Rahasia Meri

Rahasia Meri
RM 34


__ADS_3

“Siapa kamu?,”ucap Firgo yang mencoba untuk melepaskan diri dari ikatan.”Jangan berharap untuk kabur,”ucap Tora.


“Itu benar kamu akan membuang tenaga saja,”kata Ahmad. Mereka berdua yang saling menatap tajam ke arah Firgo.


“Apa aku boleh membunuhnya,”ucap mereka berdua.” Tidak, untuk sekarang,”ucap Meri.


Tora dan Ahmad yang mendengar jawaban darai Meri langsung memalingkan wajah dengan eskpresi wajah kesal.”Aku tahu kalian kesal, tapi aku masih ingin bertanya dengan dia,”kata Meri.


“Jika sudah selesai kami boleh membunuhnya,”kata mereka berdua.”Silakan,”kata Meri.


Firgo yang mendengar hanya tertawa,”Kalian ingin membunuhku, jangan harap.”


Meri yang menatap ke Firgo,”Ayo kita mulai intograsinya.” Meri yang sudah siap untuk mengintograsi Firgo. Tapi respon yang diberikan oleh Firgo tidak bisanya sampai Meri menyuruh Erik untuk memanggil Jeksen ke sini. Erika yang tahu kalau Jeksen disini berati intograsinya tidak bisa dalam ruangan ini. Karena nanti tempat ini akan dikunjungi.”Pindahkan tempat ke ruang bawah tanah, kita mulai mendekor ruangan apa kalian tidak ingin acaranya berlangsung,”kata Erika.


Kedua nenek langsung datang menghampiri Erika.”Kita harus tetap lanjutkan acaranya, untuk menyembunyikan kejadian ini,”ucap nenek keluarga Celsi.


“Itu benar, kita harus memulai mendekor ulang tempat ini agar mereka tidak tahu kenyataannya,”ucap nenek keluarga Sari. Meri yang melihat mereka bertiga antusias karena acara pertunangan Meri dengan Ilyas hanya bisa menonton.


Meri yang mengabaikan obrolan mereka bertiga sampai Firgo dibawah ke ruang bawah tanah. Saat Meri ingin ikut dengan mereka bertiga Ilyas menghentika Meri. Meri hanya menatap dengan tatapan bingung karena penasaran dia bertanya.”Kenapa, apa ada hal yang ingin kamu bicarakan?,”ucap Meri.


“Kamu mau kemana?,”kata Ilyas yang tajam dan masih memengang tangan Meri. “Aku ingin ikut dengan mereka bertiga. Kau harus mengintograsi Firgo dengan Jeksen nanti,”kata Meri.


“Tidak boleh. Biarkan aku saja yang mengintograsi Firgo,”kata Ilyas. Meri hanya terdiam sampai Erik membawa Jaksen di ruang bawah tanah.


“Tidak bisa, ini adalah masalahku. Kau harus bisa mengatasinya sendiri,”ucap Meir yang melepaskan pegangan Ilyas. Tapi Ilyas masih memengang  tangan Meri dengan erat.”Kita intoggrasi bersama bagaimana?,”kata Ilyas.


Meri hanya menganggukan kepalanya dan pegangan tangan Ilyas sudah dilepaskan. Meri manwarkan diri untuk mendorong kursi roda Ilyas sampai ke ruang bawah tanah. Di dalam ruang bawah tanah Jeksen yang sudah mulai melakukan penyiksaan kepada Firgo agar dia buka mulut.


Meri dan Ilyas yang sudah sampai melihat Ahmad dan Tora menuggu didepan pintu.”Kenapa kalian tidak masuk. Kamu saja yang masuk, apa kamu lupa Jeksen itu melakukan penyiksaan yang berbeda dengan kamu,”kata Tora.


“aku tahu kalau aku dan Jeksen melakukan penyiksaan yang metodenya berbeda tapi sama menekankan pada batin,”kata Meri.

__ADS_1


“Ilyas apa kamu mau tetap ikut masuk apa di luar,”ucap Meri.


“Aku akan ikut bersama kamu di dalam,”kata Ilyas. “OK,”ucap Meri yang mendorong kursi rodanya masuk ke dalam ruang intograsi.


Di dalam yang sudah ada Jeksen dengan penyiksaan yang dia bawa. Tapi Meri melihat ada yang aneh,”Jaksen kamu sedang apa?.”


“Bukan kamu minta melakukan intigrasi kepada Firgo. Ini sudah aku lakukan hanya saja metodenya aku ganti, mencoba yang baru,”kata Jeksen.


“Lalu kamu melakukan metode apa itu,”kata Meri.


“Buku,”ucap Jeksen.”Aku tahu ada buku, tapi intograsi apa itu. Bukanya Firgo yang akan senang dengan buku yang kamu bawa,”kata Meri.


