Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 48 Kekecewaan Rudi di atas Kebahagiaan Indah


__ADS_3

Indah bersama Rudi dan Bude jalan bersama menuju pulang.


“In, hari ini Denny menjemputmu kembali Ke Jakarta?” Rudi menatap ke depan, pikirannya mengarah kepada orang yang terus mengikuti meraka sejak pergi dari rumah.


“Iya, mereka berdua sama seperti kamu. Ngak bisa berlama-lama, orang kota memang seperti kalian pikirannya kerja mulu,” wajah Bude cemberut, hatinya ingin menahan anak dan keponakannya lebih lama berada bersamanya.


“Bude, nanti Indah akan berkunjung lagi begitu dapat libur. Indah akan selalu merindukan Bude, Pakde dan Riri. Apalagi keluarga Indah; Ayah, Ibu dan Mas Dino, mereka sekarang telah bersama-sama. Hanya tempat ini menjadi tujuan satu-satunya melepas rindu mengenang mereka.” Mata Indah berkaca-kaca.


“Tapi ada satu yang ngak kamu rindukan, In,” wajah Rudi juga ikut manyun.


“Maksudnya?” mata Indah mendarat ke wajah Rudi.


“Aku, siapa lagi, kamu ngak sebut namaku,” langkah kaki Rudi berhenti.


Indah dan Bude tersenyum melihat sikap Rudi.


“Mas, kamu juga. Aku akan merindukanmu. Apalagi kamu sering berada di lautan, gimana aku mencarimu?” Indah merangkul tangan Rudi kembali melangkahkan kaki.


“Laki-laki ini terus mengikuti, siapa dia sebenarnya, mau apa?” bisik batin Rudi, mengamati lelaki yang terus mengikuti mereka di belakang.


“In, sepertinya Denny orang penting, aku lihat mobil yang dipakainya cukup mewah,” Rudi tidak sempat menanyakan pribadi Denny. Jadi inilah kesempatannya ingin tahu sebelum pergi.


“Indah bekerja di perusahaan Mas Denny, tepatnya dia itu Bosnya Indah,” Indah menjawab enteng.


“Wah, jadi kamu pacaran sama bos sendiri. Apa ngak takut hanya sekedar jadi mainannya?” Celoteh Bude memasang wajah khawatir .


“Hem, benar itu In, mending kamu sama Mas aja,” Rudi menimpali ucapan ibunya. Dirinya telah lam menyukai Indah.


“Ih Mas Rudi, apaan sih, Mas itu udah aku anggap seperti kakak sendiri. Mas, beneran belum punya pacar, aku ada kawan. Mau aku kenalin?” Menatap wajah Rudi menunggu jawaban.


“Jadi kamu nolak aku nih?” Rudi memasang wajah serius.


“Bude, Mas Rudi godain Indah terus nih,” Indah melangkah bergeser ke sebelah Bude.


“Rudi, udah jangan digoda terus.” Menatap Rudi, meyakinkan kalau Indah benar tidak menerimanya.


“Sebenarnya aku serius dengan ucapanku, In,” bisik batin Rudi melempar senyum.


Tak terasa perjalanan telah sampai di pekarangan rumah. Terlihat Pakde duduk menanti kepulangan mereka. Sesampainya, Pakde meminta Bude duduk menemaninya. Indah masuk ke rumah dan Rudi juga bersiap-siap akan kembali ke Jakarta.


Indah duduk di ranjang, melepas lelah berjalan kaki, perjalanan cukup lumayan jauh juga.


"Drekk, Drekk, Drekk," suara ponsel berbunyi di atas meja rias. Indah meraih ponsel, terlihat panggilan dari Denny di layar ponsel.


"Wah, gawat. Panggilan yang ke tiga puluh lima, aku lupa bawa sih. Mas Denny pasti marah." Indah merasa bersalah telah meninggalkan ponsel di rumah.


"Hallo Mas," Indah gugup menjawab panggilan Denny. Suara Indah terdengar gemetar.

__ADS_1


"Sudah pulang dan suara kamu kenapa?" Denny lega mendengar suara Indah, berulang kali dihubungi akhirnya Indah menjawab panggilannya. Dia ingin mengabarkan kabar gembira. Tapi suara Indah terdengar aneh, mungkin sehabis nangis dikuburan Dino.


