Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 47 Persetujuan Pakde


__ADS_3

Tanpa sadar tangan Denny terus menggenggam tangan Indah hingga berdua mereka duduk di hadapan orang yang tersisa di rumah Pakde.


“Maaf Pakde, saya datang terlambat,” menatap wajah Pakde yang tersenyum melihat tingkah Denny dan Indah yang sedang jatuh cinta.


“Iya, ngak apa. Ndak Denny bisa datang, Pakde sangat senang. Terutama Indah, dari Nak Denny pergi hingga tadi sebelum datang wajahnya cemberut terus. Begitu datang orangnya langsung ditangkap ngak dilepas-lepas.” Melihat tangan dua muda-mudi yang terus berpegangan.


Indah tersadar, tangannya masih dalam genggaman Denny.


“Maaf,” Indah menarik tangan dan semu merah membingkai wajahnya.


Denny menatap wajah Indah tersipu malu dan dia pun tersenyum.


“Nak Denny sudah makan?” tanya Bude.


“Belum, saya buru-buru pergi begitu ada waktu bisa ke sini,” Denny menahan laparnya supaya bisa cepat sampai di rumah Pakde Indah.


“Indah, siapkan makanan Nak Denny, kasihan sudah jam segini belum makan. Sekalian kamu juga belum makan dari tadi siangkan?” Tersenyum melihat Indah.


“Apa, belum makan dari siang?” Denny terkejut menatap Indah.


“Ngak terasa lapar, sekarang baru iya,” Indah tersenyum menatap Denny dan beranjak melangkah ke dapur.


Sampai di dapur, tangannya sibuk menyiapkan hidangan makanan dan senyum terus membingkai di wajah Indah. Tamu Pakde sudah semuanya pulang, tinggal keluarga Pakde duduk di ruang tamu. Indah selesai menghidangkan makanan dan mengajak Denny makan bersamanya.


“Kenapa kamu tidak makan dari tadi siang?” tanya Denny disela menyuapkan makanan ke mulutnya.


“Ngak lapar Mas,” jawab Indah singkat.


“Jadi setelah lihat aku, kamu baru terasa lapar?” tanya Denny melipat kening, teringat ucapan Indah.


“Hem,” Jawab Indah singkat kembali.


“Wah, baru tahu, kalau tampang gantengku bisa menimbulkan nafsu makan juga,” Denny menatap genit ke arah Indah.


“Maksudnya?” Indah berusaha mengartikan tatapan Denny.

__ADS_1


“Hem, sudah teruskan makanmu,” sedikit kesal karena Indah tidak bisa mengartikan makna tersirat tatapan Denny.


Indah hanya tertunduk dan tersenyum, dia mengerti ucapan Denny, hanya ingin menggodanya saja.


Denny pun bisa melihat senyum di wajah Indah, dia pun paham kalau Indah sedang membalasnya.


Berdua mereka makan dengan wajah tersenyum, tanpa sadar beberapa pasang mata memperhatikan tingkah keduanya.


Malam terus berjalan, tak terasa Denny harus kembali ke hotel.


“In, ini ponsel aku tinggalkan. Aku tahu ponsel pemberianku sebelumnya bersama Hendrik. Jadi ini ponsel pribadiku. Hanya aku yang boleh menghubungimu, ingat itu,” menatap Indah dalam.


“Iya Mas, (“kumat lagi deh, sikap ngaturnya,” gerutu batin Indah), tersenyum menatap Denny.


Indah pun melepas Denny pergi kembali ke kota. Denny menyetir mobil sendiri tanpa ditemani seorang supir.


Beberapa hari kemudian, Denny tidak bisa hadir pada malam-malam berikutnya. Pekerjaannya harus diselesaikan. Tanpa sepengetahuan Indah, Denny harus kembali ke Jakarta mengurus pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan ke Iqbal. Dia tidak ingin membuat Indah resah. Denny hanya bisa video call, itu sudah membuat Indah sangat senang. Siang hari Denny tiba di kediaman Pakde bersama Iqbal. Pakde terkejut melihat Iqbal turut juga datang bersama.


“Apa kabar Nak Denny dan Nak Iqbal?” Denny dan Iqbal duduk di hadapan Pakde.


“Saya baik Pakde,” Iqbal tersenyum menatap Pakde.


“Ngak apa, Pakde paham Nak Denny orangnya sibuk,”


“Indah mana Pakde, saya telpon tidak diangkat?” mata Denny mengamati tidak terlihat sosok Indah.


“Dia pergi bersama Rudi dan ditemani Bude. Rudi kembali hari ini, jadi sebelum pergi dia ingin ziarah ke kuburan Dino.” Jelas Pakde.


