
Meri yang sudah bebes dari kurungan kamar dia bisa berjalan di taman yang penuh dengan bunga. Sejuk dan nyaman dia bisa menghirup udara segar ditaman. Meri yang santai berjalan ditaman dengan dijaga oleh pengawal yang dipilih oleh Bela. Sampai Meri berpapasan dengan Bela yang juga berjalan ditaman. Meri yang awalnya tidak ingin menyapanya tapi melihat dia seperti kesakitan hanya bisa berjalan ke arahnya.
“Kamu sedang apa adik disini?,”kata Meri dari belakangnya.
“Untuk apa kamu datang ke sini, cepat pergi sana. Aku tidak butuh pertolongan anak angkat seperti kamu,”ucap Bela yang masih tidak menatap Meri. Meri hanya menurutu keingin Bela dan pergi darai tempatnya menuju taman yang lain. Tapi Meri yang juga khawatir menyuruh pelayan pribadi Bela untuk menjaga Bela.
Meri dari jauh melihat pelayan pribadi Bela membantunya berdiri dan membantu dia masuk serta memanggil dokter. Pengawal yang bersama dengan Meri hanya menatap Meri tanpa berkata sampai dia membantu Bela secara diam-diam.
Meri yang membawa kertas putih dan pensil dia mulai menggambar satu desain pakaian yang terlintas dikepalanya. Sambil menikmati angin yang berhembus dia mulai mencoret kertas putih yang dia bawa. Sampai dokter yang dipanggil oleh pelayan keluar dari rumah. Meri yang masih fokus dengan desain yang dia buat.
“Kenapa anda melakukannya?,”ucap penjaga yang awalnya diam membuka mulut. Meri hanya melihat ke arah pengawalnya dangan tatapan bingung.
“Kenapa apanya, memangnya aku melakukan apa?,”ucap Meri yang tidak tahu alur pembicaraannya.
“Kenapa kamu bantu adik kamu sementara dia tidak suka dengan kamu. Kenapa kamu melakukannya diam-diam,”kata Pengawal.
“Kenapa ya, mungkin karena aku kasihan dan perduli dengan dia mungkin. Tapi bukannya kamu juga sama,”kata Meri.
“Sama apa yang kamu maksudkan,”kata Pengawal. “Apa kamu tidak tahu kenapa kamu di suruh datang ke tempat ini sebagai pengawal di rumah ini,”kata Meri. Pengawal itu mulai terdiam dan menatap mata Meri.
“Apa kamu mengenalku sampai berkata seperti itu,”ucap Pengawal.”Tidak. Yang aku ketahui kalua kamu adalah pengawal yang menjaga dan mengawasiku setiap hari,”kata Meri yang sudah menyelesaikan satu desain yang dia buat.
Meri yang telah menyelesaikan desain gambarnya melihat kedapan dan sekeliling dia sampai dia melihat ayah dan ibu bersama orang lain. “Siapa dia?,”ucap Meri tanpa sadar.
“Dia Aji keluarga Pram yang akan menikah dengan adik kamu Bela,”kata Pengawal.
“Kenapa dia datang ke sini. Tapi terlihat mereka gelisah. Apa yang sedang terjadi di dalam,”kata Meri.
“Ayo kita masuk,”ucap Meri yang berdiri. Sampai pelayan datang menghalangi Meri masuk.”Maaf nina Meri anda tidak boleh masuk ke dalam untuk sekarang,”ucap Pelayan.
“Kenapa aku tidak boleh masuk kedalam rumah. Apa ada masalah yang terjadi sampai aku tidak boleh masuk,”kata Meri yang merasa aneh.
__ADS_1
“Maaf ini perintah nyonya dan tuan besar kalau Nona Meri dilarang masuk ke dalam rumah. Karena ada tamu yang datang,”ucap Pelayan. Meri berpikir sederhana kalau ayah dan ibunya tidak ingin kalau aku masuk ke dalam untuk memperlihatkan wajahnya. Karena dia tidak boleh masuk Meri memutuskan untuk keluar rumah untuk menikmati jalan sorenya.
“Kita pergi jalan-jalan menikmati sore hari. Siapkan mobil aku ingin keluar, tidak masalahkan,”kata Meri sambil tersenyum. Para pelayan dan pengawal hanya menuruti keinginan Meri dan mempersiapkan mobil tapi dia juga dalam pengawasan pengawal.
Setelah semua beres Meri keluar sore itu untuk mengisi waktu luangnya sampai dia melihat kain di toko yang dia lewati.”Berhenti,”ucap Meri.
Meri membuka pintunya dan berjalan ke toko yang dia lihat pengawal hanya mengikutinya dari belakang. Meri yang melihat bahan yang ada sambil membuat desain pakaian dengan kain yang dia lihat sampai dia bertemu dengan Ilyas bersama dengan sekertarisnya.
