
Indah terus berjalan meninggalkan Hendrik, tanpa menoleh ke belakang. Hatinya tidak senang dengan sikap Hendrik. Dia marah, Hendrik bersikap tidak sopan. Hendrik semakin mempercepat langkahnya mengejar Indah.
“In, tunggu, kamu kenapa?” menarik tangan Indah.
“Yang harus bertanya itu aku Hen, kamu kenapa?” tanya Indah marah.
“Oke-oke, sorry, kalau kamu marah dengan sikap aku,” menyatukan kedua tangannya meminta maaf.
“Kamu merasa aku marah, apa tujuanmu, hah?”
“Sorry, aku ngak punya maksud apa-apa,” jelas Hendrik.
“Kamu ngak punya perasaan Hen, kamu pikir aku wanita apa?” mata Indah berkaca-kaca.
“In, aku sungguh-sungguh minta maaf sudah menyakiti kamu, aku tadi hanya ingin mengetahui perasaan Hanna sama aku. Jadi, aku manfaatin kamu. Aku menyukainya. Aku tidak akan melakukan itu lagi ke kamu. Aku janji,” Hendrik menatap wajah Indah.
“Apa, kamu menyukai Hanna, Jadi karena itu?” Tanya Indah tidak percaya.
Hendrik menganggukkan kepala.
“Jadi dia tahu, kalau kamu suka dia?” tanya Indah kembali.
“Aku harap begitu,” wajah lesu.
“Hen, maafin aku ya. Aku udah pikir yang macam-macam sama kamu. Tapi bukannya dia menyukai Pak Denny?” ucap Indah.
“Iya, balas Hendrik.
“Kenapa Hanna? Saingan kamu berat Hen, mama Pak Denny sepertinya sangat menyukainya. Bahkan Pak Denny juga.” Jelas Indah, sambil membayang tangan Hanna merangkul lengan Denny di dalam lift terlihat sangat serasi.
“Tidak masalah, aku akan terus mencoba. Bagiku cinta harus diperjuangkan walau sesulit apapun. Kamu udah ngak marah lagikan?” tanya Hendrik penuh harap.
“Dengan satu syarat,” menunjukkan jari telunjuk.
“Jangankan satu, In, sepuluh pun akan ku kabulkan,” memegang jari telunjuk Indah.
“Jangan pernah berbuat tidak sopan lagi,” menarik jarinya dan mendorongkan wajahnya ke hadapan Hendrik.
Jantung Hendrik seketika berdetak kencang. Wajah Indah sangat manis dilihatnya bertingkah seperti itu. Dia berusaha menahan gejolak batinnya.
“Baiklah, aku janji tidak akan melakukannya. Sekarang, kamu tidak marahkan?” Senyum memandang wajah Indah.
Hem, yuk kita pulang,” ajak Indah.
“Siap, lets go,”melangkahkan kaki.
__ADS_1
“In, maafin aku.” Bisik hati Hendrik menatap wajah Indah di sampingnya.
Hendrik merasa bersalah sudah membohongi Indah. Dia ingin berterus terang mengungkapkan perasaannya. Tapi dia belum siap menerima kenyataan kalau akan mendapat penolakan. Mobil pun meluncur membawa mereka berdua.
“Kenapa kau gampang dipegang dia?” Bisik batin Denny kesal.
“Apa kabar Denny?” Tanya Pak Sudrajat menatap Denny.
“Baik Om, dan Om sendiri terlihat sangat sehat.” Balas Denny.
“Ha…Ha…, Ha…, Ya Om merasa sangat sehat. Bagaimana kabar mama, Om belum bisa berkunjung. Tapi sudah ada Hanna menggantikan Om di sini.”
“Tante sehat, dan sangat menunggu kedatangan Papa. Iyakan Mas?” Ucap Hanna manja merangkul Papanya menatap Denny.
“Maaf Om, tidak menjemput ke bandara. Kami tidak dapat informasi kedatangan Om hari ini ke Jakarta.” Ucap Denny mengalihkan pembicaraan.
“Iya, Papa sengaja buat kejutan. Tadi malam Papa sudah berada di hotel. Untung Hanna kembali dari rumah tante Rantih.” Kembali Hanna berujar.
“Ha…,Ha…, Ha…, Hanna kamu sangat dekat dan bahagia bersama Mama Denny. Papa juga berharap Denny mempunyai perasaan yang sama. Jadi Om bisa melepaskan Hanna, putri kesayangan Om ini menjadi menantu keluarga Prasetyo. Bagaimana Denny, kamu bersedia?” Menatap Hanna dan Denny secara bergantian.
Denny terkejut mendengar ucapan Papa Hanna. Tidak pernah berterus terang seperti itu sebelumnya mengenai urusan perasaan putrinya.
