Rahasia Meri

Rahasia Meri
RM 40


__ADS_3

Meri yang mengabaikan ucapan ayah dan ibunya hanya bisa tersenyum. Sampai Ilyas datang bersama dengan Ilham.”Apa yang kalian obrolkan?,”ucap Ilyas dari belakang. Meri yang menatap hanya bisa terdiam karena dia lelah dengan acara pertunangan malam itu.


“Apa kalian mengganggu tunanganku lagi?,”ucpa Ilyas.


“Tuan salah paham kami hanya ingin mengucapkan salam perpisahan saja. karena dia sudah bagian darai keluarga Rendra dan sebentar lagi dia akan masuk ke kampus. Meri meminta ijin untuk tinggal di asrama,”kata Ibu.  Meri yang mendengar kabar baik itu langsung berkata,”Iya mereka hanya ingin menyapaku saja, tidak ada masalah apa-apakan.”


Ilyas yang menatap Meri dengan tatapan curiga lalu berkata,”Dari pada tinggal di asrama kamu akan tinggal di kediamana Rendra sampai tanggal pernikahan kita di tentukan.”Meri yang mendengar terkejut dan ketiga orang yang ada disampingnya juga ikut terkejut.


Ilyas yang biasanya tidak perduli sekarang berubah perduli dengan seorang wanita. “Apa aku tidak salah dengan,”ucap Meri. Bela yang ada disampingnya mendengar berkata,”kamu tidak salah dengar dia mengijinkan kamu tinggal di keluarga Rendra sampai kamu menikah nanti.”


“Jika kalian tidak ada keperluan lain, aku ingin membawa Meri ke kamarnya,”ucap Ilyas. Meri terdiam dengan pikiran yang binggung sampai hatinya berkata,”Dia kerasukan apa ya?.”


Ayah dan ibu yang tidak bisa membantah tuan Ilyas hanya bisa menerima keputusan yang dibuat. Bela yang di sampaing Meri tersenyum licik seperti rencana dia berhasil untuk memasukan Meri ke dalam kelurga Rendra. Meri yang melihat dari sebelah hanya bingung.”Apa lagi yang dia rencanakan,”ucap Meri yang tidak ingin memikirkan sesuatu. Sampai Bela berdiri dan ayah berkata kalau dia harus kembali karena kondisi Bela tidak boleh terkena angin dingin lama-lama.


Setelah mereka pergi Ilyas yang masih di depannya menatapnya.”Kamu tidak apa-apa?,”ucap Ilyas.


“Aku baik saja hanya saja apa yang kamu katakan tadi tidak benarkan. Di tambah lagi aku lagi tidak ingin memikirkannya.. Apa ada makanan,”ucap Meri yang awalnya lantang kemudian lemas karena dia lapar.


Ilyas yang ada di depannya hanya tertawa. Sampai pelayan datang membawakan kue dan cemilan yang lain untuk mereka berdua. Setalah Ilham pergi keluar menuju taman untuk menenangkan diri.


“Makanlah jika kamu lapar,”ucap Ilyas yang menahan tawa.


“Jika mau terawa silakan aku tidak akan marah,”ucap Meri yang melihat ke arah kue yang begitu enak. Meri yang menikmati kue menawarkan Ilyas yang ada didepanya.


“Ini,”ucap Meri sambil memberikan kue yang dia ambil didepannya.


Ilyas hanya tersenyum dan mengambil kue yang diberikan kepada Meri. Sampai nenek dan kakek datang,”Kalian akur ya.”

__ADS_1


Meri yang melihat hanya terdiam sampai dia berkata,”Nenek dan kakek apa baik saja?.” sampai pelayan datang membawa kuris untuk mereka duduk. Di pojok ruangan dekat dinding mereka saling bertukar pikiran sampai mereka memutuskan untuk menjalankan kehidupan bersama dengan Meri dan Ilyas.


Meri yang tidak tahu akan apa pikiran kedua keluarga tersebut hanya terdiam mendengarkan sampai keluarga Sari dan Kelurga Celsi yang akan menghilang membentuk keluarga baru yang dipimpin oleh kedua kakek yang baru saja bertemu. Meri tidak terkejut dengan apa yang mereka katakan.


“Bagaimana Meri apa kamu mau menjadi cucu kami berempat ini,”kata mereka nenek dan kakek kedua keluarga yang bergabung.


“Aku tidak tahu, untuk sekarang biarkan aku memikirkannya,”ucap Meri yang maish fokus menikmati makanannya. Erika yang melihat tingkah lakuk Meri hanya bisa berkata,”Percuma jika anda menawarkan sekarang. Meri dalam mode tidak ingin berpikir karena kelelahan. Jika kalian ingin berbicara bisa besok saat Meri sudah fit.”