“Meri,”ucap Ilyas yang melihatnya.
“Ilyas, kenapa kamu ada disini?,”kata Meri dengan ramah.
“Aku sedang ada kunjungan toko. Kamu sendiri sedang apa,”kata Ilyas. Meri hanya melirik ke arah bahan kain yang dipajang didalam toko.
“Apa kamu ingin membelinya?,”ucap Ilyas yang ramah. “Sebenarnya iya, tapi aku tidak membawa uang lebih. Jadi hanya melihat saja,”kata Meri sambil tersenyum.
“Jika kamu suka aku bisa membelinya untuk kamu,”kata Ilyas. Meri hanya menggelengkan kepalanya sampai pengawal mendapatkan telepon yang menayakan keberadaan mereka. Pengawal hanya menjawab kalau mereka ada di toko kain dan bertemu dengan tuan Ilyas dari keluarga Rendra.
“Kita kembali sekarang,”ucap Meri.”Baik nona,”kata pengawal. Meri dan pengawalnya yang sudah pergi dari toko dan tidak terlihat lagi mobil yang mereka kendarai. Ilyas yang bersama dengan sekertarisnya Jim sampai Ilham datang bersama dengan Ahmad.
“Bukan tadi itu Meri bersama salah satu organisasi kelajengking,”kata Ahmad.”Apa maksud kamu Ahmad?,”kata Ilyas yang terkejut.
“Kakak tidak tahu orang yang bersama dengan Meri adalah salah satu bawahan organisasi kalajengking.
“Bukan dia menjadi pengawal sekarang,”kata Ilham.
“Itu benar, mungkin saja untuk mematai pergerakan Meri,”kata Ahmad. “Tapi kakak tidak usah khawatir karena Meri tahu kalau pengawalnya dari organisasi kelajengking,”kata Ahmad lagi.
“Bagaimana dia bisa tahu?,”kata Ilyas.
“Dia itu banyak sekali rahasia. Melihat dia santai bersama dengan pengawal itu mungkin dia sudah tahu,”kata Ahmad yang melihat ke arah lain.
__ADS_1
“Kalian ada disini ternyata,”ucap Erik yang menyapa. “Kamu ingin bertemu dengan Meri. Sudah pergi dia bersama dengan pengawal yang menjaganya,”kata Ahmad. Erik hanya tersenyum kepada mereka dan melihat disekitarnya kalau tidak ada yang mengawasinya.
“Kenapa dengan kamu?,”ucap Ahmad.
“Tidak ada, hanya melihat ada yang mengawasi tidak. Meri memberikan pesan kepada tuan Ilyas kalau anda tidak usah khawatir soal pengawal yang bersamanya dia sudah tahu identitasnya,”kata Erik.
“Untuk apa kamu memberitahu kami bukan Meri sendiri,”kata Ilham.
“Itu karena dia tidak bisa karena banyak mata yang melihat. Bukan kalian tahu siapa di samping Meri,”ucap Erik.”Aku hanya ingin menyampaikan pesan itu saja, aku akan pergi,”kata Erik yang berjalan jauh.
“Tunggu kamu itu siapanya Meri, sampai kamu yang memberikan pesan,”kata Ilyas.
“Kamu tebak sendiri, saya tidak bisa menjawab. Aku tidak ingin kena marah oleh Meri,”kata Erik yang pergi.
Erik yang telah pergi meninggalkan mereka bertiga. Ahmad yang menatap hanya merasa kalau Erik itu bawahan Meri. Tapi siapa Meri sampai Erik dan Tora berlutuk dibawah kekuasaan Meri yang anak yatim piatu biasa. Ilyas yang melihat Ahmad dengan tatapan tidak bisanya bertanya,”Apa kamu mengetahui sestuatu tentang mereka?.”
“Untuk sekarang tidak. Tapi apa pertunangan kakak dengan Meri akan berlanjut,”ucap Ahmad.
“Pertunangan tetap akan berlanjut, apa kamu tidak suka dengan Meri,”kata Ilyas.
“Tidak kami sangat menghargai keingian kakak,”ucap mereka berdua.
Setelah waktu itu Ilyas menyuruh sekertaris Jim untuk mencari tentang Meri sedetail mungkin. Meri yang sudah sampai di rumah.
“Kamu dari mana Meri,”ucap Ibu.
“Dari jalan-jalan di toko kain dan tidak sengaja bertemu dengan Tuan Ilyas,”kata Meri dengan jujur.
“Apa aku boleh masuk ke kamar aku sudah lelah,”kata Meri. Ayah dan ibu angkatnya hanya menganggukan kepalanya sampai Meri masuk ke dalam dan menatap ke pengawal Meri.
“Apa yang dia katakan benar?,”ucap Ayah.
__ADS_1
“Itu benar tuan,”ucap Pengawal. “Kamu boleh pergi,”kata ayah.