Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 111 Kenangan Elisa 2


__ADS_3

Langkahnya terburu melangkah mendekati tempat tidur. Cepat tangannya menyambar headsead dan membuang ke sembarang arah. Tubuhnya gemetar menahan amarah yang sudah menumpuk di ubun-ubun.


Elisa terkejut dan beranjak cepat berdiri menatap lekat wajah Denny. Tangannya masih menggenggam seikat uang. Tergopoh meletakkan kembali ke dalam tas, lalu menutup dan menyembunyikan di bawah bantal. Tapi perbuatannya sia-sia, Denny sudah melihatnya.


“Hai, sayang. Maaf aku ngak denger kamu datang. Ayo aku buatkan minuman, kamu tentu hauskan,” ucapnya sambil mendekat dan mengelayut manja di lengan Denny. Kegugupan berusaha dia sembunyikan dengan mengelus lembut wajah Denny.


Denny membuang wajah ke samping dan menepis tangan Elisa. Kaki melangkah ke tempat tidur dan meraih tas dari bawah bantal. Manik hitam berkabut merah, tatapannya sangar. Napas berburu cepat dengan panas mengeluarkan kemarahan.


“Siapa barusan bicara denganmu? Apa mamaku memberikan semua ini? Apa kau bilang, kau tidak mencintaiku, kau hanya lebih suka uang dari pada aku? Denny mengeluarkan amarahnya, tidak memberi kesempatan Elisa berbicara.


Hah… apa selama ini kau mempermainkan aku? Kau mencintai orang lain saat bersamaku? Apa kekurangan aku darinya? Dan kau menerima pemberian mamaku? Kesepakatan apa yang kalian buat?”Suara Denny menguap memenuhi kamar, membanting tas hingga uang berserakan di lantai. Denny menyapu kasar wajah, menarik dasi berusaha melonggarkan karena amarah sudah membakar tubuhnya.


“Den, tenang. Kau salah paham, tidak seperti dugaanmu.” Elisa mendekati tubuh Denny, kedua tangan berusaha memeluknya.


Denny menahan tangan Elisa, mencengkramnya kuat. Manik hitamnya menatap lekat. Kata-kata Elisa semakin menyulut kemarahan.


“Kau jangan menyentuhku dengan tangan kotormu. Aku merasa jijik, kau munafik. Aku sangat mencintaimu, aku bisa berlutut di hadapanmu kalau kau mau. Tapi jangan sekali-kali menipu apalagi selingkuh di belakangku. Aku bisa membuat hidupmu sengsara.”Denny mendorong kuat, tubuh Elisa jatuh ke lantai.


“Hei, Denny jaga sikapmu.” Suara laki-laki terdengar menyambar di telinga Denny. Kepalanya menoleh menatap ke sumber suara yang tidak asing dia dengar.


Elisa terduduk dan enggan bangkit hanya berurai air mata, di dalam hati dia menahan duka. Wajahnya menunduk tidak sanggup menatap kemarahan Denny. Sandiwaranya berhasil memicu kebencian Denny.

__ADS_1


“Kau?” Suara Denny tersekat di kerongkongan. Melihat sahabatnya mendekat dan berjalan menuju Elisa menarik berdiri dan jatuh dalam pelukannya.


“Kalian berdua?” Manik hitam Denny berkaca-kaca cairan bening menggenang tak tertahankan tumpah di kedua pipinya. Gunawan laki-laki yang memeluk tubuh Elisa. Sahabat dekat sudah dia anggap seperti saudara kandung. Hati Denny seketika hancur berkeping-keping melihat tangan Elisa memeluk erat. Wajahnya tenggelam dengan tangisan di dada bidang Gunawan.


“Aku muak melihat kalian, aku peringatkan jangan pernah muncul di hadapanku.” Denny tidak ingin melihat pemandangan menyayat hati. Kedua kaki dengan berat melangkah meninggalkan kedua orang yang sangat dia sayangi dan berubah seketika menjadi benci. Hatinya terhempas kuat dan terbutakan dengan kebencian, hingga kepala tidak sanggup berpikir jernih.


Gunawan bingung dengan sikap marah Denny, dia menatap Elisa sedang memeluknya erat. Tubuhnya tidak sanggup bergerak saat ingin mengejar Denny. Elisa menahan tubuhnya kuat, seperti memerintahnya untuk membiarkan Denny pergi.


“Elisa, ada apa dengan kalian? Kamu menelpon meminta datang dan kemudian bicaramu ngaur aku tidak mengerti. Ponselmu belum putus dan aku mendengar Denny marah-marah. Sekarang dia pergi dengan sangat kesal padaku.” Gunawan menarik bahu Elisa merenggangkan pelukan menatapnya dengan menautkan kedua alis mata.


Elisa melepaskan pelukannya dan terduduk lemah di lantai. Kedua tangan menutupi wajah menyembuyikan isak tangis. Gunawan berjongkok menarik tubuh Elisa dan menggiringnya duduk di sofa yang ada di dalam kamar.


