Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 82 Perjalanan


__ADS_3

Hai reader, senang sudah singgah di novel aku. Sekarang, cerita babak baru perjalanan kisah cinta Denny. Simak terus kisahnya.


Jangan lupa beri vote, like, cerita favorit dan saran membangun.


Terima kasih.


***********************************************


Matahari menyinari pagi ini dengan cerah. Bik Surtik melangkah masuk ke dalam kamar. Langkah kakinya menuju tirai jendela, lalu menyingkapnya satu persatu. Senyum membingkai di wajah menatap sosok gadis kecil yang terbaring di atas tempat tidur. Perlahan langkah kaki mendekat dan mengamati sepasang mata yang masih tertidur pulas.


“Non, non, non Nia…., bangun sayang.” Suara bibik terdengar lembut membangunkan sambil mengelus pucuk kepala gadis kecil.


“Hemmmmm,” perlahan sepasang mata terbuka dengan berat karena kantuk masih menggantung di kelopak matanya.


“Nona, pagi ini bibik sudah siapkan sarapan yang enak. Nona bangun ya? Kita pergi mandi lalu sarapan.” Ucap bik Surtik membujuk anak majikan kesayangannya.


“Bik, papa sudah bangun?” Bibir mungil itu bertanya dengan malas.


“Sudah Non. Papa non Nia sudah menunggu di bawah.” Jawab Bik Surtik.


“Nia malas bik, tidur lagi aja. Papa mau bawa Nia ke rumah sakit. Hari ini jadwal periksa sama tante Deli. Nia pasti dikasih obat lagi.” Menarik selimut menutupi wajah.


“Non, papa nanti sedih tau non Nia ngak mau pergi berobat.” Bik Surtik mengelus tubuh yang berusaha sembunyi di balik selimut.


“Nia ngak mau, pokoknya ngak mau.” Suara Nia terdengar meninggi. Di kepalanya sudah terbayang rangkaian pemeriksaan yang harus dijalaninya. Ditambah lagi bermacam obat menjadi bekal pulang dan harus diminum setiap hari.


Bik Surtik menatap sedih, dari bayi Dania Fhalisya Prasetyo harus menjalani perawatan. Putri Denny Prasetyo berdasarkan hasil pemeriksaan memperoleh penyakit dari mamanya Hanna Fhalisya Sudrajat. Dirinya harus memperoleh perawatan rutin setiap bulan.


“Nona cantik, papa gendong ya?” Terdengar suara Denny mendekat mendatangi Nia yang masih enggan ke luar dari selimutnya.


Denny memberi isyarat dengan tarikan matanya lantas bik Surtik beranjak melangkah mundur. Denny duduk di tepi tempat tidur, menarik perlahan selimut dan terlihat wajah Nia dengan tatapan sayu.


“Nia sayang, pulang dari rumah sakit kita belanja es krim. Kamu boleh pilih rasa apa aja,” Denny mengelus lembut pipi Nia. Seiring usianya bertambah, Nia semakin mengerti keadaan penyakit yang dideritanya. Denny harus bisa membujuk dan memberi semangat kepada putrinya agar menerima perawatan.


“Pa, Nia boleh minta yang lain, tapi es krimnya juga,” Pinta Nia dengan wajah memelas. Es krim sudah terlalu sering menjadi senjata andalan Denny membujuk Nia. Sekarang dia inginkan sesuatu yang lain.


“Boleh, papa janji akan memberi apa yang Nia mau, setelah kita pulang dari rumah sakit, oke?” Tanya Denny mendapat isyarat kalau Nia sudah luluh dan akan mau ikut bersamanya ke rumah sakit. Denny mengajungkan telapak tangan dengan merapatkan kelima jarinya ke hadapan Nia.


“Oke, Pa.”


“Plak, huuuuh. Tangan Nia menepuk tangan papanya, jari telunjuk keduanya saling bergantian mencolek hidung. Memberikan hembusan di atas telapak tangan sebagai tanda perjanjian di buat antara keduanya.


“Ayo pa, gendong,” Nia bangun dan memeluk Denny erat.


“Baiklah sayang, kamu sekarang mandi dengan bibik.” Denny menggendong Nia, mencium keningnya dan melangkah. Bik Surtik tersenyum melihat tingkah ke duanya.


Denny sangat menyayangi Nia, apa pun akan dia lakukan agar Nia bisa sembuh. Salah satunya mencari pendonor sumsum tulang belakang sampai sekarang belum ada yang cocok.


