
Di ruang perawatan, terdengar suara Iqbal perlahan memanggil-manggil nama Saka berusaha menyadarkan tubuh yang diam tenang dengan mata tertutup rapat. Kedua tangannya menggoyang-goyang tubuh kecil yang tak berdaya, berkali-kali mengalihkan pandangan ke arah pintu, mengharap pertolongan segera datang.
Terdengar perlahan dan semakin kuat dari dalam ruangan, hentakan sepatu menyentuh lantai yang tidak beraturan terus mendekati ruangan.
“Srekk,” pintu terdorong ke dalam.
Joshua menatap dan terus melangkah mendekati tempat tidur, matanya menatap dalam Saka, dengan tak memperdulikan seorang lelaki yang terlihat cemas berdiri di dekatnya.
Tangan Joshua menyambar senter kecil di dalam saku baju, satu tangannya memicingkan kelopak mata Saka dan kemudian satunya lagi memain-mainkan cahaya ke dalamnya. Menekan perlahan pipi Saka dan terlihat mulutnya terbuka, dengan teliti Joshua mengamati rongga di dalamnya dengan bantuan cahaya senter.
Hendrik menarik mundur tubuhnya, membiarkan dokter memberikan tindakan kepada Saka. Ekor matanya menangkap kedatangan Jesika dengan Denny menggenggam pergelangan tangannya. Hati Hendrik menghangat seketika, melangkahkan kaki mendekat dan menarik tangan Jesika membawanya ke dalam dekapan.
Seketika Denny melepaskan tangan Indah, terus melangkah mendekati Saka. Saat ini pikirannya hanya terpenuhi kecemasan dengan keadaan putra yang baru dia kenal.
Jesika menenggelamkan wajahnya di dada Hendrik, pikirannya tidak tenang. Matanya tidak sanggup menatap Saka yang masih terbaring diam dan tidak sadarkan diri.
“Bagaimana Saka, Hen? Apa yang sudah terjadi dengannya? Aku tidak bisa hidup, kalau terjadi sesuatu dengan putraku Hen?” Tangis Jesika tumpah dan tubuhnya bergetar tak bisa menahan ketakutan yang menggantung di kepalanya.
“Hei, look me, he will be oke. Don’t worry, his strong boy. Tidak akan terjadi apa-apa dengannya, percayalah,” Hendrik berusaha menenangkan Jesika, tangannya mengusap perlahan pucuk kepala Jesika.
“Tuan Denny. Kita harus cepat bertindak, sebelum tumor itu semakin menekan otak kecilnya.” Joshua menatap Denny, kedua mata mereka menyatu.
“Lakukan yang terbaik,” jawaban singkat penuh makna ke luar dari mulut Denny.
Joshua menyentuh tombol merah yang menempel pada dinding sisi atas kepala tempat tidur.
“Tut, Tut, Tut….” Suara yang keluar setelah tombol ditekan.
__ADS_1
Jesika mengangkat wajahnya menatap wajah Hendrik di hadapannya. Mendorong tubuh Hendrik dan menghayunkan langkah cepat ke Joshua.
“Suara apa itu, apakah kau yang melakukannya? Apa yang ingin kau lakukan pada putraku?” Jesika menatap cahaya merah berkelap-kelip pada sebuah tombol kecil di dinding dan bertanya kepada Joshua.
Joshua melemparkan tatapan ke wajah Denny, terlihat anggukan kepala memberikan sebuah isyarat.
Denny menyapu kasar wajahnya dan melangkahkan kaki meninggalkan ruangan.
Jesika semakin bingung, sambil menatap tubuh belakang Denny yang pergi.
Hendrik pun tak kalah dibuat bingung, reaksi kecemasan sangat terlihat di wajahnya melihat dokter menarik nafas dalam sebelum menguraikan kata-kata dari mulutnya.
Jesika lemas, ke dua kakinya tak mampu berdiri kuat menahan tubuhnya. Hatinya seketika hancur, rasa kesakitan bersembunyi di sana. Hendrik dengan sigap menahan tubuh lemah Jesika.
“Kau bercandakan Dokter? Tidak mungkin Saka sakit, dia baik-baik saja. Kau pasti salah dokter.” Tangan Jesika meraih baju Joshua sambil menarik-narik, dia tidak menerima kenyataan yang ada dihadapannya saat ini.
“Nyonya harus tenang, kesembuhan putra anda yang paling utama. Tugas saya membantu kesembuhannya, dia harus segera mendapat tindakan sekarang. Tidak ada waktu lagi sebelum semuanya benar-benar terlambat.” Joshua memegang tubuh Jesika, berusaha membuat berpikiran jernih dan menenangkannya.