"Ngak pa-pa Mas, jadi kita pulang ke Jakarta hari ini? (Syukur, ternyata dia tidak marah)," bisik batin dan mengalihkan pembicaraan. Ada kelegaan juga di hati Indah, suara Denny tidak meninggi seperti yang dibayangkannya.


"In, dengarkan baik-baik, aku sudah melamarmu dan Pakde setuju. Malam ini kita menikah, dan kamu bersiap-siap. Semua keperluan sudah di urus." Denny tersenyum diujung ponselnya. Keinginannya memiliki Indah akan segera terwujud.


"Malam ini Mas?" Indah tidak percaya dan terkejut dengan putusan Denny.


"Ya, kenapa, kamu tidak setuju?" Terdengar suara Indah ragu, Denny menjadi khawatir Indah berubah pikiran.


"Ti..tidak, saya hanya sedikit kaget saja. Baiklah kalau Mas sudah mendapat persetujuan Pakde, saya setuju malam ini kita menikah." Indah menerima putusan Denny, dan berharap putusan yang diambil adalah yang terbaik.


"Istirahatlah tentu kamu capek, dan sampai bertemu nanti malam," Denny memutuskan percakapan.


Indah meletakkan ponsel di atas meja rias. Beranjak dari ranjang ingin menemui Pakde.


Pakde dan Bude masih dudul di beranda rumah, menceritakan niat Denny ingin menikahi Indah, awalnya Bude terkejut tetapi setelah mendapat penjelasan akhirnya Bude bisa menerima.


“Pak, kasihan Rudi anak laki-laki kita satu-satunya. Dia juga sangat menyukai Indah.” Wajah sedih terlukis di wajah Bude.


“Yah, mau gimana lagi, tidak jodoh. Kita hanya bisa menerima keputusan anak-anak tidak bisa memaksakan.” Pakde memandang lurus ke depan. Dalam hatinya berharap keputusannya menikahkan Indah suatu yang terbaik.


Rudi mendengar pembicaraan, dia melangkah ke luar dengan menjinjing tas ransel bawaannya.


“Sudah siap, berangkat sekarang?” Pakde Menatap putra satu-satunya.


“Rudi, sebelum kamu berangkat, ada sesuatu yang ingin Bapak beritahu. Ini tentang Indah, adikmu,” menatap dalam wajah Rudi.


“Iya Pak, ada apa,?” Berusaha seolah-olah tidak tahu, walaupun sebenarnya sudah tahu apa yang ingin diutarakan.


“Indah sudah dilamar Nak Denny, dan malam ini juga pernikahan akan dilangsungkan. Semua keperluan sudah beres diurus Nak Denny. Bapak juga sudah mengundang beberapa orang tetangga dekat untuk ikut menyaksikan pernikahan mereka. Bapak tahu kamu menyukai Indah dan Bapak minta maaf, tidak bisa menyatukan kamu dengan Indah. Karena Indah sudah lebih dulu memilih Nak Denny.” Pakde berusaha tegar dan bersikap bijaksana di depan anaknya.


Kaki Indah terhenti, mendengar percakapan di luar.


“Baiklah Pak, jangan khawatir. Rudi senang, Indah mendapat pendamping yang benar-benar menyayanginya. Inilah yang namanya bukan jodoh, namanya juga cinta masa kecil. Rudi hanya bisa berdoa semoga Indah bahagia. Karena tujuan Rudi hanya ingin membahagiakannya.” Hatinya gembira berbalut sedih, wanita yang dicintainya tidak bisa dimiliki.


“Mas, ternyata kamu menyukaiku selama ini, maaf aku tidak bisa menerimamu,” bisik batin Indah dan melanjutkan langkahnya.


“Mas, maafkan Indah.” Menatap wajah Rudi dalam.


“Hei, kenapa In, kamu ngak ada salah sama Mas.” Beranjak mendekati Indah.


“Mas, kamu…” tidak melanjutkan kata-kata.


“In, Mas berdoa semoga kamu bahagia, dan kamu juga doakan aku. Kapan-kapan aku akan menjumpaimu menagih janji,” menatap wajah Indah dengan senyum menggaris di bibir.