“Kalau boleh tahu, pekerjaan Rudi apa Pakde?” Denny berusaha ingin tahu.


“Rudi seorang kapten polisi laut. Tugasnya selalu berpindah dari satu tempat-ke tempat lain. Untung sekarang masih di Jakarta. Dia minta cuti tiga hari, dan ini hari terakhir.” Jelas Pakde.


“Sayang sekali,” ucap Iqbal.


“Kenapa Nak Iqbal?” Pakde heran mendengarkan.

__ADS_1


Denny menatap tajam ke arah Iqbal.


“Sial, dasar ngak bisa menahan ucapan,” Denny merutuki Iqbal dalam diam.


“Ada yang ingin disampaikan Denny, sesuatu yang penting,” Iqbal menatap Denny dengan tersenyum dan beralih ke arah Pakde.


Pakde melipat kening menatap kedua lelaki di hadapannya bersikap aneh.


“Begini Pakde, saya ingin mengatakan, kalau ingin melamar Indah menjadi istri.” Denny mengutarakan niatnya dengan keyakinan penuh.


Pakde menatap dalam wajah Denny tanpa ragu-ragu mengutarakan keinginannya.


“Pakde senang Nak Denny serius menjalin hubungan dengan Indah hingga ingin menjadikan sebagai istri. Pakde terserah dengan Indah, karena yang menjalani kalian berdua. Apakah Indah sudah mengetahui ini?” Berusaha mengetahui perasaan Indah.


“Iya, saya sudah memberitahunya terlebih dahulu. Dia bersedia, makanya saya meminta persetujuan dari Pakde. Karena Pakde sebagai pengganti kedua orang tua Indah.” Jelas Denny.


“Baiklah kalau begitu, Pakde juga mengijinkan. Sebagai orang tua tidak baik menahan keinginan anak yang ingin menikah. Apalagi kalian berdua sudah pantas dan juga saling suka. Bahkan lebih baik disegerakan, menghindari dari perbuatan yang tidak benar.” Kegembiraan terpancar di wajah Pakde mengingat Indah sekarang tinggal sendiri di Jakarta tidak ada yang menjaga dan melindunginya.


“Saya ingin pernikahan dilakukan malam ini, karena besok kami harus segera kembali ke Jakarta.” Denny tidak ingin menunggu lebih lama lagi.


“Kenapa terburu-buru, bagaimana keluarga Nak Denny, apakah mereka tidak ikut hadir di acara pernikahan? Dan Pakde belum ada persiapan apapun.” Timbul kekhawatiran dari sikap Denny ingin segera menikah.


“Sebenarnya, saya hanya memiliki Mama. Sedangkan saudara yang lain tidak ada yang dekat. Terus terang Pakde, pernikahan ini tanpa sepengetahuan Mama.” Ucap Denny sedih.


“Kenapa bisa begitu, bukankan lebih baik orang tua harus tahu dan dilibatkan. Sebuah pernikahan akan langgeng berkat restu orang tua apalagi seorang ibu.


“Pakde, itulah menjadi masalahnya. Sampai kapan pun saya tidak akan mendapat restu Mama, kalau tidak menikah dengan wanita pilihannya. Itu sudah pernah terjadi, Mama menghancurkan hubungan saya dengan seorang wanita sebelum sampai ke jenjang pernikahan. Makanya saya ingin membawa Indah kehadapan Mama setelah menjadi istri. Jadi Mama tidak bisa berbuat sesukanya. Saya sangat mencintai Indah dan saya tidak bisa hidup tanpanya. Saya tidak ingin merasakan kegagal untuk kesekian kalinya. Saya harap Pakde mengerti. Saya akan menjaga Indah dengan segenap jiwa saya.” Ungkapan perasaan Denny tulus, Pakde dapat merasakan.


“Kalau begitu adanya, kita lakukan malam ini.” Ketulusan Denny membuat keyakinan Pakde kuat menyerahkan Indah.


“Terima kasih Pakde, biar semua, pihak saya yang mengurus. Tapi saya minta tolong satu lagi,” Menatap dalam Pakde.


“Apa itu?” tanya Pakde heran.


“Kabar gembira ini biar saya yang memberitahu Indah. Saya sangat ingin membagi kegembiaraan ini dengan wanita yang saya cintai.” Denny tersenyum membayang wajah Indah merona merah saat mendapat kabar pernikahan darinya.

__ADS_1


‘Ya, tidak masalah. Pakde serahkan sepenuhnya dengan Nak Denny. Dan di rumah ini, Pakde akan memberitahu Bukde dan bersiap-siap untuk nanti malam.” Balas Pakde dengan semangat.


Denny sangat senang dengan keputusan Pakde yang mau menerima keadaannya.


__ADS_2