
Meir yang berhadapan dengan Andre satu lawan satu berubah menjadi satu lawan 5 orang ahli dalam medan pertarungan. Meri yang tidak tahu dia sudah masuk ke dalam perangkap musuh. Tapi Meri dengan santai hanya bisa menuggu waktu yang tepat untuk menyerang mereka semua. Jesi dan John yang ingin membantu Meri tapi mereka berdua dihadang oleh musuh yang lain.
Jesi dan John yang sedang melawan musuh yang menghalangi mereka dengan kondisi sudah terkuras karena bertarung dengan Jesi. Sejak awal perkelahian dimulai, John yang melihat ke arah Meri hanya bisa menonton mereka berkelahi. Karena ketidak bisanya John untuk membantu Meri dia mencoba menghubungi rekannya yang ada di luar. Tapi mereka menghalanginya dengan menyerang John.
John yang tahu kalau mereka ingin menyerang dia hanya bisa menghindar bersama dengan Jesi yang sudah dalam kondisi lebih baik. Meri yang masih melawan Andre sampai dimana dia mendapatkan celah dari musuh. Meri membalikan kondisi dia dengan menyerang Andre dan musuh lain yang datang. Sementara musuh yang bersembunyi hanya bisa memberikan hadiah kejutan untuk mereka. Meri yang saat itu membawa jarun jahit hanya bisa melemparkan ke arah musuh yang bersembunyi. Dengan tenaga yang dimiliki Meri seperti melemparkan batu ke arah musuh.
Saat Meri yang sedang berusaha menyerang mereka John dan Jesi sudah jatuh tidak berdaya oleh musuh. Meri yang sedang berpikir apa yang harus dia lakukan. Kondisi dia yang tidak menguntungkan membuat Meri dalam kondisi bimbang. Sampai dia melihat Leo dari jauh Meri membuat rencana.
Tapi saat Meri yang ingin membuat rencana Leo yang melihat Jesi dan John tanpa berpikir panjang langsung menghampirinya. Meri yang melihat Leo merasa terkejut kalau Leo bisa berantem dan menghadapi musuh yang banyak. Meri yang sudah tenang karena ada Leo yang membantu Jesi dan John hanya bisa berfokus kepada Andre.
“Sial,”ucap Andre yang langsung pergi karena ada yang datang. Rika dan Andre bersama anak buah yang lain langsung pergi setelah Leo datang. Meri yang tidak ingin ketahuan juga langsung pergi saat pandangan mereka teralihkan.
Meri yang kembali ke posisi berjalan seperi biasa dan berakting tidak sengaja melihat mereka bertiga yang ada di gedung sebelah. Meri yang terkejut langsung menghampiri mereka bertiga.”Kalian sedang apa di sini dan wajah kalian,”kata Meri yang berlari ke arah mereka bertiga.
“Meri,”ucap Leo.
“Aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi. Aku tadi lewat sini dan melihat mereka dikroyok oleh seorang. Jadi aku membantu mereka,”kata Leo menjelaskan kepada Meri.
Meri yang sudah tahu hanya membantu Jesi dan Leo membantu John menuju ke ruang kesehatan.Tapi saat mereka berjalan menuju ruang kesehatan Meri berpapasan dengan Izam. Merka hanya bertatap saja sampai Leo menyebut nama Meri.
Meri kembali tersadar setelah dipanggi oleh Leo. Meri yang melanjutkan perjalanan menuju ke ruang kesehatan. Sampai izam berkata,”Meri.”
__ADS_1
Meri menoleh ke arah Izam,”Ada apa?.”
Izam yang melihat kalau Meri sedang membantu temannya hanya bisa berjalan ke arahnya dan ikut membantu. Sampai mereka di ruang kesehatan Erika yang terkejut dengan kondisi mereka berdua. Hanya menatap ke arah Meri.”Apa yang sedang terjadi di sini, kenapa mereka bisa babak belur?,”kata Erika yang segera mengobati keduanya.
