
Ke esokan hari di apartemen Denny. Di luar masih gelap, Indah telah bangun lebih awal. Dia berniat ingin segera pergi.
“Ah… Pintunya terkunci, dia sengaja mengunciku di kamar ini,” gumam Indah.
Kembali Indah membaringkan tubuh di ranjang, matanya terpejam dan pikirannya merajut kembali kenangan bersama Denny. Denny yang menyelamatkan dirinya, merawat, menjaga dan tidak mengijinkannya pulang. Dia harus menerima syarat agar Denny mengijinkannya pulang dan bisa kembali kerja.
“Apa benar dia mencintaiku? Kenapa? Apa aku harus menanyakan alasannya? Dia mengatakan aku harus mempercayainya. Bagaimana Hanna dan Ibunya? Kalau aku boleh egois, aku akan mengikuti kata-katanya, tapi aku tidak boleh mengabaikan banyak perasaan. Dia mungkin bisa, aku tidak sanggup melihat tatapan mata sedih, kecewa hingga benci yang akan ku terima. Bagaimana ini, aku harus apa? Tuhan tolong aku, kalau ini memang jalan dari mu bantu aku melalui semuanya.” Bisik batin Indah.
Perlahan Indah larut dalam pikirannya dan akhirnya dia tertidur kembali karena keadaan tubuhnya masih lemah.
Denny melangkah ke luar dari kamar, menuju kamar Indah. Tangannya meraih kunci pintu dan pintu terbuka. Denny melihat Indah masih tidur, pintu pun ditutup kembali. Dia tidak ingin membangunkan Indah dan membiarkannya beristirahat lebih lama. Denny melangkah ke dapur, dia memutuskan membuat sarapan untuk mereka berdua. Hari ini dia tidak akan ke kantor, ingin menghabiskan waktu bersama Indah.
Di lain sisi, Hendrik telah tiba di rumah sakit. Dia ingin mengetahui keadaan Indah. Dia terkejut mengetahui dari perawat Indah telah ke luar dari rumah sakit.
“Bodoh, kenapa aku tidak meminta nomor ponsel Dokter Harun tadi,” Hendrik merutuki dirinya yang telah duduk di belakang stir mobil.
“Baiklah, Indah sudah kembali, lebih baik aku ke rumahnya saja,” gumam Hendrik menyalakan mesin mobil dan melaju ke jalanan.
Di apartemen, Indah perlahan membuka kelopak matanya.
“Aduh, aku tertidur, jam brapa sekarang? Ah, sudah pukul 7, kenapa aku bisa tertidur lagi. Padahal aku harus pergi dari sini.” Indah langsung beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar.
“Ah, pintunya tidak terkunci, aku bisa ke luar sekarang. Tunggu, sepertinya aku melihat sesuatu,” Indah
menoleh kebelakang. Dan berjalan menuju meja kecil di samping ranjang.
“Dia sudah menyiapkan sarapan untukku, dan pesan apa ini?” Indah duduk dan melihat sepotong kertas di nampan.
(Pesan:”Maaf aku pergi sebentar, ada telpon penting dari kantor. Aku tidak ingin membangunkanmu. Aku sudah membuatkan sarapan, habiskan dan istirahatlah. Aku akan segera kembali.)”
“Ternyata dia sudah pergi, dan aku kembali terkurung sendiri di sini. Indah sepertinya dia memang suka menahan dirimu.” Keluh Indah sambil menyuap makanan.
“Hem… masakannya enak juga. Selain kaya, tampan, dia juga jago masak, benar-benar pria idaman wanita,” Gumam Indah sambil menikmati makanannya.
Hendrik telah sampai di rumah Indah. Memanggil-manggil nama Indah, tetapi tidak terdengar jawaban dari dalam.
“Ke mana dia, apa sudah berangkat kerja?” Hendrik melirik jam melingkar di tangannya.
“Seharusnya dia di rumah saja, jangan pergi kerja. Biar semua pekerjaan aku yang atasi.” Hendrik melangkah ke mobil dan meninggalkan rumah Indah.
Di kantor Denny.
__ADS_1
“Bal, kenapa kau memintaku datang? Apa kau tidak bisa mengatasinya sendiri, percuma kau menjadi sekretaris pribadiku,” Gerutu Denny melangkah ke luar lift menuju kantor.
“Selamat pagi Pak, sekretaris Iqbal ada di dalam menunggu,” ucap sekretaris kantor.
“Ya, terima kasih.” Balas Denny.
Denny membuka pintu kantor dan melangkah masuk.
“Ada apa Bal?” tanya Denny menatap Iqbal di hadapannya.
“Ini mengenai kakak laki-laki Indah,” jawab Iqbal.
“Kamu sudah mengetahui keberadaannya?” tanya Denny.
