
Meri yang tidak memberitahukan kepada si kembar kalau mereka pergi ke negara L membuat Meri penasaran kenapa mereka bisa tahu. Karena Meri ingin tahupun bertanya kepada mereka berdua bagaimana mereka bisa tahu.
Jesi dan John yang melihat ekspresi wajah Meri hanya bisa berkata,”Saat kamu tidak ada di rumah kami datang. Bersama kakek kamu dari ibu kamu.”
“Apa kakek Alexca datang ke rumah untuk bertemu denganku,”ucap Meri.
“Iya. Tapi kamu tidak ada dan mereka bilang kalau kamu ada di negara L. Makanya kami bisa tahu kamu dari pergi,”ucap Jesi.
“Jadi begitu, tapi kenapa kakek Alexca mencariku,”ucap Meri yang tidak tahu atau pura bodoh. Jesi dan John yang melihat wajah Meri membuat mereka ingin memukulnya. Meri yang melihat mereka yang tidak sabar hanya bisa berkata,”Jangan marah.”
“Siapa juga yang marah,”ucap mereka berdua yang memalingkan wajahnya.
“Ayo pergi aku ada kelas pagi ini,”ucap Meri yang berjalan lebih dulu.
Jesi dan John yang masih santai karena jurusan mereka yang berbeda. Meri yang bergeges menuju kelas dimana mahasiswa yang lain sudah datang lebih dulu dari Meri. Meri yang mencari tempat duduk dimana dia bisa kosentrasi dengan baik.
Meri yang sudah mendapatkan tempat duduk sampai menit terakhir dimana dosen akan datang memberikan materi ada teman yang datang duduk disebelah Meri.
“Hai,”ucap teman pertama di kampus.
“Hai,”ucap Meri.
“Namaku Leo nama kamu siapa jika boleh tahu,”ucap Leo.
“Namaku Meri salam kenal Leo,”ucap Meri dengan ramah.
Dosen datang dan memanggi satu nama mereka untuk presensi selesai dengan nama Dosen memberikan materi yang berkaitan dengan jenis bahan kain. Selesai dengan kelas Meri menuju perpustakaan karena dia da kelas lagi nanti sore.
“Kamu mau kemana Meri,”ucap Leo yang berlari ke arah Meri.
“Aku ingin ke perpustakaan karena tidak ada kelas hanya ada pas sore hari. Ada apa Leo,”ucap Meri.
“Tidak aku hanya ingin bergabung dengan kamu tidak masalah bukan,”ucap Leo yang ragu.
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Ayo,”ucap Meri yang berjalan lagi. Leo yang ada disampingnya juga ikut berjalan menuju perpustakaan. Samapai di gedung perpustakaan mereka mencari tempat duduk dan mereka saling mengobrol satu sama lain sampai ada salah satu mahasiswa yang lain berkata yang tidak mengenakan.
“Hai Leo apa dia korban baru kamu,”ucap mahasiswa yang tidak suka dengan Leo.
Leo yang mendengar hanya terdiam sampai mahasiwa itu berkata kepada Meri kalau orang yang didepan itu adalah seorng pembunuh dan dia baru saja keluar dari penjara. Dan Mahasiswa it juga berkata untuk berhati-hati agar tidak menjadi korban.
Setelah mereka pergi Meri hanya melanjutakan membuat desain yang dia inginkan sampai Leo berkata,”Kamu tidak pergi.” Meri hanya terdiam saja tanpa berkata apa-apa.
“Apa yang mereka katakan semua itu benar aku seorang pembunuh dan aku juga baru keluar dari penjara kamu tidak malu dekat denganku,”ucap Leo.
“Kenapa mau aku juga hampir pernah masuk ke dalam pejara jika aku tidak mengalami kecelakaan dan masuk jurang,”ucap Meri yang masih mencoret-coret.
“Apa yang kamu maksudkan Meri?,”kata Leo yang tidak percaya dengan ucapan Meri.
“Dia berkata yang sebenarnya,”ucap Jesi yang datang.
“Hai kak,”ucap Jesi.
“Tidak ada kelas,”ucap Meri yang sudah menyelesaikan satu desain yang dia buat.
Leo yang tidak tahu mereka siapa dan kenapa mereka mengenal Meri hanya bisa menebak saja. Tapi Leo yang masih kepikiran tentang apa yang diucapkan oleh Meri soal dia pernah hampir masuk penjara tapi karena kecelakaan dan masuk jurang. Jika apa yang dikatakan oleh Meri benar kenapa dia bisa hidup bukan seharunya dia sudah tidak ada. Leo yang sedang berpikir John berkata,”Pasti kamu masih bingung kenapa dia masih hidup bukan.”
