
Di pagi hari, Hanna terbangun dengan tubuh sangat lemah, kepalanya pusing dan serasa ada sesuatu yang menguncah perutnya sehingga dia ingin muntah. Hanna menatap Denny yang masih terbaring di sampingnya. Hanna tak sanggup menahan mual, lalu segera beranjak dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi , Hanna menundukkan kepala di hadapan kloset. Mengeluarkan cairan bening hingga kuning yang sangat asam dari dalam mulutnya.
“Huweek, heweek, huweek,” Rasa pusing dan mual masih menahan Hanna berjongkok di depan kloset.
Samar Denny mendengar suara dari arah kamar mandi, perlahan Denny membuka kelopak mata dan duduk di tempat tidur. Melihat Hanna tidak ada di samping, dia pun melompat dari tempat tidur. Berjalan tergesa ke kamar mandi dan mendapati Hanna muntah-muntah di kloset.
“An, kamu sakit?”Tangan Denny mengurut leher bagian belakang Hanna. Melihat wajah Hanna putih pucat Denny sangat khawatir.
“Kepalaku pusing dan Huweek, Huweek,” Hanna tak mampu menyelesaikan kata-kata, rasa mual menariknya kembali muntah di kloset.
Tubuh Hanna lemas, Denny pun memapahnya membawa ke tempat tidur dan membaringkan Hanna.
“Berbaringlah aku akan mengambil air hangat,” Denny berlari ke luar kamar. Perasaannya diselimuti khawatir, Hanna tidak pernah sakit sebelumnya.
Bik Surtik heran melihat Denny, lari ke dapur mengambil gelas dan menuangkan air hangat ke dalamnya.
“Tuan, saya tidak melihat nyonya, apa nyonya baik-baik saja?” Tanya Bik Surtik melihat Denny masih menuangkan air hangat.
“Hanna tidak sehat Bik, dia pusing dan muntah-muntah di kamar,” Denny menjawab tanpa melihat bik Surtik dan berjalan menuju kamar.
“Nyonya pusing dan muntah-muntah, apa nyonyaaaa?” Bik Surtik terkejut dan menutup mulut dengan kedua tangannya.
“An, minumlah, mungkin ini bisa membuatmu lebih baik,” Denny membantu Hanna duduk dan merapatkan gelas ke bibir Hanna.
Air masuk ke mulut Hanna, baru seteguk melewati kerongkongan, tangan Hanna menepis gelas. Lalu buru-buru lari ke kamar mandi.
“Huweek, Huweek, Huweek,” Hanna kembali muntah, walaupun tak ada yang dikeluakan dari mulutnya. Tapi rasa mual tetap memaksa mengeluarkan isi perutnya.
Denny meletakkan gelas di nakas dan berjalan menghampiri Hanna. Tangannya mengelus perlahan tubuh belakang Hanna. Tubuh Hanna terduduk lemas, dan Denny pun menggendongnya membawa ke tempat tidur.
“Kita ke dokter, kamu harus diperiksa. Aku akan meminta Bik Surtik membantumu bersiap-siap. Aku harus memberitahu Iqbal kalau datang terlambat karena membawamu ke rumah sakit.” Denny menggenggam tangan Hanna yang terasa dingin. Denny khawatir melihat Hanna yang kelemasan.
“Hemm, tunggu sebentar Mas,” Dengan lemah Hanna berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam laci meja nakas. Lalu melangkah masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya.
“Kenapa dengan Hanna, apa dia mau muntah lagi?” Denny mengernyitkan keningnya melihat Hanna masuk kembali ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Hanna mengamati alat test pack di tangannya. Alat itu sudah dibeli dua hari yang lalu. Dia membelinya karena waktu datang bulan sudah sangat terlambat. Hari ini tubuhnya sangat tidak bersemangat, kecurigaannya muncul kalau dia hamil. Hanna telah meneteskan sedikit air seni miliknya dengan pipet. Jantung Hanna berdebar kencang saat matanya menatap hasil yang akan muncul dari alat tes. Perlahan muncul warna biru pada alat tes dengan tanda tambah, jantung Hanna terasa mau lompat ke luar.
