
Setelah Meri masuk ke dalam kamar Ayah dan ibu bersama dengan Bela saling mengobrol. Meri yang ingin tahu apa obrolan mereka menyadap ponsel mereka untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan. Dengan santai Meri mendengarkan dengan santai. “Ayah kenapa kamu hanya terdiam saja, tidak memarahi Meri yang pergi,”kata Bela.
“Untuk apa kamu marah ibu tadi menyuruh dia tidak boleh masuk kedalam rumah saat Aji datang. Jika Aji tahu kalau Meri masih hidup mungkin saja pertunangan kamu akan dibatalkan. Kamu tahukan kalau tunangan Aji itu adalah Meri,”kata Ibu.
“Apa,”ucap Meri yang bingung mendengarnya. Meri yang tidak tahu kenapa Meri memiliki banyak tunangan yang mana yang sebenarnya terjadi. Sampai Meri mendengar obrolan mereka kembali.
“Kamu tahukan kenapa ibu menyuruh dia tidak masuk ke dalam rumah. Jadi biarkan saja dia keluar rumah. Apa lagi dia baru saja bertemu dengan ilyas. Bukan ini akan mudah pertunangannya berlangsung,”kata Ibu.
“Aku tahu, tapi kenapa nenek dan kakek selalu pilih kasih. Yang baik untuk anak angkat yang tidak tahu diri itu. dan yang buruk untuku. Aku tidak suka dengan mereka,”ucap Bela.
“Kamu jangan terlalu berpikir panjang intinya kamu bisa masuk ke dalam keluarga Pram karena anak yang kamu kandung bukan. Semua yang kamu inginkan akan menjadi milik kamu, kamu tidak usah khawatir apa yang kamu miliki akan diambil oleh Meri,”kata Ibu.
“Apa yang dikatakan ibumu itu benae. Yang penting anak dikandungan kamu itu baik saja, kamu juga harus jaga kesehatan kamu, jangan sampai tadi pagi. Jika terjadi masalah kamu tidak akan bisa menikah dengan Aji,”kata Ayah.
“Aku tahu ayah, jadi jangan khawatir. Apa lagi dia datang menemuiku karena dia tidak ingin aku terluka,”kata Bela yang tersenyum.
“Tapi sayang kapan pernikahan Bela akan dilaksanakan,”kata Ibu.
“Aku sudah bicara dengan pihak keluarga Pram kalau pernikahan Bela akan terjadi setelah pertunangan Meri dengan keluarga Rendra,”kata Ayah.
“itu bagas jadi Meri tidak akan bisa merebut dengan kamu lagi,”kata Ibu yang memeluk putriya Bela.
Meri mendengarnya dengan seksama lalu dia tersenyum sampai dia memutuskan virus yang dia gunakan untuk mendengar pembicaraan mereka bertiga. Dalam hati Meri hanya termenung sambil memikirkan apa yang mereka katakan.
“Apa dari awal aku itu bertunangan dengan Aji dan Bela bertunangan dengan Ilyas. Karena Bela tahu Ilyas cacat dia membatalkan pertunangannya dengan mecoba membunuh dia dengan bantuan organisasi kalajengking. Tapi bagaimana dia bisa hamil anak Aji?,”ucap hati Meri yang mencari tahu jawabannya.
“Kapan dia hamil,”ucap Meri yang membuka leptopnya dan mencari tahu kebenaran kehamilan Bela. Meri yang mencari tahu sampai dia menemukan kalau anak yang dikandung oleh Bela adalah anak dari bos mafia organisasi kalajengking. Meri hanya tersenyum dan berkata,”Tidak aku sangka dia licik juga. Bela kamu tidak tahu diri ternyata.”
__ADS_1
Setelah Meri mencari tahu dengan seksama kalau pertunangan dia dengan Aji sudah direncanakan oleh Bela. Meri yang tahu hanya terdiam,”Bela aku tidak tahu kamu ini memiliki sifat siapa ya?.”
Meri menutup leptopnya dan menuju kamar mandi sampai dia dipanggi saat hendak melepaskan pakaian.”siapa ya?,”ucap Meri dalam kamar mandi.
“Nona anda dipanggi tuan besar dan nyonya di ruang kerja,”kata Pelayan.
“Bilang ke ayah dan ibu aku akan datang setelah selesai mandi,”ucap Meri yang masih melanjutkan di dalam kamar mandi. Karena air sudah mengalir untuk membasahai tubuh Meri yang sudah berkeringat. Dengan air yang mengalir Meri melepaskan beban pikiran dia dan apa yang dia dengar.
Selesai mandi Meri memakai pakaian biasa dan menuju ke ruang kerja ayah angkatnya. Meri mengetuk pintunya dan dari dalam terdengar suara ayahnya yang mengijinkan dia masuk ke dalam ruangan. Meri perlahan membuka pintunya dan terlihat ayah dan ibunya yang duduk menuggu Meri. Meri berjalan dihadapan mereka berdua sampai ayah mempersilakan dia duduk didapannya. Meri hanya terdiam sampai kesunyian datang menghampiri ruangan.
“Meri menurut kamu bagaimana tuan Ilyas?,”ucap Ibu yang memecahkan suasana kesunyian. Meri terdiam mendengar ucapan ibunya sambil berpikir apa yang akan dijawab oleh Meri.