“Om, …,”
“Iqbal, kamu tidak berubah. Perutmu selalu mengganggu disaat yang tidak tepat.” Ucap Hanna dengan mencibir bibirnya.
“Ha…, Ha…, Ha…, baiklah kita pesan makanan dan Om juga sudah lapar .”
“Maaf , saya sudah memesannya terlebih dahulu. Sekaligus menyambut kedatang Om, saya harap menyukainya.” Balas Denny dengan wajah tersenyum.
“Iya, tidak masalah. Om senang, kamu perhatian dan penuh pertimbangan. Itu bagus untuk seorang pebisnis.
Iqbal berdiri dan menepuk tangan memberi isyarat kepada pelayan. Para pelayan langsung berdatangan dengan membawa berbagai makanan.
“Bagus Iqbal, untuk sementara aku bisa menghindar. Saranmu memesan makanan sebelum tiba ke sini menolong masalahku,” Ucap batin Denny dengan wajah tersenyum menatap Papa Hanna.
Makanan telah tertata di atas meja.
“Silahkan Om,” Ucap Denny ramah.
“Iya, terima kasih.” Balas Papa Hanna.
Mereka pun mulai menikmati makanan. Denny melempar senyuman ke arah Iqbal. Sambil mengejapkan mata, Iqbal tersenyum membalas tatapan Denny.
Sesekali terdengar pembicaraaan disela-sela menyantap hidangan. Iqbal berusaha mengarahkan pembicaraan santai dan Denny menyelingi diskusi bisnis ringan.
__ADS_1
“Mas, kamu pandai mengalihkan pembicaraan Papa. Tapi aku tidak akan menyerah.” Bisik batin Hanna dengan wajah tersenyum menatap Denny.
Selesai menikmati makanan.
“Om, terima kasih waktunya dan kami harus kembali ke kantor sekarang,” Ucap Denny.
“Baiklah, Om dan Hanna juga akan kembali ke hotel. Om ingin beristirahat.” Balas Papa Hanna.
“Kalau begitu, mari Om silahkan. Kami akan mengantar sampai ke depan.” Ucap Denny dengan ramah.
Mereka berempat beranjak pergi meninggalkan restoran.
Di dalam mobil Denny.
“Hanna mungkin sudah mengungkapkan perasaannya ke pada Papanya. Mungkin dalam waktu dekat, Nyonya Besar akan membicarakan masalah ini. Apa rencanamu?” Ucap Iqbal melirik kebisuan Denny duduk di kursi belakang.
“Aku tidak tahu.” Balas Denny mengeluarkan nafas beratnya.
“Kalau kau menyukai Hanna itu bukan masalah. Tapi kebalikannya, akan menjadi masalah besar penolakanmu bagi Om Sudrajat. Dia akan tersinggung, karena putri kesayangannya telah diremehkan.” Jelas Iqbal.
“Jadi apa saranmu?” tanya Denny lemah.
“Aku juga susah memikirkannya.” Balas Iqbal.
“Kalau begitu, untuk sementara jangan dibahas. Aku tidak mau memikirkannya. Urusanku jauh lebih penting dari itu.” Ucap Denny.
“Urusan apa yang lebih penting?” tanya Iqbal penuh selidik.
“Bagaimana dalam waktu yang sama kita bisa datang dengan Indah dan Hendrik?” tanya Denny melipat kening, mengalihkah pertanyaan Iqbal.
“Sudah ku katakan, para karyawanmu bekerja secara professional. Mereka tidak menyia-yiakan waktu, berusaha keras memberikan yang terbaik untuk perusahaan.” Jawab Iqbal.
“Baguslah, aku akan memberikan reward sesuai janjiku,” Balas Denny membayang wajah Indah di kepalanya.
“Mereka pasti senang. Itu akan menambah semangat bekerja dan semakin baik untuk perusahaan.” Ujar Iqbal.
“Orang seperti Hendrik, untuk apa harus bekerja keras di perusahaanku? Perusahaan keluarganya tidak kalah maju. Aku tidak percaya, dia hanya berteman dengan Indah. Dia pasti menyukainya,” Bisik batin Denny.
“Seperti biasa kita selalu memberi bonus, dan aku akan memikirkan bonus tambahan lain untuk orang-orang pilihan,” balas Denny.
“Aku akan memberikan daftar nama-nama orang tersebut dan apakah Indah dan Hendrik di masukkan juga?” Tanya Iqbal.
Denny diam tidak menjawab, pikirannya kembali membayang saat tangan Hendrik merangkul kuat bahu Indah.
Iqbal tidak melanjutkan ucapannya, melirik Denny duduk dalam diam di kursi belakang dari balik kaca spion.
__ADS_1