
Pertemuan Meri dengan Ilyas yang akan mengadakan pesata pertunangan mereka berdua dilaksanakan di kediaman Rendra pada malam hari. Meri dan kedua orang tua angkatnya yang masuk ke dalam rumah. Mereka berdua yang disambut oleh adik Ilyas yang bernama Ilham.
Ilham membawa mereka bertiga ke dalam rumah utama untuk beristirahat. Tapi orang tua angkat Meri dengan berat hati harus menolang tawaran tersebut karena ada urusan yang harus dikerjakan. Tapi mereka berdua akan datang saat pesata berlangsung. Kedatangan mereka berdua hanya ingin mengantarkan Meri ke kediaman Rendra. Meri yang tahu kalau orang tua angkatnya sibuk hanya mengangukan kepalanya.
Meri yang masuk setelah ayah dan ibu angkatnya meninggalkannya. Meri masuk bersama dengan Ilham sampai di dalam nenek dan kakek ternyata datang untuk pertunangan Meri. Nenek dan kakek yang melihat Meri masuk bersama dengan Ilham tanpa ada Bram dan Intan yang menemaninya.
“Dimana ayah dan ibu kamu Meri?,”ucap Kakek yang melihat.
Meri yang melihat juga terkejut dengan kedatangan nenek dan kakek. Meri yang bingung ingin berkata apa hanya bisa menjawab yang ada saja.”Ayah dan ibu katanya sedang sibuk makanya dia kembali terlebih dahulu. Mereka juga akan datang saat pesata malam nanti,”kata Meri yang berkata jujur dan polos.
“Mereka itu tidak tahu diuntung,”ucap Nenek.
Meri datang mendekat kepada nenek dan kakek yang duduk didekat Ilyas.”Kakek nenek aku tidak apa-apa. Tapi kenapa nenek dan kakek bisa ada disini, tanpa bilang kepada Meri,”kata Meri yang duduk di dekat mereka.
“Aku ingin mendampingimu Meri. Walaupun kamu hanya anak angkat kamu sudah saya anggap anakku sendiri,”kata nenek. Meir tersenyum dan memeluk nenek yang ada disampingnya.
“Bagaimana kondisi tubuh kamu?,”kata Ilyas. Meri tersenyum dan menatap dia,”Aku baik saja. Kamu tidak usah khawatir.”
Nenek dan kakek yang mendengar hanya terdiam dan menatap kearah Meri. Meri yang mersa kalau nenek dan kakeknya menatap dia dia langsung menoleh.”Ada apa kek, nek melihat Meri seperti itu. Apa ada sesuatu yang menempel diwajahku?,”ucap Meri.
“Tidak, kakek hanya ingin tahu apa yang terjadi dengan kamu. Sampai Tuan Ilyas menayakan kondisi kamu dengan tataoan khawatir,”kata Kakek.
“Itu karena beberapa hari yang lalu Meri tidak enak badan saat Ilyas datang berkunjung. Makanya dia menayakan kondisi tubuhku,”kata Meri.
“Apa kamu sakit, kenapa kamu tidak bilang kepada nenenk. Coba nenek lihat apa kamu baik-baik saja,”kata Nenenk. Meri yang dibolak balik oleh nenek yang melihah tubuh Meri apa dia baik saja. meri hanya tersenyum dan menatap Nenek,”Aku tidak apa-apa hanya tidak biasa saja dengan menu pagi itu, makanya aku sakit.”
__ADS_1
“Lain kali kamu harus bilang kepada pelayan agar membuatkan sarapan yang biasa kamu makan,”kata nenek.”Iya,”ucap Meri yang tersenyum.
Saat mereka berbincang satu sama lain diluar terdengar suara keributan yang membuat mereka keluar untuk melihat. Sampai di luar Meri melihat Ahmad dan Tora yang sedang beradu mulut. “Kenapa mereka ada disini,”ucap hati Meri.
“Meri,”ucap Tora yang berlari ke arahya. Tapi sebelum dia datang Meri melemparkan sepatu yang dia kenakan kepada Tora dengan tatapan dingin.
“Kamu ingin mati Tora datang ke sini. Apa kamu ingin membunuhku. Apa kamu lupa perjanjian yangs udah kita tanda tangani tidak boleh akrab saat ada orang yang mengenalku bukan,”kata Meri dengan berbagai pertanyaan.