“Maksud ibu bagaimana?,”kata Meri yang polos.
“Apa kamu suka dengan tuan Ilyas yang akan menjadi tunangan kamu nanti. Bukan tadi kamu bertemu dengan dia,”kata ibu.
“Tidak, ibu kamu hanya khawatir kalau kamu akan membatalkan pertunangannya. Karena kamu menyukai orang lain,”ucap Ayah.
“Tidak kok. Aku juga tidak memiliki pacara, aku tidak keberatan dengan pertunangan ini. Apa lagi ini sudah di setujui oleh nenek dan kakek,”kata Meri yang tersenyum.
“Baguslah jika kamu mengerti. Tapi nanti jika kamu sudah bertunangan dengan keluarga Rendra, kamu harus ingat dengan kami ya,”kata Ibu yang tersenyum yang dipaksakan.
“Tenang saja aku akan mengingat kalian jika kalian tidak melukaiku lagi,”kata Meri.
Ayah dan Ibu terdiam saat Meri mengatakan kalau tidak menglukai Meri lagi. Maksud dari perkataan Meri adalah jangan membunuh Meri jika kalian ingin bahagia. “Ayah dan ibu hanya itu saja yang ingin dibicarakan. Jika tidak ada, aku akan keluar,”kata Meri.
“Iya kamu boleh istirahat,”ucap Ibu. Meri berjalan keluar ruangan di depan ruangan dia melihaT Bela yang baru saja selesai makan.
__ADS_1
“Kenapa kamu diam saja di depan ruang kerja ayah. Apa yang kamu ingin lakukan?,”kata Bela yang melihat.
“Aku baru saja bicara dengan ayah dan ibu dan baru saja keluar,”ucap Meri yang kemudian menuju dapur. Meri yang meninggalkan Bela di sela berjalan Meri memakai hansat untuk mendegarkan percakapan ayah dan ibu di dalam ruang kerja. Pengawal yang tidak tahu mengira kalau aku sedang mendengar musik. Meri yang sudah sampai di dapur melihat apa yang dia bisa makan.
“Nona,”ucap pelayan.Meri menoleh dan melepaskan setengah handsatnya.”Aku mencari cemilan tapi tidak ada. Apa ada bahany yang bisa aku gunakan untuk membuat kue?,”ucap Meri kepada pelayan.
“Ada Nona,”kata Pelayan yang mencari bahannya. Meri yang mengambil celemek untuk memulai membuat kue. “Apa perlu saya bantu nona untuk membuatnya,”kata pelayan.
“Tidak kamu kerjakan saja yang lain. Aku ingin membuatnya sendiri,”kata Meri yang tersenyum sambil memasang handsatnya lagi. Meri mulai membuat adonan roti sambil mendengar percakapan ayah dan ibunya di dalam ruang kerja.
Sambil membuat adonan kue Meri dengan hati-hati mendengar percakapan mereka berdua. “Apa Meir tahu kalau kita yang menuruh orang untuk membunuh dia saat kecelakaan,”ucap Ibu yang gelisah.
‘Itu tidak mungkin dia tahu kalau kita yang melakukannya,”kata Ayah.
“Tapi apa yang dia katakan membuah aku tidak nyaman sayang. Jika dia tahu bagaimana?,”kata Ibu.”Bukan aneh jika dia tahu. Dia akan memberitahu nenek dan kakek, tapi sampai sekarang mereka berdua tidak tahu soal kecelakaan yang terjadi pada Meri,”kata ayah.
“Itu benar, tapi kita harus tetap waspada jika dia tahu semuanya. Kita semua dalam masalah apa lagi Bela akan masuk penjara karena telah membunuh putri dari keluarga Karta Adi,”ucap Ibu.
“Itu sudah lama dan hasil laporannya juga sudah dibekukan. Mereka tidak akan bisa mengungkin masalah yang sudah berlalu. Kamu jangan terlalu memikirkanya,”kata Ayah.
“Yang lebih penting sekarang bagaimana kita bisa mendapatkan harga yang dimiliki oleh keluarga Rendra. Agar pernikahan Bela berjalan lancar,”kata Ayah.
“Bukannya itu mudah jika Meri masuk kedalam keluarga Rendra semua harta yang diberikan kepada dia sebagai mahar bisa menjadi miliki kita, sayang,”ucap Ibu.
“Itu benar,”kata Ayah. Meri yang sudah selesai mendengarnya bersamaan dengan kue yangd ia buat telah selesai.”Harumnya,”ucap Meri dengan santai dan mengubah handsatnya menjadi alunan musik untuk menghilangkan kecurigaan pengawal.
Meri yang tersenyum mencicipi kue yang dia buat,”Enaknya. Apa kamu kamu?.” Meri yang menawarkan kue kepada pengawalnya yang mengawasinya sampai dia selesai membuat kue.
__ADS_1
“Tidak terima kasih. Tapi nona apa yang membuat anda tersenyum dan apa yang anda dengar,”kata pengawal. Meri hanya tersenyum dan memberikannya kepada pengawal agar dia juga bisa mendengar apa yang Meri dengar.