Rahasia Meri

Rahasia Meri
RM 43


__ADS_3

“Bagimana bisa informasi terputus, apa orang kamu kirim mendapatkan kendala saat mencari mata-mata tersebut,”kata Blue. Meri yang masih berpikit tentang apa yang sedang terjadi membuat Meri mulai membuat rencana untuk persiapan kalau ada pertikaian yang akan terjadi.


Sampai Green yang berpikir mendapatkan pesan dari anak buah yang baru saja dia kirim. Kalau mereka yang masuk ke dalam markas organisasi tersembunyi telah terbunuh. Green yang mendapatkan pesan tersebut mengirimkan pesan kepada anak buahnya yang memantau organisasi tersembunyi untuk mundur.


Meri dan Blue yang melihat wajah Green hanya bisa menebak kalau ada korban saat mereka melakukan penyusupan ke dalam markas organisasi tersembunyi. “Apa kamu baik saja?,”ucap Blue.


Green menghela nafas dan menatap mata mereka berdua,”Orang yang aku suruh untuk menyelidiki telah terbunuh. Aku menyuruh mereka yang masih hidup untuk mundur, sampai rencana baru.” Meri dan Blue yang mendapatkan kabar tersebut merasa kalau organisasi tersembunyi telah diambil sebagian kekuasaanya oleh pihak musuh.


“Bagaimana dengan Firgo?,”ucap Green.”Aku melepaskannya agar dia bisa bertemu dengan Alexca kakekku,”kata Meri.


“Jika seperti itu bisa kita manfaatkan Firgo untuk mencari situasi dalam organisasi,”kata Green.


“Bisa saja hanya saja, dia mau atau tidak,”ucap Meri.”Mustahil dia tidak mau dengan ucapan keponakannya sendiri. Apa dia mau kami pukul?,”kata Green.


“Itu benar jika dia tidak mau biar aku bunuh saja dia,”kata Blue yang dingin.


“Aku setuju dengan usul kamu itu,”ucap Green yang masa mengeluarkan hawa dingin.


Meri yang merasakan hanya bisa terdiam melihat mereka berdua berkorban jiwanya. Sampai melihat jam dinging waktu sudah menunjukan waktu 4 sore.”Apa kamu ingin pergi sekarang?,”ucap Blue.


“Aku akan memberikan kalian berdua tugas sampai pertemuan berikutnya. Data sudah aku kirim lewat email khusus kalian masing-masing. Jika ada masalah laporkan dengan segera,”kata Meri yang mengakhiri pertemuan ketiga orang tersebut.

__ADS_1


Meri yang sudah menyampaikan pesan berjalan keluar ruangan dan di ikuti oleh Blue dan Green di belakangnya. Sampai di lorong menuju pintu keluar yang bercabang mereka berpisah ke tempat jalur mereka semua masuk. Meri yang menuju rumah tua di dekat panti asuhan, Blue yang menuju vila tua yang tidak penghuni dekat danau, Green yang menuju jembatan yang sudah rusah di hutan belantara. Mereka berdua yang keluar di tempat yang berbeda untuk mengurangi kecurigaan musuh.


Meri yang keluar dari rumah tua dan berjalan menuju hutan yang gelap dan dingin. Dimana Meri mendengar suara hewan malam dengan dinginnya hutan Meri berjalan tanpa penerangan. Sampai di ujung hutan Meri melihat danau yang bercahaya karena pantulan bulan malam itu. Meri yang menatap danau ini sampai dia menghidupkan ponselnya.


Di perjalanan menuju jalan terdekat ponsel Meri terus bergetar sampai Meri melihat kedai makanan di pinggira jalan. Meri mendekati kedai makanan tersebut untuk mengisi perut sampai ponselnya berdering. Meri melihat kelayar ponsel dan melihat tulisan Ilyas.”Kenapa dia meneleponu?,”ucap Meri yang menuggu pesanan makanannya.


Meri yang awalnya tidak ingin mengangkat teleponnya karena sudah beberapa kali Ilyas menelepon sambil menikmati makanannya Meri mengakatnya. Tapi saat dia mengakat Meri langsung mendengar kata,”Kamu ada di mana sekarang, kenapa kamu tidak bisa dihubungi?.”


Meri yang melihat kalau Ilyas sangat khawatir dengan Meri hanya mengakatakan,”Aku ada dikedai pinggiran jalan dekat danau. Aku baik saja jadi kamu tidak usha khawatir.”


