
Mobil Denny telah sampai di depan rumah kontrakan Indah.
“Tok-tok-tok,” terdengar ketukan suara di balik kaca pintu mobil.
Indah tersadar dan menoleh ke sumber suara, Denny sudah menunggu di luar. Segera Indah membuka pintu dan melangkah mendekati Denny yang sudah menunggu.
“Apa kamu tidak ingin pulang atau kita ke apartemenku?” Amarah Denny sudah mereda, dia tahu Iqbal tidak akan menanggapi ucapan Indah.
“Maaf saya tertidur,” Indah menatap wajah Denny yang tersenyum. Indah bingung melihat perubahan sikap Denny yang tadi marah-marah, sekarang menjadi ramah.
“Ngak apa , Dan ada yang ingin ku katakan,” Denny menatap mata Indah dalam.
“Apa yang ingin dikatakan pria ini, wajahnya terlihat serius,” Indah berkata-kata sendiri di dalam hati, jantung Indah tanpa diundang berpacu kencang.
“Masuklah, sudah sangat malam, tidak baik terlalu lama di luar. Dan cepat istirahat, besok masih banyak pekerjaan menunggu,” Denny menatap wajah Indah, ada ketenangan di hatinya. Dia ingin lebih lama lagi bersama Indah, tapi hari sudah malam. Lebih baik membiarkan Indah beristirahat yang sudah terlihat lelah.
“Ahh, jadi hanya ini yang mau dikatakan?” Kenapa wajahnya seserius itu, sampai jantungku mau copot begini?” Gumam Indah memalingkan wajah, meraba dadanya.
Menarik nafas panjang dan menghembusnya perlahan. Menenangkan irama jantungnya kembali normal.
“Kenapa?” Denny tersenyum melihat sikap Indah. Dia tahu, Indah sudah mulai menyukainya.
“Tidak, saya hanya ingin mencari kunci rumah,” Indah berpura-pura sibuk mencari kunci di dalam tas.
“Aku akan menunggumu sampai kau masuk ke dalam.” Ada perasaan lucu di hati Denny melihat sikap Indah yang gugup. Hatinya yakin bisa membuat Indah mencintainya.
“Iya, terima kasih telah mengantar saya pulang,” Indah menemukan kunci rumah. Hatinya masih gugup menerima perhatian dari Denny.
“Hem,” Denny menganggukkan kepala.
Indah berjalan menuju rumah, membuka pintu. Melangkah masuk dan berbalik menatap Denny.
“Mengapa sikapnya berubah, sebelumnya dia marah dan sekarang penuh perhatian,” Gumam Indah sambil menutup pintu.
Denny melangkah ke suatu tempat. Sudut matanya mencuri pandang seperti ada seseorang mengawasinya saat bersama Indah.
“Brak,” suara benda yang jatuh.
“Siapa di sana?” Mata Denny menatap bayangan di dalam sebuah lorong yang gelap.
Lalu muncul beberapa orang dari lorong berjalan ke arah Denny.
“Siapa kalian?” Denny menatap lima orang pria dengan memakai penutup wajah di hadapannya.
“Tidak perlu banyak bacot, serang!” Teriak salah satu dari para pria bertopeng.
Serentak kelima pria melemparkan pukulan dan tendangan. Denny dengan cekatan dan sigap dapat mengelak dari semua serangan.
“Kalian ingin bermain-main rupanya, pas sekali aku juga sudah lama tidak bersenang-senang,” Denny dengan garis senyum di wajahnya.
Kembali pertarungan terjadi, dilihat dari jumlahnya tidak seimbang, satu lawan lima. Pukulan dan tendangan yang mengena didominasi oleh Denny. Kelima pria bertopeng tidak mau menyerah dan bergantian memberikan serangan balasan.
__ADS_1
“Plak,” sebuah pukulan mendarat di wajah Denny, tubuhnya terdorong ke belakang.
Kelima pria bertopeng semakin maju menyerang Denny. Untungnya pertahanan Denny sangat baik, dia bisa membaca semua gerakan lawan hingga dapat melumpuhkan satu persatu pria bertopeng.
“Ayo, kalian masih ingin bermain-main?” Menatap lawan yang sudah terbaring kesakitan di tanah.
“Kaburrr!” Suara lemah terdengar.
Kelima pria bertopeng tunggang langgang melarikan diri.