Karena luka yang didapatkan oleh Jesi dan John sangat parah sampai Izam yang ada didekatnya melihatnya. Kalau luka yang didapatkan bukan perkelahian biasa tapi perkelahian antara tentara.”Kamu tahu apa yang sedang terjadi, ceritakan kepadaku sekarang,”kata Izam yang ke arah Leo.
Leo yang menceritakan kepada Izam apa yang dia lihat sampai mereka membawa mereka berdua ke ruang kesehatan. Izam yang sudah tahu melihat ke arah Meri. “Apa benar dengan yang dikatakan oleh Leo kamu datang saat semua sudah selesai?,”kata Izam yang sedikit ragu.
“Iya,”kata Meri. Sampai dipanggil oleh Erika yang sudah selesai memeriksa keduanya.”Ada apa bu Erika,”kata Meri yang menghampirinya.
Erika hanya melihat bagian yang terluka dan ada bekas racun. Meri yang melihat sekilas hanya bisa melihat ke layar ponselnya dan memberikan pesan kepada Erika untuk mengambil obat cadangan di kontrakan. Erika yang ada di sampingnya mendapatkan pesan masuk dari Meri yang tidak ingin ketahuan oleh Izam dan leo.
“Kalian tolong awasi mereka sebentar ibu ingin mengambil obat dulu,”kata Erika kepada mereka semua.”Meri apa kamu bisa membalut luka mereka berdua,”kat Erika lagi.
Dua jam telah berlalu Meri yang bersama dengan mereka berdua menuggu Erika kembali. Hingga Izam berkata kepada Meri dengan ragu. Tapi Meri yang tahu langsung berkata,”Kamu tidak usah minta maaf. Itu sudah berlalu.”
“Apa yang kalian berdua bicarakan,”kata Leo yang ada di sampaing Meri.
“Kamu ingat tidak soal tuduhan palsu yang diberikan kepadaku,”ucap Meri.”Aku ingat tapi apa hubunganya dengan senior ini. Tunggu dulu apa dia adalah Izam,”kata Leo yang sadar.
“Iya,”ucap Meri dengan santai. Sampai Erika kembali,”Maaf membuat kalian menuggu lama. Bagaimana kondisi mereka?.”
__ADS_1
“Seperti yang ibu lihat kondisi mereka seperti tadi belum ada perubahan,”kata Meri. Erika yang sudah membawa obat racunnya langsung menyuntikan kepada Jesi dan John.
Setelah Erika menyuntikan obatnya hanya bisa menuggu kondisi mereka membaik. Sampai Meri berkata,”Biar nanti aku saja yang mengantar mereka kembali.”
“Apa kamu tahu rumahnya?,”kata Izam.”Aku tahu karena kita berdua suadara jauh,”kata Meri.
“Tapi kamu tidak tahu siapa yang melukai mereka berdua,”kata Izam yang memastikan. Tapi Respon yang diberikan oleh Meri adalah ketidaktahuannya. Sampai mereka berdua membuka mata dan melihat Meri tidak terluka.
“Kalian baik saja,”ucap Meri.
“Iya tapi siapa yang menolong kami,”kata John.”Yang menolong kalian adalah Leo yang kebetulan melihat kalian di keroyok oleh musuh,”kata Meri menjelaskan.
“Dimana Jesi?,”kata John yang mulai gelisah terhadap kembarannya.
“Dia ada di samping kamu,”kata Meri. John yang melihat ke arah Jesi yang masih berbaring merasa lega dan sampai dia melihat ke arah Erika.”Kalian berdua harus istirahat,”kata Erika.
John dan Jesi yang belum pulih hanya bisa beristirahat sampai kelas selesai. Meri yang sudah selesai membantu mereka untuk kembali ke vila.”Maaf membuat kamu harus mengantar kami,”kata John.
“Tenang saja, aku tidak keberatan,”kata Meri yang akan mengemudian mobilnya.
“Kamu bisa mengendari mobil Meri,”kata John yang sedikit khawatir.
__ADS_1
“Bisa, tenang saja,”kata Meri. Di perjalanan menuju vila Meri yang mengemudikan mobil milik mereka. Di kejar oleh mobil lain, Meri yang melihat mobil itu dari saat mereka keluar dari area kampus.”Siapa mereka?,”kata hati Meri.