Meri yang sudah menyelesaikan ucapkannya langsung terputus kontak karena Ilyas mematikan teleponnya. Meri yang bingung hanya bisa menikmati makanan yang ada sampai satu jam berlalu Ilyas dan beberapa mobil mendekati kedai makanan dimana Meri berada.


Meri yang menoleh langsung tahu kalau yang datang adalah Ilyas dan kedua nenek dan kakeknya.”Kenapa mereka datang ke sini?,”ucap Meri yang tidak tahu apa yang sedang terjadi.


Meri melepaskan pelukan Ilyas yang masih gelisah,”Maafkan aku membuat kamu khawatir. Aku ada urusan yang harus diselesaikan. Tapi maaf aku tidak bisa bilang kemana aku harus pergi. Karena terlalu ribut dan mengganggu aku mematikan ponselnya.”


Meri yang tersenyum kepada mereka tanpa ada rasa bersalah. “Lain kali kurasa kamu harus membawa pengawal deh,”usul Ilham dari belakang.


“Untuk apa?,”ucap Meri yang tersenyum.


“untuk apa agar kakakku tidak khawatir dengan kamu. Lihat dia!,”kata Ilham yang menunjuk ke arah kakaknya yang masih memegang tangan Meri.

__ADS_1


Meri yang melihat wajahnya hanya bisa terdiam yang awalnya tidak bersalah merasa bersalah karena ucapan Ilham.”Maaf membuat kamu khawatir, lain kali aku akan memberitahu kamu. Tapi jika sudah waktunya,”ucap Meri.


“Kapan itu,”kata Ilyas yang menatap.”Baik mana jika kita makan sekarang,”ucap Meri yang mengganti topik pembicaraannya.


Meri yang melihat ke arah lain membuat dia ingin mencicipi satu menu yang sudah ditunggu oleh Meri saat dia sedang menuggu kedatangan Ilyas dan yang lain. Mereka semua yang duduk di tempat dimana Meri memilih tempat sampai pesanan mereka datang.


“Kalian tidak masalah dengan menu malam inikan,”ucap Meri dengan ragu sambil melihat ke arah mereka.


“Apa yang kamu khawatirkan?Kami biasa saja makan di pinggir jalan dulu saat muda, iyakan sayang,”ucap kakek keluarga Celsi sambil menata nenek disampingnya. Pelayan datang membawa pesenan mereka menuju meja. Meri yang tidak segan menikmati makanannya bersama yang lain sampai dia mendapatkan pesan dari Erik.


Yang  menayakan kapan kalian untuk bertemu dengan keluarga Brata. Meri yang teringat akan kejadian pesta kemarin berkata kepada Ilyas,”Sudah ada kabar dari keluarga Brata belum, bukan itu hari ini ya.”


Ilyas yang menatap Meri,”Itu benar, mereka akan datang ke rumah nanti malam. Untuk masalah kemarin malam.”


Meri yang tidak perduli hanya bisa melihat makanan didepan sampai semua selesai mereka kembali ke kediaman Rendra dimana pertemuan dengan keluarga Brata akan berlangsung. Sampai di tengah perjalanan ada kejadian yang tidak terduga.”Apa yang sedang terjadi didepan?,”ta Ilyas.


“Maaf tuan kurasa ada kecelakaan didapan,”kata sopir. Meri yang melihat berita yang masuk sampai dia melihat ke sekumpulan orang dari luar dan salah satunya adalah preman yang ditemukan di rumah sakit.


“Kenapa mereka ada disini?,’ucap Meri yang melihat keluar jendela mobil sampai dia mendengar suara tembakan.


Ilyas melirik ke arah Meri sampai dia mendengar ucapan Meri.”Apa kamu mengenal mereka?,”ucap Ilyas.

__ADS_1


“Aku tidak kenal mereka tapi aku pernah bertemu dengan mereka di rumah sakit,”kata Meri. “Dari pada mereka tadi bukan suara tembakan bukan. Apa kita kembali saja lewat jalan yang lain. Aku khawatir dengan nenek dan kakek yang ada di belakang,”kata Meri.


Ilyas yang tahu menghubungi Ahmad untuk mengawal mereka. Sampai mereka memutar kembali arah perjalanannya. Di depan jalan mobil yang di naiki Ilyas dan Meri bertemu dengan Ahmad yang sudah di depan.”Apa yang terjadi?,”ucap Ahmad.


__ADS_2