang oleh truk yang menuju arah kami. Saat kami ingin pindah arah agar tidak mendapatkan tabrakan. Tidak tahu kenapa disisi lain kami ada mobil hitam yang muncul dan memaksa kami untuk tidak pindah arah. Karena ada dorongan dari mobil hitam kami hampir mengenai pembatas jalan,”kata petugas 1.
__ADS_1
“Setelah mobil itu mendesak mobil kami sampai pembatas jalan. Mobil itu melaju dengan cepat meninggalkan kami, tapi saat kami melihat ke depan truk yang hendak turun menabrak kami dan membuat kendaraan kami masuk jurang bersamaan dengan truk,”kata Petugas 2.
“Lalu bagaimana kalian bisa keluar dari dalam mobil,”ucap Santo.
“Pada saat itu kami tidak tahu, karena mendapatkan benturan yang keras. Tapi Meri yang juga mendapatkan benturan juga bertahan. Kami hanya melihat samar-samar kalau Meri yang menyelamatkan kami,”ucap Petugas 2 sambil berpikir.
“Saya juga berpikir seperti itu, saat kunjungan Meri mencoba berpegang pada pintu dan mencoba untuk tetap tenang. Tapi anehnya saat saya terbangun dari siuman dia sudah melepaskan borgol dan berkata apa kami baik-baik saja.,”ucap Petugas 1.
“Dia juga menyelamatkan kamu dengan membawa kami keluar dari mobil yang hampir terbakar. Setelah itu, kami tidak tahu,”ucap Petugas 2.
“Jadi kalian tidak tahu siapa yang membawa kalian ke rumah sakit dan tidak tahu keberadaan Meri sekarang setelah kalian keluar dari mobil,”ucap Jornat.
“Itu benar kami tidak tahu dimana dia,”ucap petugas 1.
“Kalian boleh istirahat dan cepat sembuh agar kalian bisa kembali bertugas,”kata Santo. Izam yang mendengar tutur kata mereka merasa kalau Meri dibawa orang lain.”Kita bicara diluar bagaimana?,”ucap Jornat.
Izam, Jornat dan Santo keluar untuk membahas apa yang dikatakan oleh kedua petugas tersebut.
“Kurasa memang benar ada yang menyabotase kecelakaan ini agar Meri bisa Mati,”kata Santo.
“Tapi kenapa dia menginginkan Meri mati, apa yang mereka ingin tutupi,”ucap Izam.
“Bukan kalian sudah bisa menebak apa yang ingin pelaku tutupi dengan kejadian yang sebelumnya,”kata Jornat.
“Apa maksud kamu ini ada kaitannya dengan keluarga Bram,”kata Izam.
“Menurut kamus siapa lagi yang bisa melakukan ini,”kata Jornat. “Itu masuk akal, tapi dimana Meri sekarang?,”kata Izam.
Mereka bertiga yang masih mencari keberadaan Meri sampai satu bulan mereka tidak menemukan Meri dan kasus di tutup kalau Meri benar sudah tewas dari kecelakaan yang terjadi. Keluarga Sari yang tidak memiliki celah kalau mereka bukanlah pelakunya. Membuat Izam marah dan ingin menuduh mereka kalau yang membunuh adiknya adalah Bela. Tapi bukti yang mereka dapatkan sudah hilang setelah kejadian kebakaran di kantor pusat dan pengadilan tempat Jornat bekerja.
“Kenapa kejadian ini sangat tidak masuk akan setelah kantor pusat terbakar kemudian dua harinya pengadilan tempat Jornat kerja juga mengalami hal yang sama,”kata Izam.
__ADS_1
“Apa semua ini sudah di rencanakan untuk menghilangkan bukti,”kata Jornat.
“Itu bisa jadi,”kata Santo.