
Meri dan Ilyas yang ingin kembali ke kediaman Rendra terhenti di tengah jalan karena ada kecelakaan di depan jalan yang dilewati mobil mereka menuju kediaman. Karena kejadian itu mereka berencana memutuar jalan, tapi saat dia ingin memutar jalan terdengar suara tembakan yang membuat Ilyas tambah khawatir. Mempercepat mobil dan Ilham yang bersama dengan mereka menghubungi kaknya Ahmad untuk mengantar mereka sampai di kediaman.
Mereka bertemu tidak jauh dari kecelakaan dimana Ahmad dan anak buahnya sudah menuggu. Ilham yang keluar dan menghampiri Ahmad.”Apa yang sebenarnya terjadi?,”kata Ahmad di depan Ilham yang baru saja didepannya.
“Terjadi kecelakaan dan terdengar suara tembakan. Jadi kami memutuskan untuk memutar jalan,”kata Ilham yang menjelaskan dengan singkat.
Ahmad yang tahu langsung menyuruh Ilham naik mobil dan mereka membagi menjadi dua bagian depan dan belakang untuk mengawal mereka sampai di kediaman. Tapi tanpa diduga saat berseberangan dengan jalan yang mengalami kecelakaan Meri melihat seorang yang dia kenal.
“Berhenti,”ucap Meri yang membuka dan melihat ke arah sebelah lain.
Ilyas yang masih di dalam menatap Meri,”Apa yang membuat kamu terdiam Meri, cepat masuk?.”
Meri yang tidak mendengarkan ucapan Ilyas masih menatap ke arah seberang jalan lain.”Diakan adik Tea dan Bita bukan. Kenapa mereka bisa ada disana?,”ucap Meri yang mulai gelisah.
Meri tahu kalau dia masuk ke dalam dia dalam bahaya tapi dia juga tidak ingin kehilangan saudara jauhnya mati dalam kecelakaan.”Aku harus pergi dari sana,”ucap Meri dalam hati. Tapi sebelum dia pergi dia harus membuat rencana agar tidak ada kesalahan.
Dikesempatan ini Meri yang berpikir membuat usul yang sangat bermanfaat untuk kedudukan Ilyas yang dalam masa perkembangan bisnis. Meri yang menoleh ke arah Ilyas dan menatap sambil tersenyum sampai Ahmad dan Ilham yang keluar karena Meri. Mereka berdua menghampirinya sampai Meri menatap ke arah mereka yang sedang menuju ke arahnya.
“Sudah mulai ya. Kita gunakan cara itu saja,”ucap Meri dengan tatapan santai dan licik.
Ilham dan Ahmad yang talah merasakan suasana yang tidak biasa dari Meri membuat mereka merinding dan tajum. Nenek dan kakek yang melihat Meri juga ikut keluar sementara Ilyas duduk di mobil sambil melihat ke arah Meri. Ilyas yang merasakan kalau Meri ingin masuk ke dalam kerumunan jalan yang terjadi kecelakaan.
“Meri apa yang membuat kamu terdiam, jangan membuat masalah cepat masuk,”kata Ilyas.
“Tenang saja aku memiliki rencana yang bagus jika kalian mau kerja sama. Ini juga untuk kamu,”kat Meri. Ilyas yang masih bingung dengan ucapaan Meri menyimpulkan kalau Meri ingin membantu korban kecelakaan tersebut.
“Kamu ingin aku membantu mereka,”kata Ilyas yang menghela nafas.
__ADS_1
“Kamu tahu apa yang aku inginkan. Karena dari mereka ada adik temanku dan temanku yang juga terjebak dalam kecelakaan. Aku ingin membantu mereka sekalian membantu yang lain.Tapi ini juga butuh bantuan kalian. Apa tidak masalah?,”ucap Meri dengan percaya diri.
“Apa rencana kamu,”ucap Ilham yang ada disampingnya.
“Mudah saja. Tapi sebelum itu aku akan bertanya apa kamu memiliki rumah sakit atas nama kamu atau pernah kamu sumbangkan. Karena dari kondisi ini sepertinya bala bantuan akan datang terlambat dan ampulan. Apa lagi jalan yang dilewati tidak ada cctv untuk mengetahuinya pihak keamanan membutuhkan waktu. Di tambah lagi rumah sakit dan pemadan kebakaran jaraknya juga jauh. Butuh waktu kira-kira dua sampai tiga jam perjalanan jika itu tidak ada kendala,”kata Meri menjelaskan.
“Nenek memiliki koneksi rumah sakit yang berhubungan dengan keluarga Celsi,”kata Nenek.
“Kalau koneksi rumah sakit ada. Tapi butuh berapa?,”ucap Ilham yang mewakilkan kakaknya.
