Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 91 Terjebak


__ADS_3

Hai para pembaca setia "RASA CINTA TAK PERNAH HILANG," aku mohon maaf baru bisa up sekarang. Suami tercinta harus dirawat di rumah sakit, aku sangat berharap kesembuhannya kepada Allah SWT. Namun Allah lebih sayang padanya dan mengambilnya dari kami😢. Suami tercintaku menghembuskan nafas terakhir diusia yang akan genap 44 tahun pada tanggal 17 Agustus 2020 nanti. Meninggalkan aku dan ketiga buah hati kami.


Aku mohon bantuan doa, suamiku diampunkan segala salah dan dosanya, segala kebaikannya menjadi amal ibadah, dan mendapatkan tempat yang terbaik dari Allah SWT.


Aku juga mohon doa, agar aku bersama anak-anak kuat, ikhlas, sabar dan tawakal menerima ketentuan Allah SWT ini.


Aku akan berusaha memenuhi kerinduan kalian semua dengan kondisiku saat ini. Salam CINTA untuk kalian selalu.


************************************************


Denny meraih ponsel dari balik saku jas dan terdengar berbicara dengan seseorang.


ā€œSampai kapan aku harus di sini, cepat kirim seseorang menjemputku,ā€ Suara Denny meninggi dan memutuskan pembicaraan dengan sepihak.


"Tok, Tok, Tok." Suara ketukan pintu, memaksa tarikan mata Denny menoleh ke pintu.


Pintu perlahan terbuka, wajah Iqbal terlihat dari balik pintu dan melangkah masuk. Langkah kakinya menghampiri dan mengambil Nia dari pangkuan Denny. Tubuh gadis kecil itu berpindah dalam gendongan Iqbal.


"Semua sudah beres, kita pergi sekarang," Iqbal menatap tatapan dingin Denny, garis kebencian terlukis jelas di wajahnya.


Denny beranjak dari duduk, melangkahkan kaki ke luar dari ruangan. Iqbal mengiringi langkahnya dari belakang. Nia dengan tenang tertidur menyenderkan kepalanya dibahu Iqbal.


Banyak mata mengiringi langkah kaki kedua laki-laki itu menuju pintu luar. Tatapan mata Denny lurus ke depan tanpa menghiraukan sorotan kebencian padanya.

__ADS_1


Setelah melewati pintu keluar, Iqbal dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Denny yang telah menunggu. Iqbal pun menyusul masuk duduk di samping Denny di bangku penumpang bagian belakang. Dengan perlahan merebahkan tubuh Nia dalam pangkuannya.


Mobil melaju membelah malam dikeramaian kota Tokyo. Mata Denny tajam memandang ke depan. Di kepalanya masih terlintas dengan jelas ucapan Hendrik" Kau melakukan kesalah besar, sampai kapanpun kau tidak akan bisa mendapatkan yang menjadi milikmu." Denny menggenggam erat kepalan kedua tangannya.


"Kenapa kau datang? Aku meminta mu mengurus perusahaan selama aku tidak ada," suara berat Denny terdengar membuka percakapan dalam suasana yang beku.


Iqbal menoleh ke samping, menatap wajah Denny yang masih tekun menatap ke depan.


Menarik kembali pandangannya dan menjatuhkan tepat pada wajah Nia yang ada di pangkuannya. Tangannya mengelus lembut rambut Nia dan membenarkan sisa rambut yang menutupi wajahnya.


"Nia menelponku, dia sangat ketakutan dan khawatir dengan keadaanmu. Sambil menangis dia memintaku segera datang," Iqbal meraih tas kecil yang terselempang di bahu Nia yang masih tertidur lelap dalam pangkuannya. Menarik perlahan kancing resleting tas kecil itu dan mengambil ponsel Nia. Jarinya terlihat menari-nari di atas layar ponsel.


"Kenapa aku tidak mengetahuinya, padahal dia selalu bersamaku," Suara Denny melemah dan melirik ke wajah Iqbal.


Mata Denny menatap tajam ke layar ponsel. Terlihat senyum tersungging di sudut bibirnya.


"Tidak disangka aku masih bisa menghajarnya sekuat itu, untung anak laki-laki nya menghentikan," Denny terdiam dan tidak melanjutkan ucapan. Kedua telapak tangan menyapu kasar wajahnya.


