
Pintu terdorong ke dalam, perlahan terbuka menampakkan dua orang melangkah masuk. Seorang pria berbalut jas putih, menunjukkan dengan jelas sosok propesi seorang dokter disandangnya. Melempar senyum pada orang yang menatapnya dengan diikuti seorang perawat perempuan muda berjalan di belakang.
“Malam, maaf mengganggu.” Sapanya ke luar dari mulut sambil melangkah terus mendekati tempat tidur.
“Malam, dokter.” Serentak Hendrik dan Jesika menjawab. Mata mereka berdua masih lekat menatap sang dokter.
“Hai, jagoan. Bagaimana keadaanmu? Apa yang dirasakan sekarang?” Tangannya mengangkat perlahan tangan Saka sambil memperhatikan wajah Saka.
“Tidak ada,” Jawab Saka singkat. Rasa sakit tidak lagi dirasakan Saka. Tangannya terbalut perban, tapi rasa sakit tidak terasa menusuk seperti awal mendapat benturan.
Mata dokter masih menatap Saka, tangannya masih melakukan beberapa pergerakan di tangan Saka.
“Kalau ini, bagaimana?” Tanyanya lagi.
“Hemmm,” Saka menggelengkan kepala.
Hendrik dan Jesika saling bertukar pandang dengan tatapan khawatir. Sang dokter sudah banyak memberikan gerakan untuk mengetahui reaksi syaraf tangan Saka. Jawabannya tidak menunjukkan rasa apapun.
“Baiklah, anak jagoan. Kakak perawat akan mengambil sedikit darah kamu. Tidak akan lama dan tidak sakit, oke?” Sang dokter mengusap lembut rambut kepala Saka.
“Hem,” Saka menganggukkan kepala memberikan jawaban.
Sang perawat mendekat dan dokter melangkah menghampiri Hendrik dan Jesika yang dari tadi berdiri di ujung kaki tempat tidur.
“Tuan dan nyonya, perkenalkan saya dokter Joshua spesialis syaraf.” Joshua mengulurkan tangan ke arah Hendrik sebagai perkenalan. Tangan Hendrik pun menyambut uluran tangan Joshua dan bergantian juga dengan Jesika.
“Kami berdua orang tua Saka, ada yang harus kami ketahui dengan kondisi putra kami?” Hendrik bertanya dengan hati-hati, perasaannya saat ini sangat tidak tenang melihat reaksi wajah dokter yang terlihat serius.
“Saat ini saya tidak bisa memberikan penjelasan berdasarkan dugaan semata. Saya harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Kami mengambil sempel darah, dan juga akan mendalami lebih lanjut hasil foto scan tangan putra tuan dan nyonya. Kita harap hasilnya akan baik dan saya segera akan memberitahu.” Sang dokter menatap bergantian wajah Hendrik dan Jesika.
__ADS_1
“Dokter, tolong jangan sembunyikan apapun dari saya, beritahukan hal terburuk sekalipun.” Jesika tidak dapat menahan rasa khawatir yang timbul di hatinya. Cemas dan takut seketika menyelimuti diri Jesika.
“Tenang nyonya, saya tidak akan menyembuyikan apapun. Saya juga akan berusaha yang terbaik untuk kesembuhan putra nyonya dan tuan.” Joshua tahu kekhawatiran kedua orang di hadapannya, dan dia juga tidak ingin terburu-buru menyimpulkan hasil pemeriksaannya.
“Dokter, saya sudah selesai,” suara perawat mencairkan suasana ketegangan yang terjadi.
“Oh, iya. Kalau begitu saya permisi, dan lebih baik tuan dan nyonya juga beristirahat.” Joshua melangkahkan kaki bersamaan dengan perawat yang mengikutinya di belakang meninggalkan ruangan.
“Mama, ada apa? Kenapa wajah mama cemas?” Saka sedari tadi memperhatikan tingkah ketiga orang di hadapannya. Walaupun dia tidak mendengar dengan jelas permasalahan yang dibicarakan, tapi kecemasan dan ketakutan tergambar jelas di wajah Hendrik dan Jesika.