“Mari Tuan,” Bik Surtik menyambut tubuh Nia dari tangan Denny dan membawanya ke kamar mandi. Keduanya berlalu dari hadapan Denny masuk ke kamar mandi.


Denny melangkah ke luar kamar dan mendaratkan tubuhnya di kursi makan. Matanya tertuju pada ponsel dan terlihat jari telunjukkan menari-nari di atas layar.


Di rumah sakit, tepatnya di ruangan Dokter Deli yang bernuansa hijau. Maklum Deli sangat suka mengoleksi tanaman hias bonsai. Ruang kantornya tertata rapi dan cantik pajangan tanaman hijau. Dia lebih memilih menghabiskan waktu dengan tanaman hias, di sela-sela kesibukannya memeriksa dan merawat pasien kanker.


Tanaman hias diperolehnya selain dengan membeli, ada yang dikasih dan juga hasil barter dengan sesama penggemar tanaman hias. Tidak hanya di kantor, di apartemennya juga bertemankan dengan tanaman hias. Yanti sudah menikah dengan Iqbal dan tinggal bersama. Deli tinggal sendiri di apartemen dan tidak jarang Deli juga bermalam di rumah Denny dengan alasan melihat perkembangan kesehatan Dania.


Matanya mengamati lembaran yang ada di tangan. Garis semyum terlihat dari kedua sudut bibirnya.


“Akhirnya Nia, kita mendapatkannya.” Ucap batin Deli merasa puas melihat dokumen di tangan.


“Tok,


“Tok,


“Tok,

__ADS_1


Terdengar suara pintu diketuk dari arah luar. Deli mengalihkan pandangan ke arah pintu dan melirik jam melingkar di pergelangan tangannya.


“Masuk” ucap Deli mengijinkan orang di luar untuk segera masuk.


Pintu terdorong ke dalam, terlihat seorang lelaki berbalutkan jas hitam dengan menggandeng seorang gadis kecil. Senyum Deli semakin menghiasi wajahnya menatap kedua orang yang datang mendekat.


“Selamat pagi Dania,” ucap Deli menyapa hangat. Gadis kecil yang membuatnya terikat dengan lelaki tampan beberapa tahun ini dan berusaha memilikinya.


“Pagi tante Del,” Dania membalas sapaan Deli dengan tidak semangat. Di kepalanya sudah terbayang akan rasa sakit menerima suntikan di kulit. Lain lagi dengan bekal, kumpulan obat berbagai warna bak pelangi yang harus diminumnya.


Denny melirik Dania, rasa sedih selalu menyelimuti saat-saat harus membawa putri kecilnya datang ke rumah sakit. Orang tua lain lebih banyak membawa dan menemani putri kecil mereka di taman bermain. Sedang dirinya menghabiskan waktu bersama Dania di ruang pengobatan rumah sakit.


Deli beranjak dari kursi kerja dan mendekati Dania.


“Hemmm, gadis cantik tidak baik wajahnya cemberut begitu. Tante ada hadiah untuk kamu,” Deli mengeluarkan sesuatu dari kantong jas putihnya.


“Lolipop, terima kasih tante” senyum mengembang di wajah Dania melihat permen kesukaannya.


Denny tersenyum melihat wajah Dania berubah ceria. Deli memang pandai mengambil hati gadis kecil itu.


Setelah Dania mendapatkan perawatan, berdua langkah kaki mereka meninggalkan rumah sakit.


Di dalam mobil, Dania menikmati permen Lolipop dengan cerianya seakan melupakan beban penyakit yang dideritanya selama ini.


**************


Pandangan Denny tertuju ke jalanan di hadapannya. Ucapan Deli masih membekas di kepala, rasa gembira menerkam dirinya. Seorang pendonor telah berhasil didapat, pemeriksaan akan dilakukan untuk mencocokkan tipe jaringan. Denny berharap pemeriksaan berhasil dan Dania bisa secepatnya melakukan operasi.


“Pa, papa,” Dania menatap wajah papanya yang tersenyum-senyum sendiri.


“Hem, iya sayang,” Denny menarik wajahnya menoleh ke Dania yang asik menikmati Lolipop.


“Kita ngak jadi belanja es krim, tapi Nia mau sesuatu,” ucap Dania enteng dengan mulut mengemut Lolipop.


“Kita pergi bersama ke Jepang. Di sana ada perlombaan puzzle, Nia mau lihat langsung,” Dania menatap lekat wajah papanya. Selama ini Dania sangat menggemari permainan puzzle. Saat melihat iklan perlombaan puzzle Internasional di akun miliknya Nia tertarik ingin pergi.