“Dokter, aku harus bagaimana?” Jesika menatap bergantian Joshua dan Hendrik. Saat ini dia benar-benar sangat takut dan cemas.
“Nyonya temui tuan Denny, operasi ini juga bergantung dengannya. Putra Anda memerlukan darahnya, darah mereka berdua sama dan langka. Kami tidak memiliki persediaan yang cukup, hanya dia yang bisa kita harapkan.” Joshua melangkah meninggalkan ruangan setelah menjelaskan semua yang dianggapnya perlu diketahui oleh keluarga pasien.
Jesika berjalan lemah dan mendaratkan tubuh di sofa. Menangis dan menutupi wajah dengan kedua tangan. Hendrik mendekat dan duduk berdampingan. Hatinya sangat sedih melihat Jesika dan Saka yang saat ini sedang berjuang untuk kesembuhannya.
“Aku akan menemuinya, kau tunggu saja di sini.” Hendrik beranjak bangun dan menghayunkan langkah tapi terhenti saat tangannya tertahan tarikan tangan Jesika.
“Jangan, aku sendiri yang akan datang padanya.” Jesika teringat kata-kata yang pernah dia dengar dari mulut Denny. Jesika menduga kalau Denny sudah bertindak mencari informasi tentang Saka dan dirinya. Juga Denny sudah mendapatkan informasi yang dia butuhkan sampai mengetahui penyakit diderita Saka yang dia sendiri tidak mengetahuinya.
__ADS_1
Jesika berdiri, menyeka air bening yang menghiasi wajahnya dan berdua mereka melangkah perlahan ke luar ruangan. Hendrik menuruti keinginan Jesika, dia memilih menunggu di ruang tunggu operasi sesuai permintaan Jesika walaupun hatinya tidak tenang membiarkan Jesika seorang diri menemui Denny.
Jesika terus melangkah dan matanya mencari-cari sosok yang sangat ingin ditemui. Bukan untuk dirinya tapi untuk putra yang sangat disayangi. Jangankan tubuh Denny, bahkan bayangannya pun tidak tampak.
“Kemana dia sembunyi sekarang? Apakah ini saatnya dia ingin membalas sikapku?” Hati Jesika berkata-kata sambil terus melangkah dan menolehkan wajah ke kiri dan ke kanan.
“Permisi, apakah anda bisa membantu saya?” Tanya Jesika pada seorang perawat laki-laki yang melenggang di hadapannya.
“Iya, ada yang bisa saya bantu nyonya?” Balas sapa perawat itu dengan ramah.
Jesika menjelaskan ciri-ciri seorang yang dicarinya dengan rinci dan jelas. Dia tidak susah menggambarkan perawakan Denny, karena dia sendiri tidak bisa melupakan lelaki itu, dan tidak banyak perubahan yang terjadi pada diri Denny bahkan terlihat lebih dewasa setelah sepuluh tahun berpisah.
“Oh, mari saya antarkan, kalau tidak salah orang yang nyonya cari ada di ruang C 1.” Jelas perawat itu dengan senyum menggaris di bibir.
“Terima kasih.” Jesika melangkah bersama perawat menuju ruangan.
“Silahkan nyonya, dia ada di dalam.” Sampai di depan pintu ruangan, perawat itu meninggalkan Jesika dan pergi melanjutkan langkahnya.
Jesika melirik tulisan yang tertera di dinding ruangan, sesuai dengan yang diucapkan perawat lelaki. Jantungnya berdetak cepat, perasaannya saat ini berkecamuk tidak tenang. Kenangan sepuluh tahun silam kembali terbayang jelas di kepalanya, saat dirinya memutuskan meninggalkan Denny. Mengambil keputusan merubah jati diri menjadi seorang bernama Jesika.
“Apakah sekarang aku harus mengakhiri semua?” Jesika berucap sambil menarik nafas panjang dan dalam.
Perlahan tangannya menggapai pegangan pintu, membuka dan mendorong ke dalam. Pintu terdorong, terbuka lebar. Terlihat olehnya seorang lelaki duduk di atas tempat tidur dengan tangan satunya menekan pergelangan tangan yang lain. Mata keduanya saling bertemu tanpa ingin mengalihkan tatapan ke arah lain.
Assalamu'alaikum, hai readers. Semoga semua yang baca tulisan aku dalam keadaan sehat selalu dan yang terpenting dalam lindunganNya.
Aku, coba menulis kembali cerita yang lama terhenti. Maaf, dengan segala kondisi dan situasi yang aku alami.
__ADS_1
Semoga readers masih setia membaca karyaku ini.
Aku ucapkan terima kasih, jangan lupa like yang banyak ya...