
Keadaan Indah sudah semakin membaik. Perasaannya tidak menentu menerima kebaikan Denny. Ucapan Denny masih teringat di kepalanya. Indah tidak mengerti maksud perkataan Denny yang akan menjaganya. Di pagi hari, mereka berdua duduk di meja makan.
“Minum ini, biar tenagamu kuat kembali.” Menyodorkan segelas susu hangat.
Indah patuh dan meminum habis susu pemberian Denny. Mata Denny tidak lepas memandang Indah. Membuat semakin tegang dan hatinya tidak karuan.
“Pak boleh saya bertanya?” Indah memberanikan diri dan menatap wajah Denny.
“Hemm,” menjawab singkat menopang dagu dengan sebelah tangan di atas meja memandangi wajah Indah.
“Malam itu, ingatan terakhir saya melihat wajah Bapak. Dan saya tidak dapat mengingat bagaimana saya bisa ke luar dan berada di sini. Apakah Bapak telah menolong saya?” Menatap wajah Denny dengan dalam.
Denny membalas tatapan mata Indah. Keingintahuan tergambar di wajah. Sebaliknya Denny juga merasa punya peluang bertanya mengetahui diri Indah. Denny menegakkan tubuh, berbicara lebih serius dengan mendekap kedua tangan di dadanya.
“Iya, saya bertepatan ada meeting dan melihat kamu di antara para gadis. Mereka menawarkan diri melayani sebagai hadiah dari tamu investor asing untuk saya
Dan kamu pilihan saya.” Denny sengaja memojokkan Indah.
“Tapi, saya bukan gadis seperti yang Bapak bayangkan?” Indah merasa terpojok dan berusaha membela diri.
“Aku tidak tahu kamu gadis seperti apa. Siang hari di kantor dan malam hari di diskotik? Berapa mereka membayarmu, dan berapa uang yang kamu butuh? Aku bisa memberikannya sekarang juga.”
Air mata Indah tak terbendung mengalir di pipi, hatinya sakit mendengar ucapan Denny.
“Saya bukan gadis penghibur, kalau itu yang Bapak maksud,” Indah menatap tajam dengan berurai air mata.
“Mengapa kau bisa ada di sana?” tanya Denny ingin tahu.
“Saya tidak perlu menjelaskan. Ini masalah saya, dan akan saya selesaikan.” Indah mengusap airmata dengan kedua tangannya.
Rasa keingin tahuan Denny tak terjawab dengan sikap tertutup Indah. Jauh dari dalam hatinya dia menyesal telah membuat Indah menangis.
“Boleh saya pulang hari ini ke rumah saya?” tanya Indah serius.
__ADS_1
“Hemmmm,” masih menjawab singkat dengan menggelengkan kepala menatap lekat wajah Indah.
“Saya sudah terlalu lama di sini, dan sangat berterima kasih atas segalanya. Saya tidak akan melupakan kebaikan Bapak. Saya ingin bekerja kembali seperti biasa.” Indah ingin segera pergi dari tempat itu. Dirinya merasa direndahkan mendengar kata-kata yang ke luar dari mulut Denny.
Denny berdiri dan mengambil gelas kosong Indah lalu mencucinya. Tidak terdengar jawaban sepatah kata pun dari Denny.
“Pak saya mohon, saya ingin pulang. Saya tidak ingin menyusahkan Bapak lebih banyak lagi.” Pinta Indah dengan suara memelas.
Denny sangat berat melepaskan, dia takut para preman akan mencelakakan Indah lagi. Sampai sekarang dia belum dapat menemukan para pelaku pemukul Indah. Walaupun diskotik telah musnah tapi preman di tempat itu sempat melarikan diri. Hal itu lebih membahayakan diri Indah. Sewaktu-waktu mereka bisa datang menangkapnya.
“Aku tidak bisa membiarkanmu pergi,” Denny berbicara masih membelakangi Indah.
Indah heran mendengar jawaban Denny. Dia bukanlah siapa-siapa Denny yang harus dijaganya sangat ketat.
