Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 112 Sikap Prihatin


__ADS_3

Suasana di restoran terlihat tenang, beberapa pelayan berjalan ke sana ke mari mendatangi meja-meja bundar. Menata menu makanan dengan rapi dan cekatan sesuai pesanan diminta dari para tamu.


Senyum dan sapa ramah, tak luput dari wajah mereka. Penampilan keramahan dan kesopanan harus mereka berikan untuk menjaga pelayanan kepuasan dari para tamu.


Terlihat Elisa dan Jesika masih bertatapan satu sama lain.


Jawaban singkat Elisa membuat tanda tanya besar dalam diri Jesika. Perubahan wajah Elisa sangat terlukis jelas saat mendengar nama Denny Prasetyo. Tersirat ada sesuatu yang dirahasiakan, rasa ingin tahu Jesika pun seketika muncul, ingin mengetahui lebih banyak informasi tentang Denny. Apalagi sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat sesuatu terjadi dalam kehidupan seseorang. Mata Jesika masih menatap lekat Elisa tergagap sadar dari lamunannya.


“Elisa kau belum menjawab pertanyaanku?” Jesika kembali mengulang pertanyaan memburu Elisa memberikan jawaban.


“Hem, pertanyaan, yang mana?” Elisa berusaha menetralkan diri berusaha keluar dari masa lalu, hingga dia lupa Jesika melontarkan pertanyaan padanya.


“Kau kenapa, kau oke?” Tanya Jesika masih memperhatikan tingkah Elisa yang gugup.


“Ya, tentu aku baik-baik aja, kau tadi bertanya apa? Maaf aku tidak fokus, pikiranku terbagi dengan pekerjaan.” Ucap Elisa berusaha berkilah, mengaburkan kegugupan.


Baginya Denny masih lelaki yang mengganggu hidupnya. Ada rasa bersalah terkurung jauh di sana, dia ingin meminta maaf tapi kesempatan itu belum berpihak. Kebencian Denny masih sangat mengganggu, dia ingin mengutarakan kebenaran. Kebenaran yang mungkin akan membuat dia semakin dibenci atau Denny akan membenci mamanya.


“Aku tanya, apa kau mengenal Denny Prasetyo?” Ucap Jesika menjatuhkan tatapan serius ke wajah Elisa.


Elisa terdiam, Denny masih menjadi pertanyaan yang berputar-putar antara mereka berdua. Hati kecilnya menarik garis senyuman mendengar pertanyaan Jesika. Tentu dia kenal Denny, tapi dia tidak akan memberitahu pada Jesika.


“Kau bertanya tentang Denny Prasetyo. Tentu aku tahu, dan siapa juga yang tidak tahu dengannya. Seorang Direktur Raja Media dan Raja Situs Online yang mempunyai banyak cabang di dalam dan luar negeri. Juga memiliki beberapa Rumah Sakit Ternama, dan Yayasan Amal. Dia menjadi orang nomor satu terkaya di negeri ini.” Mata Elisa menerawang ke depan membayangkan keberhasilan yang di raih seorang Denny Prasetyo. Senyum beku membingkai di wajah saat wajah dingin Denny melintas di kepala.

__ADS_1


“Rumah Sakit?” Batin Jesika. Hati Jesika melompat saat mendengar Elisa menjelaskan Denny memiliki beberapa Rumah Sakit Ternama.” Kalau begitu, kemungkinan besar Denny membawa Saka dan menempatkannya di salah satu rumah sakit itu.” Gumam Jesika membuat kesimpulan sendiri.


“Wah, sehebat itukah dirinya? Beruntung sekali perempuan yang akan menjadi istrinya,” Lanjut Jesika membuat penilaian entah dari mana kalimat itu meluncur keluar tanpa terpikirkan olehnya terlebih dahulu.


“Hem, perempuan? Ha…,Ha…., Ha….,maksudmu perempuan yang mendampingi hidupnya, jangan harap dia tertarik dengan perempuan, melirik saja pun tidak akan.” tawa Elisa pecah seketika mendengar penuturan Jesika.


“Bukankah dia sudah bertunangan, aku tahu dan bertemu dengannya.” Jesika terheran melihat sikap Elisa seolah tahu semua tentang kehidupan Denny.


“Jesika, kamu jangan percaya. Walaupun pengalaman berumah tangga yang dilalui berakhir tragis. Bukan satu atau dua, bahkan banyak perempuan mengaku sebagai tunangannya. Sayangnya seorang Denny Prasetyo masih betah dengan stutus Duren tajir tersandang lengket seperti permen karet tak mau lepas.”


“Maksudmu apa, berakhir tragis?” tanya Jesika seolah-olah tidak tahu. Dia bisa menebak kalau yang dimaksud para istri Denny sudah meninggal. Dia hanya ingin mengorek informasi sebanyak-banyaknya terntang Denny. Sebagai pertimbangan untuk dia bersikap dalam menghadapi Denny.


