Rahasia Meri

Rahasia Meri
RM 20


__ADS_3

Meri yang mulai gelisah dengan apa yang terjadi dengan orang tua kandungnya dan rekannya yang masuk ke dalam gurun pasir. Meri yang awalnya ingin tenang tapi saat dia membaca datanya hanya bisa berkata dengan tergesa untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Meri dan yang lain keluar dari ruang rahasia sednagkan Mui yang masih berjaga tetap di dalam ruang rahasia memantau kondisi Ilyas.


Meri dan yang lain yang sudah keluar dari ruang rahasia menatap Meri yang sedang menuju dapur. “Kenapa kalian menatapku, apa ada yang ingin di tanyakan lagi?,”kata Meri yang menuaikan air putih.


Meri yang sedang berpikir untuk mengisi kulkas yang kosong dan beberapa keperluan sehari-hari. “Kenapa hari damaiku akan berakir seperti ini?,”ucap Meri dalam hati.


“Apa kamu baik-baik saja,”kata Erik. “Menurut kamu bagaimana apa aku baik saja setelah kehilangan kontrakan yang aku tinggali,”kata Meri.


“Aku tahu kalau kamu ketimpa musibah tiga kali, sekolah, cafe dan kontrakan dan identitas kamu,”ucap Tora.


“Untuk identitas bisa disamarkan lagi. Tapi bagaimana dengan kelanjutannya ya,”ucap Meri sambil berpikir.


“Kelanjutannya apa, bukannya kamu bisa lulus lewat jalur pintas dengan kemampuan kamu dan mendaftarkan ke universitas yang kamu inginkan,”kata Tora.


“Itu benar,”ucap Meri.


“Terus apa yang membuat kamu kepikiran,”kata Erik.


Meri hanya terdiam dan tidak mengubris ucapan Erik sampai dia mendapatkan pesan dari Bita teman sekelasnay yang menayakan kebenaran dari apa yang terjadi di forum diskusi kelas. Meri yang tahu akna terjadi seperti itu hanya mengatakan dengan jujur apa adanya. Sampai beberapa menit Bita memberikan kabar kalau dia ingin bertemud dengan dia. Tapi saat dia datang ke kontrakan Merisemuanya sudah dimakan oleh api.


Bita yang ingin tahu kabatnya memberikan pesan dimana dia tinggal. Meri yang belum membalasnaya hanya terdiam kerena ada mata yang menatap dia sekarang. “Kenapa kalian menatapku seperti itu, kalau ada sesuatu bilang saja,”kata Meri.


Mereka hanya menatap Meri tanpa berkata sampai dia membalas pesan dari Bita kalua dia bisa bertemu besok. Meri yang memikirkan bahan apa yang harus dia beli, apa lagi sudah malam. Meir hanya bisa menuggu sampai besok untuk membeli bahan makanan sampai dia kedatangan seornag yang tidak terduga.


“Jika kamu membutuhkan barang, aku bisa membantu kamu,”kata Ahmad.”Tidak aku masih ada uang untuk membelinya sendiri,”ucap Meri yang menolang bantuan Ahmad.


“Tapi bicara soal kakak kamu, apa benar dia awalnya tunangan Meri,”ucap Tora.


“Awalnya iya sebelum dia meninggal. Tapi sekarang dia ada didepan mataku, mungkin aku juga butuh penjelasan apa yang sedang terjadi,”kata Ahmad.

__ADS_1


“Kamu sedang mencari untung dari Meri ya. Kalau seperti itu aku menolang pertunangan ini berlanjut,”kata Erik yang tidak terima kalau Meri dimanfaatkan.


Meri hanya mendengar dengan santai sampai dia masuk ke dalam kamar untuk istirahat. Meri yang tertidur karena kelelahan sampai pagi menjelang pagi Meri terbangun. Meri yang tidak bisa berangkat ke sekolah karena dikeluarkan hanya bisa menuju pasar terdekat untuk membeli barang keperluan dapur dan sehari-hari.


Tapi Meri yang hendak keluar dihadang oleh Erik dan Tora bersama dengan Ahmad yang berjaga diluar kamar.”Kenapa kalian menghalangiku,”kata Meri yang bingung.


“Kamu mau kemana?,”kata Erik. “Aku ingin ke pasar, karena aku sudah diperhentikan menjadi murid mau bagaimana lagi. Aku pergi mencari bahan makanan dan keperluan sehari-hari,”kata Meri dengan santai.


“Apa kamu tidak terlalu khawatir dengan kondisi kamu sekarang, bagaimana kamu akan melanjutkan studi kamu jika kamu diperhentikan dari sekolah,”kata Ahmad.


