Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 99 Sebenci itukah Kau Melihat Wajahku?


__ADS_3

Di dalam ruang dokter Joshua. Dua lelaki saling bertatapan.


“Katakan saja, aku akan mendengarkan separah apapun kau harus jujur,” Denny masih menatap lekat lelaki seumuran di hadapannya.


“Malam ini akan sangat panjang bagi anak seusia Saka, melalui puncak krisis koma,” Joshua mengangkat kedua tangan menggenggamnya meletakkan di atas meja. Mempertegas sikap serius yang mengalir dalam ucapan menggambarkan permasalahan yang di hadapi.


“Maksudnya, tolong jelaskan aku tidak mengerti,” Denny tidak bisa mencerna ucapan Joshua.


“Tuan Denny, saya masih terus memantau perkembangan hasil operasi yang sudah dilakukan. Tumor berhasil di angkat, tapi masalah lain muncul karena benturan yang dialami menekan tumor ke otak menyebabkan pembengkakan. Hal ini mengakibatkan penggenangan cairan pada otak, pasien pun menjadi koma. Saya juga sudah menyedot cairan yang ada. Kita menunggu pembengkakan itu hilang sehingga otak kembali normal. Tapi…” Joshua kembali menggantung kalimat selanjutnya, dirinya seolah mencari kekuatan dalam sepasang mata yang lekat menatap untuk mendengar ucapannya.


“Tapi, apa dokter?” Cepat katakan?” Jantung Denny berpacu kencang, ketakutan mengusai dirinya.


“Kalau dalam tempo dua belas jam ini pembengkakan itu tidak mengalami perubahan, maka pasien harus dioperasi. Mengeluarkan cairan yang kembali menggenangi otak. Tapi itu tidak mungkin dilakukan, akan sangat fatal mengingat usia pasien masih di bawah umur. Tubuhnya tidak mampu menerima tindakan operasi dalam waktu yang berdekatan.” Joshua menjelaskan sesederhana mungkin agar lawan bicara sedang terlihat tegang memahami kondisi yang sedang di alami.


“Jadi apa yang harus dilakukan?” Denny berharap ada jalan lain untuk mengusahakan kesembuhan putranya.


“Kita hanya bisa menunggu dan berdoa, tuan,”


“Menunggu katamu? Kau suruh aku menunggu, sedang putraku sekarang sedang sekarat. Kau seorang dokter, kau harus cari cara menyelamatkannya,” suara Denny menguap memenuhi ruangan, seketika tangannya memukul meja dengan keras.


“Tuan, tenanglah. Saya seorang dokter, tugas saya berusaha menyelamatkan pasien. Tapi kesembuhan bukan di tangan saya. Saya tidak punya kuasa menyembuhkan pasien, semua kita serahkan kepada Tuhan. Kita hanya bisa berusaha, tapi Tuhan yang punya kuasa. Berdoalah tuan, semoga Tuhan mendengarkan permintaan tuan.” Joshua memegang tangan Denny, menatap lekat wajah yang memerah menahan marah. Berusaha menyentuh hatinya supaya tenang.


Air bening menetes menemani kepiluan hati Denny. Dadanya sempit sesuatu menghimpitnya dengan berat di sana.


“Doa katamu? Aku selalu berdoa kepada Tuhan. Sampai detik ini, aku masih meletakkan keyakinanku padaNya. Tapi, dosa apa yang sudahku lakukan, mengapa garis hidupku selalu dalam kesedihan?” Denny menarik tangan dan menutupi wajahnya sambil berbicara lirih.

__ADS_1


“Tuan, kita tidak tahu, cara Tuhan memberikan kasih sayangNya. Jangan putus harapan, apapun yang diberikan, Tuhan tahu yang terbaik untuk kita.”


“Aku takut kehilangan putraku dokter. Aku baru bertemu dengannya, dia tidak tahu kalau aku ayahnya.” Denny semakin larut dalam kesedihan dan menungkupkan wajah di atas meja dengan beralaskan lengannya. Dia tidak bisa mengendalikan perasaan sedih yang mengurung dirinya.


“Tuan, bersabarlah.” Joshua berdiri dan mendekati Denny lalu menepuk-nepuk punggung belakangnya memberikan dukungan.


Di ruang terpisah, sebuah wajah sendu menempel pada dinding kaca. Menjatuhkan pandangan pada tubuh kecil bertemankan berbagai peralatan medis.


“Hen, aku ibunya. Mengapa aku tidak diizinkan menemui putraku sendiri?” Suara itu pelan tapi jelas terdengar.