“Saya mohon Pak, biarkan saya pulang. Saya sudah sembuh sekarang. Bapak tidak usah khawatir lagi. Saya bisa menjaga diri saya.” Ucap Indah berdiri di samping Denny sambil menggabungkan kedua tanggannya tanda memohon.
“Bagaimana bisa menjaga diri hah? Kamu hampir mati.” Mata Denny tajam memandang Indah berdiri di sampingnya.
Melihat Denny, Indah menjadi takut. Reaksi tubuhnya sangat cepat hingga gemetar tidak dapat ditahan. Melihat keadaan itu Denny tersenyum sinis.
Sampai di kamarnya Denny membanting pintu dengan keras.
“Dasar gadia bodoh tidak tahu disayang,” keluh Denny kesal mengetahui keinginan Indah segera pergi darinya.
Sementara Indah masih berdiri gemetar mendengar suara keras pintu kamar Denny. Dia merasa lepas dari mulut Harimau masuk ke mulut Buaya sekarang. Buliran bening kembali mengalir kedua pipinya.
Tak beberapa lama, Denny sudah ke luar dari kamarnya. Indah melihat Denny berpakaian rapi dengan setelan jas membalut tubuhnya. Pakaian itu membuatnya semakin menarik dengan wajahnya yang tampan dan kulitnya yang putih. Dia pergi ke luar meninggalkan Indah tanpa menoleh dan berkata sepatah pun. Terdengar suara irama kode sandi, pertanda pintu dikunci dari luar.
“Aku terkurung dalam apartemen ini sekarang. Tanpa ponsel, aku tidak bisa menghubungi siapa pun.” Keluh Indah mengitari pandangannya ke seliling ruangan.
Di luar apartemen Iqbal sudah menunggu dengan mobilnya. Segera Denny masuk dan mobil pun meluncur di atas aspal hitam.
“Sudah kau siapkan orang berjaga-jaga di apartemenku?” tanya Denny dari belakang.
__ADS_1
“Ya, sesuai permintaanmu. Orang terbaik berjaga-jaga di sana.” Melirik di balik kaca spion.
Terdengar Denny menghembuskan nafas beratnya.
“Apa jadwal kita hari ini?” tanya Denny.
“Nyonya meminta makan malam di rumah.” Jelas Iqbal.
“Apa, hari apa ini?” Denny pun sudah lupa hari karena sangat memperhatikan Indah.
“Hari Sabtu” Jawab Iqbal tersenyum melihat Denny.
“Baik kita ke kantor, malam makan bersama mama.” Denny menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku mobil.
Di apartemen, Indah melamun memikirkan sikap Denny. Karena tidak bisa menemukan jawaban dia pun berjalan melihat-lihat isi apartemen. Indah berdecak kagum melihat seluruh isi ruangan. Sangat berbanding terbalik dengan rumah kontrakan yang tidak ada apa-apanya. Kaki Indah terhenti saat di depan kamar Denny. Dia melirik kamar yang ditempatinya, dan melihat pintu tertutup yang ada di depannya. Indah memegang pegangan pintu.
“Cklek,” pintu terbuka.
Indah mendorong pintu terbuka lebar. Matanya membesar saat melihat isi kamar Denny.
“Wahh, ini kamar apa toko perabot,” ucap Indah.
Langkah kaki membawa Indah masuk ke kamar. Matanya tak berkedip memperhatikan seluruh sudut kamar.
“Ini kamar apa?” guman Indah.
Tangan Indah membuka pintu dan terbuka lalu dia melangkah masuk mengamati dengan dalam.
“Wah, dia memang memperhatikan penampilannya. Semua pakaian, sepatu, ikat pinggang, dasi, jam tangan sampai celana dalam pun merek mahal dan terkenal.” Guman Indah.
“Baiklah, sudah siap melihat-lihatnya.” Indah melangkah ke luar dan menutup pintu.
Indah kembali ke kamar, dan merebahkan tubuh di tempat tidur.
__ADS_1
“Pak Direktur, apa yang kau inginkan, dan mengapa menahanku di tempat ini? Aku sudah rindu kamarku dan suasana di kantor,” lirih Indah.
Lama kelamaan mata Indah tertutup dan diapun tertidur lelap.