“Sayang, mama tidak pa-pa. Kamu lapar? Papa tadi ada beli buah sewaktu kamu tidur. Mama suapi ya?” Jesika berusaha menyembunyikan kecemasannya dari Saka. Hendrik hanya dapat menggariskan senyuman di bibirnya menatap wajah Saka. Hatinya juga tak kalah cemas sama seperti Jesika, dia sangat takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Saka. Dia tidak akan melepaskan Denny kalau hal itu sampai terjadi.
Di hotel, Denny sudah membersihkan diri, memakai baju kaos dan celana piyama tidur. Iqbal memutuskan menginap di kamar yang sama dengan Denny. Kamar yang di pesan Denny cukup luas dan tersedia beberapa kamar tidur. Denny pun mengijinkan, karena banyak yang akan mereka diskusi bersama mengenai masalah pekerjaan yang ditinggalkannya beberapa hari. Tapi tidak malam ini, dia memilih beristirahat, besok hari dia akan mendengarkan semua laporan dari Iqbal.
Benar saja, Denny melihat keberadaan Iqbal di ruang tamu setelah mereka menikmati makan malam yang terlambat bersama-sama. Denny mengisi perutnya terlebih dahulu yang sudah sangat lapar, lalu meninggalkan Iqbal karena ingin membersihkan diri setelah hak perutnya terpenuhi. Matanya menangkap tubuh terbaring di atas sofa, dengan nafas teratur menikmati mimpi. Denny tersenyum melihat pemamdangan sahabatnya yang tertidur pulas.
“Drek, Drek, Drek,” suara ponsel berbunyi.
“Drek, Drek, Drek,” suara ponsel kembali berbunyi.
Untuk ke dua kalinya Denny mengabaikan panggilan itu. Dia melangkahkan kaki menuju kamar Dania, dia ingin memeriksa keadaan Dania. Samar suara ponsel terdengar di telinganya. Suara panggilan itu belum juga berhenti saat Denny sudah ke luar dari kamar Dania. Langkah kakinya pun mendekati sofa, menghampiri tubuh yang tak berdaya tertidur sangat pulas. Suara ponselpun tak sanggup membangunkan Iqbal yang sudah menikmati tidur.
Mata Denny mengamati layat ponsel yang terletak di atas meja.
“Dokter Joshua,” dalam hati Denny mengucapkan nama itu. Dia berpikir sejenak, berusaha mengingat nama yang ada di layar ponsel Iqbal. Tapi dia tidak dapat mengenali siempunya nama. Denny pun memutuskan mengangkat panggilan, jarinya menyambar dengan cepat simbol hijau di layar ponsel. Kakinya melangkah ke kamar, dia tidak ingin Iqbal terbangun karena mendengar suaranya berbicara.
“Hallo pak Iqbal, maaf kalau saya menggangu anda, tapi saya menelpon karena ada sesuatu yang penting ingin saya sampaikan,” Joshua lansung berbicara, dia tidak ingin menunggu lama memberikan informasi ke pada Iqbal.
“Saya Denny Prasetyo, dan sebagai atasan Iqbal. Apapun yang ingin anda sampaikan, beritahu saya,” Denny menjawab panggilan dari orang diseberang yang diketahui sebagai dokter. Dia langsung menduga, kabar yang akan didengar berkaitan dengan putranya Indah.
__ADS_1
“Baiklah, karena saya mengenal tuan Denny dari Pak Iqbal, maka informasi penting ini akan saya beritahukan,” Joshua tidak ragu memberi informasi kepada Denny, karena selain Iqbal dia juga mengenal Denny dari sahabatnya Harun yang juga seorang dokter sepertinya. Harun telah memintanya untuk membantu Iqbal dan Denny.
Joshua berbicara kondisi Saka sebagai pasien dalam pengawasannya. Denny mendengarkan dan berusaha mencerna semua penjelasan Joshua. Tubuhnya mendarat lemas di atas tempat tidur, matanya berkaca-kaca dan tak terasa cairan bening mengalir di pipinya. Tangannya berusaha kuat menggenggam ponsel yang masih melekat di telinga. Sesekali tangan satunya lagi, menyapu wajah dan menyeka cairan bening yang terus mengalir deras di pipi.
