
Perbincangan Harun dan Jesika tidak lepas dari sepasang manik hitam yang sedari awal mengamati keduanya. Kalimat mengalir dengan jelas terdengar menohok batin Denny. Pekerjaan bukanlah hal utama baginya seperti anggapan Jesika, tapi dia tidak bisa menjelaskan bahkan harus menghindar untuk sementara waktu.
Denny menarik pandangannya menatap Iqbal yang terfokus pada layar laptop. Senyum menggaris di bibir Denny mendapati sahabatnya itu selalu dapat diandalkan dalam semua urusan.
“Selesai,” kata singkat meluncur dari bibir Iqbal dengan manik hitam bercahaya melengkapi wajahnya yang berseri-seri seperti seorang anak kecil mendapatkan hadiah mainan.
“Semua sudah terkirim di email, aku menunggu persetujuanmu. Beberapa perusahaan mengajukan kerjasama, aku sudah memilih perusahaan dengan rincian penawaran yang tepat.” Ucap Iqbal dengan jarinya menekan lembut layar tipis hingga tertutup rapat.
“Hem, aku akan segera memberikan putusan setelah memeriksanya.” Denny merebahkan punggung ke sandaran sofa meluruskan tulang punggung menghilangkan pegal yang membebani. Cahaya ipad dalam genggaman tangan Denny perlahan menghitam menghentikan keaktifannya.
“Baiklah, santai saja masih ada dua hari lagi putusan kita berikan.” Iqbal turut merebahkan punggung sambil memejamkan kelopak mata mencari ketenangan di sana. Hari-hari yang terlalui sangat melelahkan keduanya bukan saja fisik, otak juga ikut terkuras. Wajar keduanya butuh istirahat dan ketenangan walau hanya sesaat.
Hari merangkak gelap, sang surya tenggelam kembali ke peraduan semakin lama semakin pekat berhias titik-titik cahaya bintang bertaburan.
Deru suara kuda mesin memecah kesunyian di tengah malam saat insan-insan hanyut dalam dunia alam mimpi. Sepasang manik hitam terjaga mengintai suasana di hadapan.
Bangunan rumah megah berdiri kokoh menyambutnya, kesedihan menerjang dalam balutan kecemasan.
Pintu gerbang menjulang tinggi terbuka mengijinkan kuda mesin menyusup masuk perlahan. Cahaya lampu bangunan rumah bertingkat megah tak terlihat terang benderang menyambut sosok hadirnya, hanya beberapa cahaya remang tampak bersembunyi di balik gorden satu-satu dari masing-masing kamar. Itu bertanda penghuninya sedang tenang bersemi di alam mimpi.
Kaki jenjang yang panjang melangkah perlahan ke luar dari pintu mobil, menuju daun pintu kayu yang kokoh tertutup rapat. Tangan ramping menggapai penggangan pintu besi yang terasa dingin menusuk lapis kulit telapak tangannya. Dengan sedikit dorongan tenaga pintu terhuyung ke belakang terbuka tanpa menghadirkan suara.
Sepasang manik hitam mengamati keadaan di dalam terlihat sepi dengan tanpa cahaya yang dapat membantu menuntunnya. Baginya tidak masalah, suasana seperti itu memang dinanti menghindari kehadirannya di ketahui untuk sementara waktu. Sungguh lucu memang kalau dipikirkan olehnya, dia sebagai tuan rumah harus begitu sungkan untuk muncul sesaat. Tapi itu terpaksa dilakukan walau bukan keinginannya, situasi menuntut menghindar dari seorang yang sangat dia sayang dan cintai.
Sebelum tiba, Denny sudah menghubungi penjaga dan bik Surtik bahwa kepulangannya jangan diributkan diminta dirahasiakan untuk sementara waktu. Jadilah dirinya seperti seorang penyusup di malam hari di rumah sendiri pula.
Langkah kaki telah membawa jauh ke dalam rumah hingga lantai dua, manik hitamnya terus menuju pada sebuah titik cahaya remang terbias dari celah sempit pintu kamar. Kedua kakinya berhenti tegak di depan pintu, dia tahu di balik pintu seorang yang sangat dia rindukan sedang terbaring menikmati ketenangan malam. Tak terasa sepasang manik hitamnya memanas melahirkan cairan bening terkumpul dengan cepat. Pikirannya mundur sesaat beberapa jam terlintas dengan jelas kembali kejadian memukul kuat di hatinya.
“Story Off”
__ADS_1
Denny berdua bersama Iqbal masih duduk tenang bersandar di sofa dengan memejamkan kelopak mata.
“Cklek,” pintu terbuka bebas tanpa menunggu persetujuan seseorang menapakkan langkah masuk ke ruangan perawatan. Ya, Denny dan Iqbal masih di dalam ruang perawatan Saka, melakukan pekerjaan dari ruangan itu.
Perlahan kelopak mata Denny terbuka saat pendengarannya jelas mendengar hentakan berat sol sepatu menuju tempatnya duduk.
Terlihat wajah Mama Denny tenang menatapnya. Tatapan itu sulit untuk diartikan, Denny menegakkan tulang belakang dan membalaskan tatapan mata sang Mama.
Sekali lagi, tanpa perlu izin tubuh Mama mendarat anggun duduk di sofa tepat di hadapan Denny. Iqbal lambat untuk menyadari kehadiran nyonya besar, terkejut begitu manik hitamnya terbuka sudah menatap wajah nyonya besar ada di hadapan.
