Rahasia Meri

Rahasia Meri
RM 53


__ADS_3

Meri yang menyiapkan makanan untuk mengubah suasana agar Ilyas tidak marah dengan kedatangan mereka. Semua makanan yang sudah disiapkan oleh Meri ia taruh di meja makan untuk makan bersam. Meri yang tahu kalau Ilyas masih kesal dengan banyaknya orang yang datang ke rumah Meri. Dia yang tidak ingin dikhianati oleh orang yang berharga selalu mewaspadai setiap orang yang ada disekeliling Meri. Termasuk kedua adiknya sendiri, Meri yang melihat itu hanya bisa menyiapkan makanan untuk diberikan kepada Ilyas.


“Makanlah bukan kamu hari ini masuk kerja,”ucap Meri sambil tersenyum.


Ilyas yang awalnya marah kembali tenang dan memakan masakan Meri bersama dengan yang lain. Meri yang sudah selesai dengan sarapan pagi. Dia membuat bekal untuk ilyas yang hendak ingin pergi setelah dia makan pagi.


“Tunggu dulu,”ucap Meri yang masih menyiapkan. Ilyas yang menoleh bertanya kepada Meri,”Ada apa?.”


Meri yang sudah selesai membungkusnya ia berikan kepada Ilyas.”Makan ini jika kamu masih lapar. Ini bekal untuk kamu,”kata Meri.


Ilyas yang menerima bekal dari Meri merasa senang tanpa mengucapkan kata apa-apa dia langsung pergi meninggalkan kontrakan Meri. Tapi dia sempatkan menatap Ilham dan Ahmad sampai di balik pintu dia berkata,”Sampai kapan kalian akan terus di sini.”


Ilham dan Ahmad yang tidak bisa berkata apa-apa langsung berdiri dan berjalan keluar bersama dengan kak Ilyas yang menuggu dengan tajam. Hati mereka yang tahu kalau kakaknya akan marah saat pertama kita ada sini hanya bisa pasrah. Setelah mereka bertiga pergi di kontrakan Meri hanya rekannya saja.”Tidak aku sangka dia akan datang ke sini,”ucap Tora.


“Kamu sendiri masih santai dengan kedatangan dia sempatnya kamu bicara begitu tadi.,”ucap Erika.


“Apa salahnya dengan aku bertanya seperti itu. Aku juga tidak tahu kalau dia akan datang bukan,”ucap Tora. Tora yang berdiri langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Erika yang membantu Meri mencuci piring dan perlengkapan masak yang lain. sementara Erik yang melihat data yang baru saja masuk membuat dia harus terjaga lagi dan berdiri menuju pintu.


“Kamu mau kemana?,”ucap Erika.”Ada tugas, aku balik dulu,”kata Erik yang langsung pergi. Erik yang sudha pergi hanya tinggal Erika dan Tora yang masih tinggal saat mereka membersihkan perlengkapan masaka Erika menatap ke arah Meri yang sedang memikirkan sesuatu.


“Apa yang membuat kamu kepikiran Meri?,”ucap Erika. Sampai di dalam kamar mandi Tora berkata dengan suara keras,”Mungkin dia masih kepikiran dengan kaki Ilyas.”


“Apa itu benar Meri?,”ucap Erika yang memastikan.”Anatara iya dan tidak, aku hanya bingung saja kenapa mereka bisa mendapatkan racun itu saja,”kata Meri.


“Maksud kamu apa Meri,”ucap Tora yang keluar dengan setengah telanjang. “Aku hanya berpikir saja racun pelumpuh syaraf bukan itu tanaman yang sulit didapatkan bukan. Biasanya para dokter mengganti pelumpuh dengan obat bius dengan takaran yang pas. Tapi saat aku memeriksa Ilham nadinya tidak teratur di tambah lagi obat pelumpuh itu tanaman yang sulit ditemukan,”ucap Meri sambil memikirkan.

__ADS_1


“Tunggu maksud kamu itu tanaman daun hitam,”kata Erika.”Iya,”ucap Meri.


“Bukan itu ada di pulau langkah,”kata Tora.


“Pulau langka yang di rebutkan kedua keluarga tersembunyi,”ucap Meri menoleh ke arah belakang.


“Tepat,”ucap Tora yang memakai bajunya. “Tapi siapa diantara kedua itu yang mengolah tanaman itu,”ucap Tora lagi.