Leo langsung menoleh kearah suara tersebut.”Aku akan katakan pada kamu kenapa dia masih hidup. Karena orang jahat akan bernasih buruk tapi sebaliknya jika orang itu baik maka nasibnya akan baik sama halnya kecelakaan yang dialami oleh Meri,”ucap John.
“Tapi bukan dia berkata kalau hampir masuk pejara,”ucap Leo yang mencari tahu.
“Itu benar karena dia mendapatkan tuduhan palsu oleh adik yang bukan sedarah dengan dia,”ucap John.
“Maksud kamu dia anak adopsi begitu. Tapi dituduh oleh keluarga yang mengadobsinya kalau dia pembunuh,”ucap Leo yang langsung paham.
“Tepat sekali,”ucap Jesi didepannya.
“Tapi bagaimana bias,”ucap Leo yang tidak tahu.”Soal itu aku juga tidak tahu mungki karena dia tidak ingin berbagi harta orang tuanya mungkin,”kata John.
__ADS_1
“Sekarang kamu sudah tahu bukan,”ucap Meri yang menatap ke arah Leo.”Maaf,”ucap Leo.
“Untuk apa minta maaf,”kata Meri. Setelah pembicaraan yang tidak penting mereka kembali membaca buku sampai Jesi dan John pergi karena ada kelas siang. Meri dan Leo yang masih di perpustakaan menuggu jam sore tiba.
“Kamu lapar,”ucap Meri.
‘Lapar tapi aku tidak punya uang hari ini untuk membeli makanan,”ucap Leo yang merasa malu.
“Kebetulan aku bawa bekal lebih mau makan bersama denganku,”ucap Meri yang menawarkan bekalnya.
“Apa tidak masalah,”kata Leo yang sedikir ragu. Meri hanya menggelengkan kepalanya dan memberikan bekal tersebut kepada Leo. Mereka makan bersama di perpustakaa asalkan tidak berserakan.
Selesai dengan bekal Meri dan Leo membersihkan sisa bekas makanan yang ada agar tidak mengganggu yang lain. Selesai dengan bersih meja mereka melanjutkan membaca buku. Meri yang tadi membawa buku lebih dia baca sampai sore tiba
“Ayo kita pergi ke kelas,”ucap Leo.
“Tentu saja, ayo,”kata Meri. Mereka berdua langsung berjalan ke keles dimana mereka juga duduk berdampingan. Sampai dosen datang mereka mengobrol satu sama lain hingga dosen datang dan memberikan materi. Meri yang masih membersihkan bukunya Leo berpamitan dengan Meri karena ada part time yang harus dia kerjakan malam ini. Meri yang tahu hanya mengangkat tangannya dan melanjutkan membereskan barang bawaannya.
Meri yang melihat Leo langsung mencari tahu identitasnya apa dia anak baik atau tidak. Sampai Meri yang sudah selesai dengan barangnya mendapatkan pesan dari markas soal identitas Leo. Meri yang membaca tersenyum kalau dia ternyata dijebak oleh orang lain. Tapi setelah dia membaca sampai bawah dan belakang Leo memiliki bakat. Tapi dia memiliki utang yang harus dia bayar oleh retenir karana orang tua Leo.
“Jadi dia tinggal sendiri setelah orang tuanya tidak ada dan memiliki utang yang harus dibaway oleh dia,”ucap Meri.
“Hai Meri apa yang kamu begongkan,”ucap Jesi sambil menepuk punggung Meri.
“Hai Jesi John. Apa kelas kalian sudah selesai?,”ucap Meri yang menoleh ke arah mereka.
“Sudah tapi Meri kamu ingin kembali sekarang,”ucap John.
“Iya karena kemarin aku tidur di kontrakan dan belum bicara kepada nenek dan kakek habis pulang karena bertemu dengan teman,”ucap Meri.
“Biar kami antarkan kamu,”kata John.
“Tidak usah karena sudah ada yang jemput,”ucap Meri.”Siapa?,”kata Jesi yang tidak tahu termasuk dengan John juga tidak tahu karena Meri dengan Ilyas sudah tidak ada lalu siapa yang jemput Meri ke kampus.
__ADS_1