Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 41 Kata Cinta


__ADS_3

Di rumah sakit, Indah terus berjalan dengan langkah kaki lemasnya.


“Aku harus menghindar, semoga Pak Denny tidak menemukanku.” Batin Indah.


Langkahnya membawa sampai di halaman parkir. Tiba-tiba tangan Indah ditarik, tubuhnya pun ikut tertarik mengikuti langkah kaki pria di depannya.


“Lepaskan,” Indah berusaha menepis tangan yang menariknya.


Namun usahanya gagal, tubuhnya tak mampu menolak langkah kaki pria yang menariknya. Berdua mereka sampai di sebuah mobil. Pria dihadapannya berpaling dan melepaskan masker yang melindungi wajahnya.


“Masuklah,” membukakan pintu.


“Aku tidak akan mematuhi keinginanya,” batin Indah.


“Tidak , saya ingin sendiri, tolong biarkan saya pergi,” ucap Indah menatap wajah Denny.


“Lebih baik kamu patuh kepadaku, atau kamu ingin aku gendong masuk ke dalam?” Balas Denny.


Indah berjalan meninggalkan Denny.


“Dasar wanita keras kepala,” Denny mengikuti langkah Indah dari belakang.


Indah terduduk lemas, kakinya tak sanggup lagi melangkah. Denny menghampiri dan menggendongnya.


Indah tak mampu berkata, sepasang matanya menatap wajah pria di dekatnya. Jantung Indah kembali berpacu kencang.


“Indah, tenangkan dirimu. Kau tidak tahu apa yang ada dalam pikiran pria ini.” Bisik batin Indah.


Berdua Indah dan Denny berada di dalam mobil.


“Drek,Drek,Drek,” ponsel Denny berbunyi.


“Dia bersamaku, terima kasih Harun,” ucap Denny membalas seseorang dari seberang dan memutuskan pembicaraan.


“Ternyata Dokter Harun telah menghubunginya,” Batin Indah.


“Mengapa kau pergi, apa kau sangat membenciku?” Tanya Denny dalam diam Indah.


“Saya tidak bisa membenci pria yang sudah menolongku,” balas Indah.


“Karena itu? Baiklah, aku telah memberimu waktu tiga hari, sekarang aku menunggu jawaban.” Ucap Denny melirik Indah dari sudut matanya.


Indah memejamkan mata, pikirannya membayang wajah Hanna.


“Kenapa saya harus menjadi wanita Mas? Bukankah Nona Hanna kekasih Mas? Tidak cukupkah Nona Hanna? “ Ucap Indah menatap Denny tajam.

__ADS_1


“Kamu tidak mau menjadi wanitaku atau kamu ingin lebih? Ingin menjadi istriku? Baiklah, kalau itu keinginanmu,”


Denny meraih ponsel dari balik saku baju jaketnya. Indah terkejut mendengar ucapan Denny, dia tidak menyangka semua kata-kata yang ke luar dari mulutnya.


“Bal, aku ingin menikah besok. Tolong kau…,”


(Hallo, Hallo… Denny kau masih di sana, ada apa?” Suara Iqbal terdengar pelan dari seberang.)


“Tidak seperti ini, Mas salah,” Indah mengambil ponsel dari tangan Denny dan tak sempat menyelesaikan ucapannya.


“Apa yang salah? Kamu juga tidak ingin menjadi istriku? Apa kekuaranganku hah?” Denny mulai tidak sabar dengan sifat keras Indah.


“Menikah tidak segampang yang Mas kira. Mas punya keluarga, bagaimana perasaan Ibu Mas dan juga Hanna? Menikah bukan permainan, hari ini suka Mas menikah, besok tidak suka lalu dicampakkan. Bagiku pernikahan suatu ikatan yang suci berdasarkan rasa saling cinta.” Indah berujar dengan mata berkaca-kaca.


“Kamu masih berpikir aku main-main dengan perasaan dan ucapanku? Aku ingin memilikimu bukan karena tubuhmu. Aku menginginkanmu karena aku benar-benar jatuh cinta padamu. Kenapa kamu memikirkan perasaan orang lain. Tidakkah cukup rasa cintaku, atau meragukan cintaku?” Ucap Denny merapatkan wajahnya ke wajah Indah.


Indah terdiam sejenak, mendengarkan Denny menyatakan cinta kepadanya.