“Tunggu bukan kamu bilang organisasi kelajengking juga mengoleskan racun pada peluru. Mungkin saja itu adalah ulah mereka,”kata Erika.


“Tidak, racun yang dioleskan oleh organisasi kalajengking tidak terlalu berbahaya,”ucap Meri sambil mengipaskan tangannya ke kanan dan ke kiri.


“Jika bukan mereka siapa?,”kata Tora.


“Orang yang dibalik organisasi kalajengking,”kata Meri yang menebak.”Apa itu salah satu dari kedua keluarga tersembunyi atau kelaurga Brata,”kata Erika.


Tora yang berdiri dan berjalan ke araH Pintu,”Aku pergi.” Erika dan Meri hanya terdiam setelah Tora pergi dari kontrakan.”Kamu tidak jengung teman kamu Meri,”ucap Erika.


“Tidak hari ini aku ingin ke perpustakaan kampus. Ada buku yang belum aku selesaikan,”ucap Meri.


“Biar aku nanti mengantar kamu,”ucap Erika.”Terima kasih,”kata Meri yang sudah mekan buah yang dia kupas. Satu jam telah berlalu Meri yang sudah membawa laptop dna buku catatan untuk dia bawa ke kampus menyiapkan bekal untuk ia bawa ke kampus.


Erika yang menuggu Meri selesai menuggu di dalam mobil yang dia parkirkan di dekat kontrakan Meri. Meri selesai dengan persiapan menuju mobil Erika. Meri membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.”Maaf menuggu lama,”ucap Meri yang memasang sabuk pengaman.


“Bagaimana perkembangan perusahaan yang kamu bangung Meri?,”kata Erika yang tahu kerjaan Meri yang dilakukan secara diam-diam.

__ADS_1


“Berjalan lancar kemarin aku baru saja mengirim sampel dan bahan yang harus mereka produksi. Tinggal menuggu waktu perusahaan berkembang,”kata Meri.


Erika yang mengantar Meri ke kampus untuk melanjutkan membaca buku. Sampai di gerbang kampus Meri turun dan mengucapkan terima kasih kepada Eriak. Meri yang berjalan menuju gerbang utama kampus ke gedung perpustakaan.


Meri yang menikmati suasana kampus menjadi hilang saat dia bertemu dengan Bela.”Kenapa dia ada di sini, membuat aku harus mencari jalan lain. Sebelum dia melihatku,”kata Meri. Meri yang belum terlihat oleh Bela mencari jalan lain sampai die melewati taman di belakang gedung. Meri yang santai menyusuri bagian belakang sampai dia melihat seorang yang tidak asing baginya.


“Kayaknya aku kenal dengan kedua orang itu, tapi siapa ya?,”ucap Meri.


Meri yang tidak ingin ikut campur hanya bisa melewati mereka berdua sampai mereka mendekati Meri.”Hai kakak,”ucap Jesi. Setelah dia mendengar kata Jesi baru dia ingat siapa mereka berdua.”Si kembar, kenapa kalian bisa ada di sini. Bukan kalian ada di luar negeri,”kata Meri.


“Jadi kamu mengingat kami Meri. Lama tidak bertemu dengan kamu,”ucap John dari samping.


“Seharusnya kami yang bertanya apa itu Meri apa hantu yang gentayangan, bukan kamu mengalami kecelakaan,”ucap Jesi.


“Kalian bicara dengan santai seperti itu, mustahil kalian tidak tahu bukan. Putra dari perusahaam tambang batu bara, permata dan minyak di negeri gurun pasir,”ucap Meri yang tersenyum.


“Meri dari mana kamu mendapatkan informasi tersebut,”ucap John yang merangkul Meri.


“Sebaiknya kamu jangan merangkul aku John, nanti ada yang marah,”kata Meri.


“Ohhh iya aku baru tahu kalau kamu sudah bertunangan dengan tuan Ilyas ya,”ucap Jesi.


“Tapi bagaimana ceritanya kamu bisa bertunangan dengan Ilyas bukan Bela,”kata John.


“Bagaimana kita mencari tempat lain untuk bicara,”kata Meri yang berjalan.

__ADS_1


“Kamu mau kemana?,”kata Jesi.”Perpus, mau ikut ayo,”kata Meri.


__ADS_2