“Ke Jepang? Puzzle?” Denny melipat keningnya saat mendengar permintaan Dania.


“Hemmmm, iya Pa, lombanya dua hari lagi. Nia ingin pergi, papa udah janjikan akan kabulkan permintaan Nia.” Dania memasang wajah memelas, meminta papanya menepati janji yang sudah dibuat bersama.


“Baiklah, kita akan pergi ke Jepang.”Denny tidak sanggup melihat putrinya bersedih. Permintaan Dania dikabulkan begitu saja, sedangkan dua hari lagi waktu pemeriksaan pendonoran.


“Yeeee, kita pergi. Terima kasih Pa, Dania sayang papa.” Sebuah pelukan hangat mendarat di tubuh Denny. Dania sangat bahagia bisa melakukan perjalan.


Denny pun merangkul erat tubuh gadis kecil kesayangannya.


**********************


“Dringgg,


“Dringgg,


“Dringgg,


Suara jam beker memenuhi ruangan kamar memekakkan telinga. Sebuah tangan terulur menggapai jam yang duduk di atas meja. Sekali hentakan menghentikan deringan jam.


Tubuh kecil beranjak dari tempat tidur, berlari tergesa-gesa ke luar kamar. Menuju sebuah kamar yang lebih besar dari sebelumnya. Mendorong pintu hingga terbuka, terus berlari masuk dan menaiki tempat tidur.


“Pa…,Pa…., Papa, bangun.” Tangan kecilnya mendorong-dorong tubuh yang masih tertidur. Gerakan tangannya makin cepat, mengamati wajah di hadapannya tidak juga membuka mata.


“Wahaaa, haaa, haaa,” mulut kecil itu tertawa lepas tidak tahan merasakan geli menjalar di tubuhnya.


“Pa geli, ampun pa.” Seketika tubuhnya dipeluk erat dan dirangkul dalam pelukan hangat.


“Kamu pasti sudah tidak sabar akan berangkat ya?” Tanya Denny mencium pipi Dania karena hari ini mereka akan melakukan perjalanan. Denny sudah meminta Deli mengundurkan jadwal pemeriksaan setelah mereka pulang. Deli setuju dan dia juga turut serta dalam perjalanan itu karena kesehatan Dania, tapi alasan lain juga ingin bersama-sama dengan Denny.

__ADS_1


“Iya, Pa. Nia ingin segera sampai di sana,” Jawab Dania dengan mengalungkan kedua tangannya ke leher Denny.


“Oke, kalau begitu kita siap-siap sekarang.” Denny beranjak dari tempat tidur bersama Dania dalam gendongannya. Denny membawa Dania kembali ke kamarnya.


“Non, non, nona Dania, di mana? Jangan ngumpet Non,” Suara Bik Surtik memanggil Dania. Bik Surtik ke liling kamar mencarinya saat melihat Dania tidak ada di tempat tidur.


“Bik, Dania bersamaku. Ini dia, sekarang bantu dia bersiap-siap, kami akan segera berangkat.” Ucap Denny menyerahkah tubuh Dania yang bergelayut di gendongannya.


“Bik, ayo cepat kita bersiap,” ucap Nadia menatap bik Surtik yang masih bengong menatap keduanya.


“Iiya, tuan. Saya kira nona hilang, saya mencarinya di seluruh kamar tetapi tidak ketemu,” ucap bik Surtik tersadar dari lamunannya.


“Ha..ha…ha…, Nia di kamar papa loh bik, ngak kemana-mana,” Nia tertawa mendengar bik Surtik bingung mencarinya.


Bik Surtik hanya bisa tersenyum melihat Nia mentertawainya. Lalu membawanya ke kamar mandi, berdua mereka berlalu dari hadapan Denny. Senyum Denny menghias di wajahnya melihat bik Surtik dan Nia, dia pun melangkah meninggalkan kamar Nia.


***********


Perjalanan Ke Negeri Sakura memakan waktu 6 jam. Pesawat mendarat di bandara Haneda pada malam hari. Denny menggendong Nia yang masih mengantuk turun dari pesawat, karena selama penerbangan Nia tidak bisa tertidur. Deli berjalan di samping Denny, sampai di depan bandara, seorang sopir datang menghampiri.


“Tuan, mobil sudah menunggu,” ucap sang sopir sambil menundukkan kepala. Terlihat dua orang lelaki berbadan besar berjas hitam mengapit sang supir.