“Jes, biarkan mereka berusaha sebaik mungkin merawatnya sekarang. Bila masanya, kita akan diizinkan masuk,” Hendrik berdiri di belakang Jesika dan kedua tangannya memegang bahu.


“Aku ingin bersamanya, dia pasti takut dan kesepian.” Jesika rapuh melihat putranya terbaring tak berdaya. Dekat tapi dia tidak bisa merangkulnya.


“Jes, Saka tahu, kita bersamanya. Saat ini, kau harus kuat, karena dia akan sedih kalau kau terus menangisinya.”


“Sabarlah, kita berdoa, dia akan segera sadar,” suara Hendrik serak, kedua manik hitamnya tergenang air yang perlahan tumpah ke luar.


Dari kejauhan, perlahan mendekat, sepasang mata mengamati adegan romantis yang seharusnya menjadi miliknya. Ya, gadis yang harusnya dalam dekapan saat ini, mendapat dukungan dari dirinya. Tapi, itu tidak terjadi. Dia hanya bisa menonton dan menambah sakit pada luka yang menganga.


Kini kakinya, telah berdiri sejajar dengan pasangan yang tak menyadari kehadirannya. Matanya tajam ingin menyayat tangan lelaki yang membelai lembut kepala gadisnya.


“Kalian jangan mengotori pandanganku, saat ini aku masih belum bertindak dengan drama yang kalian ciptakan. Jadi, jaga sikap kalian berdua di hadapanku,” Suara Denny berat dengan memberikan tekanan mengancam.


Jesika seketika melepaskan diri dari pelukan Hendrik. Dia terkejut mendengar suara ternyata berasal dari Denny yang telah berdiri tepat di hadapannya. Hendrik pun melempar pandangan, tak mau kalah membalas tatapan tajam mata singa yang siap menerkamnya kapan saja.

__ADS_1


“Kau, masih di sini? Lebih baik kau pergi. Ini semua salahmu, ini tidak akan terjadi kalau kau menjauh dari kami. Kau dengar itu?” Jesika histeris, di luar kendali berucap kata yang mengalir begitu saja dari bibir mungilnya.


Kembali Denny, menerima penolakan dan mendengar kata menusuk hatinya.


Hendrik merangkul dan menarik tubuh Jesika menjauh dari Denny, dia tidak ingin Jesika semakin histeris.


Denny hanya bisa menghantar kepergian Jesika dengan tatapan kecewa berbalut sedih.


“Indah, sebenci itukah kau melihat wajahku? Apa salahku, seharusnya aku yang harus marah, karena kau membohongiku,” Denny berujar di dalam hati dengan bibir yang tak sanggup berucap.


Matanya, menarik kearah tubuh anak lelaki kecil yang dekat tapi terasa jauh karena berbataskan dinding kaca.


Iqbal berjalan bergandengan tangan dengan Dania, mendekati Denny. Satu tangannya yang lain membawa kantong makanan.


“Den, aku membelikan makanan, makanlah, kau terakhir hanya makan malam, dan sekarang hari hampir malam.” Iqbal menyodorkan kantong makanan.


“Aku tidak lapar, Bal. Kalian saja yang makan,” Denny berbicara tanpa mengalihkan pandangan.


“Jangan seperti ini, kau juga harus menjaga kesehatanmu. Ingat, tanggung jawab yang kau pikul. Banyak orang dan keluarga yang bergantung padamu.” Iqbal mencoba membujuk Denny, dia tidak ingin sahabatnya melukai dirinya kembali seperti sepuluh tahun yang lalu.


“Aku bisa bertanggung jawab pada ribuan orang, tapi orang yang kucintai, aku tidak mampu. Laki-laki seperti apa aku Bal, tidak bisa melindungi orang-orang yang ku cintai?”


“Den, sekarang bukan saatnya menyalahkan diri. Kau lihat di hadapanmu, dia sudah dekat. Kau harus kuat dan bisa meraihnya,”


Dania menarik-narik tangan Iqbal, dia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan kedua laki-laki ini sekarang. Mereka tidak menghiraukan dirinya, dia ingin segera pulang ke hotel, karena seharian ini dia hanya melihat suasana rumah sakit. Dia sudah menemukan papanya, juga lelah dan ingin tidur.

__ADS_1


Iqbal melirik Dania yang menatapnya penuh tanda tanya. Senyuman menggaris di bibir Iqbal seolah-olah memberikan jawaban atas pertanyaan yang tergambar di wajah Dania.


__ADS_2