“Hei, jangan lari kalian. Sial, aku belum sempat mencari tahu siapa mereka.” Gerutu Denny berbicara sendiri, menatap para pria bertopeng menghilang dari pandangannya.
Denny pun melangkah kembali menuju mobilnya. Sampai di mobil, menatap ke arah rumah Indah, tidak terlihat lampu menyala di dalam rumah.
“Mungkin dia sudah tidur. Selamat malam Indah, sampai berjumpa besok,” Denny berujar dalam hatinya.
Terdengar suara mesin mobil, dan perlahan bergerak meninggalkan rumah Indah.
Denny telah berada di dalam apartemennya.
“Bal, kau di mana sekarang?” Denny bertanya dari ujung ponselnya. Tangan Denny mengompres wajahnya yang memar terkena pukulan.
“Di apartemenku. Ada apa?” Iqbal balik tanya bernada heran, membayang kembali amarah Denny saat meninggalkannya di pinggir jalan.
“Mana orang yang mengawasi Indah?” Iqbal bertanggung jawab menugaskan orang mengawasi Indah. Denny ingin Indah dalam pengawasan setelah kepulangannya ke rumah.
“Ada, aku menugaskan dua puluh empat jam,” Iqbal telah memilih orang yang pantas menerima tugas mengawasi Indah.
“Bagus, suruh dia menjumpaiku besok di kantor,” Denny memutuskan panggilan, ternyata orang yang ditugaskan tidak berkerja dengan baik. Mengetahui itu Denny semakin kesal.
Pagi hari di depan gedung perusahaan, Indah baru tiba, seperti biasa menumpang ojek online. Langkah kaki membawanya masuk ke bangunan gedung bertingkat itu. Melemparkan pandangan ke sekitar. Para karyawan sudah banyak yang hadir. Bergegas memasuki pintu lift membawa mereka menghantar ke lantai ruang kerja masing-masing.
Indah telah sampai di ruangannya.
“In, lima belas menit lagi, aku tunggu di bawah,” Hendrik berujar sambil berlalu pergi.
“Tapi, Hen?” Indah tak sempat berkata-kata, hanya memandang sekilas wajah Hendrik yang bergegas pergi.
“Kenapa anak itu terburu-buru, masih jam segini pagi sudah mau bergerak?” Gumam Indah menatap jam di pergelangan tangannya.
“In, kamu kemana tadi malam hah dan kenapa dokumennya kamu bawa juga?” Yanti datang menghampiri dan bertanya penuh selidik.
“Menemui Pak Iqbal,” Indah memberi jawaban seadanya. Wajah Yanti semakin tegang mendengar jawaban Indah.
“Yang ketukarkan sama aku, kenapa dia nelpon kamu, atau jangan-jangan?” Yanti menatap penuh curiga.
“Jangan berhayal yang ngak-ngak deh, Yan? Aku juga ngak tahu dia nelpon dan minta bawakan dokumen untuknya. Aku langsung aja bawakan, kasihankan, kalau dia dimarahi Pak Direktur,” Indah tidak bisa berterus terang, dia tidak ingin Yanti menduga yang tidak-tidak.
“Kalau gitu, kamu pulang diatar Pak Iqbal dong? Gimana ceritanya kalian bisa dekat sih?” Yanti memasang wajah cemberut, Indah bisa dekat sama Iqbal.
“Yanti, aku pulang ngak diatar Pak Iqbal kok. Aku kenal dia, karena Pak Iqbal yang menugaskan aku dan Hendrik mengundang para tamu VIP, itu saja ngak ada yang lain.” Indah berusaha meyakinkan Yanti yang masih memasang wajah cemberut.
__ADS_1
“Oh, seperti itu. Betul kamu ngak ada apa-apa sama Pak Iqbal, kalau ada aku ngak masalah kok. Aku hanya pingin tahu aja, bagaimana kalian bisa dekat gitu?” Yanti memainkan kedua matanya, dia masih tidak percaya kalau Indah tidak punya hubungan dengan Iqbal. Mengingat sikap Indah yang berlari pergi menemuinya sangat berbeda dari biasa.
“Sorry Yan, aku udah ditunggu Hendrik di bawah. Kami harus ketemu tamu VIP pagi ini, nanti keburu pergi orangnya,” Indah beranjak dari kursi dan melangkah pergi meninggalkan Yanti dengan rasa penasarannya.
“In, tunggu jangan menghindar, kamu harus jelasin ke aku dulu,” Yanti sedikit teriak menatap punggung belakang Indah berlalu pergi.