“Aku hamil, Tuhan, Aku hamil, Terima kasih Tuhan,” Hanna menutup mulutnya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya masih memegang alat tes. Bulir air bening menetes dari sudut matanya.
Denny menunggu di depan pintu kamar mandi dengan wajah khawatir, Hanna tidak juga muncul ke luar.
“An, kamu ngak pa-pa?” Denny berusaha membuka pintu dengan menekan gagang pintu berkali-kali.
__ADS_1
Terdengar suara kunci pintu dibuka dari dalam, Denny perlahan mendorong pintu. Terlihat Hanna berdiri di balik pintu dengan air mata mengalir menatap Denny.
“An, kamu kenapa?” Denny menarik Hanna dan memeluknya.
“Mas, aku hamil,” Suara Hanna terdengar serak menahan tangis.
Mata Denny membesar, terkejut mendengar perkataan Hanna. Melepas pelukannya dan menatap Hanna dalam.
“Apa, kamu hamil?” Tanya Denny meyakinkan yang baru didengarnya.
“Hemm,” Hanna menatap mata Denny dan menganggukkan kepala.
“Terima kasih, Tuhan, Terima kasih Hanna, Aku menyayangimu,” Denny mencium kening Hanna dan air mata keluar dari sudut matanya. Berdua mereka berpelukan dan menangis dalam haru kebahagiaan.
“Ayo, kamu siap-siap, kita tetap ke rumah sakit, aku mau kamu diperiksa dan minta obat untuk menghilangkan mual. Aku tidak ingin kamu muntah-muntah terus. Nanti kesehatan kamu dan calon bayi kita terganggu.” Denny menangkup wajah Hanna dengan kedua tangannya dan kembali mencium keningnya.
“Iya Mas, aku mandi duluan, kamu katanya mau nelpon Iqbal,” Hanna mengingatkan Denny yang masih berdiri menatap wajahnya dalam.
“Hemm, baiklah kamu mandi dulu, kemudian baru aku,” Denny mengusap pucuk kepala Hanna dan tersenyum. Berbalik meninggalkan Hanna di kamar mandi dan meraih ponsel di meja nakas.
Hanna pun tersenyum bahagia merasakan sikap Denny yang hangat mengetahui dirinya hamil. Lalu Hanna membersihkan diri bersiap-siap akan pergi ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Denny dan Hanna di dalam ruangan dokter Aliya yang tak lain adalah istri dokter Harun sahabat Denny. Hanna masih terbaring di tempat tidur, tangan doter Aliya mengerak-gerakkan alat pendeteksi janin. Sedangkan mata Hanna menatap layar USG.
Selagi Hanna merapikan pakaiannya, Aliya ke ke luar dari ruang pemeriksaan dan duduk di kursi kerja. Terlihat Denny duduk menanti informasi hasil pemeriksaan.
“Ini hasil dari foto USG calon bayi kalian berdua,” Aliya memberikan dua buah foto hasil USG ke pada Denny. Walau pun Denny tidak paham melihat hasil foto tersebut, dirinya sangan gembira mengetahui kepastian kehamilan Hanna.
Hanna datang menghampiri dan duduk di samping Denny.
“Berikan dia obat untuk penghilang pusing dan mual,” wajah Denny serius menatap Aliya. Dia tidak ingin Hanna mengalami muntah-muntah kembali seperti pagi ini.
“Pusing dan mual-mual itu biasa, karena pengaruh perubahan hormon pada masa-masa awal kehamilan bagi ibu hamil. Jadi saya hanya bisa memberikan vitamin supaya asupan gizi bagi Hanna dan bayi tidak berkurang.” Aliya tersenyum melihat kekhawatiran Denny.
“Sampai berapa lama Hanna harus mengalami mual-mual,” tanya Denny lagi menatap Hanna dan Aliya bergantian.
“Sekitar tiga atau empat bulan, dan juga masa-masa kehamilan, jaga ketenangan perasaan dan jangan banyak pikiran karena akan mempengaruhi kondisi kesehatan janin.” Aliya menjelaskan dengan tenang dan sabar melihat pasangan di depannya yang baru mengalami punya calon bayi.
Denny telihat mengangguk-anggukkan kepala mencoba mencerna penjelasan.