“Hah.., jangan membuat saya tertawa, Mas mencintai wanita seperti saya? Saya tidak ada apa-apa dibandingkan Hanna. Saya sadar akan keadaan diriku. Jadi tolong Mas, jangan permainkan perasaanku atas rasa cinta yang…hem,”


Indah tidak sempat menyelesaikan ucapannya. Bibirnya sudah bersatu dengan bibir pria yang ada di hadapannya. Denny mencium bibir Indah dengan lembut. Terasa nafas Denny menyapu wajah Indah. Denny melepaskan ciumannya dan memeluk Indah erat.


“Tolong jangan bicara apapun lagi, dan percaya kepadaku,” ucap Denny lembut menatap wajah Indah.


Semu merah membingkai di wajah Indah.


Seketika suasana hening, sepasang insan saling berpandangan. Jantung Indah berpacu sangat kencang hingga nafasnya tidak beraturan. Denny tersenyum memandang wajah Indah yang bersemu merah.


“Drek,Drek,Drek,” suara ponsel memecahkan keheningan.


Denny melirik ponsel di dalam gengaman tangan Indah. Terlihat mamanya memanggil di layar ponsel.


“Boleh minta ponselku,” ucap Denny.


Indah terkejut dan langsung menyerahkan ponsel Denny.


“Iya Ma, ada apa?” Ucap Denny menjawab panggilan.


“Denny, sepertinya rencana liburan kita tunda, setelah situasi aman. Mama khawatir, lebih baik kita jangan pergi ke mana-mana. Mama lebih memilih tinggal di rumah saja saat ini.” Ucap Mama Denny dari seberang.


“Iya Ma, tidak masalah. Denny pun berpendapat yang sama. Mama tinggal di rumah saja sementara, aktifitas Mama di luar rumah hentikan dulu. Sekarang sudah larut malam, Mama beristirahatlah. Kalau butuh sesuatu hubungi Denny.” Balas Denny dari balik ujung Ponselnya.


“Jangan khawatir, di sini ada Pak Jung yang siap membantu Mama. Kamu jaga kesehatan dan jangan terlalu capek.” Ucap Mama Denny.


“Iya Ma, terima kasih.” Balas Denny memutuskan panggilan.

__ADS_1


Indah lebih memilih diam, dirinya masih terkejut dengan perlakuan Denny yang tidak terduga.


Mesin mobil menyala, Denny melajukan mobil membawa mereka berdua ke tempat tujuan.


Mobil berhenti di lahan parkir apartemen, Denny melihat Indah tertidur di kursi sampingnya. Perlahan Denny ke luar dari mobil dan membuka pintu samping Indah. Dia ingin menggendong, tapi Indah terbangun.


“Kita sudah sampai di rumah saya?” tanya Indah.


“Tidak, aku membawamu ke apartemenku,” jawab Denny.


“Tapi..,” Indah tidak sempat menyelesaikan kata-katanya.


“Kamu bisa berjalan, atau ingin aku gendong?” Tanya Denny penuh khawatir.


“Tidak, saya bisa jalan sendiri. Mas, bukankah lebih baik saya pulang ke rumah?”


“Sudah, turuti saja apa kataku,” Denny memegang tangan Indah dan membawanya jalan perlahan.


Sampailah di kamar apartemen yang biasa di tiduri Indah.


“Kamu istirahat, jangan pikirkan yang macam-macam,” Denny mengelus lembut rambut Indah dan melangkah pergi meninggalkannya.


Malam itu Indah berusaha memejamkan mata, tapi bayangan Denny mencium bibirnya mengganggu pikirannya. Seumur hidup, dia belum pernah melakukannya karena dia akan melakukan ciuman pertama hanya kepada suaminya.


“Tuhan maafkan aku, dia sudah mencium bibirku. Besok aku akan pergi dari apartemen ini.” Gumam Indah.


Di kamar Denny, terdengar sedang berbicara dengan seseorang.


“Apa kau serius akan menikahinya?” tanya Iqbal.


“Ya, aku tidak main-main, tolong kau urus semuanya,” balas Denny.


“Tapi bagaimana dengan Nyonya besar, apa dia setuju?” tanya Iqbal kembali.


“Aku akan mengurus Mama, kau lakukan saja apa pintaku,” jawab Denny.


“Indah, bagaimana dengan Indah?”


“Bal, jangan banyak tanya lagi. Aku minta kau urus bagianmu saja, oke?”


“Baiklah, kalau itu sudah keputusanmu.” Jawab Iqbal dan memutuskan pembicaraan.


Denny menjatuhkan tubuh di ranjang siper sizenya.


“Besok akan menjadi hari-hari yang melelahkan.” Gumam Denny dan memejamkan matanya.

__ADS_1


Tak beberapa lama terdengar suara nafas berat Denny, diapun sudah tertidur pulas dengan senyum menggaris di bibir.


__ADS_2