“Ada yang kamu sembunyikan dariku Indah. Aku akan mencari tahu,” Yanti berbicara sendiri.
Di ruang kantor Denny. Telah berdiri seorang pegawai di hadapannya dengan wajah tertunduk.
“Di mana kau tadi malam, hah?” Suara Denny terdengar tinggi menatap pria di hadapannya.
“Maafkan saya,Pak. Saya ngaku salah, pulang ke rumah karena ada keperluan,” pria di hadapannya menjawab dengan suara gemetar.
“Orang seperti ini kau pekerjakan?” Menatap Iqbal tajam. Denny khawatir dengan keselamatan Indah, orang yang mengawasinya tidak bekerja dengan baik.
“Maaf, aku akan menggantinya,” Iqbal menyadari kelalaian, dia tidak tahu pengawalnya melakukan kesalahan.
“Pecat dia,” Denny sangat marah dan tidak mengijinkan orang yang tidak bertanggung jawab bekerja dengannya.
“Pak, jangan pecat saya, tolong beri saya kesempatan sekali saja. Istri saya tadi malam melahirkan dan harus dibawa ke rumah sakit untuk di operasi.” Pria tersebut terduduk lemah, wajahnya penuh harap dengan mata berkaca-kaca menatap Denny.
Denny menatap Iqbal dengan kening berlipat setelah mendengarkan penjelasan.
“Ke luar sekarang.” Denny tidak ingin menatap lebih lama pria di hadapannya. Dia bisa merasakan kalau pria itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Pria itu bangun dengan lemah dan beranjak melangkah gontai ke luar ruangan.
“Bal, bagaimana kau merekrut pengawal, hah? Mengapa tidak kau cek latar belakangnya?” Denny tidak percaya kalau Iqbal bisa salah, karena dia orang yang sangat teliti dan selektif dalam bekerja.
“Oke, aku mengaku salah. Dia sendiri mengajukan diri meminta perkerjaan itu. Setahuku, pekerjaannya bagus dan bertanggung jawab. Jadi tidak ada masalah menolaknya. Dan aku bingung, sampai sekarang kau tidak menjelaskan kenapa dia dipanggil menghadap. Ada apa sebenarnya?” Iqbal tidak mengetahui penyebab amarah Denny, selain masalah Indah yang ingin mendekatinya.
“Aku diserang sekelompok orang, setelah mengantar Indah ke rumahnya.” Denny menjawab dengan kesal.
“Diserang? Kau tidak apa-apa?” Iqbal khawatir ternyata masalahnya lebih dari yang dia duga.
“Syukurnya aku masih bisa membalas. Tapi, bagaimana dengan keselamatan Indah? Bisa saja mereka kembali datang dan menyerang dia.” Denny tidak sanggup membayangkan Indah terluka kembali setelah kejadian yang pernah menimpanya.
“Baiklah, akan aku perintahkan orang lain mengawasi Indah.” Iqbal mengerti kekhawatiran Denny, mengingat preman yang pernah melukainya belum diketahui sampai sekarang.
“Pokoknya kau urus masalah ini sampai tuntas, dan pengawal tadi pindahkan kebagian lain. Jangan bebani dia pekerjaan sampai larut malam. Istrinya lebih membutuhkan.” Denny memang terkenal pemimpin yang disiplin dan berhati dingin. Tapi dia masih memberi toleransi kalau kesalahan dilakukan secara tidak sengaja, apalagi menyangkut keselamatan para pegawainya.
“Ya, aku paham. Ternyata kau masih punya perasaan,” Iqbal menjawb dengan wajah tersenyum.
“Sial kau, sekalian carikan aku sekretaris baru.” Denny mengalihkan pandangannya ke layar laptop yang ada di hadapannya.
“Ah, sekretaris baru, untuk apa?” Iqbal memutar otak memikirkan seorang pengawal dan sekretaris yang harus segera di tugaskan.
“Untuk menggantikanmu,” Denny menjawab datar.
“Akh, kau ini. Aku akan ke luar mengurus semuanya.” Iqbal tersenyum menatap Denny.
__ADS_1
“Hem,” Denny menganggukkan ke pala.
Langkah kaki Iqbal membawanya ke luar dari kantor. Denny seorang diri dan pikirannya masih membayang sekelompok pria yang menyerangnya. Rasa Ingin tahu lahir, memikirkan siapa orang yang mendalangi penyerangan dirinya.