"Ya, anak laki-laki itu sekarang berada di rumah sakit menerima perawatan. Tangannya cedera, untung tidak serius hanya memar terkena benturan keras. Tapi harus tetap dalam pengawasan dokter. Aku bisa mendapat informasi dari dokter yang merawatnya karena dia temannya Harun." Iqbal bersyukur saat serius seperti ini, masih ada teman yang bisa diandalkan membantunya.


"Bawa aku ke rumah sakit sekarang," ucap Denny seketika.


"Tidak, jangan sekarang ini bukan waktu yang tepat dan sudah sangat malam. Kau lebih baik istirahat di hotel dan aku tahu kalian belum makan dari siang. Aku sudah menyiapkan semuanya di hotel." Iqbal tidak ingin terjadi keributan lagi kalau Denny bertemu kembali dengan Hendrik. Dia juga bisa mengenal laki-laki yang menjadi sasaran amarah Denny. Hendrik yang seingatnya pernah dicurigai Denny menyukai Indah. Dan sekarang terbukti Hendrik bersama Indah, entah sejak kapan terjadi, dia juga tidak tahu pasti.

__ADS_1


Denny terdiam mendengar ucapan Iqbal, karena dia juga sudah menahan lapar cukup lama. Apalagi Nia, tentu dia sangat lapar karena sebelum pemukulan itu terjadi dia berniat membelikan makanan untuk Nia dan yang lain.


Di rumah sakit tempat Saka dirawat.


"Ma, papa mana?" Suara Saka terdengar lemah setelah sadar dari tidurnya. Sebelumnya dia juga sudah sadar, karena pengaruh obat yang diberikan melalui infus, Saka tertidur kembali. Jesika mengusap lembut kepala putranya dan menatap sayu wajah Saja.


"Papa di sini sayang," Hendrik mendekat di tepi tempat tidur dan duduk. Merapatkan tubuhnya, mengambil tangan Saka perlahan dan mencium punggung telapak tangannya lembut.


"Pa, wajah papa pasti sakit?" Mata Saka berkaca-kaca memperhatikan bibir Hendrik bengkak menyisakan noda merah mengering di sudut bibir dan pelipis mata tertutup plester. Warna biru masih terlihat jelas di pipi kanan dan kiri wajah Hendrik yang putih.


"Hem, enggak sayang." Hendrik menggelengkan kepala. Tangannya masih menggenggang perlahan tangan Saka yang terbalut perban.


"Saka jangan khawatir, papa ngak pa-pa. Kamu lihat, papa bisa tersenyum dan masih gantengkan? Laki-laki dewasa biasa seperti itu, mereka akan saling memukul kalau permasalahan tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata. Kami saling memukul, setelah itu, akan berbaikan kembali. Walaupun terlhat kasar dan mengerikan tapi permasalahan terselesaikan. Kita akan saling berdamai dengan sendirinya dan memaafkan." Hendrik berusaha memberikan pengertian agar Saka tidak khawatir walaupun kedengaran penjelasannya sedikit konyol dan tidak masuk akal bagi yang memahaminya. Sudut matanya menangkap bola mata Jesika membesar saat dia memberikan penjelasan pada Saka. Dia hanya bisa tersenyum dalam hati menyadari dirinya diperhatikan Jesika.


"Pa, kenapa papa Nia memukul papa? Kesalahan apa yang papa lakukan hingga papa Nia tidak bisa menyelesaikan dengan bicara saja." Bibir kecil Saka berujar dengan kepalanya berpikir ingin tahu jawaban alasan Hendrik dipukul papa Nia.


"Aaa...,iitu," kepala Hendrik seketika kosong, dia tidak mampu berpikir memberikan jawaban. Hendrik menelan dengan berat salivanya karena terjebak kata-katanya sendiri mendengar pertanyaan Saka.


"Ehem, Saka sayang. Tadi Oma nelpon mama, dia sangat sedih ngak bisa datang lihat kamu. Dia berdoa agar Saka cepat sehat dan pulang ke rumah." Jesika mengalihkan pembicaraan Saka dan menepuk bahu Hendrik yang terlihat kebingungan.


"Iya, Saka rindu Oma. Saka ingin cepat pulang dan ketemu Oma," Saka menatap wajah Hendrik dan Jesika bergantian. Dia menyadari, ada sesuatu yang dirahasiakan darinya.


"Tok, Tok, Tok," suara pintu diketuk.dari luar.

__ADS_1


Seketika Jesika, Hendrik dan Saka bersamaan menarik pandangan ke arah pintu.


__ADS_2