“Jika bisa kita membutuhkan sekitar 50 ampulan dan dokter kira-kira 25 dalam semua bidang. Apa bisa kalian menyiapkannya pada waktu yang singkat. Dan satu lagi butuh 100 atau 50 orang untuk membantu mereka yang terluka keluar dari zona bahaya,”ucap Meri.
Nenek keluarga Celsi yang dibantu kakek menghubungi rumah sakit yang mereka bantu dan di danai oleh keluarga Celsi untuk datang ke lokasi. Ilham yang sudah mendengar penjelaskannya menghubungi rumah sakit bersama dengan sekertaris Jim. “Untuk apa kamu melakukannya,”kata Ilyas.
“Ini untuk posisi kamu agar tetap stabil apa lagi kamu dalam masa kritis bukan,”ucap Meri yang tahu kalau kondisi perusahaan Ilyas tidak stabil.
“Ahmad berapa anak buah kamu yang ada disini?,”ucap Meri.
“Aku butuh 5 orang untuk membantuku, aku akan kesana membantu mereka untuk mengurangi korban. Dan satu orang untuk merekam ke jadian ini dari jauh dan dipulikasikan untuk pencitraan,”ucap Meri yang dengan licik.
“Kamu,”ucap Ahmad.
“Apa bisnis tetap bisnis, bantu di saat ada kesempatan. Itu juga aku butuh orang daai kalian membantu,”kata Meri.
“Dan satu lagi aku akan menyembunyikan wajahku, tapi nanti di bagian akhir Ilyas yang akan menjemputku jika kondisi sudah berkurang saat ambulan dan bala bantuan datang,”kata Meri.
“Baiklah. Tapi kamu harus kondisi kamu jika berbahaya kamu harus menghindari,”kata Ilyas. Meri hanya tersenyum dan menutup wajahnya dengan selembar kain. Setelah semua tersusun mereka mulai melakukan operasi penyelamatan.
__ADS_1
Meri yang melompat dari jalan satu ke salam yang diseberang. Ilyas yang tidak tahu sampai Meri melompat dan hendak ingin berlari kearah meri tapi dengan kondisi Ilyas yang tidak bisa mengerakkan kakinya jatuh ke tanah aspal.
Ilham dan sekertaris Jim langsung membantu tuan dan kakaknya.”Kakak apa yang kamu lakukan,”ucap Ilham yang terkejut.
“Meri,”ucap Ilyas yang masih memikirkan Meri.
“Dia baik saja,”ucap kakek keluarga Celsi yang melihat Meri seperti sudah berpengalaman dengan situasi didepannya.
“Lihat dia,”ucap Kakek sambil menunjuk. Ilyas yang melihat Meri diseberang jalan dengan kondisi baik saja mulai tenang.
“Apa kamu sudah menghubungi rumah sakit,”ucap Ilyas untuk memastikan agar rencana berjalan lancar.
“Sudah,”kata Ilham.
“Mereka akan datang dalam waktu satu jam tapi saya meminta mereka datang 30 menit agar korban bisa dilarikan ke rumah sakit,”kata Nenek keluarga Celsi.
“Untuk wartawan dan media sudah kami kerahkan,”ucap kakek keluarga Sari.
“Terima kasih untuk bantuannya,”Meri yang mendapatkan bantuan yang tidak terduga.
Diseberang jalan Meri yang membuat kelompok membantu mereka untuk mengeluarkan para korban dari mobil dan membuat jalan. Meri yang menuju ke arah Bita yang bersama dengan adik Tea.
“Meri,”ucap Bita dengan suara kecil yang sudah terluka parah. Meri dengan tenang berkata,”Kamu tidak usah khawatir, kalian akan selamat.”
Meri yang melihat mulai menyelamatkan Bita dan adik Tea keluar dari mobil. Meri yang dibantu satu anak buah Ahmad yang bersamanya, setelah Bita dan adik Tea keluar dari mobil Meri mulai melihat kondisinya dan melakukan penangan pertama. Setelah kondisi keduanya lewat pada masa kritis Meri menyuruh anak buah Ahmad untuk mengeluarkan mereka berdua dari zona kecelakaan.
Setelah selesai dengan teman Meri dia mulai melihat kondisi korban yang masih dalam mobil yang tercepit. Meri yang mengeluarkannya sampai mendapatkan pertolongan pertama.sampai 30 menit telah berlalu bala bantuan dari rumah sakit b, c, d, f sudah datang dan memulai penangan pertama yang belum mendapatakan pengobatan. Meri yang masih dalam zona kecelakan sampai dia melihat ke arah pusat kecelakaan.
__ADS_1
“Bukan itu tangki minyak ya,”ucap Meri yang disebelahnya ada anak buah Ilyas.
“Itu benar nona,”ucap anak buah Ilyas.