“Hem,” Iqbal menganggukkan kepala.
“Di mana dia sekarang?”
“Dia sudah tewas, mayatnya di temukan di belakang gudang tua di daerah*****,” jawab Iqbal.
“Kamu yakin itu mayatnya?”
“Mereka di sini, berarti ingin bertemu dengan Indah?”
“Iya,” jawab Iqbal dengan wajah serius.
“Bagaimana aku menjelaskan dengan Indah, dia sendiri keadaannya masih lemah,” Keluh Denny.
“Indah harus tahu dan polisi tidak mau menunggu lama. Kalau kita tidak bekerjasama, kita akan dituntut menghalangi penyelidikan mereka.” Jelas Iqbal.
“Kau temui mereka dan jelaskan kondisi Indah sekarang. Aku akan membawanya ke rumah sakit, minta mereka mau bersabar dan menunggu di sana. Tolong sebisanya kau meyakinkan mereka. Karena aku juga tidak tahu bagaimana reaksi Indah mengetahui kabar ini.” Ucap Denny dengan wajah khawatir.
“Baiklah, aku akan menemui mereka,” Balas Iqbal.
“Aku juga akan menemui Indah,” Ucap Denny.
Berdua mereka melangkah ke luar kantor.
Di apartemen, Indah mengikuti saran Denny. Dia lebih banyak berbaring di ranjang.
“Apalagi yang bisa aku lakukan, selain tidur-tiduran. Seingatku baru saja meninggalkan kamar ini, sekarang sudah berada lagi di sini. Hidungku sampai mengenal aromanya. Mungkin kamar ini punya daya tarik yang kuat dengan diriku. Atau tuannya yang sangat tertarik denganku. Ih..aku kok jadi berpikiran mesum gini,” Gumam Indah sambil memukul kepalanya.
__ADS_1
Indah mendengar irama kode sandi pintu.
“Ternyata dia benar-benar cepat pulang,” Indah melirik jam menggantung di dinding.
“Apa yang harus ku lakukan? Atau aku berpura-pura tidur saja?” Indah memejamkan mata saat mendengar pintu kamarnya dibuka.
Denny melihat Indah tidur, langkah kaki membawanya mendekati ranjang dan duduk di sisi pinggirnya, menatap wajah Indah.
“Bagaimana cara memberitahumu. Aku tidak ingin melihatmu sedih.”Batin Denny.
“Apa yang dilakukannya, kenapa dia duduk di sampingku? Lebih baik seperti ini, aku takut kejadian tadi malam terulang kembali,” Membayang di kepala Indah saat Denny menciumnya.
Denny membelai rambut Indah pelan.
“Tuhan tolong, kuatkan dia mendengar kabar yang akan kusampaikan ini,” Bisik batin Denny.
“In, Indah, Indah, bangun,” ucap Denny pelan.
“Kenapa dia membangunkanku? Tidak seperti biasa, dia akan pergi setelah melihatku tidur. Ada apa, sepertinya ada yang penting.” Batin Indah dan perlahan membuka kelopak matanya.
“In, bangun ada yang inginku bicarakan,” Ucap Denny lembut.
Indah menatap mata Denny, hatinya berkata ada yang penting ingin disampai Denny kepadanya. Ada sesuatu yang lain dari biasanya melihat tatapan mata Denny. Indah pun duduk dan menatap lekat wajah Denny.
“In, kamu harus kuat. Aku akan ada bersamamu selalu.” Menggenggam tangan Indah dan menatap wajahnya dalam.
“Ada apa Mas?” tanya Indah keheranan.
“Kita harus ke rumah sakit sekarang,” ucap Denny.
“Ke rumah sakit, kenapa, siapa yang sakit? Aku baik-baik saja,” jawab Indah.
“In, ini mengenai kakakmu. Polisi menemukan mayat, beserta dompet berisi identitas menjelaskan kalau itu dirinya. “ Jelas Denny.
“Apa, kak Dino? Polisi menemukan kak Dino sudah mati? Ngak itu bukan dia, pasti bukan dia. Mereka salah. Kakakku selalu bisa menjaga dirinya. Dia memang jahat, tapi tidak mungkin orang sekejam itu membunuhnya. Mas, itu pasti salahkan?” Tubuh Indah gemetar, tetes air mata mengalir dari ke dua matanya.
“Aku harap begitu, itu bukan dia. Untuk memastikannya kamu harus ke rumah sakit bersamaku sekarang. Kamu pasti bisa.” Denny mencoba menguatkan Indah.
“Iya, ayo kita pergi sekarang. Saya bisa Mas.” Indah berusaha kuat dan berdiri dengan hati yang hancur.
Denny merangkul tubuh Indah dan melangkah pergi bersamanya.
__ADS_1