“Sudahlah Erika mereka tidak akan paham dengan jalan pikiran kita. sebelum kalian menggabungkan kedua keluarga apa kalian sudah memutuskan dengan matang. Apa yang akan terjadi nanti mungkin saja akan merugikan kedua belah keluarga,”kata Meri sambil menimati makananya.


“Menurut kamu bagaimana Ilyas dengan gagasan itu,”ucap Meri lagi.


“Menurutku itu terlalu tergesa-gesa untuk dilakukan. Apa lagi kalian berbeda keluarga, bagaimana jika musuh datang bersamaan menghancurkan keluarga yang baru saja dibangun,”kata Ilyas.


“Bukan tidak masalah aku bisa menjadi putra pertama mereka untuk melindungi keluarga baru ini,”kata Jaksen.


“Tugas sudah selesai hasil tes juga sudah keluar kalau dia bukan orang tua kandung kamu. Tapi buronan yang sedang berlindung dibawah keluarga Brata. Di tambah lagi aku mendapatkan informasi baru,”ucpa Jaksen.


“Apa nenek dan kakek sudah tenang sekarang ayah dan ibu memang menghilang dan belum ketemu. Tapi mereka masih belum tertangkap oleh kelurga Brata dan kedua keluaga tersembunyi,”ucap Meri.


“Berapa jauh kamu mengetahuinya?,”kata kakek kelurga Celsi.


“Tidak banyak karena aku memiliki orang yang bisa aku andalkan untuk mencari tahu informasi,”kata Meri.


“Tapi ada satu hal yang aku buat bingung. Kenapa kedua keluarga ini mau jadi satu hanya untuk cucu kamu ini,”kata Meri yang polos.


“Kami ingin mendukung kamu,”ucap nenek keluara Sari.”Mendukungku dari apa?,”kata Meri.

__ADS_1


“Dari mereka yang ingin membunuh kamu,”kata kakek keluarga Sari.


“Tapi aku baik-baik saja, jadi kalian tidak usaha terlalu perduli denganku. Aku baik saja, lebh baik kalian menikmati masa tua kalian dari pada kebahagiaan cucu kalian ini. Cucu bisa menjaga kalian agar tetap makmur,”kata Meri.


Mereka yang masih mengobrol sampai Meri mendapatkan pesan dari Tea yang ingin bertemu dengan dia. Meri yang tahu apa yang ingin dibicarakan lalu membalas dengan pesan peretmuan kita dua hari lagi. Karena Meri besok harus bertemu dengan orang lain.


“Sebaiknya kita istirahat dulu, karena sudah malam. Kalian pasti sudah sangat lelah,”ucap Erika yang mengubah suasana.


“Itu banar, biarkan pelayan yang akan menunjukan kamar kalian,”kata Ilyas yang menyuruh pelayan mengantarkan mereka ke kamarnya untuk istirahat.


Meri yang masuk ke dalam kamar tidak langsung tidur melainkan dia membuka teras untuk melihat bintang. Karena kebetulan kamar Meri bersebelahan dengan kamar Ilyas mereka bertemu di teras.


“Kenapa kamu belum istirahat, hari sudah malam,”kata Ilyas yang sudah diluar terlebih dahulu.


“Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu diluar. Apa kamu tidak lelah?,”kata Meri.


“Lelah untuk apa. Tapi karena kita bertemu seperti ini aku ingin bicara dengan kamu,”kata Ilyas.


“Apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku. Apa ini berkaitan dengan tamu tidak diundang,”ucap Meri.


“Jika iya apa kamu mau mengatakannya,”kata Ilyas.


“Bisa asalkan itu tidak memberatkan pikiranku,”kata Meri. “Dari mana kamu tahu kalau kedua orang tua tadi itu palsu,”ucap Ilyas.


“Kamu penasaran dengan mereka,”ucap Meri.”Tentu saja. Jelaskan kepadaku sampai detail,”kata Ilyas.


“Bagaimana aku bisa menjelaskannya?,”kata Meri.”Terserah kamu mau bagaimana kamu ingin menjelaskannya. Karena aku ingin mengenal kamu lebih jauh lagi,”kata Ilyas. Meri menatap Ilyas dengan tatapan bingung dan gelisah.”Kenapa kamu perhatian denganku, sementara kita baru bertemu beberapa kali. Apa terjadi sesuatu dengan kamu?,”kata Meri.

__ADS_1


__ADS_2