“Bagaimana tidak tragis, kedua kali pernikahannya berakhir dengan para istri meninggal dunia. Istri pertama meninggal karena kecelakaan dan pemakamannya pun harus ditutup rapat hanya kalangan orang tertentu diijinkan hadir. Mungkin karena pernikannya dirahasiakan dan juga luput dari para pemburu berita. Istri kedua juga bernasib sama, hanya saja meninggal setelah melahirkan putri mereka dan nyawanya tidak tertolong disebabkan penyakit kanker yang sudah lama dia derita.”


“Hei, Jesika kenapa kamu bengong?”Elisa menatap wajah Jesika termenung beberapa saat setelah mendengar cerita darinya.


“Hem, aku hanya membayangkan, dia lelaki yang sangat sukses, tapi sayang tidak beruntung dalam kehidupan pribadi.” Ucap Jesika berusaha mengalihkan kecanggungan dari tatapan Elisa.


“Sekarang giliranmu, bagaimana kau bisa berteman dengan Denny. Apa dari Hendrik? Tapi setahuku, Hendrik tidak dekat dengan Denny walaupun mereka masih ada hubungan keluarga. Gunawan dan Hendrik jarang sekali bergaul bersama Denny.” Elisa berbalik tanya ke Jesika ada sesuatu yang aneh terbit di dalam hati tidak bisa dijelaskan setelah menyadari Jesika bisa berteman dengan Denny.


Sedangkan Denny, pribadi dingin, membuat jarak terhadap orang dan lebih suka diam dari pada banyak bicara.


“Bukan Hendrik, tapi putraku Saka tidak sengaja berteman dengan Dania putrinya. Mereka bertemu, berkenalan dan menjadi dekat. Putraku mengikuti pertandingan Puzzle di negara Jepang, Dania datang bersama Papanya ingin menonton. Berkat pertandingan Puzzle itu keduanya menjadi teman.” Jelas Jesika semudah mungkin agar cepat dicerna Elisa. Dirinya tidak ingin diberondong pertanyaan lain tentang kedekatannya dengan Denny.

__ADS_1


“Seperti itu, makanya dia bersedia membantu mencari putramu?” Balas Elisa mendengar penuturan Jesika.


“Hem,” Jesika hanya memberikan anggukan kepala. Mulutnya sengaja diam tidak ingin menambah soal tanya jawab hingga membuka kembali luka lama yang berusaha dia lupakan.


“Kau memang tidak berubah Denny, kau orang baik dan suka menolong. Aku jatuh cinta karena kebaikan yang kau miliki.” Batin Elisa berkata-kata memberi pujian dan kembali bayangan Denny melintas di kepala Elisa.


Di sisi lain, di dalam mobil Denny.


Tergambar jelas rasa kesal di wajah Denny, mata berselaput merah menatap kejam ke depan menahan amarah. Kedua tangannya mengepal kuat, hatinya masih belum bisa berdamai dengan rasa sabar. Wajah Gunawan masih lekat dalam ingatan, senyum terus merekah di bibirnya, dan dengan enteng kata panggilan Adik Ipar keluar dari bibirnya dan sangat mengganggu di telinga Denny.


Mobil masih melaju membelah jalan, karena hari sudah mulai sore dan matahari pun mulai beranjak ke peraduanya. Suasana di luaran sedikik lengang tidak ada macet, dan perjalanan berlangsung dalam kesenyapan. Dania merebahkan kepalanya di pangkuan Denny, rasa lelah kembali sering dirasakan. Kedua mata tertutup rapat, ketenangan dia rasakan saat berdekatan dengan Denny.


Iqbal duduk di depan bersebelahan dengan sopir, mulutnya tidak berani menyalak takut menambah kemarahan Denny. Dia tidak berani menoleh, ingin mengetahui keadaan orang di belakangnnya. Pandangannya terlempar ke luar, tapi hati dan pikiran bersama Denny. Dia tidak tenang dengan sikap diam Denny. Dia juga bingung memulai suatu pembicaraan takut Denny semakin berang. Seketika rasa khawatir memenjara diri Iqbal didiamkan Denny yang tidak berinisiatif mencairkan suasana di dalam mobil.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Hai, reader yang setia dengan cerita aku. Maaf belum bisa Up tepat waktu dan rutin. Aku maunya banyak up dan rutin, tapi terkendala dengan pekerjaan di dunia nyata.


Ini aku up satu Bab dulu. Maaf kondisi kurang fit, istirahat setelah menerima Vaksin Covid Pertama sebagai abdi negara yang baik. He…He…He…


Semoga, keadaan kita cepat normal kembali, dan Covid 19 cepat musnah dari bumi pertiwi kita.


Tetap semangat dan salam cinta selalu. Dan juga jangan lupa beri komentar, like, Favorit dan dukungan yang banyak ya. Juga bantu share ke yang lain, walaupun permintaannya telat ya, tapi ngak pa-pa, namanya juga usaha, Wk…Wk…Wk…. (lucu sendiri dakunya).

__ADS_1


__ADS_2