
Meri dan yang lain masuk ke dalam rumah Tea yang sudah disambut oleh adiknya an lain.
“Kakak kamu sudah kembali,”ucap adiknya yang kecil yang menghampiri Tea saat masuk ke dalam.
“Apa kalian baik-baik saja di rumah, dimana si kecil,”ucap Tea.
“Adek kecil sudah tidur kak,”ucap adiknya ketiga.
“Maaf ya rumahnya terlalu kecil,”ucap Tae kepada Meri. Meri hanya tersenyum kepada Tea dan langsung duduk di tempat yang ada.
“Apa kamu bisa ceritakan apa yang terjadi?,”kata Meri. Tea yang duduk didepannya sedangkan adik keduanya yang menyiapkan minuman kepada mereka bertiga.
“Dari mana yang mulainya,”ucap Tea yang bingung sambil menggaruk kepalanya.
“Dari mana saja asalkan semuanya diceritakan agar aku tahu apa yang terjadi,”kata Meri yang ingin tahu kehidupan temannya.
“Tapi ini tidak adil, kamu juga harus menceritakan kenapa kamu juga bisa mendapatkan tuduhan palsu dan mengalami kecelakaan,”kata Tea.
“Ok tapi tidak semuanya ya,”ucap Meri yang tersenyum kepada Tea. Tea yang mulai bercerita kapan dia mengalami kesulitan ini terjadi saat dia mengentahu kalau yang membunuh Jesika adalah Bela bukan Meri.
Bela yang tahu kalau ada gosip disekolahan kalau pelaku dari pembunuhan Jesika adalah dirinya. Dia mencari tahu siapa dalang dari semua informasi yang menyebar sampai Bela mengetahu kalau yang melakukannya adalah Tea. Bela yang tidak terima langsung membuat rencana untuk menghancurkan Tea sampai di tuduh Tea mengambil uang liburan semester yang sudah dikumpulkan oleh orang tua siswa yang lain.
Tea yang tidak melakukannya mencari tahu sampai ketemu dalang dari kekecauan yang terjadi adalah ulah Bela. Tea yang tidak terima melaporkannya kepada kelapa sekolah. Tapi saat hendak menuju ke ruang kepala sekolah dia mendapatkan laporan dari polisi kalau orang tuanya mengalami kecelakaan Tea langsung bergeges pulang. Sampai di rumah sakit dia mendapat kabar buruk orang tuanya telah meninggal dan pihak sekolah mengeluarkan Tea.
Tea hanya pasra waktu itu sampai datang penagih hutang. Tea yang tidak tahu kalau orang tuanya memiliki hutang dan rumah yang dia miliki disita untuk melunasi hutang orang tuanya. Sampai akhirnya kami tinggal disini, sudah beberapa bulan kami tinggal aku mendapatkan pesan dari temanku kalau kecelakaan dan tukang hutang datang diakibatkan oleh seseorang. Tea langsung mencari tahu sampai menemukan satu nama Bela. Pada saat itu Tea marah dan ingin memukul Bela tapi dia urungkan kalau dia masih harus menjaga adik-adiknya.
Tea yang sudah menceritakan kehidupan dirinya langung menatap Meri yang sedang melihatnya.”Sekarang giliran kamu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu,”kata Tea.
“Aku tidak tahu mau cerita apa. Intinya semua ini dilakukan untuk membunuhku itu saja,”kata Meri dengan singkat. Sampai adik kedua datang membawakan minuman yang ada.
__ADS_1
“Ini kak minumannya maaf hanya ada air putih saja,”ucap adik kedua.
“Tidak masalah,”kata Meri dengan senang hati. “Apa maksud kamu orang tua angkat kamu ingin membunuh kamu apa itu karena anak kandung mereka,”kata Tea.
“Mungkin iya, aku juga tidak tahu kenapa mereka melakukan ini kepadaku,”kata Meri.
“Lalu soal yang tadi di pasar kamu tidak sekolah karena pihak sekolah telah mengeluarkan kamu. Masalah apa itu?,”kata Tea.
“Soal itu karena identitasku sudah ketahuan dan dianggap aib bagi sekolah karena aku mantan pembunuh,”ucap Meri.
“Dan kamu tidak mengklarifikasinya,”ucap Tae yang ingin marah tapi tidak bisa.
“Untuk apa yang penting sudah mendapatkan beasiswa ke universitas,”ucap Meri.
“Soal adik kamu dan kamu mau lanjut sekolah tidak,”kata Meri.
“Maunya, tapi kondisi kami bagiamana bisa,”kata Tea yang dengan wajah sedih.