“Tut, Tut, Tut,” setelah beberapa menit, pembicaraan terhenti dan terputus. Perlahan tangan Denny turun dan mendarat di paha kanannya. Denny menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur, pandangannya menatap langit-langit kamar. Saat ini, hatinya bahagia tapi juga sedih. Terlihat wajahnya sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.
Denny pun beranjak bangun dari tempat tidur, tangannya menyambar jaket dan melangkah ke luar kamar. Kakinya menuju ke arah Iqbal yang tertidur, dan meletakkan ponsel di meja. Melanjutkan langkah kakinya meninggalkan kamar.
Di rumah sakit, terlihat Saka sudah tertidur kembali dengan pulas. Jesika duduk di samping tempat tidur, dan menatap putranya dengan sendu. Hatinya masih diselimuti kecemasan, dia berharap hasil pemeriksanaan putranya tidak ada masalah.
“Jes, kamu istirahat, biar aku yang menjaga Saka,” Hendrik memegang bahu Jesika, dan berbicara perlahan. Dia tahu, hati Jesika saat ini tidak tenang, apapun akan dia lakukan untuk membantu orang-orang yang sangat dicintainya.
“Aku ngak apa, Hen. Hanya saja, bisakah kau mengambil beberapa pakaian? Kita tidak sempat ke hotel, langsung ke rumah sakit. Jadi aku tidak ada persiapan apapun.” Ucap Jesika, menatap wajah Hendrik di sampingnya.
“Baiklah, aku akan mengambil pakaian dan membeli beberapa perlengkapan. Kau tenang saja, aku akan segera kembali,” Hendrik tersenyum membalas tatapan Jesika.
“Terima kasih Hen, cepatlah kembali dan hati-hati di jalan.” Jesika pun membalas dengan senyuman.
“Hem,” Hendrik mengangguk, dan melangkah meninggalkan ruangan.
Jesika perlahan mengusap pipi Saka, di dalam hati terus berdoa kepada Tuhan berharap tidak terjadi apa-apa pada putranya. Melihat Saka tertidur dengan pulas, Jesika beranjak dari kursi, melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan.
Langkah kaki Denny terus berjalan, menuju kamar yang telah dia tanya sebelumnya di bagian informasi. Matanya terus memperhatikan setiap ruangan yang dilaluinya. Sampailah di depan pintu ruangan yang dicari. Jantungnya berpacu sangat cepat, perasaannya tidak dapat terlukiskan saat ini. Perlahan memegang pegangan pintu dan membukanya. Pintu terdorong ke dalam dan terbuka, Denny masih berdiri di depan pintu dan menatap ke dalam. Terlihat seorang anak laki-laki terbaring di tempat tidur seorang diri tanpa ada yang menemani. Langkah kakinya terhayun masuk ke ruangan. Perlahan pintu dia tutup kembali. Melanjutkan langkahnya menuju tempat tidur. Dia pun berdiri di samping tempat tidur, matanya lekat menatap wajah Saka.
Jesika menatap wajahnya di depan cermin kamar mandi, terlintas wajah Denny seketika di kepalanya. Wajah yang penuh amarah, melampiaskan kemarahannya kepada Hendrik. Seketika hatinya sangat benci kepada Denny yang sudah berbuat kasar kepada Hendrik dan menyebabkan Saka terbaring di rumah sakit. Dia tidak akan memaafkan Denny karena perbuatannya. Jesika membasuh wajahnya dengan air. Kembali menatap wajah lelahnya di depan cermin.
**********************************************
Assalamu'alaikum, Hai reader, maaf atas keterlambatan aku melanjutkan novel ini. Terima kasih juga, masih setia menunggu dan membaca novel aku " Rasa Cinta Tak Pernah Hilang."
__ADS_1
Aku masih menunggu banyak-banyak dukungannya, jangan lupa like, vote dan komentarnya. Terima kasih, salam cinta untuk kalian semua.