Mata Gunawan melihat uang berserakan di lantai, pikirannya bertambah bingung. Dia sudah terlibat dalam pertengkaran dua insan yang saling mencinta dan sekarang membenci.


“Gun, maafkan aku. Aku terpaksa melakukan ini, kau boleh membenciku, aku pasrah.” Elisa berlari mendekati meja nakas di samping tempat tidur. Tangannya membuka laci, meraih gunting runcing. Memejamkan mata, dan menarik kedua tangan ke atas dan lalu menghujamkan kuat ke perutnya.


“Elisa, apa kau lakukan? Kau sudah gila?” Gunawan berhasil dalam sepersekian detik menahan tangan Elisa dan merampas gunting membuangnya ke sembarang arah.


“Ya, aku sudah gila, aku tidak ingin hidup lagi. Aku ingin mati saja, aku mencintai Denny, tapi ibunya memintaku meninggalkan Denny atau dia akan melenyapkanku untuk selamanya. Aku terpaksa menerima uang ibunya, betapa murah aku di mata Denny. Dia sudah membenciku dan untuk apalagi aku hidup sedang aku hidup hanya mengharap cintanya.”


Gunawan panik mendengar penjelasan Elisa, perlahan dia mencerna kalau Elisa sengaja melibatkan dia supaya Denny membenci Elisa. Tapi mengapa Denny sebuta itu, dia tidak habis pikir dengan sikap Denny. Sangat mudah percaya dan tidak mau mendengar penjelasan. Gunawan mengutuk kebodohan dan membenci sikap keras Denny membuat Elisa bisa menghilangkan nyawanya.

__ADS_1


“Baiklah kerena kau sudah menyeretku dalam masalahmu, bagaimana kalau kita lanjutkan saja. Kau lupakanlah Denny, dia tidak pantas kau tangisi. Hiduplah denganku, aku akan menerimamu.” Ucap Gunawan menatap lekat kedua manik hitam berkabut cairan bening. Menatap wajah sendu, terdiam mendengar kata-kata mengalir ke luar.


“Gun, jangan lakukan ini. Aku tidak ingin semakin kau kasihani, aku minta maaf karena aku kau dibenci Denny,” Elisa menjatuhkan pandangan tak sanggup menatap manik hitam di hadapannya lekat.


Gunawan menggaris senyum di bibir, mengangkat dagu Elisa. “Aku tidak mengasihanimu, aku mengasihani Denny karena mencampakkan perempuan cantik yang tulus mencintainya. Aku iri padanya karena bisa memperoleh perempuan sempurna sepertimu. Bisakah kau mencintaiku seperti itu, aku akan menunggu, kita jalani saja pelan-pelan. Jangan perdulikan Denny, sifatnya tidak bisa menerima penjelasan. Aku juga menaruh kasihan pada Denny karena ibunya tidak pernah berhenti mencampuri kehidupan pribadinya. Perempuan sempurna hanya ada dalam penilaian ibunya, aku penasaran perempuan yang layak bersanding pilihan dari ibunya.”


Gunawan menarik Elisa dalam pelukan, dia sudah bertekat dalam hati akan menjaga perempuan itu. Dia tidak rela Elisa bertindak bodoh melukai dirinya sendiri. Dia tahu Elisa perempuan baik dan berjuang keras demi kariernya walaupun mendapat dukungan dari Denny tapi dia tidak mengambil kesempatan.


Story On


Elisa mengurai kembali kenangannya bersama Denny dan kedekatan yang tercipta bersama Gunawan. Tanpa terasa senyum datar menggaris di bibir. Hatinya selalu jujur bergetar saat mendengar nama Denny, tapi dia berusaha berjuang melupakan. Sekarang hidupnya sangat bahagia dengan limpahan kasih dan cinta dari Gunawan, walaupun rasa cinta samar ada di dirinya.


Jesika menatap lama kebisuan Elisa. Mengangkat tangan dan melambai-lambaikan di hadapan wajah Elisa.“Halloooo…Elisa kamu kenapa?” tanya Jesika dengan menekuk kedua alisnya.


“Eh..em..ngak pa-pa,” ucapnya seketika tersadar dari kenangan masa lalu. Bibirnya mengulas senyum dan berusaha mengubur kenangan yang menyedihkan.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Assalamualaikum,


Hai reader, salam cinta selalu untuk kalian semua.

__ADS_1


Udah tahu siapa Elisakan? Bagaimana sikap Elisa selanjutnya? Tetap setia baca serita aku ya… walaupun terkesan memaksa, tapi tetap please tulis komentar, vote dan like.


Untuk kebaikan dan kemurahan hati kalian semua, aku ucapkan terima kasih dan semoga dimudahkan segala urusan serta dimurahkan rezeki. Amin, salam cinta selalu. Wassalamualaikum.


__ADS_2