“Mau lihat,”ucap Jeksen. Meri yang melihat wajah Firgo tidak seperti biasa menunjukan rasa takut. Meri yang melihat jadi penasaran dan mengambil satu buku yang ada didepannya dan membukanya. Meri yang membuka halaman pertama di kejutkan dengan organ dalam yangs udah dicabik cabik dengan gambar yang jelas. Ditambah ada tulisan bagaimana organ dalam tersebut tercabik-cabik.


Meri yang sudah melihat dan membacanya melihat ke arah Jeksen. Sampai Ilyas yang juga melihat menahan Meri dengan tatapan dingin.


“Bagaimana kamu bisa membuat ini,”ucap Ilyas dengan tatapan dingin.


“Sampai kapan kamu menyuruhku untuk membaca buku itu,”ucap Firgo yang marah.”Ternyata belum ada respon yang baik ya setelah kamu membaca buku ini,”kata Jeksen.


“Kurasa aku harus mengubah metodenya,”kata Jeksen. “Biarkan aku bertanya terlebih dahulu,”kata Meri.


Jeksen yang sedang berpikir cara bagaimana dia melakuakn metode yang lain agra Firgo membuka mulutnya sampai Meri selesai bertanya. Meri yang mulai bertanya tentang hal yang sensitif kepada Firgo.”Firgo pimpinan kamu Alexsa apa dia baik saja?,”kata Meri yang tersenyum dingin.


“Siapa kamu sampai mengetahui aku dan pimpinanku,”ucap Firgo. “Apa maksud kamu aku mengetahuiya, buka itu datang dari mulut kamu sendiri,”ucap Meri.


“Aku hanya menebak saja. Tapi yang aku bingung kenapa kalian datang sementara kelurga Rendra tidak mencari masalah dengan kalian,”kata Meri.


“Kami datang bukan untuk keluarga Rendra tapi keluarga Celsi,”ucpa Meri.


“Ada masalah apa dengan keluarga Celsi sampai kalian ingin membunuhnya. Bukan kalian dulu akur ya sampai putri dari pimpinan kalian terdahulu menikah dengan putra keluarga Celsi,”kata Meri.

__ADS_1


“Dari mana kamu tahu kalau kami akur dulu. Siapa kamu?,”ucap Jeksen dengan tajam.


“Ada beberapa yang aku tahu, tapi tidak semua. Karena suatu insiden,”kata Meri.


“Nama kamu Meri bukan,”ucap Firgo. Meri hanya tersenyum,”Jika iya apa ada masalah.” Firgo yang merasa kalau meri sama persis dengan nona Mawar putri pimpinan mereka dulu.


“Apa kamu ingat sesuatu kenapa kalian bermusuhan,”kata Meri.


“Bukan seharusnya kamu bertanya siapa yang menyuruh kami kenapa kamu bertanya apa asalan kami membunuh kedua tua bakang,”kata Jeksen.


“Untuk sekarang tidak, yang lebih penting aku ingin tahu kenapa kalian bermusuhan setelah kalian akur dulu. Apa penyebabnya?,”kata Meri.


“Aku akan beri tahu asalkan kamu juga memberitahuku dari mana kamu tahu identitasku,”kata Firgo.


“Kalau yang itu aku tidak bisa. Jeksen kamu mau lanjut tidak,”ucap Meri. Jeksen yang berjalan ke arah mereka berdua sambil tersenyum licik. “Aku akan keluar nikmati sisanya, nanti disela penyiksaan kamu tanyakan ini ya,”ucap Meri yang memberika secarik kertas soal apa yang harus ditanyakan.


“Aku mengerti,”ucap Jaksen.


Meri yang mendorong kursi roda Ilyas sampai di luar Ahmad dan Tora yang masih berjaga.”Bagaimana apa sudah selesai intograsinya?,”kata Ahmad.


“Belum, baru dimulai,”ucap Meri.


Erika yang masuk ke dalam ruang bawah tanah untuk bertemu dengan Meri yang manayakan pakaian yang akan dikenakan saat pesta nanti. “Kenapa kamu datang kesini Erika. Apa terjadi masalah di luar?,”ucap Meri yang melihat.


“Aku ingin bertanya pakaian yang kamu kenakan nanti saat acara apa sudah ada,”kata Erika.


“Sudah nanti pakaian akan diantar oleh Hendra ke sini,”ucap Meri.


Ilyas yang mendengar langsung bertanya kepada Meri,”Siapa Hendra?.” Meri hanya menatap ke arag ilyas yang tidak seperti biasanya dia banyak bertanya.


“Rahasia,”ucap Meri yang mendorong Ilyas keluar dari ruang bawah tanah. Sedangkan Tora yang menatap mereka hanya bisa tersenyum. Sampai Ahmad berkata,”Tidak biasanya kakakku bertanya seperti itu. Apa dia suka dengan Meri?.”

__ADS_1


__ADS_2