Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 128 Kehangatan Yang dirindukan


__ADS_3

Kelopak mata Denny lansung terbuka, mendengar suara Harun yang bergetar. Terlihat di hadapannya telah berdiri Indah dengan tatapan menusuk ke arah dirinya.


Denny memutar bola matanya dengan malas melihat tatapan mata Indah, dia berusaha mengalihkan rasa ketakutan di dalam dirinya kalau Indah telah mengetahui sesuatu. Sebisa mungkin Denny bersikap wajar di hadapan Indah.


“Huffff,” Denny menghembuskan nafas panjang, menepukkan kedua tangan di atas paha dan berdiri.


“Aku istirahat dulu, kalau ada sesuatu kau tahu aku di manakan?” Denny menyunggingkan senyuman dan melemparkan pandangan ke wajah Harun yang terlihat kaget dengan reaksi tenang Denny.


“Hem, istirahatlah aku juga perlu istirahat.” Harun tahu Denny pura-pura bersikap tenang, jadi dia pun ikut dalam kepura-puraan Denny.


Denny melangkahkan kaki dengan santai, seolah-olah tidak ada orang lain di dalam kamar hanya dirinya dan harun saja.


Jesika semakin geram melihat sikap acuh Denny, dia benar-benar dianggap tidak ada dengan kedua manusia yang ada di kamar itu.


Denny semakin melajukan langkah dan Jesika mengikuti tubuh Denny dari belakang. Jesika semakin tidak tahan dengan sikap dingin Denny dengan melebarkan langkahnya Jesika menghadang Denny tepat di hadapannya.


“Istirahatlah, besok kita bicara.” Denny melihat ke dalam manik hitam yang ada di hadapannya mencari dan berharap kepercayaan untuk dirinya di sana.


“Tidak bisa, aku ingin bicara sekarang,” Jesika bersikeras ingin mengetahui penjelasan dan kebenaran dari Denny.


“Jangan berpikir yang macam-macam, aku sangat lelah atau kau mau menemaniku? Aku sangat dengan senang hati menerimanya.” Denny menyunggingkan senyum licik di bibir tipisnya.


“Ka..kau, jangan pernah berharap.” Jesika tergagap seketika amarahnya menghilang berganti dengan getaran yang dia sendiri tidak bisa menjelaskannya.


Denny melihat perubahan di wajah Indah yang seketika bersemu merah. Seolah mendapat lampu hijau dia ingin bertambah menggoda agar perhatian Indah teralihkan.“Ucapan dan hatimu sangat bertolak belakang,” dengan menyilangkan kedua tangan kebelakang, Denny membungkukkan tubuh hingga wajahnya berdekatan dengan wajah Indah hingga hidung keduanya bersentuhan.

__ADS_1


Terasa seperti ada getaran sengatan listrik menjalar di tubuh Jesika saat hidungnya tersentuh dan merasakan nafas Denny berhembus di wajah. Jesika terkejut, menyadari reaksi tubuhnya yang berlebihan dengan seketika menarik satu kaki mundur ke belakang, tapi otak dan kakinya tidak mampu bekerja sama dengan baik. Kakinya terasa lemas dan tidak mampu menopang tubuh hingga keseimbangan tubuh tidak terjaga, Jesika terhoyong jatuh sambil memejamkan mata. Denny dengan sigap menarik tubuh Jesika ke dalam dekapan. Gerakan tiba-tiba Denny membuat Jesika semakin terkejut dan dengan kedua tangan mendorong tubuh Denny.


“Biarkan seperti ini sebentar,” Denny semakin mengencangkan kedua tangan memeluk dengan erat.


Jesika merasakan hal yang sama kehangatan menjarah di seluruh tubuhnya ada kesedihan di rasakan dalam pelukan itu. Terlintas kembali bayangan dalam kegelapan bersandar di depan pintu dan kalimat-kalimat yang mengalir antara Denny dan Harun. Jesika merelakan tubuhnya dipeluk, hatinya tak mampu menolak. Beberapa menit berlalu, hingga perlahan Denny melepaskan pelukan yang tidak mendapat balasan. Bagi Jesika berdiam diri merupakan pilihan terbaik saat ini untuk tetap menahan perasaannya.


“Kau masih saja ceroboh, baiklah aku antar ke kamar.” Tubuh Jesika terangkat di dalam gendongan Denny tanpa harus meminta persetujuan terlebih dahulu.


Jesika membulatkan manik hitamnya menerima perlakukan Denny.


“Hei…, turunkan, aku bisa jalan sendiri.” Ucap Jesika sambil memukul-mukul dada bidang Denny.