“Hem,” Denny menganggukkan kepala. Sang sopir pun mengarahkan jalan ke mobil. Ke dua lelaki mengangkat tas-tas koper masuk ke dalam bagasi mobil lainnya. Denny dan Deli masuk ke dalam mobil dan meninggalkan bandara.


Tidak lama mereka sudah tiba di hotel yang terletak di pusat kota Tokyo. Pelayan kamar hotel mengantar meraka ke masng-masing kamar. Denny memesan kamar terpisah, dia bersama Nia dan Deli seorang diri di kamar lainnya.


Denny membaringkan perlahan tubuh Nia di atas tempat tidur. Tangannya terasa kebas dan pegal karena terlalu lama menggendong Nia. Denny berjalan ke balkon kamar, sambil merenggangkan tangannya memandang pemandangan kota Tokyo di malam hari.


Seharusnya mereka tidak tiba di malam hari, karena terhalang pekerjaan mendadak yang harus diselesaikan. Denny meminta Iqbal mengundurkan perjalan pada jam sore. Denny menggunakan pesawat jet pribadi, maka dengan mudah bisa mengatur ulang jadwal kepergiannya. Dania sempat kesal karena dia sudah bersiap dari pagi dan akan terlambat menyaksikan pembukaan perlombaan. Denny berhasil membujuknya dengan memesan hotel tempat perlombaan berlangsung, walaupun dia tidak setuju karena hotel akan ramai pengunjung dan membuat keadaan kurang nyaman.


Terasa udara dingin menyerang tubunya, Denny melangkah masuk dan duduk di sofa. Seketika matanya terpejam, rasa lelah mendera membuatnya mengantuk.


Perlahan kelopak mata Nia terbuka, ternyata dia sudah bangun dari tadi dan berpura-pura tidur. Menyadari Denny tertidur, Nia bangun, beringsut dari tempat tidur takut Denny terjaga dan meraih tas kecil di atas meja. Melangkahkan kaki mengendap-endap menuju pintu dan ke luar dari kamar.


Denia terus berjalan di lorong kamar, matanya melihat lift dan dengan cepat kakinya mendekat. Menekan tombol dan menunggu. Denting suara lift berbunyi dan terbuka. Mata Nia menatap seorang anak lelaki berusia lebih tua darinya berdiri di dalam. Mata anak lelaki itu menatap Nia yang hanya berdiri terpaku. Pintu lift perlahan tertutup, dengan cepat jari Nia kembali menekan tombol dan pintu kembali terbuka. Anak lelaki itu masih berada di sana dan memberikan tatapan aneh.


Nia memberanikan diri melangkah masuk dan memegang erat tas yang terselempang di dadanya.


Pintu litt tertutup dan kembali berjalan. Nia berdiam diri tanpa berani menoleh, baginya baru kali ini pergi sendiri tanpa ada yang menemani.


“Orang tua macam apa yang membiarkan anak kecil pergi seorang diri semalam ini,” terdengar pelan kata-kata keluar dari mulut anak lelaki.


“Hem?” Nia menoleh dan berusaha mencerna apa yang sudah didengarnya.


“Kau mengerti apa yang ku katakan?” Bertanya tanpa menatap Nia.


“Apa?” Tanya Nia tidak begitu jelas mendengarkan.


“Mengapa kau berjalan seorang diri, orang tuamu di mana?” Menoleh menatap Nia dan mengulang kembali kalimat dengan lebih memperjelas.


“Ayahku sedang tidur di kamar saat aku tinggalkan,” Balas Nia.


“Ibumu?” Tanya lagi.


“Mamaku sudah tiada, aku hanya ada papa,” Jawab Nia dengan tersenyum.


“Lebih baik kau kembali, ayahmu pasti akan khawatir begitu tahu kau tidak ada di kamar,” Ucap anak lelaki mengingatkan Nia.


“Aku hanya ingin melihat pertanding puzzle, papa pasti akan menyuruhku tidur kalau aku kembali. Aku sudah melewatkan pembukaan perlombaan. Pertandingan awal pasti sudah dimulai,” ucap Nia sedih.


Anak lelaki itu menatap mata Nia yang sudah berkaca-kaca. Pintu lift pun terbuka, kaki anak lelaki itu melangkah ke luar.


“Ayo ikut dan jangan jauh dariku,” ucap anak lelaki dengan mengulurkan tangan, menatap Nia yang sudah berlinang air mata.


Nia tanpa rasa ragu-ragu dan takut menyambut uluran tangan dan memegangnya lalu berjalan mengikuti langkah kaki anak lelaki di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2