Setelah selesai dari rumah sakit, Denny dan Hanna tidak pulang ke rumah. Dia ingin membawa Hanna ke suatu tempat.
“Mas, kita mau ke mana?” tanya Hanna melihat jalanan yang tidak menuju arah pulang.
__ADS_1
“Aku ingin kita mengunjungi mama, dan memberitahukan kabar gembira ini,” jawab Denny yang meraih tangan Hanna dan menggenggamnya erat. Hanna pun tersenyum dan mengusap lembut punggung tangan Denny.
Setelah lima belas menit perjalanan, mobil berhenti di halaman parkir rumah mama Denny. Berdua mereka ke luar dari mobil dan melangkah masuk ke rumah.
Hanna dan Denny di sambut pelayan, tak terkecuali Pak Jung.
“Selamat siang tuan dan nyonya Hanna,” sapa Pak Jung ramah menerima kedatangan Denny dan Hanna.
“Siang, Pak Jung,” Jawab Denny dan Hanna hanya membalas dengan senyuman menatap Pak Jung.
“Mama di mana Pak Jung?” Mata Denny mengitari ruangan dan tidak mendapati mamanya.
“Nyonya besar di kamar tuan,” Jawab Pak Jung, mengingat mama Denny setelah sarapan kembali ke kamar dan belum ada turun setelah itu sampai sekarang.
“Kami akan ke kamar mama,” Denny menarik tangan Hanna melangkah ke kamar mamanya tanpa menunggu jawaban dari Pak Jung.
Sampai di depan pintu kamar, Denny mengetuk pintu terlebih dahulu. Walaupun mamanya sendiri, Denny terbiasa mengetuk pintu kamar sebelum masuk.
“Tok, Tok, Tok,” Mama Denny yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil membaca buku, mendengar pintu di ketuk dari luar. Lalu matanya beralih ke pintu.
“Ya, masuk,” terdengar suaranya memberi izin orang di luar untuk masuk.
Denny meraih gagang pintu, lalu mendorong pintu hingga terbuka. Denny dan Hanna melangkah masuk.
“Denny, Hanna, kalian datang? Kenapa tidak beritahu mama terlebih dahulu.” Mama Denny turun dari tempat tidur lalu menghampiri Denny yang memberinya kecupan di pipi. Hanna memeluk mama Denny dan mendaratkan ciuman di pipi.
“Kalian tidak buru-burukan, kita makan siang bersama ya?” Mama Denny menatap Denny dan Hanna bergantian, menunggu persetujuan mereka. Sudah hampir sebulan Denny dan Hanna tidak berkunjung ke rumah mama. Jadi rasa rindu melanda dirinya ingin berlama-lama dengan mereka berdua.
“Ma, Hanna hamil,” Denny tidak ingin menunggu lama memberitahukan kabar gembira ke pada mamanya.
“Apa, Hanna hamil?” Mama Denny terkejut mendengar perkataan putranya yang tidak memberikan isyarat apa pun langsung mencetuskan isi hatinya.
“Iya, Ma. Hanna hamil,” Hanna menganggukkan kepala membenarkan ucapan Denny menatap wajah mama Denny yang terlihat sangat terkejut.
“Selamat sayang, akhirnya kabar gembira yang mama nanti-nanti datang juga,” Mama Denny menarik tubuh Hanna dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. Hanna pun sangat gembira bisa mempersembahkan calon cucu kepada ibu mertuanya .
Tak terasa airmata mama Denny menetes dari sudut matanya.
“Terima kasih Tuhan, Kau mengabulkan permintaanku. Walaupun aku harus mengorbankan kebahagiaan yang lain. Tapi aku tidak menyesal, aku mempertanggung jawaban perbuatanku kepada-Mu,” Mama Denny berkata-kata dalam hatinya, sambil mengelus-elus tubuh belakang Hanna.
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Hai readers, terima kasih sudah baca novel aku. Author sangat senang, apalagi memberikan banyak like. Author jadi semakin semangat menulis. Author juga berharap readers memberikan masukan di kolom komentar. Sekali lagi, Terima Kasih dan tetap semangat bagi yang menjalankan ibadah puasa.
__ADS_1