“Diamlah, kau akan membangunkan semua orang atau itu yang kau inginkan agar semua orang bisa melihat adegan romantis kita.” Langkah kaki Denny terhenti, berucap dengan senyum licik terbit di ujung bibir menatap nakal wajah Jesika.


“Beginikan lebih baik,” Denny melanjutkan langkah, wanita dalam gendongannya sudah bisa sedikit dijinakkan batinnya.


Langkah demi langkah kaki Denny terhayun membawa tubuh Indah menuju kamar dalam keremangan malam. Kehangatan seperti ini sangat diimpikan namun ia sadar Indah belum bisa dia miliki. Masalah masih menghadang kebersamaan mereka.


Sampai di depan pintu kamar Indah,” Tolong buka pintunya,” bisik Denny dengan mengangkat kedua alis matanya menunjuk ke handle pintu dengan tatapan teduh.


“Hemm,” Jesika menghembuskan nafas kasar tanpa bisa menolak permintaan Denny, dengan malas tangannya meraih handle pintu dan mendorong daun pintu terbuka ke dalam.


Denny hanya tersenyum mellihat sikap kesal Indah, dan itu sangat menggemaskan baginya hingga tekanan yang dia rasakan terlupakan untuk seketika.


Perlahan Denny merebahkan tubuh Indah di atas tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi ke dada, “Tidurlah, besok kita akan bicara.” Ucapnya menatap ke dalam manik hitam Indah.

__ADS_1


“Bisakah kau berjanji?” Balas Jesika berpikir ingin meminta kejujuran Denny.


“Jangan minta sesuatu yang aku tidak bisa berikan, aku tidak ingin menjanjikan apapun. Tapi aku berusaha berbuat yang terbaik.” Denny tidak ingin memberikan harapan kalau nanti dia tidak bisa mewujudkan keinginan Indah.


“Tidak, aku tidak akan meminta yang aneh-aneh.” Ucap Jesika meyakinkan Denny.


“Hem, katakanlah,” Balas Denny dengan lembut.


“Aku hanya minta, izinkan bertemu dengan Saka, aku sangat merindukannya. Apa dia baik-baik saja? Apa dia menanyakan mamanya?” Manik hitam Jesika seketika berembun, dirinya sangat merindukan Saka, dia tidak dapat menahan kesedihan. Dia juga tidak bisa melawan Denny, apalagi mamanya setelah apa yang dia dengar. Sikap melemah merupakan pilihan terbaik saat ini.


Denny menatap sendu wajah Indah,” Istirahatlah, kalian akan bertemu, kau bisa pegang kata-kataku.” Senyum tersungging di sudut bibir Denny berusaha memberikan ketenangan walau di dalam hatinya dia juga sangat sedih. Terbayang keadaan Saka, entah apa yang akan terjadi kalau Indah mengetahui, mungkin kebencian akan semakin besar pada dirinya.


Jesika memejamkan mata, meyakinkan diri mempercayai ucapan yang dia dengar. Denny menghayunkan langkah meninggalkan kamar.


Perlahan langkah kaki membawa tubuh Denny ke dalam kamar miliknya. Lelah menyelimuti seluruh tubuh, Denny memilih menghabiskan malam di rumah sedangkan Iqbal di rumah sakit menemani Saka. Denny merebahkan tubuh di atas tempat tidur, memejamkan kelopak mata berusaha melepaskan kelelahan. Sedang kemeja masih berbalut di tubuh dengan gulungan tangan sampai ke siku tanpa berkeinginan untuk melepasnya.


“Drek, Drek, Drek,” suara ponsel memaksa Denny dengan malas membuka kelopak mata. Meraih ponsel di saku baju dan melirik nama Harun di layar ponsel. Menggeser simbol hijau dan menempelkan ke telinga menerima panggilan.


“Den, cepat kemari. Kita harus membawa Nia ke rumah sakit.” Suara Harun meninggi di balik layar tipis.


Tanpa menjawab, Denny bergegas bangun dan berlari meninggalkan kamar. Manik hitam Denny menangkap Dania dalam gendongan Harun. Jantung Denny berpacu dua kali lipat dari biasanya. Ketakutan menerjang dirinya seketika melihat Dania terkulai lemah tak berdaya.


“Cepat ke mobil, aku sudah menghubungi rumah sakit.” Harun berlari menggendong Dania.


Denny menuruti ucapan Harun, berlari ke luar rumah mengambil mobil. Dania segera harus di larikan ke rumah sakit karena keadaanya semakin melemah.

__ADS_1


__ADS_2