“Nyon.. nyonya besar,” tubuh Iqbal bereaksi berlebihan sambil berdiri cepat dilanjutkan seperti akan melompat ke luar manik hitam Iqbal membola besar sosok dihadapannya hadir seperti mahluk astral seketika saja bisa muncul dalam waktu sepersekian menit tak menyadarkan diri untuk sesaat memejamkan manik hitam yang sangat kelelahan.
Tidak menghiraukan keterkejutan Iqbal, kehadiran Mama Denny sangat mengintimidasi hawa ruangan hingga terasa panas. Ditangannya membawa sebuah amplop coklat.
“Splass,” amplop terhempas di atas meja kaca sudah berpindah dari tangan Mama Denny.
“Apa ini ma?” Denny bertanya dengan heran tujuan Mamanya.
Denny meraih ampol di atas meja, manik hitamnya mengamati sesaat dan lanjut mengambil lembaran dari dalam amplop. Manik hitamnya bergerak-gerak menatap lembar demi lembar kertas di tangan. Nama Saka Bismantara dan Dania Fhalisya Prasetyo bersamaan tercetak hitam tebal.
“Apa maksud semua ini, aku tidak mengerti,” Denny berbicara sambil mengeraskan rahang, dia menyadari sesuatu yang tidak beres terencana dalam kepala Mamanya.
“Kau sungguh tidak mengerti atau tidak mau mengerti?” Mama Denny balik menyerang dengan pertanyaan menatap dengan tajam.
“Sama sekali tidak mengerti,” jawab Denny tegas dan ingin segera tahu tujuan sang Mama.
Iqbal menatap dengan takut melihat ketenangan reaksi nyonya besar, sebuah rencana mengerikan seolah tergambar jelas di wajah nyonya besar.
“Baiklah, dengar dan patuhi,” ucap Mama Denny dengan arogan.
__ADS_1
Denny menguatkan hati mendengar kalimat yang akan terlontar ke luar dari mulut Mamanya.
“Itu data keterangan medis kedua putra dan putrimu. Mama sudah memastikan semuanya aman, dan akan dilakukan dengan segera tanpa harus menunggu keijinan mu kalau kau tidak setuju. Mama juga berhak membuat keputusan karena mereka cucu dan penerus keluarga Prasetyo. Sumsum tulang belakang Saka sesuai pendonoran bagi Dania.” Ucap Mama Denny langsung ke permasalahan tanpa harus berputar-putar menjelaskan.
“Mama”, ini tidak boleh terjadi. Mengapa Mama berbuat sekejam ini, mereka anak-anakku. Tidak mungkin aku mengorbankan salah satu anak-anakku ma!” Ucap Denny prustasi mendapati kenyataan tak terduga dari Mamanya.
“Kejam? Apa kau pikir aku akan membunuh darah dagingku sendiri. Mereka anak-anakmu tapi mereka juga cucuku. Mama sudah pastikan semuanya aman, apa kau tidak percaya Mama?” Ketegangan terjadi di dalam ruangan.
“Tidak bisa, masih ada jalan lain. Aku tidak mengizinkan Saka sebagai pendonor, Mama lihat sendiri dia juga sedang sakit. Dia butuh terapi ma, bukan memberikan sumsumnya,”
“Dia bisa melakukan terapi setelah melakukan operasi. Dia masih muda, pemulihan sumsumnya juga akan cepat terjadi. Mama akan membawanya keluar negeri, sebuah rumah sakit terbaik sudah menjamin kesembuhannya.”
“Ah… Mama sudah mengatur sejauh itu? Mama tidak memikirkan perasaaan Indah, dia juga Mamanya. Dia punya hak terhadap putranya. Kehidupan mereka selama ini baik-baik saja tanpa celah, setelah bertemu denganku semua berubah. Aku sebuah kesialan dalam kehidupan mereka setelah bertemu. Jangan tambahi lagi penderitaanku ma, dengan hukuman dari kebencian mereka.”
“Itulah gunanya keluarga, saling membantu dan menyokong satu dengan lainnya. Dania sekarat Denny, apa kau akan membiarkan Nia berakhir dalam penderitaan? Bagaimana tanggung jawabmu terhadap Hanna, hah? Membiarkan Dania begitu saja menanti ajal menjemputnya?”
“Stop, sudah Ma, hentikan. Jangan bicarakan masalah ini lagi. Aku tidak setuju, aku akan berusaha mencari jalan lain.”Denny beranjak dari Sofa, melangkah pergi keluar ruangan.
“Story On,”
Kepala Denny merapat ke daun pintu dengan menempelkan dahinya. Kedua bahunya bergetar, menahan suara tangis dengan menggigit kuat bibir bawah. Sedangkan cairan bening deras mengalir tumpah di kedua pipi yang berhiaskan bulu-bulu halus tumbuh dengan tebal tidak tercukur beberapa hari.
Tangis itu sudah berusaha dengan kuat dia tahan, tapi hatinya rapuh seketika membayangkan wajah Indah. Saat ini dia sangat membutuhkan kehangatan sebagai penenang dan penguat diri. Namun tidak ada tempat bersandar untuk dirinya, hanya kepedihan dan ketakutan akan kebencian menggelayut di hati.
************************************************** Assalamu'alaikum reader.
Maafkan aku yang lama tidak up date cerita.
Ke depannya, aku akan berusaha lebih baik lagi.
__ADS_1
Harapku, reader tetap setia membaca dan memberi dukungan, sebagai penyemangat diriku.
Salam cinta selalu untuk kalian semua.