“Bagaiman kamu bisa membantu kamu saja juga kesulitan,”kata Tea yang kembali tersenyum.
“Mau atau tidak itu terserah kamu saja. Aku akan membantu kamu, jika kamu mau aku bantu,”kata Meri.
“Terima kasih, aku pikirkan dulu saja,”ucap Tea dengan senang hati.
Meri dan Tea yang asik mengobrol sampai lupa kalau Meri ada pertemuan dengan Bita soal apa yang terjadi dengan Meri. Ponsel Meri berbunyi dan pesan masuk darai Bita menayakan dimana dia bisa bertemu dengan dia. “Apa kamu ada urusan, jika ada kamu boleh pulang aku tidak ingin mengganggu aktivitas kamu,”ucap Tea.
“Ini dari teman kelasku yang bernama Bita yang ingin tahu kenapa pihak sekolah mengeluarkan aku,”ucap Meri yang berkata jujur kepada Tea.
“Aku senang kalau kamu memiliki teman baru yang mengerti dirimu,”kata Tea. Sampai adik ketiiinya datang bersama adik keempat yang masih bayi.
__ADS_1
“Dia adik kamu yang kecil,”ucap Meri yang melihat dan mendekat.
“Iya,”ucap Tae. Meri yang melihat dan memeriksa kondisi adiknya yang kecil, tiba-tiba wajah Meri terlihat serius.
“Apa aku boleh menggendongnya sebentar,”ucap Meri.
“Tentu saja,”ucap Tea. Adiknya memberikannya kepada Meri. Meri yang dengan wajah serius melihat nadi adik kecil Tea dan suhu tubuh adik Tea yang panas dan terdapat bintil merah.
“Erik, coba kamu kesini,”kata Meri. “Ada apa?,”ucap Erik. Tea yang tidak tahu melihat wajah Meri semakin gelisah.”Ada apa Meri dengan adikku,”kata Tea yang mendekat. Erik yang melihat dan memeriksanya berkata,”Adik kamu terkena cacar makanya panas dan dia kurang asih yang menyebabka kekebalan tubuhya menurun.”
“Bagaimana bisa?,”ucap Tae.
“Kamu tidak usah khawati bayi pada umumnya seperti ini karena lingkungan. Kamu tidak usah khawatir jika dia sudah diberikan obat dia akan baik saja,”kata Erik.
Meri yang melihat ke khawatiran Tea hanya bisa terdiam sampai Tea mulai membaik.”Kamu sudah mulai baikan, pikiran kamu,”ucap Meri seperti biasanya.
“Maaf ya kamu datang malah aku yang gelisah soal adikku. Tapi kamu juga memiliki banyak masalah,”kata Tea yang merasa bersalah. “Tidak, kamu tidak perluh khawatir dengan diriku. Aku baik-baik saja. Jika kamu mau aku bisa memberikan satu tempat tinggal di dekat kontrakanku, untuk biaya kamu bisa mencicil perlahan. Jika kamu mau,”kata Meri.
“Tapi,”ucap Tea yang ragu.
“Ini demi adik kamu,”kata Meri yang tersenyum. “Untuk biaya adik kamu sekolah dan kamu melanjutkan studi kamu aku juga bisa membantu. Aku ada sedikit tabungan cukup untuk kita semua. Jika kamu mau,”kata Meri yang menawarkan bantuan.
“Tapi kamukan butuh uang itu untuk kebutuhan sehari-hari kamu Meri,”kata Tea yang masih ragyu.
“Kamu tidak usah khawatir aku memiliki beasiswa. Jadi masalah uang beres untuk diriku,”kata Meri.
“Dari pada kalian membahas itu lagi, pikirkan soal adik kamu ini,”ucap Erik yang sudah memeriksa adiknya.
“Kita bawa dia ke rumah sakit terdekat,”ucap Meri. “Sekalian bawa adik kamu Tea mereka juga harus diperiksa kondisinya,”kata Meri.
__ADS_1
“Kamu tidak usaha khawatir soal biayanya,”ucap Meri lagi sambil berdiri. Erik yang sudah membawa adik kecil tea dan kedua adiknya yang juga menyusul. Mereka pergi ke rumah sakit terdekat untuk melakukan perawatan kepada adik kecil Tea yang sedang tidak baik.
Sampai di rumah sakit dokter memeriksa adik Tae dengan hati-hati sampai memberikan suntikan utuk kekebalan tubuh. Tapi tanpa disadari Meri bertemu dengan para preman yang di rumah sakit x waktu itu.”Kenapa mereka ada di sini, apa ketua mereka terluka lagi,”ucap Meri melihat ke arah mereka.