“Janji apa Mas?” Indah berusaha tersenyum, mengartikan perkataan Rudi.

__ADS_1


“Teman yang akan kamu kenalkan sama Mas,” Rudi tersenyum, wajah Indah saat ini akan selalu menjadi kenangannya.


“Oh, pasti. Aku akan kenalkan teman terbaikku untuk Mas,” Indah mengajunkan jempolnya ke arah Rudi.


“Mas ucapkan selamat dan juga minta maaf tidak bisa menyaksikan pernikahanmu. Mas harus berangkat sekarang.” Waktu Rudi tidak banyak lagi, dia harus segera kembali.


“Iya, Mas.” Indah bahagia bisa bertemu Rudi kembali dan bersedih karena harus cepat berpisah.


Tiba-tiba seseorang muncul di hadapan mereka.


“Siang Pak,” menyapa Pakde.


Semua mata mengarah ke sumber suara.


“Diakan yang mengikuti kami?” Bisik batin Rudi.


“Ya, siang. Ada yang bisa dibantu," Rudi menatap tajam laki-laki yang datang menghampiri mereka.


“Saya mengantarkan ini, atas perintah Pak Denny.” Tangannya menyerahkan kotak.


“Sebentar, kamu orang suruhannya Denny dan mengawasi kami dari tadikan?” Rudi masih menatap penuh selidik, dia tidak suka dengan kehadiran laki-laki itu.


“Iya Pak, maaf atas ketidak nyamanannya. Saya ditugaskan mengawasi calon istri Pak Direktur Denny Prasetyo,” Menatap Indah dengan tegas.


“Wah In, masih menjadi calon kamu sudah dalam pengawasan ketat. Bagaimana sudah menjadi istrinya nanti,” mengalihkan pandangan menatap wajah Indah.


“Hem, memang dia suka agak berlebihan si Mas. Tapi mau gimana lagi,” terdengar nafas berat Indah. Dia tidak tahu Denny sangat memperhatikan dirimya.


“Udah, kasihan Masnya kelamaan memegang kotak itu, sini Bude ambilin,” bude melangkah dan menerima pemberian kotak.


“Itu apa, dan untuk siapa?” Pakde melihat kotak berukuran besar di terima bude.


“Untuk Bapak sekeluarga dan saya mohon diri,” melangkah meninggalkan Pakde sekeluarga.


Setelah kepergian laki-laki pesuruh Denny, Rudi berpamitan akan kembali ke Jakarta. Dirinya berusaha gembira walaupun jauh di lubuk hatinya sedih.


Hari pun menjelang malam, terlihat rumah Pakde sudah datang beberapa tetangga. Indah di kamar sudah berdandan cantik.


Kamar Rudi disulap menjadi kamar pengantin dengan hiasan yang cantik. Indah sangat tidak menyangka, Denny sudah mempersipakan semuanya. Dia menyewa beberapa orang untuk menata ruangan rumah dan kamar menjadi rapi dan cantik.


Di tempat lain, Denny berada di dalam mobil, terlihat gagah dengan balutan kemeja putih dengan jas hitam. Iqbal duduk di samping menemaninya. Malam ini, Denny meminta menjadi saksi pernikahannya.


Denny melemparkan pandangan ke luar jendela.


“Apa yang kau pikirkan, bukankah ini yang sangat kau inginkan?” Iqbal melihat kekhawatiran di wajah Denny.


“Setelah malam ini, perjalan hidup baru akan dimulai. Tantangan juga akan datang dalam perjalanan baru ini. Aku harus meyakinkan Mama agar bisa menerima Indah. Kalau tidak, sampai kapan pun Mama tidak akan bisa berdamai dengan perasaannya terhadap Indah.” Terbayang wajah kekecewaan Mama di kepala Denny mengetahui keputusannya menikahi wanita bukan pilihannya.

__ADS_1


“Kamu sudah mengambil jalan sejauh ini, tentu juga sudah mempertimbangkan semuanya. Hati seorang ibu tidak akan berlama-lama kecewa. Kalian berdua harus bisa memenangkan perasaannya.” Kekhawatiran Iqbal ternyata sama dengan apa yang dipikirkan Denny. Tapi dia tidak berhak mengutarakan, dia ingin Denny bahagia dihari pernikahannya.


__ADS_2