“Untuk apa khawatir sebelum pihak menghentikan aku sekolah aku sudah mendapatkan beasiswa di universitas xx dan aku juga sudah melaporkan kalau ada waktunya aku dikeluarkan dari sekolah dan pihak universitas menerimaku apa adanya,”kata Meri.


“Jika seperti itua ku ikut kamu ke pasar,”ucap Tora dan kedua orang yang lain juga ikut menemani. Meri hanya menerima tawaran ketiganya dan menuju pasar. Perjalanan menuju pasar Meri hanya mengobrol biasa dengan mereka bertiga sampai didepan pasar. Meri mulai memilih bahan makanan yang segar darai sayuran, buah, ikan, bahan dapur dan lain sebagainya.


Meri dengan santai menawar bahan yang dia beli sampai dia bertemu dengan teman lama yang tidak disangka dia menjadi kuli angkat barang bersama dengan adiknya. Meri yang awalnya ragu kalau yang dilihat Tea langsung melirik ke arah Erik.


“Apa bagaimana bisa?,”kata Meri yang tidak percaya. “Banyak hal yang terjadi, jika kamu ingin tahu kenapa kamu tidak bertanya kepada Tea saja,”ucap Erik. Meri yang telah menatap Erik kemudian melihat ke depan dimana Tea berada. Meri menghampirinya dengan santai setelah  Tea mengangkat barang bawaan orang lain.


“Hai Tea,”ucap Meri dari belakang. Tea menoleh dan terkejut dengan apa yang dia lihat lalu dia menarik Meri keluar dari kerumunan. Sampai di luar kerumunan Tea langsung memeluk Meri sambil menangis.


“Kamu masih hidup,”ucap Tea sambil menangis terseduh. Adiknya yang ada disampingnya terlihat bingung dan bertanya,”Siapa dia kak?.”


“Maaf karena terlalu bahagia aku sampai lupa kalau ada adikku disini,”kata Tea yang menghapus air matanya.


“Dia teman kakak yang selalu kakak ceritakan,”kata Tea.


“Kak Meri,”ucap adik Tea. Meri hanya tersenyum melihat mereka berdua.”Kenapa kamu bisa ada disini, dimana ayah dan ibu kamu?,”kata Meri.


“Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu tidak mengabariku kalau kamu masih hidup. Bukan kita teman,”ucap Tea. Meri hanya memalingkan wajah sampai Tea menatap tajam.

__ADS_1


“Bagaimana jika kita berbicara ditempat lain?,”kata Meri.


“Bagaimana jika di tempat kami kakak. Apa tidak masalah karena rumah kami kecil,”ucap Adik Tea.


“Tidak masalah,”kata Meri. “Apa kamu tidak sekolah Meri jika kamu datang ke rumahku,”kata Tea.


“Kamu tidak usah khawatir karena pihak sekolah sudah mengusirku lagi,”kata Meri sambil tersenyum. Tea yang mendengarnya sangat terkejut,”Bagaimana bisa kamu dikeluarkan lagi dari sekolah. Apa ada tuduhan palsu lagi kepada kamu.”


“Tidak tahulah. Ayo kita pergi ke rumah kamu?,”ucap Meri.


“Tapi mereka bagaimana?,”kata Tea yang melihat kebelakang Meri.


“Ohhh mereka abaikan saja,”kata Meri.


“Kalian mau ikut atau pergi,”ucap Meri sambil tersenyum.


“Mana barang belanjaan kamu,”ucap Ahmad yang langsung mengambilnye setelah Meri mengulurkannya. Ahamd yang sudah membawa barang belanjaannya langsung berbalik menuju kontrakan Meri dan tidak ikut bersama Meri dengan Tora.


“Erik kamu,”ucap Meri.”Pak Erik,”ucap Tea yang baru saja sadar kalau ada  gurunya.


“Aku akan ikut dengan kamu,”kata Erik. “Meri kenapa kamu memanggil Erik bukan pak, tidak sopankan,”ucap Tea yang menghormati yang lebih tua.


“Dia tidak masalah kok dengan panggilan yang aku lontarkan,”kata Meri yang menggandeng Tea dan Adiknya menuju rumah Tea.


Meri berempat yang menuju tempat rumah Tea yang terletak di pemungkiman kumuh. Meri yang melihat hanya terkejut dengan kondisi Tea.”Sebenarnya apa yang terjadi Tea kenapa kamu bisa tinggal disini, beda dengan rumah yang aku kunjungi saat pertama kali di rumah kamu dulu,”ucap Meri yang sudah didepan matanya.


“Banyak sekali yang terjadi Meri setelah kamu tidak ada,”kata Tea.


“Ayo masuk,”ucap Tea lagi.

__ADS_1


__ADS_2