“Maaf tapi dalam perjanjian aku oleh datang jika ada hal khusus yang mendesak untuk diberitahukan kepada kamu,”kata Tora yang datang membawa sepatu Meri. Tora jongkok dan meletakan sepatu didepan kaki Meri. Meri memakai sepatu itu dan berkata,”Kenapa kamu datang ke sini dan suasana apa ini?.”
Meri yang meraskaan kedatangan seorang yang asing bagi Meri setelah Tora datang.”Mereka adalah nenek dan kakek darai orang tua kandung kamu,”ucap Tora.
“Apa maksud kamu?,”ucap Meri yang terkejut melihat sesosok wanita tua bersama dengan laki-laki tua yang datang bersamanya.
Sampai mereka datang di hadapan Meri hingga semua anak buah Meri muncul untuk menghadang kedua orang tersebut yang bersama dengan dua orang dibelakang mereka. Meri merasakan tekanan yang berbeda dan kekuasaaan dari mereka berdua membuat semua yang ada disekeliling Meri datang menghadang mereka.
“Meri,”ucap Tora yang menatap ke arahnya dengan tajam.”Tidak apa, mereka tidak akan melukaiku,”ucap Meri.
Keempat orang tersebut datang berjalan ke arah Meri. Tapi orang yang didekat Meri bersamanya untuk melindunginya.”Cucuku,”ucap wanita tua yang ada dihadapan Meri.
“Anda siapa?,”ucap Meri. Wanita tua hanya tersenyum dan melihat ke arah laki-laki yang sama usianya disampingnya sambil menangis.
“Sayang dia cucu kita masih hidup,”kata wanita tua itu kepada laki-laki tua disampingnya.
Sampai Meri merasakan kalau ada yang mewaspadai mereka. “Tora,”ucap Meri dengan tatapan tajam. Tora yang melihat hanya menganggukan kepalanya dan langsung pergi bersama dengan anak buah yang lain. Karena ada penyergapan yang membuat Meri di waspadai.
__ADS_1
“Apa kita bisa bicara di dalam?,”ucap Meri yang memecahkan suasana yang ada.
“Ilyas nenek kakek apa tidak masalah jika mereka berempat masuk ke dalam,”kata Meri.
“Tidak apa-apa karena aku ingin mencari tahu apa yang sedang terjadi disini,”kata Ilyas. Nenek dan kakek hanya mengangkukan kepalanya dan mereka masuk ke dalam. Di dalam rumah Rendra Meri mencium bau darah yang sudah tumpah.
“Tuan nyonya mereka datang mengepuk rumah ini,”ucap pelayan dari kedua orang asing tersebut.
Ahmad yang juga merasakannya menatap ke arah Meri. Meri yang mencoba santai melihta ke arah kedua orang tua yang sudah paru baya tersebut. Hingga dia melihat ke arah pelayang bersamanya mengatakan kalau mereka sudah datang. Meri yang menebak kalau yang datang adalah musuh orang tua baru baya tersebut dengan melihat wajah mereka yang pucat.
“Kita harus pergi dari sini sekarang,”ucap pelayang keluara Celsi.
Meri yang melihat kegelisahan keduanya berkata,”Kalian tidak usah pergi, ada hal yang ingin aku tanyakan.”
Orang tua baya tersebut menatap ke arah Meri yang dengan wajah polos ingin bertanya siapa mereka sebenarnya.”Kami hanya akan mengatakan kalau kamu Meri adalah cucu kami dari putra kami berdua,”kata Orang tua baya.
“Apa maksud kalian, aku adalah cucu kalian?,”kata Meri yang ingin mencari tahu sampai dia mendapatkan pesan kalau musuh terlalu banyak.
Meri yang ingin bertanya lebih banyak kepada mereka berdua. Dia urungkan karena musuh yang datang.”Ahmad, berapa banyak anak buah kamu disini?,”kata Meri.
“Ada sekitar 100 orang, apa ada masalah,”kata Ahmad.
“Bisa kamu bantu Tora diluar sana samapai bala bantuan datang hanya butuh 30 menit mereka akan datang. Apa kamu bisa menahan mereka bersama kelompok Tora,”kata Meri.
“Itu tidak masalah, tapi siapa yang datang ke kediaman Rendra,”ucap Ahmad dengan tajam.
__ADS_1
“Seorang yang tidak bisa kalian kalahkan,”kata Meri membuka leptop yang sudah dimodifikasi yang dibawa kemana saja dan disembunyikan ditempat yang aman.